
Alisa terjaga tepat pukul 10 .
Mata Alisa terbuka dan Alisa mencoba mengamati sekitar dan menerka dimana dirinya sekarang berada.
Aku dimana ?
Apakah aku baru ditolong oleh seseorang ?
Alisa melihat tangannya kembali di impus. Tubuhnya jauh lebih segar. Namun kepalanya masih sedikit pusing.
''Aku haus ! ''Lirih Alisa
Alisa melihat segelas air putih diatas nakas. Alisa mencoba mengapai gelas tersebut. Namun karena belum mampu mengontrol tangannya malah membuat gelas itu terjatuh dan pecah berikut airnya tumpah.
Prang!!! | Suara gelas jatuh
Alisa terkejut. Dan menggigit bibirnya takut.
BRAKK !! Pintu dibuka paksa. Bibi masuk dengan tergesa setelah mendengar sesuatu dari kamar Alisa.
''Apa yang terjadi nona ? '' tanya Bibi sopan seraya melihat ada gelas yang jatuh dan pecah.
''Aku .. aku haus bu ! '' jawab Alisa lirih.
Sang bibi kemudian turun mengambil air minum lalu menyerahkannya pada Alisa.
''Jangan turun dulu ya nona. Biar bibi bereskan dulu beling-belingnya.'' Bibi kembali keluar kamar, lalu masuk kembali dengan alat-alat kebersihan seperti sapu dan vacum cleaner.
Alisa meminum air hingga tandas, setelah mendengar penuturan bibi itu Alisa jadi tau bahwa bukan bibi itu yang punya rumah. Alisa bingung ingin bertanya seperti apa
Bi? Yang punya rumah siapa?
Atau siapa yang sudah menolong saya ?
Atau apa yang terjadi pada saya
Kenapa saya ada disini ?
Batin Alisa . Walaupun Alisa mengamati pekerjaan bibi dengan diam, namun tidak dengan pikirannya yang memikirkan sesuatu.
Kruucuuk kruucukk | bunyi perut Alisa lapar
Alisa memegang perutnya dan menunduk malu . Suasana yang sunyi membuat suara perutnya sangat lantang terdengar.
''Maaf '' ucap Alisa barengan dengan bibi.
Eh ! Dua2 nya tersenyum.
''Maaf nona, nona pasti lapar ya, sebentar bibi ambilkan makanan .'' Ucap Bibi seraya membawa semua peralatan kebersihan keluar.
Selang 5 menit bibi kembali masuk dengan nampan yang berisi bubur dan segelas jus jeruk hangat.
''Terima kasih bu '' ucap Alisa .
Bibi meletakkan bubur disamping Alisa.
''Jangan panggil ibu, panggil aja bibi seperti Tuan ! '' seru bibi menimpali Alisa
Deg !! Tuan ? Tapi siapa ? Tanya Alisa didalm hati.
__ADS_1
Alisa sedikit susah waktu mengangkat sendok, tangan kanannya kembali di impus dengan titik yang berbeda.
Huh ! Sudah dua kali kena tusuk jarum. Aku benci jarum ! Batin Alisa dalam hati dengan perasaan kesal. Namun tidak menutup rasa terimakasihnya kepada empunya rumah.
''Baik bi '' Alisa mencoba mengangkat sendoknya satu sendok penuh bubur, namun yang masuk kemulutnya hanya sebagian.
''E e.. biar bibi bantu suapi non '' ucap bibi seraya mengambil alih mangkok bubur dan sendok dari tangan Alisa.
Alisa yang lapar menerima kebaikan bibi. Dengan membuka mulut dan memakan langsung buburnya.
Hingga suapan yang ketiga terdengar kedatangan seseorang .
Tap tap tap tap | suara langkah kaki
Alisa melihat kearah pintu kamar dibuka.
Dewa langsung masuk ke kamar, begitu mendengar bibi membangunkannya dikamar satunya.
''Alisa ? Kamu sudah bangun ? '' ucap Dewa begitu masuk ke kamar Alisa.
Alisa melihat Dewa dengan pandangan yang sulit diartikan.
''Bi tinggalkan kami '' ucap Dewa tanpa mengalihkan pandangannya pada Alisa.
Bibi merasa dirinya disebut, langsung meletakkan mangkok diatas nakas dan keluar dari kamar tersebut dengan segera.
Setelah pintu tertutup sempurna. Dewa langsung memeluk Alisa. Berulang kali Dewa mencium puncak kepala Alisa.
Alisa tidak menolak ketika kepalanya ditenggelamkan di dada Dewa. Justru sebaliknya Alisa terisak di dada Dewa.
Alisa tidak tau alasan kenapa Alisa menangis dipelukan Dewa. Alisa terus terisak selama beberapa saat.
