
Ku lirik jam di dinding, sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Aku segera bergegas ke rumah tetanggaku, dengan niat meminjam motor yang sudah di janjikan sore kemaren.
"Assalamualaikum... Tan." segera ku ucapkan salam sesampainya di depan rumah Tante Indri, tetanggaku.
"Waalaikum salam..." jawab Tante Indri dari dalam rumah.
"Tan, minjam motornya sebentar ya! cuma mau daftar dulu biar gak kesiangan antrinya." ucapku.
"Iya, ini kuncinya!" tante Indri memberikan kunci motornya kepada ku.
"Makasih, ya, Tan. Sekalian nitip Galang, dia masih bobo."
"Iya, jangan khawatir. Tante jagain kok." tante Indri tersenyum padaku.
Akupun pamit dan bergegas ke Pengadilan Agama untuk mendaftar antrian.
Setelah sampai di Pengadilan Agama, aku segera mendaftarkan diri, dan mendapatkan antrian nomor lima.
"Alhamdulillah... dapat nomor di awal, jadi gak terlalu lama ngantrinya." gumamku.
Setelah itu, akupun pulang ke rumah. Dan mempersiapkan diri, agar tidak terlalu nervous di pengadilan nanti.
Di rumah, kulihat tante Indri sedang menggendong Galang. Saat tiba di halaman rumah, Galang langsung memelukku.
Kasihan Galang, dia kurang kasih sayang Ayahnya. Aku pun mengelus lembut rambutnya. Ada yang menggenang di sudut mataku, dan segera ku hapus dengan ujung hijabku.
"Yang sabar ya, Din. Kamu harus kuat." Tante Indri mengelus punggungku untuk memberi semangat.
Aku pun hanya menangguk.
"Tante, makasih ya motornya!" aku menyerahkan kunci motor kepada Tante Indri.
Tante Indri mengangguk dan tersenyum. Dia pun pamit pulang ke rumahnya.
Setelah itu aku segera berbenah diri. Dan menyiapkan makan untuk kami sarapan bersama.
"Assalamualaikum..." tiba-tiba Isha datang.
"Waalaikum salam..." jawabku.
"Udah siap, Kak?" tanya Isha.
"Bentar, nyuapin Galang dulu. Biar dia banyak makannya."
"Kakak juga harus makan yang banyak ya, biar kuat menghadapi cowok tengil itu."
"Kakak ku harus semangat dan kuat. Semangat ya, kak!" Isha memberiku semangat.
Setelah aku dan Galang selesai makan, kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke Pengadilan Agama.
Tapi, tiba-tiba, sebuah mobil mungil berwarna silver berhenti di depan kontrakan ku.
Hatiku bertanya, siapa gerangan orang ada di dalam mobil itu.
Ternyata... dia Merwais. Dia datang untuk menemuiku. Aku kira, dia hanya bercanda. Saat dia mengatakan akan datang ke kota ini dan menemaniku ke Pengadilan.
"Assalamualaikum..." salam Merwais kepada kami.
"Waalaikum salam..." aku dan Isha menyahut berbarengan.
"Udah mau berangkat, nih?"
"Iya, sudah tiba waktunya berangkat." sahutku.
"Aku anter, ya? Biar Isha tinggal di sini menemani Galang."
"Iya, gak apa-apa. Anter gih, kak Dina, biar aku menemani Galang di rumah." Isha langsung menyambut kalimat Merwais dengan semangat.
Sebenarnya aku gak enak sama tetangga yang lain nya. Takut jadi ghibah. Belum bercerai, sudah berani jalan sama laki-laki yang bukan muhrim.
Tapi, Isha meyakinkan. Bahwa semua akan baik-baik saja. Aku pun menurut apa yang di katakan Isha.
"Yuk, kita berangkat. Entar telat lo." kata Merwais.
Aku pun mengangguk.
Kemudian, Merwais membukakan pintu mobil untukku. Aku hanya tersipu. Sebegitu besarnya kah perhatiannya padaku.
Merwais duduk di belakang setir. Kami pun segera melaju membelah jalan.
******
Tiba di Pengadilan Agama, kami pun segera duduk di bangku yang telah di sediakan untuk menunggu giliran. Aku kembali melihat di buku antrian.
"Hmm... banyak juga yang sidang cerai hari ini." gumam ku. Dan kembali duduk di samping Merwais.
Aku sangat merasa risih, saat banyak pasang mata yang memperhatikanku.
"Mbak, sidang cerai juga?" tanya seseorang yang duduk di sampingku.
