Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 5 Kembali bekerja


__ADS_3

"Bu,, bangun."


Sayup-sayup ku dengar seseorang membangunkan ku. Dengan berat sekali mata ku buka. Aku berada di ruangan yang serba putih. Sejenak aku mengingat apa yang terjadi. Baru ku sadar, aku baru melahirkan. Langsung ingin ku tanya kabar tentang bayiku. Tapi perawat itu menempelkan jari telunjuk ke mulutnya.


"Sssttt,, jangan bicara dulu bu. Ibu masih lemah" langsung perawat menyodorkan air yang sudah di campur gula. Aku pun segera meminumnya.


Tak berapa lama dokter pun datang.


"Alhamdulillah,,, ibu sudah sadar. Gimana rasanya bu, apakah sudah agak mendingan?"


"Syukur Alhamdulillah,, ibu adalah seorang yang kuat."


"Bagaiman keadaan bayi say Dok?" tanyaku


"Bayi ibu sehat. Tapi bayi ibu harus di beri sinar X dulu selamat empat hari. Biar paru-parunya bersih."


Akupun hanya mengangguk tanpa ku mengerti maksud penjelasan nya. Mungkin aku terlalu bodoh untuk mengerti hal-hal seperti itu.


Selama enam hari di Rumah Sakit, tak pernah sekali pun keluarga Bagas menengok ku di sana. Sebelum pulang, kami harus menyelesaikan administrasinya dulu.


"Dik, uang tabungan kamu kurang buat bayar administrasinya"


"Emangnya harus bayar berapa?" tanya ku.


"Delapan juta empat ratus"


Akupun terkejut, begitu mahalnya biaya melahirkan di Rumah Sakit.


"Jadi kita harus mencari tambahan empat juta empat ratus lagi dong"


"Gak,, cari enam juta lebih. Soalnya uang kamu cuma ada dua juta"


"Haaaahh..." aku pun terkejut.


"Bukankah uang tabungan ku ada empat juta. Itu pun aku yakin sudah kamu curi bang. Harusnya uang tabunganku mencapai enam juta" tak tahan akupun menangis.


"Jangan keras-keras nangis nya bikin malu aja" Bagas pun sewot.


"Lalu kemana uang dua jutanya lagi?"


"Dasar suami gak punya otak. Abang harus cari sisanya lagi"


"Kemana aku harus mencarinya?"


"Usaha dong Bang. Apa-apa semua harus pake uang ku. Gak bisakah usaha dikit aja?"


"Uang kamu kan uang ku juga dik. Kalau kamu gak ku ijinkan kerja, gak bakalan kamu dapat uang. Jadi uang kamu ada hak aku juga dong. Jangan ngeyel jadi istri"

__ADS_1


"Kalau kamu gak terima uangmu ku pakai, urus saja sendiri."


Bagas pun meninggalkan ku pergi. Dan tas milikku di letakan nya di atas nakas. Aku pun segera mengambil tas itu. Kemudian aku periksa uang yang ada dalam dompet ku. Setelah ku hitung kembali, ternyata uang itu hanya tinggal satu juta tiga ratus. Bagas benar-benar terlalu. Aku pun menangis sesegukan.


Akhirnya Isha adik ku datang bersama Mamah.


Mereka heran melihat mataku yang bengkak dan merah.


"Kak Dina kenapa menangis" tanya Isha.


Aku pun menceritakan semuanya. Isha tampak kesal dan marah.


"Kurang ajar banget tuh abang ipar. Pengen ku buang ke jurang aja tuh orang" geram Isha.


"Yang sabar ya Nak. Ini mamah punya emas sepulu gram. Kamu bisa memakainya dulu. Yang penting kamu dan bayimu hari ini keluar. Kalau lama-lama kan bisa tambah mahal lagi" kata mamah


"Gak Mah,, Dina gak bisa memakai perhiasan mamah. Ini kan kenangan dari Ayah"


"Biar Dina coba meminjam dengan Kak Vera, pemilik butik di tempat Dina bekerja dulu."


Aku pun segera mengambil gawai di dalam tas kecilku. Dan langsung mengirim pesan pada kak Vera.


[Kak Vera,, bisa tolong Dina?] pesan ku kirim


Tak berapa lama kak Vera langsung membalas pesan ku.


[Belum kak, itu lah masalahnya]


Aku pun menceritakan semuanya kepada kak Vera.


