
Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM2
#pengorbanan_Cinta_Dina
Pov.Dina
Rencana penculikanku membawa berkah
Tujuanku sekarang adalah pantai, dimana kami selalu menghabiskan waktu bersama. Kenangan masa-masa indah itu, kini terbawa ombak pantai menjauh dariku.
Belum sembuh luka yang dia torehkan, kini digoresnya kembali luka yang baru. Saat ini aku begitu rapuh. Begitu teganya Wais mengkhianati, bercumbu dengan wanita lain didalam kamar tempat kami sering memadu kasih.
"Ya Allah... sangat berat ujian ini. Biarkan aku kembali kepangkuan-Mu."
Aku terduduk lemah diatas pasir pantai yang berkilau. Dengan ditemani angin yang kencang dan ombak yang mulai membesar. Hari seakan tak bersahabat, mungkin akan ada badai malam ini.
Kubiarkan tubuh ini diterpa ombak pantai. Baju merah yang kupakai, seakan mewakili hati yang terus berdarah.
Gerimis hujan mulai jatuh dari langit, seakan tahu hati terus menjerit. Kulepas niqob, kurasakan derai hujan menyentuh kulit wajahku. Terasa perih sama seperti perihnya hatiku.
Dibawah derasnya hujan, kubiarkan tubuh ini dihempas gelombang. Tak kurasakan lagi dingin malam yang mencekam.
Tak terasa, tubuhku seakan melayang ke udara. Apakah jiwa ini sudah terpisah dari raga? Namun gelap yang kurasa.
*****
Saat sadar, aku berada di sebuah rumah sederhana. Seorang lbu tua mendekatiku.
"She was conscious." lbu itu berkata.
Seorang anak muda menghampiriku.
"Your from?" Dia bertanya padaku.
"Indonesia." jawabku.
"Oh, syukurlah anda sudah sadar. Kami juga dari lndonesia. Saya bekerja sebagai penjaga pantai, dan lbuku pemilik cafe di pantai ini."
"Tadi malam, saya menemukan anda mengambang di pantai. Dan segera membawa ke rumah ini." jelas pemuda itu.
"Terima kasih." hanya itu yang mampu ku jawab.
Aku mencoba untuk bangun, namun kepala ini terasa sangat sakit sekali. Perut terasa mual dan ingin muntah.
Melihat diriku yang ingin muntah, segera lbu tua itu menyodorkan sebuah plastik hitam kearah mulutku.
Aku pun memuntahkan semua isi yang ada dalam perut, namun hanya air yang keluar. Ibu itu segera meraba keningku.
"Ya Allah.... Nak, panas sekali tubuhmu. Kamu demam tinggi." ucap lbu itu penuh kekhawatiran.
"Ayo, kita ke Rumah Sakit!" ajaknya.
Namun aku menolaknya. Aku tak ingin keberadaanku diketahui oleh mereka. Aku tak ingin kembali ke lstana yang seperti neraka itu.
Namun, mereka terus memaksaku. Karena selain panas, tubuhku menggigil sangat hebat.
"Apakah mobil putih itu punya Anda?" tanya Pemuda tersebut.
Aku mengangguk.
Segera pemuda itu mengangkat tubuhku ke mobil yang terparkir dibibir pantai, diikuti oleh lbu tua tersebut.
Di RS, aku segera mendapatkan perawatan, karena tubuhku demam tinggi dan mengalami kejang-kejang. Aku kembali tak sadarkan diri.
__ADS_1
*****
Saat membuka mata, aku sudah dikelilingi orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku. Mereka semua tampak menangis, dan hei, Wais ada disini? Dia memegang tanganku dan terus mengucapkan kata maaf. Bukankah dia sudah tak peduli padaku lagi. Ada apa ini?
Ada rasa marah, benci, dan kasihan bercampur menjadi satu. Aku ingin memaafkannya, namun teringat dengan pengkhianatannya.
"Ya Allah... Mengapa tak kau ambil saja nyawaku." gumamku dalam hati.
Saat mereka tahu aku sudah sadar, Wais kemudian mencium punggung tanganku dan memohon maaf. Aku tak tahu, apakah kumaafkan atau tidak.
Saat dirinya ingin mencium keningku, segera ku berpaling darinya.
"Dina, lm sorry, please!!" Wais memohon.
Kulihat anak-anak tercinta, menatapku dengan penuh air mata, terlebih Aisya. Aisya menangis sesegukan.
"Bunda, jangan tinggalkan kami." dengan bahasa isyaratnya Aisya memohon padaku.
Saat dalam suasana haru, datanglah seorang Dokter menghampiri kami. Dia menjelaskan kondisiku saat ini.
"Her husband?" tanya Dokter kepada mereka.
"Yes, lm." jawab Wais.
"Congratulate.. Your wife is pregnant." kata Dokter itu sambil mengulurkan tangan sebagai tanda ucapan selamat.
Ada rasa bahagia dan terkejut terpancar diwajahnya.
"Really?" tanyanya dengan penuh senyum keceriaan.
"Ya. But,,," Dokter itu menggantungkan kalimatnya.
"But..?"
"This pregnant is not good. Those will endanger for her safety." lanjut Dokter kemudian.
"No, l will not do it." aku menolak dengan keras
Namun, mereka menjelaskan hanya untuk keselamatanku. Tapi, aku tetap kekeh untuk tetap melahirkan bayi ini. Karena keteguhanku, mereka pun menyerah. Kata Dokter, besok pagi aku boleh pulang ke rumah. Akhirnya Dokter pun meninggalkan kami.
