
Dua minggu telah berlalu dari kejadian malam itu. Lumayan tenang selama berada di rumah Mamah. Tanpa mendengarkan mereka yang selalu bermulut pedas. Dan memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus ku ambil. Aku bertukar pikiran dengan Kak Vera, pemilik butik tempat ku bekerja. Kak Vera seorang yang baik. Dia tak hanya menganggapku sebagai karyawan di tokonya, tapi juga menganggap ku sebagai adiknya. Sebenarnya karyawan di butik Kak Vera ada lima termasuk aku, tapi usia mereka semua di bawah usiaku. Jadi lebih nyaman bercerita dengan Kak Vera di banding dengan teman sesama karyawan.
"Kak, gimana menurut kakak. Di teruskan atau apa? Aku malu Kak kalau gagal untuk kedua kali nya"
"Menurut kamu bagaimana? Tergantung hatimu Din. Kalau kamu sudah tidak suka lagi sama Bagas dan tidak ingin memberi dia kesempatan, aku bisa apa, itu pilihanmu."
"Tapi kalau boleh aku kasih saran, mencobalah untuk memaafkan nya dan berilah dia kesempatan. Mungkin dia bisa berubah."
"Apapun keputusanmu, Kakak akan terus mendukungmu"
Akupun merenungkan apa yang Kak Vera katakan. Sampai pada suatu sore Bagas datang ke rumah Mamah.
"Dik, pulang yuk. Abang minta maaf, Abang benar-benar menyesal. Abang janji tidak akan mengulangi nya lagi."
Di depan Mamah, Isha dan suaminya, Kak Lisna dan juga keponakan ku Bagas berjanji.
"Baik lah aku memaafkan mu. Tapi aku gak mau lagi ke rumah ibu mu. Keluarga yang sangat rese."
Setelah Bagas berjanji di depan keluarga ku, dia benar-benar menepati janjinya. Walau kebiasaan mabuknya gak bisa hilang, dia tidak melakukan kekerasan lagi. Dan aku pun gak pernah lagi ke rumah ibu mertua, sekalipun itu di hari lebaran. Biarlah aku di anggap sebagai menantu durhaka.
*****
Sampai suatu hari, di saat usia kandungan ku delapan bulan, aku di kejutkan oleh kenyataan yang tak ku harapkan.
Gawainya berdering di pagi hari. Saat itu Bagas sedang berada di kamar mandi. Ku lihat ternyata Bos di tempatnya kerja menelpon. Langsung lah ku angkat telpon itu.
"Halo sayang, cepat ya jemput aku. Entar aku telat nih"
Aku terkejut, langsung ku putuskan sambungan telpon itu. Ada yang mengambang di ujung netraku. Tak terasa air itu pun mengalir membasahi pipi.
__ADS_1
Tak berapa lama, Bagas pun masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat gawainya berada di tangan ku.
"Kenapa gawaiku ada di tanganmu Dik?"
"Tadi ada Bos nelpon kamu Bang."
Seketika Bagas terkejut dan berusaha menyembunyikan keterkejutan nya.
"Ngapain juga kamu ngangkat telpon yang bukan milikmu."
"Kata Bos cepat di jemput entar telat." Aku berusaha menyembunyikan amarah dan luka ku.
Seketika Bagas berlalu dengan terburu-buru tanpa pamit padaku.
Ada rasa sesak di dalam dada. Dan hati ini terasa perih bagai di iris sembilu.
Apakah Bagas selingkuh?
Perlukah aku mencari bukti lagi atas perselingkuhan nya?
Kenapa uang tabunganku untuk persiapan melahirkan selalu berkurang?
Bagaskah yang mengambilnya untuk dia selingkuh?
Selama seminggu pertanyaan itu terus bekecamuk dalam pikiran ku. Sampai akhirnya kontraksi terjadi. Mules yang terjadi membuatku tak bisa bertahan. Akupun minta bantuan adik ku Isha dan kakak ipar ku Lisna. Kebetulan saat itu Mamah tak ada di rumah.
Mereka pun segera mengajakku ke puskesmas terdekat. Tidak lupa aku meminta Isha untuk membawakan baju dan uang tabungan ku.
Sesampai di puskesmas, aku segera di tangani Bidan dan perawat yang bertugas. Bidan itu pun segera memeriksa ku.
__ADS_1
"Maaf Bu, ini baru pembukaan satu. Apakah ibu mau tetap di sini atau mau pulang dulu" kata Bidan yang menanganiku.
"Di sini langsung aja bu bidan, takutnya nanti kaki langsung lemas dan gak bisa jalan"
Bidan pun memeriksa riwayat ku di buku catatan ibu hamil.
"Riwayat ibu ini, anak pertama melahir kan di Rumah Sakit ya bu. Dengan kondisi ibu yang sesak nafas dan gak kuat ngejan."
"Yang ini anak kedua ya Bu. Kalau di lihat tafsiran tanggal kelahiran nya masih satu bulan lagi."
"Boleh tanya Bu, apakah Ibu merasa stress? Soalnya seorang Ibu hamil gak boleh merasa tertekan atau apapun. Ibu hamil harus rileks biar bayi nya juga sehat."
Aku pun hanya terdiam karna memang salah ku tidak bisa menjaga kondisi tubuh. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan Bagas dan selingkuhan nya.
Bu Bidan itu memang baik. Dia selalu menjagaku dan selalu mengecek kondisi ku.
Tak berapa lama bagas pun datang. Bidan pun tidak bisa berbuat banyak lagi karna kondisi ku makin lemah. Dan akhirnya aku pun di rujuk ke Rumah Sakit.
Sesampai di Rumah Sakit, aku langsung di bawa ke ruang tindakan. Karna kondisiku makin melemah, para perawat segera memasang selang infus hampir di seluruh tubuh ku.
Di saat aku melahirkan dengan mempertaruhkan hidup dan mati ku, Bagas tidak ada di samping ku. Aku hanya di temani perawat, dokter kandungan, dan bidan yang bertugas di waktu itu.
Pukul tujuh pagi, bayi mungilku lahir ke dunia. Bayi laki-laki yang ganteng. Aku hanya sebentar melihat bayi mungil ku. Bayi ku langsung di bawa ke ruang inkubator dan harus mendapat penanganan khusus.
Aku sangat bahagia, walaupun hanya sebentar melihatnya. Dan hanya mampu berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada bayi mungil ku.
Aku merasa lelah dan mataku berkunang-kunang. Aku merasa ingin tidur. Sebelum hilang kesadaran ku, sayup-sayup ku dengar dokter mengatakan harus menyiapkan empat sampai lima kantong darah. Karna aku mengalami pendarahan. Dan juga aku harus di kuret, karna plasenta bayiku yang telah hancur sebagian masih menempel di dinding rahim.
Melihat kondisiku makin lemah, para perawat dan bidan segera melaksanakan perintah dokter. Mereka sangat sibuk dan terlihat gugup. Sampai akhirnya, yang ku rasakan hanya lah kegelapan dengan tubuh yang sangat ringan.
__ADS_1
______________________________