Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 21 Keputusan Dina


__ADS_3

Aku hanya bisa terdiam. Suaraku tercegat di tenggorokan. Aku tak tahu, keputusan apa yang harus ku ambil.


"Tapi, kami tidak bisa memaksamu, Dina. Itu hak mu. Mungkin kau terlalu benci pada Bagas karena membuat mu menderita selama ini."


Aku tetap diam. Aku keluar dari kamar itu dengan tatapan mata yang kosong. Aku terus berjalan di lorong Rumah Sakit. Dan berhenti di sebuah kursi panjang yang berada di lorong tersebut.


Aku terduduk dan menangis. Meratapi perjalanan hidupku yang berliku dan penuh duri.


Merwais menyusulku. Dia menyadarkan ku dari lamunan. Saat aku sadar, aku hanya mampu menangis dan memeluknya.


"Din, kamu harus kuat. Aku ingin melihat Dina yang dulu. Dina yang penuh kesabaran. Tidak seperti ini." Wais memberiku semangat.


"Semua keputusan ada di tanganmu, Dina. Apapun keputusan mu, aku akan terus mendukungmu. Dan akan tetap mencintaimu."


"Wais, bagaimana menurutmu?" aku bertanya pada Merwais.


"Kalau kau masih ragu dengan keputusan mu, sholat malam lah dua rakaat. Mintalah petunjuk pada-Nya."


"Ingat, Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya."


****


Malam yang mencekam, aku benar-benar tak bisa tidur. Aku takut, ngambil keputusan yang salah. Saat ini, aku teringat apa yang Merwais katakan.


Aku pun segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sholat sunnat dua raka'at.


Setelah selesai melaksanakan dan kemudian berdoa, ada ketenangan di dalam jiwa. Akhirnya aku pun terlelap tidur.


Adzan subuh berkumandang. Aku bergegas bangun dari tempat tidurku. Segera ku ambil air wudhu, dan bersiap untuk melaksanakan sholat subuh.


Sebelumnya, aku menuju ke kamar Merwais agar dia mengimami kami sholat berjama'ah. Galang dan Gilang pun tidak lupa ku ajak untuk sholat bersama.


Beruntung, membangunkan mereka tidak lah sulit. Mereka segera bangun dan bergegas siap-siap untuk sholat bersama.


Kami semua kumpul di ruang sholat, dan segera melaksanakan sholat berjama'ah.


Setelah selesai sholat subuh, aku meminta kepada mereka mendoakan ku agar aku tidak salah mengambil keputusan.


Mereka semua keluar dari ruang sholat, hanya tertinggal aku dan Merwais.


"Bolehkah aku tahu, apa keputusanmu?" tanya Merwais.


"Yuk, temani aku ke Rumah Sakit." ajak ku kepadanya.


Ku hadirkan senyum manja untuknya, untuk malaikatku, Merwais.


Jam sudah menunjukan pukul 08:30.


Setelah sarapan, kami pun berangkat ke Rumah Sakit. Yang mana tempat itulah yang akan menentukan hidupku kelak.


Dengan langkah yang pasti, aku dan Merwais menuju kamar di mana Bagas di rawat. Tidak lupa kami membawa buah tangan untuk mereka yang sudah menjaga Bagas.


"Assalamualaikum... Bu." salam ku kepada mereka.


"Waalaikum salam..." mereka pun menjawab salam ku.


"Apa keputusan mu, Din?" langsung Bapak Mertua bertanya.

__ADS_1


"Baik lah, pak. Saya akan merawat bayi nya Bagas. Sekaligus, saya akan merawat Bagas sebagai tanda baktiku untuk terakhir kalinya."


"Setelah itu, saya ingin Bagas menanda tangani surat cerai yang akan saya ajukan."


"Tidak bisa kah kau beri kesempatan sekali lagi untuk Bagas memperbaiki kesalahan nya?" tanya Ibu Mertua lagi.


