
Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM
Dokter keluar dari ruang perawatan Wais, kami pun segera menanyakan kondisinya. Dengan menggenggam tanganku, Kabiir membawaku menghampiri Dokter.
Aku hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka, ada terlihat kebahagiaan terpancar di wajah Kabiir. Setelah selesai berbicara, Dokterp pun berlalu.
Kabiir menghampiri dan menatap dalam mataku.
"Din, Wais selamat. Dia sudah melewati masa kritisnya." dengan menggenggam tanganku, Kabiir menjelaskannya.
Ada rasa berbunga hatiku mendengar suami tercinta selamat dari masa kritis.
"Lalu, apakah boleh aku menemuinya sekarang?" aku tak sabar untuk mendampingi lelaki tercinta.
"Kata Dokter masih belum boleh."
"Menurut penjelasan Dokter, kalau kemotherapy di lanjutkan, kemungkinan Wais bisa sembuh dari penyakitnya." Kabiir sedikit tertunduk.
Deg...
Rasa ditusuk sembilu dada ini, perih dan sakit. Astagfirullah... selama ini aku lupa memperhatikan keadaan Wais. Aku terlalu fokus pada perawatan Aisya dan melupakan kemotherapy yang sudah dijalani.
Air bening itu kembali membasahi pipi. Kini aku telah melakukan kesalahan dua kali, yang akan merenggut nyawa orang-orang yang kusayangi. Aku terlalu egois mementingkan kemauanku, tanpa melihat sebab akibatnya.
Aku terduduk lesu. Menutupi wajah dengan kedua tangan ini. Menyesali keadaan yang sudah terjadi, namun tiada guna lagi. Aku terlalu berjanji dengan kehidupan Aisya, tapi melupakan janji dengan kehidupan Merwais.
"Ya Allah... aku benar-benar sudah lelah. Aku bersedia nyawaku ditukar dengan nyawanya." lirihku. Air mataku semakin deras mengalir dan menyisakan sedu sedan yang tak tertahan.
Kabiir duduk di sampingku, merengkuh bahuku dan menyadarkannya didada bidangnya. Kami terus terbuai dalam kesedihan.
"Hmmm, good." suara ketus seorang wanita menyentakan kesedihan kami.
Terlihat Alicia telah berdiri didepan kami dengan wajah yang tak bersahabat.
Aku segera menghapus air mataku dengan ujung lengan baju.
Kabiir pun berdiri dan ingin menjelaskan tentang keadaan Merwais. Tapi, Alicia sangat marah.
"Alicia, keadaan Wais.." belum sempat Kabiir menjelaskan, Alicia langsung menyambut dengan ketus.
"Wais, kenape? Tapi, gak seperti ni juga kali, Bang."
"Tak malu ke sama orang-orang? Kamu ni memeluk yang bukan mahrommu. Dia istrinya Wais, Bang, saudaramu." Alicia melotot.
"Maafken, Abang, Alice. Ini bukan seperti yang kamu lihat." Kabiir terus berusaha menjelaskan.
"Sudahlah, Bang. Aku sudah lihat semuanye."
"Dan kau, hai wanita, harusnye kamu tuh malu. Telah pelukan sama lparmu, Adik Suamimu."
"Percume la kamu memakai niqob, tapi perbuatanmu busuk. Kau ingin mengambil Suami ku ye?"
Aku sangat terkejut dengan hinaan Alicia. Dia menuduhku ingin merebut Kabiir darinya.
"Astagfirullah... Alice, aku tak bermaksud begitu. Aku.."
"Sudahlah, Dina. Suamimukan sebentar lagi mati, kamu memang ingin merebut suamiku." Alicia semakin tak terkontrol.
"Sudah,, sudah,, ini Hospital. Jangan membuat gaduh disini, Alice." Kabiir pun mulai terlihat marah.
"Oh,, jadi Abang juga suke ya same Dina?" Alicia semakin tersulut.
"Sudah, Alice, ayo kita balik." Kabiir pun menarik tangan Alicia.
"Maaf, Dina, kami pulang dulu. Jaga Wais dengan baik ya."
Mereka pun berlalu dari hadapanku. Masih terlihat, mereka terus bertengkar sepanjang koridor.
__ADS_1
Astagfirullah... Aku hanya mampu beristigfar.
Satu lagi kesalahan yang tak pernah terbayang. Semua atas kesalahan dan keteledoranku. Dua nyawa hendak melayang, dan satu biduk rumah tangga akan hancur. Semoga semua ini tisak akan pernah terjadi.
Aku hanya bisa menatap tubuh Wais dari kaca luar.
"Bi, tolong, jangan pernah meninggalkanku. Aku tidak kuat kalau harus sendiri tanpamu. Kalau kau pergi, aku akan ikut. Aku tak mau sendiri disini." gumamku lirih.
Tak berapa lama, datang seorang perawat ke ruang perawatan Wais.
"Mrs.Merwais?" Perawat itu bertanya padaku.
"Ya, l am." jawabku.
"Come." Dia mengajakku masuk.
Aku pun mengikutinya dari belakang.
Begitu bahagianya bisa menemui dan merawat lelaki tercintaku.
Perawat itu kemudian memeriksa Wais, dan memberikan beberapa obat padaku.
"He will be ok, miss."
"But, dont forget, take medicine for him." Perawat itu menunjukan obat yang diberikannya.
"Ok, thank you." sahutku.
Perawat itu pun berlalu keluar dari ruangan ini.
Melihat kekasih hatiku terbaring lemah, air mata ini jatuh kembali. Kukecup keningnya, ku genggam tangan dan kubisikan kata.
"I love you, Abi. I'm really love you."
