
Jam menunjukan pukul 23.30
Aku memasukan semua pakaianku ke dalam tas. Tanpa pamit aku pulang ke rumah mamah ku.
Di jam seperti ini jalan sudah sepi. Rumah mamahku lumayan jauh dari rumah mertua. Memakan waktu sekitar satu jam kalau di tempuh dengan jalan kaki. Ada sedikit rasa takut, takut bertemu orang jahat di jalan. Tapi itu tidak menyurutkan langkah ku. Dengan rasa sedikit takut bercampur amarah, aku terus berjalan. Setelah satu jam akhirnya aku sampai di rumah Mamah ku.
"Assalamualaikum Mah"
Aku terus mengetuk. Sampai terdengar suara dari dalam.
"Wa'alaikum salam"
Mamah terkejut melihatku dengan membawa tas besar berisikan pakaian.
"Mana Bagas?" tanya Mamah.
"Kami bertengkar Mah, Bagas dan keluarganya membuatku gak enak tinggal di sana. Aku tinggal di sini saja."
Tak berapa lama datang adik ku dan suaminya.
"Berani amat kak tengah malam begini kabur dari rumah mertua" kata adik ku Isha.
"Dari pada dalam neraka, mendingan aku balik lagi ke surga"
Aku dan Isha pun tertawa bersama. Isha adik yang paling ku sayang. Hanya dia yang mengerti tentang aku.
"Oya, ka Lisna mana?"
Ka Lisna adalah istri dari almarhum kakakku Imron. Dia memiliki dua orang anak yang sudah remaja. Safiq dan Rahman. Istri dari almarhum kakak ku ini masih tinggal di rumah mamah.
"Oo Dina. Kaget aku mendengar suaramu menggelegar kayak petir. Ngapain ke sini? Malam-malam lagi" ketus ka lisna menyahut ku.
"Iiih, terserah aku dong. Ini kan rumah mamah. Anak-anaknya berhak kok tinggal di sini"
__ADS_1
"Iya sih, tapi kamu tidur di mana kamar sudah gak ada"
"Biar Safiq dan Rahman tidur sekamar. Aku akan tidur di kamar Rahman saja"
"Oo gak bisa gitu dong. Mending kamu cari kontrakan geh sana."
"What? Harusnya kakak tuh yang nyari kontrakan. Kakak kan cuma numpang di sini" akupun gak kalah ketusnya dengan kak Lisna.
Mamah yang dari tadi cuma diam akhirnya angkat bicara juga.
"Sudah,, sudah. Safiq dan Rahman mulai sekarang tidur sekamar. Biar Dina tidur di kamar Rahman" mamah memerintah.
Rahman dan Safiq yang baru datang karna mendengar keributan kami langsung mengiyakan kata mamah.
Aku pun langsung beristirahat di kamar.
Tak terasa adzan subuh pun berkumandang. Aku pun segera melaksanakan sholat wajib dua rakaat. Aku memohon petunjuk pada Sang Khalik, apa yang harus aku lakukan. Sampai akhirnya aku pun tertidur.
***
"Kak Dina, bang Bagas datang tuh"
"Malas, suruh pulang aja dia. Suruh dia koreksi dirinya." aku berteriak dari dalam kamar ku.
"Tapi dia gak mau pulang kak, sebelum kak Dina menemuinya."
"Suruh Rahman dan Safiq aja yang mengusirnya. Kalau perlu pukul saja dia"
"Ya sudah kalau gitu, biar aku aja yang nampok kepalanya." seru Isha.
Akupun tersenyum dan kembali melanjutkan tidurku yang terganggu.
Tak terasa aku sudah tidur terlalu lama saat kamarku di ketuk kembali dari luar. Ternyata Mamah yang mengetuk. Mamah ingin aku menjelaskan apa yang sudah terjadi. Akhirnya dengan malas akupun beranjak dari tempat tidurku.
__ADS_1
Rupanya di ruang tamu sudah berkumpul semua anggota keluargaku.
"Din, sini. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi" Bang Wira memanggilku.
"Huff,, bakalan di adilin nih" gumamku.
Bang Wira adalah abang sulungku yang sangat keras. Setiap keputusannya tidak ada yang bisa membantah.
"Iya Bang." Akupun duduk di depannya.
"Jelaskan apa yang terjadi sampai kau kabur dari rumah mertuamu."
Akupun menjelaskan semua yang terjadi. Tapi satu yang tidak ku katakan. Tentang cel**it itu. Kalau pun ku ceritakan, pasti keluarga Bagas akan menyangkalnya dan meminta buktinya.
Aku sangat menyayangi Mamah dan aku tak ingin sesuatu terjadi padanya.
Setelah mendengar penjelasanku, Bang Wira angkat bicara.
"Ya kamu harus belajar menghadapi keadaan. Kamu sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi. Lagian inikan perkawinan kedua kamu. Gak malu apa kalau harus cerai lagi. Apa lagi kamu dalam keadaan hamil. Perceraian gak bisa di kabulkan kalau istri dalam keadaan hamil. Jangan bikin malu keluarga. Dan pikirkan anak dalam kandunganmu."
"Kalau kamu sampai bercerai, siapa yang akan menafkahimu? Kamu harus memikirkan keadaan Mamah yang sudah tua. Jangan malah menambah bebannya dengan perceraianmu
"Walau bagaimana pun hadapi keadaan dengan
pikiran dingin. Setiap perkawinan pasti ada permasalahan. Jangan seperti anak kecil. Jaga nama baik keluarga."
Semua hanya bisa diam dan tak ada yang bisa membantah lagi.
Akupun berlalu dan langsung masuk ke kamar.
Aku merenungi nasib yang tak berpihak kepadaku. Pernikahanku yang pertama kandas hanya dalam waktu tiga tahun dan perkenalan empat tahun.
Harus kah pernikahan kedua ini kandas kembali?
__ADS_1
__________________________________