
Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM
"Bagaimana, saksi? Sah?"
SAH... Semua yang hadir mengucapkan Hamdalah.
Aku pun di antar Kak Vera dan Isha ke meja akad nikah.
Merwais kemudian menyematkan cicin putih bertahtakan berlian di jari manisku. Kemudian dia meniupkan doa ke ubun-ubun dan mencium keningku. Akupun mencium takjim tangannya. Tangan ini lah yang selalu menjagaku. Dan berharap tangan ini tak akan pernah menyakitiku sampai ajal menjemput.
Kamipun menanda tangani surat nikah, sebagai bukti kami sudah menjadi suami istri.
Aku sangat bahagia telah menjadi istri Merwais, yang mana selama ini kami menjalaninya penuh perjuangan.
Tidak lupa, setelah akad, Wais mengajakku untuk sholat sunnat. Memohon keridhoan Allah agar rumah tangga kami selalu di berkahi.
Setelah akad nikah, kamipun menggelar resepsi sederhana di kediaman Isha. Di sana sudah tertata rapi apa yang di perlukan.
****
Pukul 15:30, acarapun selesai. Kami begitu merasa sangat lelah. Beruntung si kecil Aisya tidak rewel saat acara resepsi tadi. Dia terlihat sangat bahagia melihat Abi dan Bunda nya telah menyatu.
Begitu pun dengan Galang dan Gilang, mereka sangat antusias di saat acara tersebut.
Karena kelelahan, akhirnya ketiga buah hati kami terlelap tidur di kamar yang telah di sediakan Isha. Dengan di temani sust Ina.
****
Karena semua kelelahan, Abi dan Ummi beserta keluarga Merwais yang lain, sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap. Om Tomi dan istrinya pun pulang ke rumah.
Sedangkan, bi Jum dan suaminya pak Somad(tukang kebun) sudah pulang ke rumah kami yang berada di kawasan Elite.
Hanya aku dan Merwais, juga kak Vera dan suaminya, yang masih berada di rumah Isha.
Saat kumpul di ruang tamu, mereka pun membuat guyonan pada kami.
"Iihh... cepat sana. Apa gak sabar, ini kan malam pertama kalian!" mereka pun terkikik dengan candaan mereka.
"Iih, apa an sih." timpalku pura gak ngerti.
Akhirnya mereka berempat pun mendorong kami keluar dan mengunci pintu.
"Pergi, gih. Nikmati malam pertama kalian. Kami capek, mau bobok dulu." ku dengar mereka tertawa dari dalam.
Wais hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Yuk, ah, kita berbulan madu dulu." Wais pun ikut-ikutan konyol seperti Isha dan kak Vera.
Kemudian, Wais menggendongku menuju mobil miliknya. Akupun hanya melingkarkan tanganku ke lehernya dan memandang wajahnya dengan penuh senyuman. Wajah yang sangat menawan, dengan setelah jasco berwarna putih serasi dengan pakain pengantinku malam ini.
Dengan sebelah tanganku, kubuka pintu mobil. Dan Wais pun medudukanku di kursi depan. Setelah itu ia pun duduk di belakang setir.
Perlahan mobil melaju ke arah Hotel berbintang lima yang sudah di pesan.
Di jalan menuju Hotel, tangannya terus menggenggam tangan ku. Tak pernah lepas, genggaman itu selalu bersamaku.
****
__ADS_1
Sesampainya di Hotel, kami langsung menuju meja resepsionis dan mengambil kunci kamar yang telah kami pesan. Beberapa pelayan Hotel mengucapkan selamat kepada kami. Setelah itu, kami langsung menuju lift yang akan membawa kami menuju kamar.
Terus terang, aku sangat takut untuk memasuki lift
"Aku, takut Abi." ucapku pada Wais.
"Jangan takut, ada aku di sini yang selalu menjagamu." gombalnya dengan senyuman yang manis.
Aku pun ragu memasuki lift itu. Melihat keraguan itu, Wais pun segera memelukku dan mengajakku masuk ke lift.
Ada kedamaian dan kehangatan saat aku berada di pelukannya.
Tak berapa lama, lift pun terbuka. Wais pun segera menggendongku kembali menuju kamar.
Benar kata orang, bangsa mereka ini sangatlah romantis.
Sesampai di depan pintu, akupun menempelkan ID card kunci ke pintu kamar.
Saat terbuka, aku sangat takjub dengan dekorasinya. Begitu indah dan sangat romantis sekali. Wais pun menurunkanku di atas tempat tidur, lalu dia melangkah untuk menutup kembali pintu kamar.
