
Saat aku sadar, aku sudah berada di bilik kamarku. Ku lihat bi Jum sedang mengobati memar yang ada di wajah Merwais. Ada luka diujung bibir dan lebam di bawah matanya. Dia hanya meringis kesakitan. Ada rasa sedih di hatiku.
Saat aku ingin bangun dari pembaringan, segera Merwais menghampiriku.
"Jangan dipaksa bangun, Din, kalau kau masih merasa pusing."
"Aku hanya ingin duduk, Bi. Aku bosan kalau harus berbaring terus," ucapku.
Merwais pun membantuku duduk. Kemudian mengambil bantal dan meletakkan nya di belakang punggungku agar aku bersandar di bantal itu.
Aku menyentuh wajahnya dengan tanganku. Saat ku sentuh bibirnya yang luka, dia hanya meringis. Dia pejamkan matanya kemudian menggenggam tanganku yang berada di wajahnya.
"Bi, siapakah laki-laki yang telah memukul kita?" tanya ku padanya.
"Kenapa tidak kita laporkan saja ke pihak yang berwajib?"
"Sudahlah, Din, biar kan dia. Nanti akhirnya dia akan menyesalinya."
"Tapi, kenapa dia tiba-tiba memukul kita? Apa salah kita? Jelaskan Abi!"
Merwais hanya menggenggam erat tanganku. Dan menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Ayo lah, Bi. Aku hanya ingin penjelasan. Biar aku tidak bingung. Apakah ada hubungan nya denga masa laluku?"
"Din, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi, berjanjilah, kamu harus bisa mengendalikan dirimu.
"Ya, Bi, aku janji," aku pun mengangguk kan kepalaku.
"Din, sebenarnya, laki-laki itu adalah..." Merwais menggantungkan kalimatnya.
"Adalah siapa, Bi?" aku mengejar jawabannya.
"Dia adalah suami sah mu." lanjutnya kemudian.
Aku shock. Sangat terkejut. Aku merasa tidak terima kalau laki-laki yang di taman itu adalah suamiku. Aku tak percaya kalau aku memiliki seorang suami yang jahat dan kejam.
"Tidaaaaaaakkkkkkkkk.... Aku tidak percaya, itu tidak mungkin. Abi pasti bohong." aku pun berteriak histeris dan menangis tersedu.
Merwais pun segera memeluk dan menenangkan ku. Dia terus memberikan kedamaian dalam hidupku. Ada ketenangan saat berada dalam pelukannya.
Bi Jum yang melihat kami, segera keluar dari kamar. Dia mengerti, bahwa kami perlu waktu sendiri untuk menyelesaikan semua.
Setelah sedikit tenang, akupun melepaskan pelukan nya. Dan meneruskan pertanyaan ku yang tertunda.
"Lalu, siapa kedua bocah itu?"
"Mereka anak kandungmu bersama Bagas, laki-laki yang ada di taman."
"Lalu kau siapa? Mengapa kau rela merawat ku dan anak-anakku selama ini?"
"Aku orang yang sangat mencintaimu, Din. Aku tak ingin kau terus di sakiti. Walau aku tahu, aku salah telah mencintai seorang gadis yang sudah memiliki suami. Tapi aku tetap mencintaimu sampai kapan pun."
Merwais pun menceritakan semua tentang masa laluku. Tentang saat ku "tertidur panjang" selama 15 bulan sampai dengan sekarang aku mengalami amnesia. Tak satupun yang di lewatkan dari ceritanya.
Begitu besar jasanya kepadaku dan juga anak-anakku. Terlebih pada si kecil Gilang. Tanpanya, mungkin aku tak akan pernah bisa melihat Gilang. Dia korban kan segala-galanya hanya untuk kami.
__ADS_1
Ada rasa haru merasuk ke relung hatiku. Begitu besar cintanya padaku, sehingga rela merawat dan menjagaku sampai sekarang.
Malam pun semakin larut, Merwais memintaku untuk segera beristirahat.
"Tidurlah, Din. Ini sudah terlalu malam. Kamu harus banyak beristirahat, agar ingatan mu segera pulih."
Merwais pun meninggalkanku seorang diri.
Malam itu aku benar-benar tidak bisa tidur. Berbagai pertanyaan masih berkecamuk di dalam pikiranku. Aku tak tahu, apakah aku harus sedih atau merasa senang dengan keadaan ku yang sekarang ini.
Di satu sisi, aku tidak ingin ingatan ku kembali pulih. Tapi di sisi lain, aku harus menghadapi semua ini dan segera menyelesaikan nya.
Tak terasa, aku pun akhirnya terlelap tidur dalam mimpi yang tak ku inginkan.
*****
Pagi itu cuaca sangat mendung. Semendung hatiku saat ini. Tidak berapa lama, gerimis hujan pun turun membasahi bumi.
Aku segera bangkit dari pembaringan dan meraih kursi roda yang berada di dekat tempat tidurku. Akupun beralih ke kursi roda dan menjalan kan kursi roda ini menuju jendela.
Aku memandang rinai hujan yang turun dari langit. Perlahan rintik itu menjadi deras, dan makin deras.
Akupun memutar arah kursi rodaku menuju pintu yang ada di samping kamar. Pintu itu menembus ke halaman samping yang menuju taman kecil belakang rumah.