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, aku tak akan pernah hidup tanpa cintamu." aku mengecup tangan yang tertancap selang infus.
Kubenamkan wajah didekat lengannya dan tangan ini pun tak lepas dari genggaman tangannya.
Tangan kanannya membelai lembut kepalaku yang tertunduk.
"Bunda, jangan khawatir. Abi akan baik-baik saja karena cinta Bunda." sangat pelan yang diucapkannya.
Aku menengadahkan wajahku menatap dirinya. Ada senyum terlihat di wajahnya yang pucat.
"Abi, jangan tinggalkan Bunda!" tangisku pun pecah.
"Bund, Abi tidak akan pergi. Kekuatan cinta Bunda yang membuat Abi bertahan." ucapnya lemah.
Aku pun tersenyum manis. Semanis senyum saat malam pertama kami.
"Bi, minum dulu." aku menyodorkan segelas air yang sudah di sediakan oleh perawat.
Wais pun segera meminumnya menggunakan pipet sedotan. Tak lupa kuberikan pula obat yang sudah tersedia.
"Bi, maafkan Bunda, ya!"
"Maaf untuk apa, Bund?" tanya Wais heran.
"Selama ini Bunda sibuk terus demi kesembuhan Aisya, tapi lupa dengan kesehatan Abi."
"Bunda lupa menemani Abi kemotherapy, sehingga penyakit itu datang kembali." ucapku dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah, Bund, jangan menyalahkan dirimu. Abi juga lupa karena terlalu sibuk." ucapnya menenangkanku.
"Bunda janji, akan selalu menemani Abi untuk kemotherapy kembali. Sekalian therapy buat Aisya."
"Abi akan baik-baik saja, Bund. Dengan besarnya cintamu, Abi akan tetap terus hidup kekal." Wais mulai mengajakku bercanda.
Aku hanya tersenyum. Itulah Wais yang selalu membuatku bahagia, yang selalu membuatku lebih berarti.
__ADS_1
"Bund, sudah mandi wajib, belum?" tanyanya membuat aku terperangah dan tersipu.
"Ya Allah... Bi, Bunda lupa." kami pun tertawa bersama.
Merwais, dalam keadaan apa pun mampu membuatku tertawa. Memang benar, saat kejadian ini aku jadi lupa bahwa malam itu kami memadu kasih.
"Biarlah, Bi, kita akan mandi bersama setelah Abi sembuh." dia pun tertawa lepas.
*****
Sore menjelang, semua rekan-rekan Wais datang menjenguk. Banyak bunga dan buah tangan yang mereka bawa. Di antara mereka, ada seorang wanita cantik yang pernah datang ke rumah untuk menanda tangani kontrak.
Wanita itu membawa sekuntum bunga dan langsung memberikannya kepada Wais. Wais pun menerimanya dengan tersenyum hangat kepada wanita tersebut. Lalu wanita itu mencium kening Wais.
"Thank you." itulah ucapan Wais kepada wanita tersebut.
Ada rasa sesak didada saat melihat wanita tersebut mencium kening suamiku, namun kutepis itu semua.
Aku terus tersenyum kepada rekan-rekan kerjanya yang terus memberiku semangat. Namun, tak kudapatkan ucapan itu dari wanita rekan kerja Wais. Dia hanya melewatiku dan langsung pergi meninggalkan ruangan ini.
Sepi terasa saat para rekan kerjanya semua pulang, hanya ada aku dan Wais.
Niat hati ingin menanyakan siapa wanita tersebut. Tapi, urung setelah melihat kedatangan para buah hatiku.
Mereka datang bersama Sust Ina dan David serta Aleda dan Kabiir. Ada rasa kecanggungan saat Kabiir datang, aku takut Alicia berpikiran yang lain tentang kami.
Namun kebahagian datang saat kulihat Aisya sudah mulai bisa berjalan. Langsung kupeluk tubuhnya mencium wajahnya bertubi-tubi.
"Aisya sudah bisa jalan, sayang?" ada rasa haru yang mendalam.
Tak bisa kutahan air mata yang jatuh ke pipi.
Aisya pun mengusap air mata diujung netraku dengan tanganya yang mungil.
"Nda." itulah kalimat pertama Aisya.
Puji syukur kupanjatkan atas nikmat-Nya. Allah telah memberikan kebahagiaan padaku yang bertubi-tubi.
Wais pun tersenyum melihat Aisya sudah mulai bisa berjalan dan bisa mengucapkan kata, walau hanya sepatah kata.
Aku pun berusaha untuk mengajarkannya berucap "Abi", namun Aisya belum mampu.
"Sudahlah, Bund, jangan dipaksa." Wais memintaku agar jangan terlalu dipaksakan.
Galang dan Gilang duduk di samping ranjang sebelah kanan, sedangkan Aleda disampingku.
Kabiir yang berada di belakangku, membuatku merasak gak enak hati. Mengingat kejadian pagi tadi.
"Bund, kenapa? Kok terlihat gelisah begitu." tanya Wais.
"Gak, Bi, cuma mau pup nih, sakit perut." kucoba membuat alasan lain agar tidak terlihat perasaan resahku.
Aku pun memberikan Aisya kepada Sust Ina.
"Sust, jagain Aisya ya. Aku mau ke toilet dulu." bisikku pada sust Ina. Dan Aisya langsung di sambutnya.
Ditoilet, aku hanya duduk diam. Bingung apa yang harus kulakukan. Aku takut Alicia akan mengada-ada tentang kejadian itu antara aku dan Kabiir.
Ting.
Tiba-tiba gawaiku berbunyi. Terlihat diaplikasi berwarna hijau itu Kabiir mengirumku pesan.
.
.
.
.
__ADS_1
.