
Lembayung senja hadir menampakan diri. Memanggil jiwa-jiwa malam yang segera menggantikannya.
Saat ini, aku hanya duduk termenung di teras, meratapi hidup yang makin keras. Aku harus berjuang demi masa depan Galang dan calon anak ku. Tapi, akankah nasib baik berpihak padaku? Atau kah nasib buruk yang terus mengikutiku!
"Ah, Aku hampir bosan dengan hidup ini. Ataukah, aku harus pergi dengan caraku sendiri!" gumamku dalam hati.
Tiba-tiba, seseorang berteriak memanggilku.
"Kak Din, aku menemukan nya!" teriak Isha membuyarkan lamunan ku.
Aku terlonjak, kaget, dan segera menghampirinya.
"Yakin, itu Merwais?" tanyaku.
"Iya, Kak, Isha yakin itu Merwais!"
"Coba lihat." Isha menyodorkan gawainya.
Aku pun mengambil gawai yang di sodorkannya, dan segera melihat akun yang di maksud Isha.
"Ya, benar, ini Merwais." aku pun merasa senang dan sangat berterima kasih dengan Isha, satu-satunya orang yang mau membantuku.
"Isha sudah inbox Wais, Kak. Kita tunggu balasannya dulu."
Isha pun ku ajak masuk kedalam. Tidak lupa ku ajak Galang yang lagi asik bermain bersama temannya.
"Sayang, masuk yuk! Udah mau magrib ini. Kita sholat dulu ya, supaya Allah mengabulkan doa Galang."
Galang pun mengangguk dan meraih tanganku.
Setelah berada di ruang tengah, Galang pun menyentuh perutku dan berkata
"Dede, kalau udah lahir nanti, kita harus jaga Bunda ya. Jangan pernah kita menyakiti hati Bunda," sambil di ciumnya perut ku yang sedikit mulai kelihatan membuncit.
Aku dan Isha terharu mendengarnya. Kamipun berpelukan, dan saling memberi semangat.
"Sha, Kakak sholat dulu ya. Kalau mau teh, bikin sendiri." sambil ku towel hidungnya.
"Iya, Kak. Sha juga lagi berhalangan." sahutnya.
***
Setelah selesai menjalankan kewajiban tiga rakaat, aku pun menanyakan tentangan jawaban Merwais.
"Sha, udah ada balasan nya?"
"Belum, Kak."
Ada sedikit rasa kecewa yang kurasa. Tp aku berusaha untuk berpikiran positif. Mungkin Merwais lagi sibuk.
"Yes, akhirnya di balas Merwais inbox ku," girang Isha. Aku pun ikut senang.
"Ini Isha, adiknya Dina, ya?" tanya Merwais.
"Ya, aku adiknya, Kak Dina. Segera hubungi +62858xxxxxxx" Isha meminta Merwais segera menghubungi nomor tersebut.
Ddrrttttt,,, ddrrttttt.... Tak berapa lama, gawai Isha yang lain nya berdering. Gawai biasa, kecil dan mungil. Hanya cukup menelpon dan berkirim pesan.
Isha pun memberikan gawai itu padaku.
"Buat kakak, biar bisa saling berhubungan dengan Merwais." bisik Isha.
"Ya Allah... Sha, terima kasih banget ya. Cuma kamu yang mau menolong kakak."
"Iya, Kak. Asal jangan ada yang tahu aja." Isha tersenyum.
__ADS_1
"Buruan gih di angkat telponnya Merwais," Isha mengingatkan ku.
Aku pun segera mengangkat telponnya.
"Halo, Wais. Aku menerima lamaranmu." langsung ku ucapkan setelah telpon ku angkat.
"Din, are you seriously?" tanya Merwais terkejut.
"Jii, han. Im serious. But..?" aku menggantungkan kalimatku.
"But, what??"
"Aku ingin, kamu mengurus surat perceraian ku dengan Bagas. Biar aku bisa lepas dari laki-laki itu."
"Of course, I will. Aku akan mengurusnya."
"Dan berjanji lah, Wais, kamu tidak akan memperlakukan aku, seperti Bagas yang telah menyakitiku." aku mulai terisak.
"Yeah, Im promise. I Love You so Much, Dina!"
"So, mujhse sadhi karoge?" timpal Merwais meyakinkan.
"Jii, han. I will." akupun tersenyum.
"Ciieee,, yang sedang berbahagia." Tiba-tiba Isha datang menyorakku. Dan membuat aku jadi tersipu malu.
"Biar aku ngomong sama Wais, Kak." Isha merebut gawai di tangan ku.
"Wais, janji ya, jangan pernah sedetik pun kamu menyakiti, kak Dina."
"Dont worry, Isha, aku janji."
Kemudian Isha pun membiarkan aku bicara dari hati ke hati dengan Merwais. Dan akupun menceritakan semua kejadian ini kepadanya.
