
#aku_yang_selalu_salah_di_matamu
"Awas, hati-hati."
Braaakkk.
Akhirnya tabrakan itu tak bisa di hindari. Aku yang terguling di aspal baru menyadari, si dede posisinya berada d bawah tubuhku. Langsung ku ubah posisiku dengan posisinya. Sedangkan kakak iparku meluncur mulus di atas aspal dengan wajah mencium aspal. Dan kondisi anaknya yang mengalami kebocoran pada kepalanya.
Seketika warga sekitar langsung menolong kami.
Kami langsung di bawa ke rumah salah satu warga. Aku pun shock dan bingung harus berbuat apa.
"Mba, kami sudah nelpon ambulance. Segera ke rumah sakit ya. Soalnya kondisi kakak ipar mba dan anaknya sangat mengkhawatirkan." kata salah satu warga
Aku pun hanya menganggukan kepala. Karna aku masih bingung.
Tak berapa lama aku pun menelpon suamiku untuk memberitahukan keadaan kami.
"Yah,, kami kecelakaan dan akan segera di bawa ke rumah sakit"
"Kenapa sih gak hati-hati" dengan santainya dia menjawab telpon ku.
Ternyata dia sama sekali tak mengkhawatirkan keadaan kami. Ataupun bertanya tentang keadaan anaknya.
Saat berada di dalam ambulance, aku pun teringat saat ibu mertua ku bilang ada keluarga mereka yang akan mengadakan acara pernikahan. Dan aku di minta ibu mertua untuk hadir.
”Din,, besok ada acara pernikahan keluarga, datang ya" kata ibu mertua.
"Iya bu. Tapi saya berangkat dengan siapa? Kan sepeda motornya di bawa kerja sama Ayahnya dede." Sahut ku
__ADS_1
"Nanti kamu di jemput Tata"
"Oo geh bu" telpon pun di tutup
Hari pernikahan pun tiba. Tata, kakak ipar ku menelpon. Dia mengatakan akan menjemputku jam sembilan pagi.
Aku pun segera mengerjakan pekerjaan rumahku. Karna masih ada tiga jam lagi sebelum Tata datang. Dan akupun sudah izin sama suamiku untuk menghadiri acara tersebut.
Sekitar jam sembilan Tata pun datang. Dan tumben anaknya ikut juga. Biasanya Kiki gak pernah ikut. Walhasil penuhlah motor yang kami tumpangi. Dan terjadilah kecelakaan itu.
*****
Sesampainya di rumah sakit kami langsung di bawa ke ruang IGD.
Tata dan Kiki langsung mendapatkan penanganan dari tim medis. Karna luka mereka cukup parah.
Tata iparku mengalami separo wajahnya luka dan bengkak. Karena wajahnya bergesekan dengan aspal. Baju gamisnya pun hampir separo dada kancing bajunya lepas. Dan Kiki wajahnya penuh darah dengan kepala yang bocor.
Tak berapa lama suamiku datang dengan marah-marah.
Mertua ku pun datang juga bersama adik dan keponakannya.
"Kenapa sih langsung di bawa ke rumah sakit tanpa izin dulu denganku."
"Ya Allah,, Yah. Aku membawa ke rumah sakit ini karna keadaan Tata dan Kiki sangat mengkhawatirkan" sahutku.
"Lalu siapa yang harus membayar semua biaya ini? Dasar kamu ini menghabiskan uang saja."
"Seharusnya kamu gak usah ke rumah sakit juga. Cukup di rumah saja. Jadi gak perlu buang-buang uang."
__ADS_1
"Lagian kamu gak izin sama ku kalau mau jalan-jalan. Emangnya aku gak pernah ngasih kamu makan sampai kamu ingin menghadiri acara itu???" dengusnya kesal tanpa memikirkan malunya aku di marahi di depan orang banyak.
"Sudah-sudah, yang bayar biaya rumah sakitkan aku juga. Gak perlu bertengkar" sahut ibu mertua.
"Tuh kan habis uang ibuku gara-gara bayar biaya rumah sakit untukmu. Kamu harus ganti" selanya lagi.
"Ya Allah,, padahal bukan aku saja yang di bayarin. Tata dan Kiki pun juga di bayarin. Bahkan punya mereka lebih mahal dari punyaku." aku bergumam dalam hati.
Setelah selesai aku dan anakku dede di obati, langsung suamiku mengajak pulang. Dia bilang kalau lama-lama di rumah sakit, akan bertambah mahal lagi biayanya.
****
Di rumahpun aku masih terus d marahi suamiku. Tak perduli dengan tetangga yang menjengukku setelah kecelakaan itu.
"Din,,, kami pulang dulu ya. Istirahat yang cukup biar cepat sembuh jarinya yang patah" tetangga pun akhirnya pamit karna gak nyaman dengan omongan suamiku
"Oiya,,, terima kasih ibu-ibu"
Sepulangnya para tetangga, suamiku masih tetap marah dan mulutnya makin gak terkedali.
"Sekarang uang dan beras sudah gak ada. Aku gak mau tau bagaimana pun caranya kamu harus mendapatkan itu semua. Kalau perlu mengemis saja di pasar untuk mendapatkan semua" hardik suamiku.
Aku pun hanya bisa pasrah dan menangis. Menjawab omongannya pun percuma. Aku selalu salah di depan matanya.
Dan hanya mampu berdoa semoga Allah memberikan bantuannya.
Saat aku mau berangkat mencari kerja demi untuk mendapatkan sedikit uang, tiba-tiba datang teman-temanku sewaktu sekolah dulu.
Dengan tangan mereka bantuan Allah datang. Untung saja saat itu suamiku gak ada di rumah. Jadi aku bisa menyimpan sebagian uang bantuan itu sebelum suamiku mengambil semua.
__ADS_1
___________________________