"Maaf, Bu, ini lah kesempatan terakhirnya sebelum saya berikan surat cerai itu."


Sebenarnya, aku juga kasihan melihat keadaan Bagas sekarang ini. Tapi aku juga tidak ingin menyia-nyiakan tulus nya cinta Merwais kepadaku.


"Baik lah, Dina, itu keputusan mu. Kami tidak bisa memaksamu. Setidaknya, kamu sudah membantu meringankan beban kami." kata Bapak kemudian.


Aku pun menghampiri Merwais dan mengharapkan pengertian nya.


"Wais, aku harap kamu mau mengerti akan keputusanku."


"Aku senang, Dina ku yang dulu telah kembali."


Wais menyentuh kedua bahuku dan menatap lekat-lekat mataku.


Ada kesejukan dalam tatapannya. Ada ketenangan dalam senyumnya. Aku sangat beruntung, bisa di cintai olehnya.


*****


Dua minggu sudah Bagas di Rumah Sakit, akhirnya dia di perbolehkan pulang oleh pihak RS. Dan kini hanya di rawat di rumah orang tua nya.


Hari ke hari, minggu ke minggu, tak terasa sudah dua bulan aku merawat Bagas. Keadaan nya pun sudah agak membaik. Kini Bagas sudah bisa berjalan, walaupun menggunakan tongkat.


"Din, benarkah kau tetap menggugat cerai diriku?" tanya Bagas suatu hari.


"Mungkin kita sudah tidak berjodoh lagi, Bagas." sahutku kalem.


"Aku begitu mencintaimu, Din. Aku tidak ingin kehilangan mu." Bagas menggenggam erat tangan ku.


"Maaf, Bagas, aku tidak bisa."


Bagas terus memohon padaku, agar aku tidak menggugat cerai dirinya.


"Bund, tolong lah. Berikan sekali lagi kesempatan. Apakah Bunda sudah tidak mencintai Ayah lagi. Pikirkan lah anak-anak, Bunda."


"Maaf, Bagas. Semua gugatan sudah di urus. Sebentar lagi suratnya akan keluar. Kamu tinggal menanda tanganinya saja." ucapku.


Bagas hanya bisa tertunduk. Ada rasa penyesalan tergambar jelas di raut wajahnya.


Tak berapa lama, sebuah mobil mungil berwarna silver memasuki halaman rumah Bagas. Merwais keluar dari mobil itu dengan menggendong seorang bayi perempuan yang cantik.


"Itu Merwais sudah menjemputku."


"Oh, ya, apakah kau ingin mengambil kembali bayimu, Bagas? Atau kau tetap biarkan aku yang merawat bayimu?" tanyaku kepada Bagas.


"Biar lah bayi perempuan itu tetap kau yang merawat, Dina. Dan aku tak akan pernah mengambilnya darimu." begitu berat Bagas mengucapkan kalimat itu.


"Anak perempuan itu menjadi tanggungan abang-abang nya kelak. Apabila mereka terpisah, aku takut perkawinan sedarah akan terjadi." Bagas tertunduk lesu menjelaskan semuanya.


Tak berapa lama, ada sebuah mobil merah kembali parkir di halaman rumah Bagas. Dia adalah Om Tomi dan pengacaranya. Mungkin mereka mau memberikan akte cerai itu kepada Bagas dan minta tanda tangan nya.


Bapak dan Ibu mertua mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu. Kami pun semua berkumpul di tempat itu.

__ADS_1


Di depan semua, pengacara Om Tomi menjelaskan semua tentang gugatan cerai yang sudah di persidangkan. Dia pun menunjukan akte cerai dan memberikan nya kepada kami untuk segera di tanda tangani.


Di depan mereka semua aku dan Bagas menanda tangani akte cerai tersebut.


Setelah itu, Om Tomi dan pengacaranya segera pamit.


Saat akan pulang, Bagas menahan langkah kami.


