
"Assalamualaikum, Dina" sapa Merwais.
"Walaikum Salam, Pak" sahutku.
"Eehhh,,, jangan panggil Pak dong. Panggil saja Merwais" katanya dengan logat cadel.
Ternyata Merwais adalah seorang warga keturunan. Ayahnya berasal dari negeri Pakistan. Sedangkan ibunya dari Indonesia. Ibu Merwais adalah adik dari ayahnya Kak Vera. Merwais menuruni wajah ayahnya. Kegantengan nya hampir mendekati kesempurnaan. Dengan wajah yang ganteng, badan yang tinggi, kulit putih bersih dan .....
Ah, sudah lah. Aku tak ingin membahas nya. Aku takut hatiku mendua.
Merwais membukakan pintu masuk. Dengan sungkan aku pun masuk ke butik kak Vera. Karna Aku tak terbiasa di perlakukan seperti itu, pun oleh suami ku.
Di dalam aku segera melakukan aktivitas bersama teman-teman. Mereka senang aku kembali kerja di butik itu.
Pukul setengah lima sore butik pun di tutup. Teman-teman ku yang lain sudah pulang semua. Tinggal aku menunggu jemputan Bagas.
"Belum pulang Din?" sapa kak Vera.
Kak Vera dan Merwais baru keluar dari butik dan segera menguncinya.
"Belum di jemput Kak." sahut ku.
"Ini hampir magrib lo. Masa suami mu belum jemput sih. Biasanya juga jam lima udah nonggol."
"Gak tau kak. Gak ada nelpon dan juga sms. Mungkin Bagas lembur kali."
"Ya udah, kakak pulang dulu ya. Ada janji sama anak-anak."
"Yuk Wais kita pulang" ajak kak Vera kepada Merwais.
"Kak Vera duluan aja, biar Wais yang menemani Dina. Kasihan sendirian."
"Oke deh. Kakak duluan ya." kata Kak Vera sambil mengerlingkan matanya padaku.
Hampir adzan magrib, aku belum juga di jemput. Akhirnya aku dan Merwais pun ke Mushola untuk segera menunaikan sholat magrib berjama'ah. Segera ku silent gawaiku agar tidak mengganggu saat sholat.
Selesai sholat, aku segera mencek gawaiku. Mungkin ada telpon atau pesan sari Bagas. Ternyata ada puluhan panggilan masuk dan beberapa pesan darinya.
[Kenapa telpon ku tidak di angkat]
[Kamu di mana? Kok tidak ada di depan butik]
[Angkat be*o]
[Pasti kamu selingkuh]
[Dasar,, istri si*lan] dengan emo marah.
Itulah Bagas. Kalau dia marah, dia tak akan memanggilku Bunda lagi. Aku pun segera menelponnya kembali.
"Hei be*o, istri si*lan, istri durhaka, kenapa gak angkat telpon ku dari tadi. Pasti kamu selingkuh ya" dengan amarah Bagas menerima telpon dari ku.
__ADS_1
"Astagfirullah,,, mulutmu di jaga dong Yah. Jangan sembarangan menuduhku. Kalau gak ada bukti itu namanya fitnah."
"Cepat pulang." tut,, tut,,tut,, telpon pun langsung terputus.
"Suamimu ya yang nelpon Din?" tanya Merwais.
"Iya. Dia menyuruhku segera pulang"
"Biar aku antar ya Din?"
Aku pun ragu. Takut kalau keluarga Bagas berpikiran negatif pada Merwais. Aku tak ingin memperkeruh suasana. Akhirnya ku putus kan untuk menggunakan jasa ojek. Karna di dekat Mushola ada tempat mangkal para abang ojek.
"Gak usah Wais, biar aku naik ojek saja"
Merwais pun mengantarkan aku ke tempat abang ojek dan segera membayar ongkosnya.
"Terima kasih ya. Aku pulang dulu. Assalamualaikum"
"Walaikum salam. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku ya Din"
Akupun cuma menganggukan kepala.
Sesampainya di rumah mertuaku, aku langsung di sambut dengan kemarahan Bagas.
"Ini nih istri si*lan baru datang setelah asyik-asyik bersama selingkuhan nya"
"Baru sehari kerja udah berani macam-macam"
Bagas terus menceracau dengan kalimat pedas nya. Tak ada seorang pun di rumah itu yang peduli. Hanya bapak mertua yang mau membelaku.