Aku hanya menangguk.
__ADS_1
"Emang bisa wanita hamil sidang cerai?"
Rupanya dia sangat memperhatikan ku. Dan tahu kalau aku sedang hamil.
"Jangan-jangan, yang lain pun berpikir sama dengan mbak ini," gumamku dalam hati.
Akupun hanya mendesah.
Tak berapa lama, namaku di panggil. Aku pun segera masuk ke ruang persidangan.
Akupun duduk di kursi penggugat. Dan berharap kursi tergugat tidak hadir.
Sekali,,, dua kali nama Bagas di panggil, tapi dia tidak muncul. Aku bernafas lega.
Saat panggilan yang ketiga, tiba-tiba ada seseorang yang masuk. Dan ternyata itu Bagas. Dia pun tersenyum sinis ke arah ku.
"Dengan Ibu Dina Larasati." kata Hakim ketua.
"Iya, Pak." sahutku.
"Dan Bapak Bagas Effendi." timpal Pak Hakim lagi.
"Iya, Pak." sahut Bagas.
"Pak Bagas, Ibu Dina menggugat anda dengan tuduhan tidak menafkahinya selama tiga bulan berturut-turut dan melakukan KDRT. Apa itu benar?"
"Ya, Pak Hakim Ketua. Tapi saya tidak melakukan KDRT. Kalau saya melakukan KDRT, apa buktinya?"
"Ibu Dina, apakah ibu ada buktinya?" kali ini Hakim 1 menanyakan
"Seperti, orang yang menyaksikan atau video?"
Kali ini aku hanya diam. Karna aku tak punya bukti itu.
"Pak Bagas, kenapa anda tidak menafkahi Ibu Dina selama tiga bulan berturur-turut?" tanya Hakim 1 kepada Bagas.
"Saya punya alasan, kenapa saya tidak menafkahi." jawab Bagas.
"Apakah anda tidak tahu isi Sighat Taklik yang anda bacakan setelah menikah?"
"Saya tahu, Pak Hakim."
"Jadi, apa alasan anda?"
"Dina ketahuan selingkuh pak Hakim, dan saya ada buktinya."
"Bohong, pak Hakim." aku pun langsung menyela.
"Bagas, kenapa kamu tega memfitnah aku?" kataku dengan emosi.
Air mata yang kupertahankan pun akhirnya runtuh. Aku mulai terisak.
"Boleh saya lihat bukti itu?" tanya Wakil Ketua.
Bagas pun memberikan gawai milikku yang dulu dia simpan kepada Wakil Ketua.
Mereka menerima dan membacanya.
"Selain itu, Dina juga hamil pak Hakim." sambung Bagas lagi.
Para anggota Pengadilan terkejut. Mereka saling berbisik. Aku pun mati kutu, tak tahu harus berkata apa lagi.
"Saya tidak tahu itu anak siapa!"
"Tapi, saya memaafkan nya pak Hakim. Saya tidak ingin bercerai dengannya. Saya sangat mencintainya." Bagas pun bersandiwara, agar gugatan inj di batalkan.
"Tolong pak Hakim, jangan percaya kepadanya. Dia sangat jahat." akupun menangis.
"Maaf, Bu Dina. karena ibu sedang hamil, sidang ini tidak bisa di lanjutkan. Sidang ini bisa berlanjut setelah ibu melahirkan dan melewati masa nifas."
"Dengan ini saya nyatakan sidang di tunda dengan waktu yang tidak di tentukan." Hakim ketua mengetuk palu. Menandakan itu lah keputusan nya.
Aku hanya terduduk lemas dengan tangis yang tersedu. Ku lirik Bagas. Dia tersenyum dengan penuh kemenangan dan menyeringai mengejek ku.
Di luar persidangan, Merwais yang menunggu segera menghampiriku.
"Bagaimana, Din?" tanya Merwais.
"Sidang di tunda sampai aku melahirkan." kataku lesu.
"Aku akan menyewa pengacara untuk memenangkan kasus ini." katanya lagi.
"Oohhoo...pasangan selingkuh yang di mabuk cinta." tib-tiba saja Bagas datang.
Kemudian dia membisikan
"Sampai mati pun aku tidak akan menceraikan mu." dia pun berlalu sambil terbahak.
Ingin rasanya aku melempar Bagas dengan batu yang ada di tanah. Tapi Merwais menahanku.
"Biarkan, dia, Dina. Jangan emosi, kau harus menjaga kandunganmu." Merwais menasehatiku.
__ADS_1
*****
Merwais memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menggenggam tanganku untuk memberikan kekuatan.
