Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 32 Pov.Merwais penyesalanku


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


#Pengorbanan_Cinta_Dina


Pov.Merwais


Penyesalanku.


Senang rasanya bisa menikahi orang yang sangat kucinta. Dina akhirnya menjadi lstriku. Dan aku telah berjanji padanya tidak akan pernah menyakiti, seperti Bagas yang telah menyia-nyiakan dan terus menyakitinya.


Setelah pernikahan kami, aku pun mengajaknya tinggal di Dubai. Karena pekerjaan mutlakku memang ada di Dubai. Sudah lama bisnis ini kuserahkan pada Kabiir, Adikku.


Di Dubai, aku mengadakan resepsi pernikahan kami yang sangat meriah. Keluarga Dina pun ku ajak serta.


Di Dubai, aku tinggal bersama Adikku Kabiir beserta Istrinya Alicia dan Anaknya, Aleda.


Setelah acara resepsi, keluarga Dina langsung pulang ke Indonesia. Aku tak tahu, kenapa mereka pulang dengan begitu cepat. Karena aku sangat sibuk, Dina yang mengantarkan mereka ke Bandara.


Saat sedang sibuk-sibuknya, aku mendapat berita Istriku Dina mengalami kecelakaan bersama si kecil Aisya. Aku panik, sangat takut terjadi sesuatu padanya, karena aku begitu mencintainya.


Di RS, kulihat Dina terbaring lemah diruang perawatan. Dia terlihat baik dan hanya luka lecet. Namun yang terjadi dengan simungil Aisya, membuatku tak berdaya. Aku takut, Dina akan hancur mendengar keadaannya.


Benar dugaanku, saat Dina sadar, dia langsung menanyakanku kondisi Aisya dan merasa shock mendengar penjelasanku. Kurengkuh dirinya dalam pelukanku, memberikan kedamaian dan semangat agar tetap terus berjuang.


Sejak kecelakaan itu, keceriaan simungil Aisya jadi hilang. Dia di vonis Dokter mengalami kebisuan dan rusak sistem pendengarannya.


Dina selalu terlihat murung dan menangis. Dia selalu menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu, yang telah merenggut masa depan Aisya.


Aku tak sanggup melihat kepedihan yang Dina rasakan, dan memberinya semangat untuk terus berjuang.


Sampai suatu hari, Dina memintaku untuk mencari Dokter ahli saraf terbaik agar Aisya bisa di sembuhkan. Aku pun menyetujui usulan Istriku tercinta.


Hampir tiap hari Aisya terapi, berharap kesembuhan akan terjadi. Namun, hampir tiga tahun perkembangan Aisya tak banyak. Dina hampir berputus asa, namun aku tetap memberinya dukungan dan semangat agar ia tidak terus terpuruk dalam rasa bersalahnya.


Sampai akhirnya, penyakit yang kuderita kambuh kembali. Aku merasa, aku akan meninggalkan Dina didunia ini seorang diri. Namun kekuatan cintanya padaku, membuat aku kembali untuk terus bersamanya.


Banyak relasiku menjenguk saat aku berada di RS, termasuk Nahwa Nadeem, gadis berasal dari lndia yang bekerja sebagai sekertaris rekan kerjaku yang baru. Nahwa memberiku sekuntum bunga mawar yang harum. Itu pertemuan keduaku dengannya.


Setelah seminggu berada di RS, akhirnya aku pulang ke rumah. Aku merasa ada sedikit keanehan di diri Dina. Setiap dia bertemu Kabiir, dia selalu merasa gelisah. Namun kutepiskan semua prasangka burukku. Kebahagian itu terus terjalin antara aku dan Dina.


Sampai suatu hari, Alicia menemuiku di kantor. Saat dia memasuki ruang kerjaku, dia langsung mengunci pintu. Dengan langkah gemulai dan menggoda, dia mendekatiku.


"Wais, tidak ke kau mau menikahiku? Sudah lama aku menunggumu, dan kau malah membawa permpuan sialan itu ke sini."


"Diam kau, Alice. Dina istriku, aku sangat mencintainya. Sampai kapan pun aku tidak akan menikahimu." ucapku.


"Tapi, Aleda itu putrimu, Wais. Dia sekarang sudah tumbuh besar dan cantik. Kabiir pun tak tahu kalau Aleda itu putrimu."


"Jangan terus memaksaku, Alice. Pergilah kau dari kehidupanku."


"Kalau kau terus memintaku untuk pergi, kau akan hancur, Wais. Kabiir akan membencimu, karena kau telah menikmati tubuh istrinya. Bahkan keluargamu pun pasti akan membuangmu." Alicia memulai ancamannya padaku.


"Dan ya, kalau saja lstrimu, Dina yang mandul itu tahu, mungkin dia juga akan meninggalkanmu." Alice tertawa mengejek padaku.