[Ok. Aku akan segera ke Rumah Sakit] pesan terakhir dari kak Vera.


***


Tak berapa lama kak Vera datang bersama seorang pemuda. Pemuda itu dia perkenalankan sebagai sepupunya yang baru datang dari Dubai. Kak Vera pun langsung memeluk ku.


"Apa kabar Din? Sehat selalu ya dan sabar lah dalam menghadapi ini semua."


"Oya, perkenalkan ini sepupu ku Merwais. Dia baru datang dari Dubai."


"Bagaimana, langsung aja ya ke administrasi biar Dina langsung istirahat di rumah aja"


Kak Vera pun langsung mengurus semuanya. Tak berapa lama, datang dua orang perawat membawa bayi mungil ku.


"Hari ini ya bu Dina pulangnya?"


"Semoga cepat sehat ya bu." kata kedua perawat itu. Dan langsung berlalu.

__ADS_1


*********


Dua bulan telah berlalu. Bayi mungilku yang bernama Galang tumbuh dengan sehat. Selama itu pula Bagas hanya jadi benalu yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan. Mungkin aku sudah mati rasa hingga aku tak peduli apa yang dia kerjakan. Sampai akhirnya kami harus keluar dari rumah mamah, karna bang Wira sudah menjual rumah itu dengan alasan dia perlu modal besar.


Kami pun tinggal di sebuah kontrakan. Dengan uang dari hasil penjualan rumah. Mamah tinggal bersama Isha. Karna aku tak ingin kalau mamah tinggal bersama ku cuma akan makan hati aja.


Semenjak tinggal di kontrakan bang Bagas mulai memberi ku uang gajihnya walau pun tidak seberapa. Mertua ku pun akhirnya berkunjung ke rumah untuk melihat Galang, cucunya.


Namun kebiasaan nya mabuk tidak pernah bisa berhenti. Bahkan dia selalu meminta uang hasil penjualan rumah mamah ku. Kalau tidak aku beri, maka dia pun akan mencurinya. Uang yang tidak seberapa itu pun akhirnya mulai menipis. Beruntung Galang minum ASI eksklusif. Hingga tak perlu beli sufor sebagai tambahan.


Saat Galang berusia delapan bulan, Bagas memintaku untuk bekerja lagi di butik kak vera.


Karna biaya hidup semakin mahal dan teringat hutang ku kepada kak Vera, akhirnya aku pun memutuskan untuk bekerja lagi.


Ibu mertua bersedia menjaga Galang selama aku bekerja. Kebetulan bapak mertua juga sudah datang dari kampung halaman nya dan akan segera menetap di kota ini.


Ku raih gawaikun dan segera menelpon kak Vera.


"Halo,, kak Vera. Boleh gak aku kerja lagi di butik kakak?"


"Halo Din, kamu mau kerja lagi? Boleh kok. Tapi maaf gak bisa bawa Galang kerja ya. Gimana?"


"Iya kak, Galang akan aku titipin di rumah ibu mertua kalo aku kerja nanti."


"Oke deh. Besok bisa turun gak? Kebetulan barang baru masuk semua nih."


"Iya kak. Besok aku akan mulai turun."


******


Pagi yang sangat cerah. Aku pun segera bersiap diri untuk berangkat kerja. Sebelum itu aku harus mempersiapkan segala kebutuhan Galang untuk berada di rumah neneknya nanti.


"Bund,, cepetan dong siapkan sarapannya. Lelet banget sih."


Bagas memintaku untuk menyiapkan sarapan nya. Tanpa dia perduli dengan kesibukan ku yang belum selesai. Padahal dia cuma santai sambil bermain gawai dan cekikikan sendiri. Karna sudah ada Galang, sekarang dia memanggilku bunda.


"Ambil sendiri dong yah. Aku lagi repot nih nyiapin peralatan buat Galang"


"Ih,, bunda. Itu kan tugas bunda"


Akhinya akupun mengalah. Aku tak ingin merusak mood ku yang lagi baik saat ini.


Lima belas menit dari rumah ibu mertua, akhirnya aku sampai di butik kak Vera dengan di antar Bagas.


"Makasih yah, bunda kerja dulu. Assalamualaikum" aku pun tak lupa mencium tangan nya.


Saat itu aku melihat Merwais sepupu nya kak Vera. Sepintas ku lihat wajah Bagas terlihat tidak suka saat Merwais menyapaku.

__ADS_1


__________________________________


__ADS_2