Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 10 Di fitnah lagi


__ADS_3

Sekian menit ku tunggu, tapi tak ada juga balasan dari Merwais.


Aku pun segera merapikan kamar. Ku lirik jam yang menempel di dinding, sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Tapi Bagas tak kunjung pulang. Ku gendong Galang dan mengajak nya segera tidur.


Tiing... Gawaiku berbunyi. Aku pun membuka pesan di aplikasi hijau itu.


[ I Love You, Dina]


Aku terkejut. Darah ku berdesir. Jantungku berdegup kencang.


[Kau tahu, Dina, selama ini aku menyukai mu.]


[Kau wanita yang tangguh dan kuat. Aku begitu mengagumi kesabaran mu.]


[Hampir tiga bulan kita lost contact, selama itu pula aku sangat merindukanmu.]


Aku hanya bisa diam. Jantungku berdegup makin kencang. Tangan ku bergetar membaca tiap baris kalimat yang Dia ucapkan. Pikiranku pun jadi buntu.


[Aku tahu, kau mempunyai suami! Tapi Aku tak ingin kau makin tersiksa.]


[Aku bersedia jadi Abi dari anak-anakmu.]


[Will You Merry Me?]


Aku makin tertegun. Merwais melamarku. Seharusnya Dia tahu, seorang wanita yang sudah punya suami, haram untuk di nikahi.


Aku sadar, aku pun salah. Kenapa tadi harus ku tanyakan, apakah Dia merindukanku! Padahal aku merindukan nya hanya sebagai seorang Kakak.


Tiba-tiba, Bagas datang. Dia langsung merebut gawai di tangan ku. Aku makin takut, karna aku yakin, Bagas pasti menuduhku bermain di belakangnya.


"Huh, sudah kuduga, kau selingkuh dengan cowok india itu."


Bagas pun memukulku berulang kali. Dan aku terpojok di ujung kamar. Tanpa Dia hiraukan kalau aku sedang hamil.


Galang yang tadinya tidur, terbangun. Dan menangis sekencang-kencangnya. Akupun segera meraih dan memeluk Galang. Aku takut Galang akan ikut jadi korban amukan Bagas yang membabi buta.


Setelah Dia puas, Bagas pun meninggalkan kami pergi. Kunci rumah yang lain pun di bawanya. Jendela pun Dia kunci dengan memakunya dari luar. Sehingga tidak ada akses jalan untuk kami keluar.


Aku hanya meratapi diri. Tanpa ku sadari, ada air yang merembes di antara kedua pangkal pahaku. Saat ku pegang, ternyata itu adalah darah. Akupun terkejut.


Di saat aku ingin berdiri, ada rasa nyeri di perut ku. Aku merasa tak kuat. Mataku mulai berkunang-kunang. Sebelum kesadaran ku hilang, sayup ku dengar Galang menangis dan memanggil "Bunda".


******


Di saat aku sadar, kulihat Galang tertidur di atas dadaku dan memelukku. Aku menangis. Segera ku gendong Galang untuk memindahkan nya diatas tempat tidur, tanpa ku hiraukan sakit yang masih terasa di perutku.


Aku langsung ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Setelah itu ku bersihkan darah yang ada di lantai kamar tidur.


Aku tak tahu, apakah aku keguguran atau tidak.


Setelah semuanya beres, aku segera memasak makanan untuk kami berdua. Biarlah cuma makan nasi dan garam, yang penting anakku bisa makan.


Tiga hari telah berlalu, Bagas pun pulang ke rumah kontrakan kami.


" Hei, pel**ur, hari ini keluargaku akan ke sini."


"Kalau sampai kau beritahu kepada mereka kejadian waktu itu, akan berakibat buruk pada Galang. Mengerti?" Bagas membentakku.


Hanya air mata yang mampu keluar dari sudut mataku.

__ADS_1


Tak berapa lama, Mertua ku datang. Bersama Tante dan Oom nya Bagas. Ku persilahkan mereka masuk, dan segera menyiapkan teh untuk mereka.


Tak berapa lama Bang Wira pun datang bersama Istrinya. Aku jadi bingung, apa maksud semua ini.


"Din, Bagas sudah cerita semuanya." Bapak mertuaku meawali percakapan.


"Maksudnya pak?" tanyaku. Karna aku tidak mengerti.


"Halah, gak usah pura-pura, Din." Tantenya Bagas menimpali.


"Kamukan selingkuh. Bagas sudah cerita semua."


Aku pun terkejut. Tak ku sangka Bagas memfitnah aku lagi, tanpa mau mendengar penjelasanku.


"Kamu ini bikin malu aja, Din." Bang Wira terlihat marah sekali.


"Kamu sudah selingkuh dan hamil dengan laki-laki lain." Bang Wira pun berdiri dan langsung memukul ku.