Sekali lagi ku pandangi hujan yang semakin deras. Aku pun menuju taman belakang rumah. Ku biarkan diri ini basah oleh air hujan. Hujan yang akan menyamarkan setiap air mata yang jatuh ke pipi.
Walaupun air hujan yang kurasakan sangat dingin, tapi tidak dengan hatiku. Dadaku di penuhi gemuruh penuh sesak yang siap untuk meledak.
Dan akhirnya sesak itu tak bisa ku tahan.
"Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhkkkkkkkk....." akupun berteriak penuh amarah. Duduk terjatuh di hamparan rumput yang sudah basah oleh hujan.
Dengan tergopoh, Merwais segera menyusulku. Dengan wajah yang sangat cemas, dia berlari memeluk ku.
"Ya Allah, Din, Sudah berapa lama kamu di sini? Tubuhmu dingin dan pucat!"
"Biar kan aku mati, Wais. Aku tak ingin hidup lagi." aku terus berteriak.
Merwais berusaha menenangkan ku, tapi aku semakin menjadi. Seperti bocah yang kehilangan mainan nya. Aku terus meronta dan berteriak.
"Din, Istigfarlah. Kamu harus kuat menghadapi kenyataan ini. Kamu tidak boleh lemah, aku tahu kamu seorang yang sangat kuat."
Aku terus meronta, sampai akhirnya
Plaakk..
Merwais menampar pipiku. Aku tercengang. Sebelum hilang kesadaran ku, ku dengar dia mengucapkan
"Maaf kan aku, Dina. Bukan maksudku menyakitimu. Tolong maafkan aku."
Aku sempat merasakan saat dia menggendong tubuhku dan menuju bilik kamar. Setelah itu yang kurasakan hanya gelap.
****
Saat aku sadar, ku lihat seorang dokter sedang memeriksaku. Ku lihat Merwais selalu setia di samping ku. Aku pun tersenyum padanya. Mungkin dengan air hujan itu, ingatan ku kini kembali.
__ADS_1
Ku rasakan panas saat ku sentuh tangannya. Mungkin kah Merwais saat ini sedang demam?
Ku lihat wajah nya pun sangat merah.
"Dok, tolong periksa juga pak Merwais. Ku lihat dia pun demam." aku meminta pada Dokter untuk segera memeriksa Merwais.
Saat Dokter ingin memeriksanya, tiba-tiba Merwais ambruk tak sadarkan diri. Aku pun khawatir dengan keadaan nya. Dia selalu menjagaku, tapi tak sedikitpun memperdulikan kesehatan nya.
Bi Jum segera memanggil supir dan tukang kebun. Mereka segera membawa Merwais ke kamar nya.
Aku sangat khawatir dengan keadaan Merwais. Segera aku meminta bantuan bi Jum untuk mengantarkan ku ke kamar Merwais.
Saat aku memasuki kamar itu, aku sangat terkejut dengan pemandangan yang ada dalam kamar tersebut. Hampir di setiap sudut kamar di penuhi oleh foto diriku dengan berbagai pose.
Merwais belum juga sadar dari pingsan nya. Akupun duduk di samping ranjang dan terus menunggunya sadar. Ku genggam tangan yang telah menjaga ku selama ini.
*****
Saat Merwais terbangun, dia terkejut melihatku ada di samping nya.
"Dina, ngapain kamu di sini? Yuk, ku antar ke kamar, kamu harus banyak istirahat." ucapnya
Aku hanya tersenyum. Senyum termanis yang hanya ku persembahkan kepada Malaikat yang selalu menjaga ku selama ini.
"Gak perlu ah, Wais. Aku pun ingin menjagamu di sini."
Segera ku ambil air di atas nakas dan menyodorkan nya kepada Merwais.
"Nih, minum dulu. Kemudian makan bubur ini ya. Kasihan bi Jum telah susah payah memasakan nya buat kamu."
"Biar segera sehat dan sembuh. Kemudian menjaga kami lagi." aku pun memgerlingkan mata pada Merwais. Dia pun tersenyum penuh arti.
"Assalamualaikum... Abi, Bunda."
Tak berapa lama dua jagoanku pun datang.
"Cieeee,, Abi sama Bunda mesra banget," ucap Galang kemudian di sambut gelak tawa oleh bi Jum dan sust Ina.
"Iiih,,, anak kecil, emang tahu apa artinya?" aku pun mencolek hidung Galang.
Tak mau kalah, Gilang pun duduk di pangkuan ku.
"Bunda, jangan Abi aja dong yang di sayang! Gilang juga mau." ucap Gilang dengan bahasa cadelnya.
"Jelas dong, Bunda sayang kalian semua. Semoga kita selalu bersama ya sayang." ucap ku lagi.
Aku pun memainkan mataku pada Merwais.
Dia pun mencolek hidung ku.
Tak berapa lama, ada keributan di luar. Ada apa sebenarnya.
"Bi Jum, tolong di lihat, ada apa di luar kok ribut-ribut." pinta ku pada bi Jum.
Bi Jum pun keluar dan kembali membawa berita, bahwa ada seseorang yang ingin menemuiku. Siapa kah Dia?
__ADS_1
BERSAMBUNG....
_________________________