"Merwais, maaf kan aku sebelumnya, aku telah membuatmu susah dan telah memfitnah kalian."


"Tolong jaga Dina dan anak-anak ku. Jangan pernah kau menyakiti nya walau hanya secuil."


"Selama ini aku telah menyia-nyiakan nya, dan kini aku sangat menyesal."


"Beruntunglah kau bisa menaklukan hati Dina dan mendapatkan cintanya. Tolong jaga mereka." pesan terakhir yang terucap dari bibir Bagas.


Setelah itu aku tidak pernah mendapatkan kabar tentang Bagas. Di mana dia dan bagaimana kabarnya. Pun dari orang tuanya.


*****


Tiga bulan telah berlalu.


Acara lamaran sekaligus pernikahan ku dengan Merwais akan di laksanakan.


Sementara ini aku tinggal di rumah Isha. Acara lamaran akan di laksanakan di rumah Isha.sedangkan akad nikah nya akan di laksanakan di sebuah Mesjid dekat rumah Isha.


Hari yang di tentukan pun telah tiba. Jagoan dan putri cantikku pun telah siap sedia. Walaupun masih bayi, Aisya, sudah ku perkenalkan dengan pakaian seorang muslimah.


Begitu cantiknya Aisya ku memakai hijab berwarna putih dan baju berwarna biru langit. Menyesuaikan dengan baju yang akan ku kenakan di saat akad nikah nanti.


Sedangkan kedua jagoanku memakai jasco. Setelan koko yang bentuknya seperti jas. Jasco berwarna putih yang di padukan dengan sulaman yang berwarna biru langit.


Pukul 09:00 rombongan mempelai laki-laki nya telah tiba. Dengan adat mereka, mereka begitu banyak membawakan seserahan untuk diriku.


Setelah selesai acara seserahan, kami pun segera menuju ke Mesjid. Tempat berlangsungnya akad nikah aku dan Merwais.


Di Mesjid itu, semua tamu sudah berkumpul. Tidak terlalu banyak, kami hanya mengundang keluarga dekat saja. Dan resepsinya akan di laksanakan di Dubai dan Pakistan.


Kenapa Merwais mengadakan di dua tempat acara resepsi? Karena di Dubai teman relasinya sangat banyak. Merwais seorang pimpinan perusahaan yang sangat maju. Sedangkan di Pakistan, itu adalah tempat dia lahir dan di besarkan. Teman dan keluarganya pun sangat banyak di Pakistan.


Acara akad nikah pun segera di mulai. Di altar pernikahan, duduk Merwais, Om Tomi dan juga Abi nya Wais. Di depan mereka ada meja kecil untuk penyerahan. Di sisi lain meja kecil itu, duduk para petugas KUA dan juga Bang Wira sebagai Wali nikah ku.


Sedangakan aku, duduk di antara tamu perempuan lainnya. Aku memakai baju pengantin yang sederhana berwarna biru langit. Di bapu dengan jilbab syar'i dan niqob berwarna putih. Aku di apit oleh Isha dan juga Ummi. Tidak lupa, Kak Vera pun datang di acara akad nikah kami.


Penghulu pun memberikan wejangan dan nasihat. Setelah itu, acara pun di mulai.


"Bismillahirrohmanirrohim...


SAUDARA MERWAIS AHMED KHAN BIN JALIL ARGA KHAN aku nikahkan engkau dengan adikku yang bernama DINA LARASATI BINTI MUHAMMAD THAMRIN dengan MAS KAWIN EMAS SEBERAT 159 GRAM dan SEPERANGKAT ALAT SHOLAT di bayar TUNAI."


"Saya terima nikah nya DINA LARASATI BINTI MUHAMMAD THAMRIN denganMAS KAWIN TERSEBUT, di bayar TUNAI."


"Bagaimana saksi? SAH...?"


Mereka semua serempak menjawab...


 

__ADS_1


S A H


__ADS_2