
Ku lihat Mamah sedang duduk di sebuah taman yang indah. Dia bersama bayi kecil. Tersenyum manis setelah melihat kedatanganku. Dia berikan bayi itu kepadaku dan berkata
"Ganteng kan bayi mungil ini!"
Akupun melirik bayi yang sedang ku gendong.
"Ya, bayi mungil ini memang ganteng, Mah."
"Bayi siapa ini, Mah?"
Mamah tidak menjawab. Hanya memberikan senyum manis.
Tak berapa lama, datanglah Ayah yang selama ini aku rindu. Aku langsung memeluk dan menciumnya. Ayah selalu memberikan kehangatan dan kasih sayang. Betapa damai dan tentramnya aku bersama mereka.
Setelah itu, datang Kakek dan Nenek. Mereka pun memeluk ku bersamaan. Aku sangat merasa aman di antara mereka. Lalu Ayah berkata
"Pulanglah, Dina. Di sini bukan tempatmu."
"Tapi, aku ingin tetap bersama kalian."
"Aku merasa damai dan tentram di sini."
"Pulanglah! Masih ada cinta untukmu di sana. Kasihan anak-anakmu." sambung Nenek lagi.
"Tapi, ini bayi siapa, Mah?"
Mereka pun hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.
"Pulanglah!!" hanya itu yang mereka ucapkan.
Ada suara yang terus memanggil namaku. Tapi aku tak melihat sesosok nya. Aku bingung, apakah harus ku ikuti suara itu atau kah tetap tinggal bersama keluargaku.
Mamah pun mendekatiku
"Pulanglah, Dina. Raihlah kebahagiaan bersama cintamu. Kamu belum waktunya berada di sini."
Mereka pun mencium dan memelukku. Akupun tidak lupa mencium bayi mungil itu.
Tiba-tiba, mereka seperti tersedot suatu kekuatan yang dahsyat. Keluargaku semakin menjauh, menjauh dan kemudian menghilang.
Hanya aku seorang diri di tempat yang akupun tak tahu. Kemudian suara itu datang lagi. Suara itu terus memanggil namaku dan aku pun mengikuti arah suaranya.
Ada sebuah pintu. Aku ragu untuk membukanya. Namun, aku yakin suara itu ada di balik pintu tersebut.
Ku buka, dan aku pun seolah berada di lorong waktu. Suara yang mendengung kuat, membuatku menutup mata dan telinga.
Perlahan suara itu menghilang. Akupun mencoba membuka kedua mataku.
Ku lihat sebuah ruangan berwarna biru langit. Dindingnya berlukiskan sebuah taman, dengan pohon sakura yang rindang.
__ADS_1
Ku edarkan pandanganku kesetiap tempat di ruangan itu. Pandanganku terhenti pada seorang laki-laki yang menatap lembut wajahku. Ku lihat air yang ada di sudut matanya, jatuh membasahi pipi.
"Alhamdulillah... kau sudah sadar, Dina." laki-laki itu berucap.
Ku dengar dia segera menelpon Dokter.
"Dok, Dina sudah sadar. Tolong segera ke sini."
Dia menutup telpon dan segera menghampiriku. Dia terus menggenggam tanganku dengan erat.
"Dina, aku kira, aku sudah kehilanganmu."
Tak berapa lama, Dokterpun datang. Dia segera memeriksaku.
"Maaf, pak, Bu Dina sepertinya perlu perawatan khusus. Sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan. Karena terlalu lamanya Ibu dalam keadaan koma."
"Lakukan yang terbaik untuk memulihkan keadaannya, Dok." ucap laki-laki itu.
"Kita akan melakukan perlahan-lahan untuk memulihkan ingatannya." lanjut Dokter itu.
"Ada apa dengan ingatannya,Dok?"
"Karena terlalu lama koma, sebagian memory Ibu Dina hilang."
Laki-laki itu hanya tertunduk sedih.
Kemudian Dokter itu memberikan resep untuk segera di tebus.
Peralatan medis yang penuh di tubuhku, kini sudah di lepas oleh para perawat. Hanya selang infus dan oksigen yang masih menempel.
"Din, apa kah kau ingat aku?"
Aku hanya menggeleng lemah. Laki-laki itu menghempas lembut nafasnya.
"Din, segeralah pulih seperti sediakala."
"Kamu ingin makan?" tanya laki-laki itu lagi.
Akupun menanggung, karna aku memang lapar.
"Bi Jum, tolong ambilkan bubur. Dina mau makan." perintah laki-laki itu kepada seorang perempuan tua yang di panggilnya Bi Jum.
Tak berapa lama, bi Jum pun datang membawa semangkok bubur. Laki-laki itu segera menyambut bubur yang telah di bawakan dan menyuapkan nya kepadaku.
Dalam sekejap, bubur itu telah berpindah ke perutku. Karena aku memang merasa lapar. Aku pun berusaha untuk berbicara, tapi lidah ku kelu.
"Tidak apa-apa, Din. Jangan terlalu di paksakan ya."
"Minumlah obat ini, kemudian beristirahatlah."
__ADS_1
Dia pun memberikan obat untuk ku minum.
Saat dia ingin beranjak dari duduknya, aku segera memegang tangannya dan menggelengkan kepala sebagai tanda isyarat.
Dia hanya tersenyum, dan kembali duduk di tempat semula.
*****
Pagi yang sangat indah. Mentari besinar cerah masuk menerobos kisi-kisi jendela dalam ruangan ini.
Aku berusaha untuk bangun dari tempat tidur. Tapi kakiku terasa sangat lemas, sehingga aku terjatuh. Aku benar-benar tak berdaya. Terasa lumpuh seluruh badan.
Laki-laki itu terburu-buru masuk ke kamar.
"Astagfirullah... Din, jangan di paksakan diri kalau masih merasa lemas. Kamu harus terapi dulu agar kembali seperti semula."
Dia pun segera menggendongku. Ada rasa degupan lembut di dalam dadaku. Pertanda apakah ini? Apakah aku jatuh cinta padanya? Sedangkan aku tak mengenal dirinya. Ataukah ada rahasia masa laluku yang berhubungan dengan nya?
"Ah, semua pertanyaan ini harus terjawab." gumam ku dalam hati.
"Kamu ingin jalan-jalan ketaman, Din?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Akupun perlu udara segar.
Laki-laki itu segera mengambil kursi roda yang berada di sudut ruangan. Kemudian menggendongku kembali dan mendudukan ku di atas kursi roda.
Aku memberi isyarat, karena aku ingin mencuci wajahku sebentar agar terlihat lebih segar.
Laki-laki itu mendorong kursi roda ke arah kamar mandi, dan membantuku untuk mencuci muka.
Setelah itu, dia mengajak ku ke taman belakang rumah ini. Taman yang sangat indah, walaupun tak terlihat besar, tapi cukup memanjakan mata.
Di taman itu, ada kursi yang mengitari setengah lingkaran menutupi meja. Kemudian ada kolam ikan di sampingnya. Di tengah kolam ikan, ada air mancur yang penuh dengan lampu warna warni.
Ada juga kursi yang memanjang di bawah pohon akasia yang rindang. Sungguh pemandangan yang menyejukan hati.
Tak berapa lama, datang seorang bocah kecil yang kira-kira berusia lima belas bulan dengan seorang wanita cantik. Bocah itu lincah, aktif, ganteng dan juga cerdas.
Bocah itu memanggilnya dengan sebutan 'ABI'
.
.
Masih penasaran???
Ikutin terus ya tiap episodenya.
Insha Allah sebelum Ramadhan, cerbungnya akan ending. 😊😊🙏🙏
__ADS_1