
Namaku Bagas Effendi, panggil saja Bagas. Aku menikah dengan seorang janda beranak satu bernama Dina Larasati.
Dina, seorang gadis yang penurut dan penakut. Di ancam saja dia langsung takut dan tak berkutik.
Sebenarnya, keluargaku tak merestuiku dengan Dina, karena dia seorang janda. Di mata keluargaku, seorang janda itu adalah hina. Karena teringat masa kelam keluarga kami.
Dulu, Bapakku pernah tergoda dengan seorang janda. Karna janda itu lah akhirnya usaha Bapakku hancur.
Aku yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun, awalnya tidak mengerti apa yang terjadi. Setiap hari bapak pulang dengan keadaan mabuk. Di temani oleh seorang gadis muda dan seksi.
Ibu seorang penyayang dan penyabar. Melihat bapak seperti itu tiap hari, ibu hanya mampu beristigfar.
Sebenarnya, Bapak tidak pernah sekalipun memakan atau minum-minuman haram. Tapi, sejak kenal dengan gadis muda dan seksi itu, Bapak acap kali mabuk-mabukan. Dan bahkan pernah memukul Ibu di depan kami.
Bukan hanya membawa pengaruh buruk bagi kami sekeluarga. Gadis itu juga menggoda, sehingga Bapak menjadikan nya Istri kedua.
Gadis itu menguasai seluruh isi rumah. Usah dan seluruh harta Bapak turut di kuasainya. Padahal itu adalah hasil usaha Bapak dan Ibu.
Kelakuan bBapak pun makin menjadi lebih kasar, sehingga Ibu tak betah. Kemudian mengajak aku dan Kakakku ke kota. Sejak saat itulah aku benci yang berstatus janda.
Di kota ini lah aku bertemu dengan Dina. Seorang janda beranak satu. Sebelum dengannya, aku sempat menjalin cinta dengan beberapa gadis. Tapi, tak seorang pun yang bisa memikat hatiku.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku bertemu Dina. Walaupun dia janda, hanya dia yang membuatku jatuh cinta. Tapi trauma masa laluku kini menghantui. Aku antara benci dan cinta terhadap Dina. Tapi kebencian ku mengalahkan rasa cintaku kepadanya.
Aku pun akhirnya menikahi Dina, walau tanpa restu keluargaku. Dan aku memboyong Dina ke rumah orang tuaku, walau ku tau Ibu dan Tata, Kakaku, tak menyukainya.
Tak ada kata romantis dalam rumah tanggaku. Hampir tiap hari aku pulang dengan keadaan mabuk. Aku mabuk, karna aku tak ingin benciku semakin besar. Ku sembunyikan cinta dalam mabuk ku untuk Dina.
Tapi ternyata, semakin besar cintaku, semakin besar pula benciku padanya. Dan semua yang aku pinta, harus di turuti oleh Dina. Aku tidak ingin, seorang janda menguasaiku. Seperti Bapak yang di taklukan oleh gadis pel**cur itu.
Sampai suatu hari, Dina yang bekerja di Butik Kak Vera, dekat dengan seorang cowok India. Aku cemburu besar. Dan aku yakin, mereka memiliki Affair di belakang ku.
Dan ketika Mamah mertuaku meninggal, di situlah aku harus mengambil hati keluarga Dina. Agar Dina tidak bisa lepas dariku.
Resign nya Dina dari pekerjaan nya, membuatku curiga. Di tambah lagi dengan tutupnya Butik Kak Vera.
Yang membuat aku terkejut, ternyata Dina hamil. Kecurigaan ku pun makin menjadi.
Malam itu, saat aku tak ada di rumah, cowok India itu menghubungi Dina. Aku tahu, mereka tak selingkuh. Itu ku ketahui dari chat si India itu ke Dina saat gawai Dina di tangan ku. Chat itu langsung ku hapus, dan tak seorang pun yang tahu kebenaran nya.
Walau aku tahu, Dina tak selingkuh, tapi emosiku lebih menguasai dari akalku.
Aku pun mencari pelampiasan. Selama berumah tangga dengan Dina, akulah yang selalu selingkuh. Dari gadis satu ke gadis lainnya.
__ADS_1
Sebenarnya, aku sadar telah menyakiti Dina. Tapi, kalau aku lemah, Dina pasti menguasaiku. Dan aku tak mau itu.
Tiga bulan aku meninggalkan Dina dan tanpa ku beri nafkah lahir batin.
Saat itu, aku datang ke kontrakan nya hanya ingin minta maaf. Tapi, saat ku lihat dia begitu bahagia tanpa diriku, aku marah. Ku dengar dia sedang menelpon Merwais, cowok india itu.
Emosiku naik ke ubun-ubun. Dan akupun marah besar padanya. Ternyata, Dina mulai berani padaku. Dan mengatakan akan menggugat cerai diriku.
Akupun tak terima. Dan ku katakan padanya bahwa aku tak akan menceraikan dia sampai kapanpun.
Seharusnya Dina mengerti, bahwa aku begitu sangat mencintainya.
Di persidangan pun, aku berusaha agar pengajuan nya di batalkan.
Sampai akhirnya keputusan Hakim ketua mengatakan bahwa sidang di tunda. Aku senang dan berharap sidang itu tak pernah di ajukan lagi.
Saat di pengadilan, sebenarnya aku terlebih dulu pulang dari Dina dan Merwais. Berhubung aku berhenti di sebuah warung, jadi aku tak tahu apakah mereka sudah pulng atau belum.
Saat di warung, ada telpon dari kekasihku, mengatakan dia akan segera melahirkan. Aku pun segera melaju menuju klinik yang di katakan kekasihku.
Tanpa sadar, motor yang ku kendarai oleng dan menyelip sebuah mobil di depan ku. Ku lirik dari kaca spion motorku, mobil itu menabrak pembatas jalan. Dan akupun tak perduli.
__ADS_1
Hari-hari telah berlalu. Lama sudah aku tak mendengar kabar dari Dina. Dan di mana dia sekarang.
Sampai akhirnya,,, hal itupun terjadi. Yang menyebabkan ku menyesal seumur hidupku.