Aku tak berkutik, aku hanya bisa diam dengan ancaman Alicia. Aku tak ingin Kabiir membenciku.


"Dan kau akan terkejut, Wais. Cinta Istrimu yang selalu kau bangga-banggakan itu, tak sesuai kenyataan."


Alicia memberikan sebuah amplop putih kepadaku. Kemudian dia mencium bi**rku penuh na**u.


"Bye, Wais. Terima kasih dengan bibirmu." Alice pun berlalu dari ruang kerjaku.


Sejenak, kutatap amplop putih itu. Apa isi didalamnya?


Perlahan kubuka amplop itu, kuambil isi didalamnya, dan ternyata foto Kabiir dan Dina. Begitu mesra mereka berdua. Ternyata mereka ada Affair dibelakangku.


Hancur sudah kepercayaanku pada Dina. Berkeping hatiku dibuatnya. Selama ini aku sangat setia pada dan selalu jujur padanya.

__ADS_1


Jujur? Apakah aku sudah jujur padanya.


Aku pernah berhubungan dengan Alicia dan memiliki anak. Tapi, Dina tak mengetahui itu sama sekali.


Walau sebenarnya, Alicia lah yang menjebakku, sehingga terjadi hubungan terlarang itu. Alicia membuatku mabuk berat, sehingga dalam pandanganku, dia adalah Dina. Karena waktu itu aku sangat tergila-gila pada Dina.


Ah, bullshit, yang jelas aku tak pernah mengkhianati cintaku pada Dina.


Sejak saat itu, kupendam rasa amarah dan benci pada Dina. Semua kulampiaskan kepada orang lain. Dan akupun menghubungi Nahwa.


Nahwa lah sekarang tempat pelampiasan nafsuku.


Sampai suatu hari, Dina menyadari perubahanku, dan menanyakan apa yang terjadi. Disitulah kutumpahkan emosi dan amarahku yang terpendam, tanpa kusadari aku telah menyakitinya.


Namun, aku tak peduli. Setelah kulempar foto-foto mesranya bersama Kabiir, aku pergi meninggalkannya.


Semua kulampiaskan kepada Nahwa, dan selalu tidur bersamanya. Entah setan apa yang merasukiku, hingga kulakukan perbuatan ini.


Malam itu, aku pulang bersama Nahwa. Sengaja kuajak Nahwa untuk membuat Dina terluka. Namun, mereka semua tak ada dirumah. Mungkin mereka menghadiri acara, karena sebelum itu Dina ada memintaku untuk hadir, tapi kuabaikan.


Ternyata, Dina meminta Kabiir menggantikan posisiku. Aku kembali tersulut amarah, dan langsung membawa Nahwa masuk ke kamar pribadi aku dan Dina.


Didalam kamar itu, aku kembali memadu kasih bersama Nahwa diatas ranjang, tempat biasa aku memadu kasih bersama Dina. Karena lelah, aku terlelap tidur bersama Nahwa dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


*****


Menjelang subuh, aku dikejutkan kehadiran Kabiir dikamarku dengan amarah yang memuncak.


"Dimana Dina, Wais?"


Buukk.... Kabiir langsung memukulku.


Aku benar-benar terkejut, karena belum sepenuhnya sadar dari lelap tidurku.


Buukk... Buukk... Aku kembali mendapat pukulan dari Kabiir.


"Dimana, Dina, Wais?" dengan sangat marah dia bertanya padaku.


Buukk... tamparan itu kembali mendarat di wajahku. Darah mengalir dari sudut bibirku.


"Lalu, kau ingin jadi pahlawan Kabiir?" tanyaku dengan sinis.


"Kau salah faham, Wais. Ada kesalah fahaman antara kita."


"Kenapa tidak kau tanyakan dulu pada kami? Kau mengambil keputusan sepihak, sehingga melukai Dina."


"Dan kau telah berselingkuh dengan perempuan rendahan ini dan berzina dirumah ini." Kabiir menujuk Nahwa dengan emosi yang besar.


Semua penghuni dirumah besar ini terkejut melihat pertengkaran kami.


Kulihat Aleda dan Aisya menangis, mereka berpelukan. Galang dan Gilang menatapku tajam dengan amarah.


"Abi jahat. Abi telah membuat Bunda pergi dari rumah ini."


Buukk... Galang pun ikut memukulku.


Anak-anakku yang dulu kecil, kini sudah besar. Mereka sekarang mampu membela Bundanya yang terluka.


"Kami benci Abi." kalimat itulah yang aku takutkan, aku dibenci mereka.


"Kau tahu, Wais? Selama ini aku hanya diam. Aku tahu, terjadi hubungan antara kau dan Alicia. Kau memiliki anak darinya, Aleda itu anakmu, ya kan?" Kabiir membuka tabir yang selama ini tertutup rapat.