Ruang kamar yang sangat temaram, dengan lampu biru berkelap kelip. Di atas tempat tidur, terhampar bunga-bunga yang sangat harum. Di atas meja, sudah tersusun rapi beberapa makanan dan minuman. Di temani beberapa lilin.
Aku benar-benar tak bisa membayangakan dalam situasi seromantis ini. Tak pernah ku rasakan selama hidupku. Semoga keromantisan ini tak alan pernah pudar oleh waktu, hanya itu harapan ku.
Merwais menghampiriku, dan duduk di depanku. Di tatapnya mataku. Di genggamnya jari jemariku. Di ciumnya keningku.
Setelah itu, dia pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Melepaskan penat yang sudah menggunung.
Aku menunggu dengan hati yang berdegup kencang. Mungkin saat ini wajahku bersemu merah.
Tak berapa lama, Wais pun keluar dengan hanya handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh yang sangat atletis, dada bidang berbulu, di lengannya pun terlihat jelas otot-otot yang menyembul. Rambut yang basah dan juga janggut tipis tersusun rapi.
"Hei, jangan terus pejamkan mata. Tatap lah mataku." pintanya.
Akupun memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap wajahnya. Setelah mataku terbuka, Wais memberikan sesuatu.
"Nih, ambil. Cepat bersihkan diri dulu, biar gak capek."
Wais memberikan handuk putih dan sebuah baju. Ku tatap wajahnya penuh tanya.
"Lingerie?" tanyaku heran.
"Emang kenapa, Bunda sayang?" Wais tertawa.
"Gak boleh ya kalau Abi melihat Bunda memakai lingerie ini?"
"Kalau Bunda memakai lingerienya, Bunda makin tambah cantik." kerling matanya menggoda.
"Hadeh, Abi." aku pun nepok jidat.
Aku pun segera membersihkan diri. Ku pakai lingerie atas permintaan Merwais.
Saat aku keluar dari kamar mandi, Wais menatapku tak berkedip. Mulutnya hanya bisa melongo.
Akupun perlahan mendekati Wais, kemudian kututup mulutnya.
"Bi, mulutnya jangan di buka lebar, ntar nyamuknya masuk ke mulut, Abi." aku pun tertawa terbahak-bahak.
Wais pun terkejut, dan hanya bisa tersenyum menyembunyikan ke kikukan nya. Kemudian, di raihnya pinggangku......
__ADS_1
.
.
.
Sensor ya, Ntar pada ngiri.
*****
Adzan subuh berkumandang. Aku segera membersihkan diri dan mengambil air wudhu melaksanakan sholat wajib dua raka'at. Tidak lupa, akupun membangunkan Merwais agar bisa sholat berjamaah bersamanya.
Rasa bahagia yang tak pernah ku bayangkan. Aku sangat beruntung mendapatkan cinta Merwais, dan akan ku pertahankan cinta ini sampai ajal tiba.
Merwais segera bangun dan memberishkan dirinya. Kami sholat berjamaah.
****
Pukul 10:00 pagi, kami check out dari Hotel.
Kami melaju menuju kediaman Isha. Tadi malam ketiga buah hatiku tidur di tempat Isha.
Sesampainya di rumah Isha, Galang dan Gilang memeluk kami. Sedangkan Aisya di gendong oleh sust Ina. Melihatku, Aisyah tertawa, bertepuk tangan dan tak bisa diam di gendongan sust Ina. Aku pun segera mengambil Aisya dari gendongan sust Ina.
"Apa kabar hari ini si cantik, Bunda?" akupun mencium Aisya bertubi-tubi.
"Ade sudah mimik susu, sust?" tanyaku pada sust Ina.
"Sudah, Non," jawabnya.
Aku pun mengajak Aisya bermain. Sedangkan Galang dan Gilang bermain bersama Abinya.
"Kak, kapan rencananya ke Dubai?" tanya Isha kepadaku.
"Tanya aja sama Wais," kataku.
Kamipun bergabung di ruang keluarga Isha.
"Wais, kapan nih rencananya ke Dubai?" tanya suami Isha.
"Insha Allah minggu depan. Soalnya kami sekalian pindah ke Dubai. Aku harus memimpin kembali bisnis ku." kata Wais.
Ada rasa sedih terpancar di wajah Isha. Aku pun segera memeluknya.
"Kakak, janji, kakak akan berkunjung ke Inonesia tiap tahunnya." janjiku pada Isha.
"Ya, kan, Bi?" tanyaku pada Merwais.
Wais pun mengangguk.
"Dan aku akan mengajak kalian semua ke Dubai dan Pakistan, untuk merayakan pernikahan kami." ucap Wais.
"Aku akan meminta bantuan Om Tomi untuk mengurus pasport dan visa kalian semua." lanjutnya lagi.
.
.
.
__ADS_1