"Sudahlah Bagas. Harusnya kamu melihat keadaan nya. Kamu kan menjemput Dina saat orang sedang sholat. Tanya lah dulu" kata bapak mertua ku.
"Iya pak, saya sholat magrib di Mushola dekat butik kak Vera. Soalnya Bagas belum menjemput saya dan juga gak nelpon dan kirim pesan memberitahukan dia kerja lembur" sahut ku.
"Aaahhh,,,, itu hanya alasan saja. Sholat di rumahkan bisa. Palingan juga Dina selingkuh sama cowok yang ada di butik itu."
"Astagfirullah,,, Dia adalah sepupunya Kak Vera yah. Tanya saja ke butik kalau gak percaya"
"Sudah,, gak malu apa ribut-ribut begini." Ayah mertua pun membentak.
Sesampainya di rumah kontrakan, aku membersihkan diri dan segera mengajak Galang tidur di kamar. Tak ku pedulikan Bagas yang lagi mabuk di depan tv.
**********
Pagi ini cuaca sangat mendung. Tak terasa sudah enam bulan aku kembali kerja di butik kak Vera. Galang pun tumbuh dengan pesat. Di usia nya yang baru empat belas bulan, Galang sudah lancar untuk berjalan. Galang lah semangat hidup ku.
"Sayang, hari ini bunda gajihan. Nanti Galang bunda beliin robot-robotan ya"
"Nya nya nya nyaah." dengan ekspresi senang, Galang langsung memainkan tangannya.
Begitu lucu dan aktif nya Galang ku.
__ADS_1
"Yuk, Bunda dan Ayah antar ke tempat nenek"
"Ayah cepatan, Bunda dan Galang sudah siap" aku berteriak dari luar.
Tak berapa lama Bagas keluar sambil menuntun motor butut nya.
"Hari ini kan Bunda gajihan, ayah minta uang Bunda ya buat membaiki motor ini?"
"Lho, emang uang gajihan Ayah udah habis? Kan baru aja gajihan."
"Ayah kan cuma ngasih dua ratus ribu sama Bunda. Itu pun sebulan sekali Ayah kasih."
"Bunda juga harus membayar utang sama Kak Vera. Utang sewaktu melahirkan Galang"
"Halah, nanti aja bayar utang nya. Yang pentingkan membaiki motor ini dulu. Kalau motornya rusak, bunda juga gak akan bisa kerja"
"Jadi istri itu jangan terus-terusan ngeyel. Mau kamu jadi istri durhaka."
Aku pun hanya bisa diam. Tak mau terus berdebat yang tak akan ada habis nya. Dan segera mengajaknya berangkat kerja. Takut kalau-kalau hujan akan segera turun.
Sesampainya di butik kami segera mengerjakan aktifitas seperti biasanya. Tapi hari ini Kak Vera tidak ada di butik. Kata Merwais, Kak Vera sedang keluar kota karna ada kerjaan. Kak Vera bukan hanya memiliki butik ini, tapi dia juga seorang wanita karir yang sukses. Walaupun dia kaya, kak Vera tidak pernah sombong kepada siapa pun.
Saat jam istirahat siang, Bagas mampir ke butik dan langsung meminta uang pada ku.
"Bund, mana uangnya."
"Belum di kasihakan yah. Biasanya sore saat mau pulang kerja"
"Minta aja duluan dua ratus lima puluh ribu. Gak mungkin kan cowok itu gak ngasih."
"Ya Allah yah, banyak banget. Bunda kan juga harus nyicil utang yang dulu."
"Lagian, motornya kan gak rusak banget"
"Aahh,, selalu menolak apa yang di minta suami. Apa mau jadi istri durhaka"
"Minta aja sama tuh cowok, pasti dia kasih. Lagian tuh cowok kayak nya naksir sama bunda. Kesempatan dong"
"Astagfirullah,, maksud Ayah apa an sih?"
"Halah,, ngaku aja Bund. Dia kan selingkuhan Bunda" Bagas pun meninggi kan suara nya.
Sehingga sebagian pengunjung menoleh ke arah kami. Aku pun malu. Sangat malu.
Tak berapa lama Bagas pun membisikan kalimat di telinga ku.
"Kalau masih sayang sama Galang segera lah ambil uang itu"
Aku pun melongo dan menitikan air mata.
BERSAMBUNG
__ADS_1