Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 26 Akankah???


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Tidaklah mudah membesarkan seorang anak yang memiliki kekurangan. Perlu beradaptasi dengan kebiasaannya yang hanya memakai kode tangan. Belum lagi Aisya harus di ajarkan berjalan, walau usianya hampir berusia tiga tahun.


Berat, benar-benar berat. Namun, demi kebahagiaan Aisya, aku sanggup berkorban. Walau dia bukan darah dagingku, dia tetap adik dari anak-anakku.


Melihat perkembangan Aisya yang tak berarti, aku hanya meminta pendapat pada Wais. Biasanya dia selalu memberikan solusi, agar aku tidak terlalu terbebani dengan pikiran yang kalut.


Malam itu, saat kami sudah berada di pembaringan, dengan perlahan kusandarkan kepalaku di bahunya.


"Bi, sangat sedikit perkembangan pada Aisya. Usianya sekarang hampir tiga tahun, Bi, tapi dia belum juga bisa berjalan." kataku memulai percakapan.


Wais yang saat itu sedang membaca kitab suci, melirik ke arahku. Di cium dan di letakannya kitab suci itu di atas nakas.


"Bunda, yang sabar ya. Abi akan selalu bersama Bunda." Dia memeluk hangat tubuhku.


"Bi, apa kita cari alternatif lain untuk menyembuhkan Aisya?" tanyaku lagi.


"Bunda, yang pasti sabar, tawakal, dan berusaha, itulah kuncinya."


"Bukankah Abi sudah merekomendasikan Dokter terbaik untuk Aisya? Pokoknya, Bunda fokus saja untuk penyembuhan Aisya. Sedangkan Galang dan Gilang, biar Abi yang merawat." dia pun mencium keningku.


Aku hanya diam. Benar juga yang di katakan lelakiku. Tidaklah mudah merawat seseorang yang sudah pasti di vonis Dokter. Namun, aku harus tetap berjuang.


"Bund, dari pada pusing, kita buat dedek yuk!" Wais mulai gombal.

__ADS_1


"Iiiihhhh,,, apaan sih, Bi." wajahku bersemu merah.


"Bund, biar bagaimana pun, Abi akan selalu mencintaimu sampai maut memisahkan kita." di tatapnya lembut wajahku.


"Jangan bilang maut, Bi, Bunda belum siap." kututup bibirnya dengan tangan.


Wais pun meraih tanganku dan menggenggamnya, di ciumnya kedua tangan ini dengan lembut.


"Bund, aral, rejeki dan maut itu tidak ada yang tahu. Itu semua sudah ketentuan Allah." Wais membelai rambutku.


"Siap tidak siap, kita harus tetap menerima dan ikhlas." tambahnya pula.


Kutatap wajahnya, ada perasaan ganjil di hati ini kenapa Dia mengucapkan padaku di saat aku masih membutuhkan dirinya.


Kupeluk tubuhnya, kubenamkan tubuh ini di dalam pelukannya. Dia membalas pelukanku. Kami pun terhanyut dalam suasana romatis yang menggelora. Memadu kasih sampai puncak asmara.


****


"Abi..." kupanggil dirinya. Namun tak ada jawaban.


Ku edarkan pandangan ke sekiling, tak jua ada bayangannya. Perlahan aku turun dari tempat tidur, kutatap Aisya masih tidur pulas di ranjangnya.


Segera ku cek ke kamar mandi, dan ternyata


"Astagfirullah...Abi." aku berteriak kencang.


Kuhampiri Suamiku tercinta yang terkulai lemah di lantai kamar mandi. Tubuhnya di penuhi dengan darah yang keluar dari mulut dan hidung.

__ADS_1


Ku goyang tubuhnya dan ku tepuk pipinya agar dia tersadar. Namun dia tetap bergeming.


"Kabiiiiiiiiirrrr..." aku berteriak sekeras-kerasnya.


Tak dapat kutahan, air mata ini tumpah melihat kondisinya seperti ini.


Tak berapa lama Kabiir dan lainnya langsung menerobos kamar. Aku segera meraih handuk untuk menutupi kepala, agar aurat tak terlihat oleh mereka.


Kabiir terkejut melihat kondisi Wais, Dia meminta David untuk segera menelpon Ambulance. Ada ke khawatiran terpancar diwajahnya.


"David, segera telpon Ambulance."


"Baik." dengan sigap David menelpon RS.


Aku segera mengganti pakaian tidur yang ada noda darah dengan pakaian syar'i.


Tak berapa lama, Ambulance pun datang dan segera membawa Wais ke RS. Aku mendampingi lelakiku didalam Ambulance, sedangkan Kabiir dan David mengikuti dengan mobil lain.


Tak lupa ku titip anak-anak pada sust Ina. Galang dan Gilang menangis setelah melihat kondisi Abinya seperti itu.


***


Lima belas menit kemudian, kami sudah berada di RS. Para Dokter dan perawat begitu sigap menangani Wais.


Air mata terus mengalir deras. Aku sangat takut, takut dengan kenyataan yang akan menimpaku. Takut kalau yang dikatakan Wais akan benar-benar menjadi kenyataan. Aku sungguh belum siap dengan semua keadaan ini.


Kabiir yang berada di sampingku menyentuh pundak dan memberikan kekuatan agar aku tidak terlalu jatuh dalam kesedihan. Terlihat, di ujung netranya mengambang air yang siap meluncur ke pipi.

__ADS_1


Tanpa sadar, aku pun memeluknya. Menumpahkan seluruh air mata didadanya. Melepaskan semua sesak dan penat yang memenuhi seluruh rongga jiwa. Kabiir pun membalas pelukanku.


Diujung koridor RS, tempat kami menunggu keputusan Dokter tentang nasib Merwais, ada sepasang mata menatap dengan penuh benci dan amarah.


__ADS_2