
Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM
Sudah satu minggu setelah pernikahan kami, surat-surat serta berkas yang lainnya untuk menetap di Dubai, akhirnya selesai.
Kami pun berencana akan berangkat tiga hari lagi.
Kami pun mulai sibuk berkemas. Aku membawa serta sust Ina untuk tinggal bersamaku di Dubai. Karena, dia akan membantuku untuk merawat Galang, Gilang dan juga Aisya.
Sementara bi Jum dan pak Somad tetap menjadi penjaga rumah yang ada di kawasan Elite. Karena, tiap tahunnya kami akan balik ke Indonesia. Sedangkan David, sopir pribadi Wais
tetap ikut kami ke Dubai.
***
Hari yang dinantikan telah tiba. Kami pun segera berangkat ke Bandara. Kami membawa serta Bang Wira beserta Istri dan kedua anaknya. Isha dan juga Suaminya.
Aku benar-benar gak mengerti prosuder di Bandara. Kata Wais, kami menaiki pesawat pribadinya. Pantesan, saat kami berada di pesawat, kok hanya kami saja, gak ada orang lain yang ikut. Hhmmm,, dasar, aku memang kampungan.
Saat pesawat akan tinggal landas, kepalaku langsung pusing dan ingin muntah. Aku pun tak bisa menahan benda yang ingin keluar dari mulutku.
Hoek... hoek... Aku pun akhirnya muntah ditempat. Aku sungguh malu, beruntung ini pesawat pribadi. Jadi hanya ada kami dan dua orang Pramugari.
Pramugari itu pun segera membersihkan tempat dudukku. Akupun segera pindah, dan langsung mengganti pakaianku yang kotor.
Setelah membersihkan diri, aku kembali ketempat duduk yang lebih rapi. Melihat ku sudah selesai berganti pakaian, Wais segera memintaku untuk berbaring dipangkuannya.
Di pijatnya kepala dan bagian tengkukku, untuk mengurangi rasa mual. Aku pun akhirnya terlelap di pangkuannya.
****
Aku terbangun saat perutku terasa lapar.
"Bi, aku lapar." aku pun membangunkan nya.
Kulihat semua lagi tidur. Mungkin mereka mengantuk pikirku.
__ADS_1
"Sebentar ya, sayang." ucapnya.
Wais pun berjalan menuju ke belakang, sama saat aku menuju ke toilet pesawat ini. Dan kembali membawa makanan yang ku pinta.
Wais seorang yang mandiri. Dia tidak ingin merepotkan seseorang, kalau dia merasa bisa melakukannya sendiri.
Wais kemudian menyuapi aku makan. Dia selalu romantis memperlakuakanku. Aku begitu beruntung dan bersyukur telah memilikinya.
****
Sekitar sepuluh jam, kami pun akhirnya sampai di Dubai. Dan di luar Bandara, kami sudah di tunggu para pelayan yang ada di rumah Merwais. Ada sekitar empat buah mobil mewah menjemput kami.
Masing-masing mobil, di tempati oleh satu keluarga. Sedangkan satu mobil lainnya, hanya khusus membawa barang-barang.
Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah, aku begitu terpana melihat keindahan kotanya.
Tak henti-hentinya aku memuji keindahan kota ini.
"Subhanallah... Abi, bagus banget." mataku terbelalak, mulutku melongo terbuka. Beruntung aku memakai niqob, jadi Merwais gak tahu kalau mulutku terbuka.
"Nanti, Abi akan mengajak Bunda keliling Dubai." dia berucap sambil tersenyum.
*
Tak berapa lama, akhirnya kami memasuki sebuah halaman yang luas. Terlihat sebuah rumah, bukan rumah tapi persis Istana, dihiasi dengan taman yang indah.
Aku tak menyangka, bisa memasuki Istana layaknya seperti di film-film.
Di depan pintu rumah Istana, berdiri para pelayan rumah. Woow,, aku berasa berada di sebuah film.
Saat kami turun dari mobil, datang seorang laki-laki menyambut dan memeluk Wais.
"Assalam-o-alaikum... Wais Bhai. Kya haal hey?" tanya laki-laki itu.
"Waalaikum salam... Kabiir. Alhamdulillah...me thek ho. Or ap?"
"Alhamdulillah... Bhaiya, me to." jawab laki-laki itu yang ternyata Kabiir, adiknya Merwais.
__ADS_1
Aku tak mengerti, apa yang mereka bicarakan. Jangankan bahasa mereka, bahasa inggris pun aku gak terlalu pandai.
O,ya, Aku tahu Kabiir adiknya Wais hanya namanya saja. Jangankan bertemu, melihat fotonya pun aku tak pernah.
Wais pun memperkenalkan kami.
"Assalam-o-alaikum... Bhaabi." sapa Kabiir kepadaku.
Aku bingung, kok aku di panggil ba*i sih. Wais pun kemudian menjelaskan kalau Bhaabi itu artinya kakak Ipar. Aku pun hanya mengatakan 'O'.
"Bi, gimana aku mau tinggal di sini, aku bahasanya aja gak ngerti," bisikku pada Wais.
"Tenang, Kabiir bisa kok bahasa Indonesia." ucap Wais padaku.
"Maaf, Kak Ipar, aku cuma iseng." ucapnya yang membuatku ingin memencet hidungnya yang mancung itu. Persis kayak hidung Wais.
"Perkenalkan, ini Istriku, Alicia. Dia berasal dari Malaysia." Kabiir memperkenalkan Istrinya.
Aku pun menyalami dan memeluk istrinya Kabiir. Aku berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. Tapi, tak ku rasakan sambutan hangat dari Alicia. Walau dengan wajah angkuhnya, dia tetap menyambutku.
Kabiir memiliki seorang putri yang berusia empat tahun, bernama Aleda. Seorang anak yang cantik, pintar dan sopan. Dengan usianya yang masih balita, Aleda bisa menghormati orang yang lebih tua. Dia menyambut hangat kedatangan kami dan langsung mencium si kecil Aisya. Berbanding jauh dengan Ibunya yang terlihat angkuh.
Setelah perkenalan, kami pun memasuki Istana ini. Ya, aku tak menyebutnya rumah, karena ini memang mirip seperti Istana.
**
Aku dan Wais menempati kamar utama yang berada di lantai satu. Sedangkan, Kabiir dan istrinya menempati kamar di lantai dua. Gilang, Galang dan sust Ina menempati kamar disebelah kamar kami. Sedangkan Aisya, tidur bersamaku.
Para pelayan yang lain, mengantarkan keluargaku ke kamar tamu yang berada di lantai dua. Entah berapa jumlah kamar di Istana ini. Aku tak mau repot memikirnya.
Kami pun segera beristirahat, karena besok akan ada pekerjaan untuk persiapan resepsi pernikahan kami.
.
.
.
__ADS_1