Terlihat Aleda menangis sangat keras. Aku dan Alicia terkejut mendengar penuturan Kabiir.


"Hei, you *****, get out." Kabiir mengusir Nahwa dengan marah.


"Dan kau Alicia, mulai saat ini aku talak tiga kau. Kau pikir aku tak tahu kalau selama ini kau ingin menghancurkan kami."


Kami semua tak luput dari amarah Kabiir, Adikku yang dulu hanya seorang pendiam.

__ADS_1


Terlihat Alicia menghampiri Kabiit dan memohon ampunannya.


"Kabiir, maafkan aku. Janganlah kau talak aku." Alice terus menghiba.


Namun, kabiir bergeming dan mengusir Alicia dari rumah.


"Guard, bring to her from here."


Dua orang penjaga membawa Alice. Alicia terus memohon maaf, namun Kabiir tak menghiraukan.


"And you, Wais..." Kabiir terhenti, ada air yang mengambang diujung netranya.


"Dina begitu mencintaimu, Wais. Dia selalu menghindar, selalu menjaga kehormatannya. Namun, aku terlalu terobsesi dan terus mengejarnya. Tapi, dia menolak cintaku. Dia benar-benar tulus mencintaimu." panjang lebar Kabiir menjelaskannya padaku.


Ada penyesalan dihatiku, kenapa tidak sejak dulu kutanyakan padanya. Akankah Dina memaafkanku?


"Aku yakin, pasti dia melihatmu memadu kasih dengan wanita jal**g itu."


"Ini adalah tas tangan yang dibawanya sewaktu menghadiri event Aisya." Kabiir memperlihatkan tas tangan milik Dina.


"Bagaimana kita bisa menghubunginya? Sedangkan semua hal yang penting ada dalam tas ini." Kabiir pun tertunduk lesu.


"Aku juga sangat mengkhawatirkannya, dimana Dina sekarang. Sedangkan tadi malam terjadi badai hujan." terlihat jelas kekhawatiran di wajah Kabiir.


Aku hanya bisa menangis, mengingat tindakanku yang begitu gegabah. Sehingga membuat orang yang begitu kucintai sangat terluka.


"Gilang, Aisya, Aleda, ayo kita cari Bunda sampai ketemu." suara Galang membuyarkan lamunanku.


"Pak David, antar kami mencari Bunda disegala pelosok kota ini." perintah Galang pada David.


Mereka meninggalkanku seorang diri di kamar yang telah ternoda ini.


"Kau tak ingin mencari lstrimu, Wais?" tanya Kabiir dengan kalimat tajamnya. Kemudian berlalu dari hadapanku.


Aku segera membersihkan diri dan sholat tobat memohon ampunan pada Allah. Setelah itu, aku pun mencari keberadaan Dina.


****


Sudah empat hari, kami tidak menemukan keberadaan Dina. Penyesalan itu semakin dalam, aku takut tak bisa meminta maaf atas ke khilafanku padanya.


Tiba-tiba, Nahwa datang dan mengatakan bahwa dia hamil dan ingin meminta pertanggung jawabanku.


Jelas saja aku menolaknya. Karena setiap kali kami berhubungan, aku selalu memakai pengaman. Lagi pula, baru tiga bulan ini kami berhubungan. Tapi, Nahwa tetap ngotot dan mengancamku akan menghancurkan perusahaan yang telah lama kubangun.


Aku pun memberikan kesepakatan padanya. Kupinta Nahwa untuk memeriksakan kandungannya didepan mataku. Aku harus tahu sudah berapa bulan dia mengandung. Nahwa pun menyetujuinya.


Aku segera membawa Nahwa ke Dokter spesialis kandungan. Setelah dicek, hasil pemeriksaan adalah bahwa dia sudah mengandung lima bulan. Itu berarti, yang dikandungnya bukanlah anakku.


Tapi, Nahwa terus menuntutku dan terus mengancamku. Namun, aku tak peduli. Kuantar Nahwa ke apartement yang telah kubelikan untuknya, dan melanjutan pencarianku.


Ddrrrrrrtttt....


Telpon berdering. Terlihat dilayar ponsel, Kabiir yang menelpon. Segera kuangkat telpon darinya.


"Assalam o alaikum..." suara disebrang sana terdengar saat telpon terhubung.


"Wa'alaikum salam... ada apa Kabiir?" tanyaku.


"Dina sudah ditemukan. Kini dia ada di Hospital." Kabiir mengabarkan keberadaan Dina.


Aku terkejut, air mataku kembali tumpah. Aku sangat takut, hal buruk akan terjadi padanya. Aku takut tak sempat meminta maaf padanya.


Aku segera melajukan mobilku menuju RS yang di maksud Kabiir.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2