Tiba-tiba, ada sebuah motor menyelip kami di depan. Karena Merwais kurang fokus, mobil pun oleng dan menabrak pembatas jalan.
"Kamu tidak apa-apa, Dina?" tanya Merwais khawatir.
"Aku tidak apa-apa Wais." sahutku.
Akupun segera merubah posisi duduk ku. Tapi, aku merasa ada yang keluar dari jalan lahirku. Ku raba, ternyata darah.
Merwais kaget. Dengan khawatir yang mendalam, dia segera melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit.
Awalnya aku tak merasakan sakit. Darah itu terus mengalir. Perlahan sakit itu pun mulai terasa. Sakit, dan semakin sakit.
Karena kekhawatir yang sangat dalam padaku, membuat wajah Merwais tegang dan pucat. Aku pun segera memegang tangannya, mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.
Kulihat ada genangan air di sudut matanya. Ah... betapa besarnya cintamu padaku Merwais.
Setibanya di Rumah Sakit, dia segera menggendongku menuju UGD. Kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya, membuat aku terharu.
Akupun menyandarkan kepalaku di dadanya. Melingkarkan tanganku ke lehernya. Aku berusaha sekuat tenaga, agar tidak terlihat sakit di depannya.
Tapi, sakit ini memaksaku untuk terus berteriak dan membuatnya tambah khawatir.
"Dokteeeeerrrr...." Merwais berteriak setibanya di ruang UGD.
Beberapa perawat segera mengambil alih tubuhku. Dan segera melakukan tindakan.
"Keluarga pasien?" tanya perawat.
"Saya, Sust!" Merwais segera menghampiri perawat.
"Segera isi data pasien dan urus administrasinya. Kami akan segera melakukan tindakan." perintah perawat.
"Sust... ini identitas pasien." Merwais menyerahkan Kartu Identitas Penduduk milikku.
"Lakukan yang terbaik untuknya."
"Baiklah, pak." kata suster itu.
Tak berapa lama, Dokter keluar.
"Keluarga Ibu Dina?"
"Saya, Dok!" Merwais menghampiri Dokter itu.
"Dengan suaminya?"
Merwais bingung harus mengatakan apa.
"Ya, saya suaminya." Merwais pun akhirnya berbohong.
"Istri anda harus segera di operasi."
"Lakukan yang teebaik buat istri saya." ucap Merwais.
"Istri anda mengalami pendarahan hebat, karna bayi ini belum waktunya lahir."
"Hanya ada dua kemungkinan. Menyelamatkan ibunya atau menyelamatkan bayinya."
"Lakukan lah yang terbaik, Dok. Selamatkan lah bayi dan ibunya." Merwais memohon.
Sementar aku hampir tidak mampu bertahan lagi. Sakit ini melebihi sakit saat aku melahirkan Galang.
Dokterpun meminta tanda tangan Merwais dan segera membawaku ke ruang operasi.
Merwais pun meminta izin untuk menemaniku di ruang bedah.
Sepanjang perjalanan menuju ruang operasi, dia selalu menggenggam erat tanganku. Air matanya selalu menetes melihat diriku yang merasa kesakitan.
Sesampainya di ruang operasi, dia mencium keningku dan memberiku semangat. Agar aku kuat dan tidak pantang menyerah.
Aku senang bisa mengenalnya. Bisa merasakan cintanya yang begitu besar.
Tak berapa lama, bayi mungilku lahir dan bobot dua koma satu kilo gram. Berjenis kelamin laki-laki.
Dokter mendekatkan aku ke wajah bayi mungilku. Aku senang dan bahagia. Tapi, kata Dokter rahimku harus di angkat. Karena mengalami robekan yang sangat fatal.
Aku pun mengikhlaskan rahimku dan terus mengalami pendarahan. Aku sempat anfal, dan dokter segera melakukan tindakan.
Genggaman Merwais tak pernah lepas dari tanganku.
"Din, kamu harus kuat. Kita akan membesarkan anak-anak kiya bersama ya."
Aku hanya tersenyum di balik selang oksigen yang menutup mulut dan hidung ku.
"Wais, sayangilah anak-anakku. Seperti kau menyayangi dan mencintaiku."
"Kalau terjadi sesuatu padaku, aku mohon lindungi lah mereka selalu. Hanya itu ku pinta padamu."
__ADS_1
Merwais menangis dan mengecup keningku.
Genggaman ku pun melemah dan semakin melemah. Dan akhirnya hanya gelap yang ku rasa.