"Kami sudah melihat kok isi percakapanmu dengan pria india itu." sahut Tante Bagas.


"Dan kamu harus menggugurkan anak itu." kata Bang Wira lagi.


"Tapi, aku tidak selingkuh, Bang!" aku pun melakukan perlawanan.


"Ini benar-benar anak Bagas." akupun mulai terisak.


Secepatnya ibu mertua meraih Galang dari pangkuan ku dan mengajaknya keluar.


"Aku tidak percaya." Bagas pun bersuara.


"Gugurkan kandungan itu. Atau..."


"Aku tidak akan menggugurkan anak ini."Aku langsung menyela. Walau aku tidak tahu keadaan kandunganku sekarang.


"Kalau aku tidak mau, Apa kau mau menceraikanku?" balasku.


Sontak semuanya diam.


"Terserah, kamu mau mempertahankan kandunganmu atau tidak, aku tidak akan menceraikanmu sampai kapan pun." bentak Bagas.


"Ya Allah.... Begitu beratnya ujian yang Engkau berikan. Berikanlah kekuatan ya Allah." Doaku dalam hati.


"Harusnya kamu malu, Din." ucap Bang Wira.


"Dasar, istri yang tak tahu malu. Mempertahankan anak haram." Tante Bagas bergumam.


"Din, Bagas sangat mencintaimu." Bapak mertua berucap.


"Mencintai tapi bukan untuk menyakiti." ucapku.


"Aku tetap ingin minta cerai." tambah ku lagi.


Tiba-tiba pukulan itu mendarat di pipiku. Bang Wira dengan wajah marah menamparku. Aku hanya bisa meringis.


"Aku sudah mengatakan, sampai kapan pun Aku tidak akan menceraikan mu."


Karena keputusan Bagas sudah jelas, akhirnya mereka semua pulang. Hanya tinggal aku dan Galang.


*******

__ADS_1


Pagi yang cerah. Matahari dengan sempurna menyinari bumi. Sinarnya hangat menembus kulitku.


Tapi tak sehangat hatiku saat ini. Aku termenung duduk di teras. Sementara Galang masih terlelap dalam buaian mimpi indahnya.


Isha tiba-tiba saja memelukku dan menangis.


"Kak Din, maafkan Isha. Isha gak bisa menolong Kakak." Isha menangis di pelukanku.


"Jangan menyalahkan dirimu Sha. Kakak ngerti."


"Kak, tolong, ceritakan lah semuanya kepada Isha!"


"Apa benar yang di tuduhkan mereka bahwa Kakak selingkuh?"


"Tidak, Sha, mereka salah."


"Kalau begitu, jelaskan yang sebenarnya kepada mereka."


"Percuma, Sha. Bagaimana pun kujelaskan, mereka tetap kekeh pada pendapat mereka sendiri."


"Aku putus asa, Sha. Apa lebih baik aku mati saja?!" akhirnya pertahanan ku pun runtuh, Aku menangis tersedu.


Kami pun menangis saling berpelukan.


Akhirnya semua ku ceritakan kepada Isha.


Setelah mendengar semua ceritaku, Isha pun segera membawaku ke Dokter kandungan. Beruntung, Dokter itu sahabat Isha waktu sekolah dulu, sehingga kami tak perlu antri.


"Va, tolong perika Kakak gue dong."


Ternyata Dokter kandungan itu bernama Eva.


"Ada keluhan apa?" tanya Dokter Eva.


Isha pun menceritakan semua yang terjadi dengan kandungan ku. Dan Dokter Eva pun segera memeriksa ku.


"Alhamdulillah... bayi yang ada dalam kandungan Kakakmu kuat, Sha. Bayi itu masih ada."


"Tapi, tolong, Ibunya jangan stress ya. Nanti akan berdampak pada bayinya."


Setelah pemeriksaan itu, kami pun pulang. Isha berjanji akan membantuku sebisanya.


"Kak, Bagas masih ngasih uang gak?"


"Sudah dua minggu ini setelah kejadian itu, Bagas tidak memberiku uang sepeser pun."


"Ambil uang ini Kak, sebagai pegangan Kakak."


Isha menyodorkan uang berwarna merah dua lembar.


"Makasih ya Sha."


"Tapi, jangan bilang kalau aku membantu Kakak, ya. Kalau Rendy tahu, Dia akan marah."


Rendy adalah Suami Isha. Dia seorang yang tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang, walaupun itu saudaranya.


"Sha, mau bantu aku nggak?" tanyaku.


"Apa, Kak?"

__ADS_1


"Tolong carikan efbi Merwais Ahmed Khan. Aku ingin minta tolong padanya."


BERSAMBUNG........


__ADS_2