"Lupakan lah Bagas. Mulai lah hidup baru bersamaku." timpalnya lagi.
"Setelah akte cerai itu keluar, dan masa iddah mu selesai, aku segera menikahmu, Dina."
Aku sangat senang. Sebentar lagi aku akan terlepas dari belenggunya Bagas. Walaupun sebenarnya, aku belum bisa menerima seutuhnya cinta Merwais kepadaku.
****
Tiga bulan telah berlalu, Bagas tak pernah kembali lagi ke kontrakan tempat ku tinggal. Dan tak pernah mengirim uang sepeser pun untuk menafkahi Galang, anaknya. Untunglah Merwais sudah mentransfer untuk biaya hidup kami.
Tapi, aku khilaf. Selama itu pula aku terlupa untuk mengurus surat perceraian. Aku terlena dengan kebebasan tanpa hadirnya seorang Bagas. Ketenangan dan kebahagian yang aku rasakan bersama Galang telah membuaiku.
Hari itu, tak di sangka-sangka, Bagas pun datang dengan amarah.
"Hei, pel**ur, masih hidup rupanya. Kamu dapat uang dari mana? Jual d**i!!"
"Hei, Bagas, aku mau jual diri kek, mau apa kek, apa urusannya sama kamu?"
"Ba***at, kamu itu masih istriku, dasar pel**ur."
Tangannya pun terangkat ingin memukulku.
"Ayo, pukul. Aku tak ingin lagi kamu injak-injak terus." akupun menyodorkan wajahku.
"Ooo... berani sekarang ya!!" Bagas pun urung memukulku.
"Mikir dong, kalau kamu masih punya otak, kamu tetap wajib menafkahi kami." aku pun dengan emosi menunjuk ke arah wajahnya.
Galang yang tadi asik bermain, seketika menangis melihat pertengkaran kami. Dan aku pun memasang badan, agar Galang terhindar dari amukan Bagas.
"Oh ya, aku akan segera mengajukan gugatan cerai. Aku tak mau lagi tersiksa batin oleh mu."
__ADS_1
Bagas kaget. Tapi dia segera menguasai dirinya kembali dan berbisik padaku
"Sampai kapan pun, sampai mati pun, aku tidak akan menceraikanmu."
Bagas pun tertawa terbahak-bahak sambil berlalu meninggalkan ku.
Aku yang awalnya enggan mengeluarkan air mata, akhirnya luruh dan menangis dengan memeluk Galangku.
*****
Pagi yang sangat cerah. Mendukung langkah ku untuk menuju kantor Pengadilan Agama. Mengajukan gugatan cerai kepada Bagas.
Hari itu, aku memakai gamis yang agak longgar dan hijab yang lebar. Supaya menutupi perutku yang sudah terlihat. Aku khawatir, pengajuanku akan di batalkan kalau perut ini terlihat.
Setelah lengkap berkas-berkasnya, dan pembayaran nya pun sudah di lunasi, aku pun mengajukan berkas itu ke Pengadilan Agama.
"Sudah lengkapkan, Bu, berkasnya?" tanya petugas Pengadilan.
"Iya, sudah semua, Mba!" sahutku.
"Sebentar ya, Bu, saya buatkan kwitansinya dulu."
Aku pun menunggu, sambil bermain ular di gawai mungilku.
"Ini, Bu, kwitansinya." petugas itu memberikan kwitansi kepadaku.
"Surat panggilan nya akan keluar, paling tidak satu bulan setelah pengajuan berkas. Di tunggu ya, Bu!" petugas itu menjelaskan padaku. Aku pun mengaangguk.
******
Setelah satu bulan, waktu yang ku tunggu pun tiba. Saat itu, aku sedang menyirami tanaman di halaman kontrakan ku.
"Assalamualaikum... permisi, Bu. Dengan ibu Dina Larasati?" tanya seorang petugas kepadaku.
"Oh ya, saya Dina."
"Ini ada surat panggilan dari Pengadilan Agama." petugas itu menyodorkan sebuah surat kepadaku. Akupun segera menerimanya.
"Iya, terima kasih, Mas."
"Tolong, tanda tangani di sini ya, Bu!" petugas itu menunjukan tempat yang harus aku tanda tangani.
"Terima kasih, Bu. Permisi."
Petugas itupun berlalu dari hadapanku.
Segera kubuka surat itu.
"Hmm... tiga hari lagi sidang perceraianku."
"Aku berharap, semoga berjalan dengan lancar. Dan aku segera terbebas dari laki-laki kejam itu."
BERSAMBUNG.....
Note:
Jii, han artinya Ya. Di ambil dalam bahasa Urdu.
Mujhse sadhi karoge artinya Maukah Menikah dengan ku.(dari bahasa urdu)
Akan kah Bagas dan Dina bercerai????
Ikutin terus ya lanjutan nya😉😉
__________________________________
__ADS_1