Apakah karena aku sedih hidupku yang terlanjur hancur
Atau apa aku sedih karena aku sudah dibuang oleh David ?
Atau karena aku yang dihina habis-habisan olehnya ?
Hmmm heuu heuu ..
atau justru aku menangis karena lega bahwa Dewalah yang menolongku !
Batin Alisa berkecamuk!
Alisa hanya membalas pelukan Dewa dengan satu tangannya yang terluka. Sedangkan tangan kanan yang diimpus dibiarkan menjauh sedikit.
Dewa terus mengelus kepala Alisa untuk menenangkan Alisa . Setelah cukup tenang Dewa melonggarkan pelukannya. Lalu menghapus air matanya yang tersisa dipipi Alisa.
''Sudah cukup he ? Gadisku jelek kalau menangis ! '' ucap Dewa mencoba menghibur Alisa.
Alisa mengerucutkan bibirnya kesal apakah tidak ada kata-kata yang lebih tepat untuk menghiburnya ?apakah harus mengatainya jelek? Alisa mencoba tersenyum namun masih ada sesegukan sesekali didadanya.
''Nanti saja ceritanya ! Sekarang makan dulu ya ! '' ujar Dewa kemudian mengambil mangkok bubur dan menyuapi Alisa.
Alisa memakan semua buburnya.
Dewa melihat cairan impus sudah habis , lalu menelpon dokter.
''Sekarang minum obatnya'' ujar Dewa
__ADS_1
Alisa terkejut bahkan dewa sudah menyiapkan obat untuknya.
Alisa meminum obatnya .
''Mau cerita ? '' pancing Dewa .
Alisa mengatupkan bibirnya. Namun matanya kembali berkaca-kaca. Alisa masih sedih namun mencoba tegar.
''Jangan menangis lagi oke ? '' ucap Dewa melihat Alisa seperti belum sanggup bercerita.
''Atau ada pertanyaan yang ingin kamu tanyakan ? '' tanya Dewa kemudian.
''Kita dimana ? '' tanya
''Dirumahku ! '' jawab Dewa pendek.
''Siapa yang membawaku kemari ? '' lanjut Alisa
''Aku !'' Tunjuk Dewa.
''Bagaimana kamu membawaku ? '' tanya Alisa lagi
''Aku mengendongmu ! '' jawab Dewa pendek.
''Ichhh maksudku bagaimana kamu bisa menemukanku ! '' tanya Alisa mulai geram . Rasa penasarannya belum terpuaskan . Bagaimana awal Alisa bisa berada disani bersama Dewa.
''Hehehe.. iya iya ... aku akan cerita .. '' jeda Dewa.
Dewa menikmati ekpresi Alisa yang penasaran dan menantikan cerita darinya. Namun mulutnya kembali tersenyum tanpa bercerita terlebih dahulu.
''Ichhh ... '' desis Alisa kembali geram.
''Iya ! Iya aku akan cerita. '' lanjut Dewa.
''Cepetannn !! '' Alisa mulai tak sabar.
''Aku mencarimu kemana-mana Alisa. Pada akhirnya aku melihatmu diseret oleh David dan meninggalkanmu dijalan. Lalu aku membawamu kesini. Selesai !! '' cerita singkat padat dan jelas yang diutarakan oleh Dewa.
Alisa mengerutkan Dahinya . Namun kemudian iya-iya saja. Alisa belum ngeh kalau Dewa menyebut David dengan jelas dan dari mana Dewa mengenal David.
Tak lama kemudian bibi mengetuk pintu dan memberitahukan dokter yang memeriksa Alisa sudah datang.
Dokter memeriksa Alisa. Dan mencabut jarum impus karena keadaan Alisa sudah cukup sehat tidak lagi memerlukan cairan impus. Kemudian Alisa meminta Dokter untuk memeriksa tangan kirinya.
Alisa melihat lukanya sedikit basah. Lalu dokter mengganti dengan perban yang baru.
Dewa menatap tajam tangan Alisa yang terluka tanpa disadari oleh Alisa.
Setelah mereka pergi Dewa berkata pada Alisa.
''Kenapa tangan kirimu ? '' tanya Dewa langsung.
''Ee hemmm.. terkena pisau . Iya iya '' jawab Alisa.
Dewa langsung dapat mengerti, pasti Alisa terluka karena menolong papanya tadi malam.
''Berhati-hatilah ! Mulai sekarang kamu jangan terluka lagi ! '' ucap Dewa tulus.
''Heh '' Alisa tersenyum smirk. ''Lihatlah masih banyak luka ditubuhmu ketimbang aku ! '' seru Alisa tak mau kalah. Tunjuk Alisa di wajah dan lengan Dewa yang dapat dijangkau matanya.
__ADS_1