Setelahnya Dokter pergi, Wais kembali memohon maaf dan ampunan padaku. Sementara Kabiir dan anak-anak keluar dari ruang perawatan ini. Mereka memberikan waktu untukku dan Wais.
"Bund, maukah memaafkan Abi?" tanyanya.
"Aku tak tahu, Bi, apakah kau bisa dipercaya lagi?" balikku bertanya.
"Namun hati ini terlalu sakit, Bi. Kau bermesraan didepan mataku ditempat yang tak seharusnya." bulir bening kembali membasahi pipi.
"Abi sungguh minta maaf, Bund, Abi benar-benar khilaf." ucapnya memohon penuh.
"Sudahlah, Bi. Tolong tinggalkan Bunda sendiri."
"Bund..."
"Please Bi!" aku memohon padanya.
Wais pun meninggalkanku sendiri diruangan perawatan.
Aku berpikir, apa yang harus kulakukan padanya? Apakah aku harus memaafkannya?
Kalau aku tidak memaafkannya, untuk apa aku mempertahankan bayi ini. Ternyata, rasa benci ini terkalahkan oleh rasa cinta yang dalam kepadanya.
*****
Pagi harinya, aku bersiap untuk pulang ke rumah. Sebelum itu, aku berterima kasih kepada pemuda penjaga pantai dan lbunya, dan memberikan sebuah kenangan kepada mereka.
__ADS_1
Sesampai dirumah, aku merasakan suasana yang tak mengenakan. Mungkin karena hatiku masih sedikit terluka mengenang peristiwa malam itu.
Saat Wais membimbingku untuk masuk ke kamar seperti biasa, aku menolaknya. Aku meminta kamar yang lain dan tak ingin melihat lagi kamar yang sudah ternoda itu.
Para pelayan pun menyiapkan kamar yang lainnya.
Hari-hari telah berlalu, tak terasa sudah sepekan aku selalu berada dirumah. Merasa sangat bosan, aku pun ingin menikmati suasana lain.
Aku meminta Aisya untuk menemaniku jalan-jalan ditaman bunga. Hanya berdua dengan Aisya.
"Sayang, temani Bunda jalan-jalan ke taman dekat cafe yang biasa kita hangout, yuk. Bunda bosan dirumah terus." dengan bahasa isyarat aku berkomunikasi dengan Aisya.
Aisya pun mengangguk dan tersenyum.
Kami pun segera meluncur ke tempat tujuan.
Aku begitu menikmati suasana ditaman yang sangat indah. Kuhirup udara dan menghempaskannya secara perlahan, membuang sesak yang telah memenuhi rongga dada.
Kami duduk disebuah bangku panjang di bawah pohon akasia.
Aku tersenyum saat melihat apa yang dilakukan Aisya. Gadis cantik ini mengambil foto setiap objek yang dia suka. Bahkan aku juga tidak lepas dari objek fotonya.
Aisya juga mengajak berselfi ria. Begitu bahagianya memiliki anak-anak yang sangat menyayangi dan bisa menghibur disaat aku bersedih.
"Bund, Aisya haus. Aisya mau cari minum dan camilan dulu." dengan isyaratnya dia meminta izin.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Kesendirian ini kembali membuatku berpikir, apakah harus kuterima kembali Wais dan memaafkannya?
Tiba-tiba, duduk disampingku Alicia. Dia menatapku dengan sinis, terpancar kemarahan diwajahnya.
"Alice? Dengan siapa kau kemari?" tanyaku padanya.
"Kau tak perlu tahu lah, Dina." dengan ketusnya dia menjawab pertanyaanku.
"Kemana saja kau selama ini? Sudah seminggu aku tak melihatmu dirumah?"
"Senang..!!! Senang benar kau melihatku tak ada dirumah?" intonasi suaranya makin meninggi.
Aku memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seminggu setelah kembali dari RS, aku memang tak melihat Alicia dirumah. Namun aku enggan. Untuk menanyakannya.
Alicia menghampiri dan menjambak hijabku dengan sangat keras, membuat kepalaku mendongak. Didekatinya antara wajahku dan wajahnya yang berjarak hanya satu senti. Terpancar amarah dan kebencian diwajah Alicia.
"Dengar, Dina, kau telah menghancurkan kehidupanku. Kehadiranmu telah merusak semua impian dan harapanku." dengusnya kesal.
"Aku telah diusir dari rumah itu. Dan Kabiir...
Kabiir telah menceraikanku." teriaknya dengan penuh emosi.
Aku sangat terkejut. Sungguh tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Plaakk...
Sebuah pukulan mendarat dipipi, terasa sangat perih.
"Kamu harus mempertanggung jawabkan semua ini, Dina."
"Guard, bring to her." perintah Alicia kepada dua orang dengan postur tubuh tinggi besar.
Belum sempat aku menyadari, dua orang itu membawaku dengan paksa. Alicia yang terlebih dulu menuju ke sebuah mobil hitam, tak menghiraukan teriakanku.
"Lepaskan aku, Alice." rontaku
Namun, pegangan kedua Bodyguard itu sangat kuat.
__ADS_1
Saat aku sedang dibawa, Aisya melihatku dan berusaha mengejar. Tapi, para bodyguard itu mendorongnya hingga terjatuh. Aisya berusaha memanggilku. Namun apa daya, dia tidak memiliki suara. Hanya ungkapan dimulutnya memanggil "Bunda".
Aku pun dimasukan kesebuah mobil hitam dengan paksaan. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan Aisya-ku yang terus mengejar dan berusaha memanggilku. Namun detik terakhir, aku bisa mendengar suara Aisya-ku memanggil " Bundaaaaa...."