Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 28 Rumit


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Part 28


Kubuka applikasi berwarna hijau itu.


[Din, kenapa kau menghindar.]


"Hmmm,, apa maksud Kabiir." gumamku dalam hati.


Berpikir sejenak, apakah harus ku balas atau diabaikan saja.


Tak berapa lama, masuk lagi pesan dari Kabiir.


[Din, please, reply me. Did me have wrong to you?]


"Ya Allah, aku tak tahu harus berkata apa. Apa maksud Kabiir ini!" lirihku.


Ku coba untuk membalas pesannya.


[What do you mean, Kabiir? Sorry.]


Lama tak ada balasan darinya. Aku sedikit lega, mungkin aku terlalu parno.


Saat ingin keluar dari toilet, sebuah pesan masuk.


Ting.


Kabiir membalas pesanku.


[Din, l'm sorry. Aku tak bisa membohongi perasaanku. I Love You. Really, l love you.]


Terasa petir menyambar disiang hari, aku tak percaya apa yang diucapkan Kabiir. Aku Kakak Iparnya, kenapa dia seperti kurang ajar padaku. Dia memiliki anak dan Istri. Dan dia tahu aku adalah lstri kakaknya.


Segera ku dellet semua pesan dari Kabiir. Aku tak ingin menghancurkan apa pun. Cintaku hanya untuk Wais, selamanya sampai mati.


Aku keluar dari toilet dan kembali mendampingi Wais. Saat aku berjalan menuju ranjang Wais, Kabiir menatapku. Memang, terlihat cinta dimatanya saat memandangku.


Ah, kenapa semua ini semakin rumit.


"Abi, makan dulu ya, setelah itu baru minum obatnya." sengaja aku bermanja kepada Wais.


Wais pun menerima tawaranku. Saat sedang menyuapinya makan, Kabiir izin untuk pulang.


Ada yang aneh di wajahnya.


"Bhaiya, l will go home. Take care, ok." pamitnya pada Wais.


"Ok, Kabiir, be careful." sahut Wais.


Kabiir pun berlalu bersama Aleda.


Tak berapa lama ponselku berdenting.


Ting.. sebuah pesan masuk diaplikasi hijau.


[Din, l'm jealose.]


[Beruntungnya Wais memiliki dirimu. Tidak seperti diriku.]


"Hei, apa maksud Kabiir ini?" tanyaku dalam hati.


"Siapa yang kirim pesan, Bund?" tanya Wais membuyarkan lamunanku.


"Ah, tidak, Bi, hanya seseorang yang salah sambung." bohongku padanya.


(Ya Allah... baru pertama ini aku berbohong pada Wais. Ampuni ya Allah.) gumamku lirih.


***


Hari-hari telah berlalu, tak terasa sudah seminggu Waisku terbaring di RS. Dan hari ini dia diperbolehkan pulang ke rumah.


Sesampainya dirumah, perasaanku mulai tak enak. Wais yang menangkap perasaan gelisahku pun bertanya.


"Ada apa, Bund? Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu?"


"Gak, Abi. Hanya sedikit tak enak badan." sahutku berbohong.

__ADS_1


Yaaah, sekali saja berbohong, maka akan melakukan kebohongan itu terus menerus. Mau jujur, aku sangat takut pada Wais. Aku takut akan hancur segala-galanya.


Aku pun segera mendorong kursi roda Wais dan langsung menuju kamar. Diruang tamu kulihat Alicia memandangku penuh dengan kebencian. Disudut lain, kulihat Kabiir memandang kami dengan rasa cinta dan cemburu.


Sedangkan anak-anak masih berada di sekolah. Aisya ikut Sust Ina jalan-jalan bersama David.


Tapi, mengapa Kabiir dan Alicia tidak bekerja. Wais pun tidak menanyakan kenapa mereka tidak berangkat ke kantor.


Ah, mereka bebas mau berangkat atau tidak, karena mereka adalah pemilik perusahaan.


Ya Allah, aku sekarang berada dititik yang mana aku hanya sendiri mengatasinya.


Dikamar, aku memapah Wais ke ranjang agar segera beristirahat kembali. Seorang pelayan masuk kekamar membawakan makanan dan minuman kemudian meletakannya diatas nakas.


"Abi, mau makan?" tawarku.


"Gak ah, Abi mau Bunda duduk disamping sini."


Aku pun menuruti apa yang diinginkannya.


Merwais memelukku dengan hangat. Aku membalas pelukannya. Dalama pelukannya, aku meneteskan air mata. Aku tak menyangka, aku sudah mulai berbohong padanya.


"Bi, boleh bertanya sesuatu?" tanyaku kemudian.


"Hmmmm,, apa?" sahutnya.


"Kalau ada seseorang berbobong padamu, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku tidak akan memaafkannya dan akan selalu membencinya."


Deg,, ada rasa takut terbayang dibenakku. Bagaimana seandainya dia membenci dan tak mau memaafkanku. Aku akan kehilangan cintaya, dan aku tak bisa hidup tanpa dirinya.


Air mata semakin deras membasahi pipi.


"Bunda kenapa menangis?" tanyanya heran.


"Maafkan Bunda, Bi, kalau selama ini ada salah sama Abi." aku terus meeratkan pelukanku.


"Bunda gak pernah ada salah kok sama Abi." sahutnya lagi. Mungkin Abi yang ada salah sama Bunda. Maafkan Abi ya?" dia pun mengecup keningku.


Tak berapa lama, Kabiir mengetuk pintu kamar. Dia mengatakan bahwa ada klien yang ingin ketemu.


"Bi, biar Bunda antar ke depan ya?" tawarku.


Kabiir yang menunggu di depan kamar, memandang kami dengan penuh kecemburuan.


Setelah Wais menuju ke ruang tamu, aku segera menutup pintu kamar. Namun ditahan oleh tangan kekar Kabiir.


"Mau apa kau datang ke kamar ini?" tanyaku ketus.


Kabiir mendorong tubuhku ke dalam kamar dan memposisikanku bersandar di pintu. Wajahnya hanya satu senti dari wajahku.


"Dina, aku tahu kau Istrinya Wais, tapi aku tetap mencintaimu."


"Tolong, Kabiir, jangan kurang ajar padaku. Aku Kakak lparmu, yang seharusnya kau hormati layaknya Ibumu."


"Tapi, aku tak bisa membohongi perasaan ini, Dina."


"Tolong, jangan paksa aku untuk melakukan yang tidak aku inginkan." aku pun mendorong tubuh Kabiir.


Namun, tak disangka, Alicia melihat itu semua. Dia memandang tajam ke arah kami, terutama aku. Dia begitu marah.


"Alicia, tunggu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan."


Belum sempat aku menahannya, dia pun berlari pergi meninggalkan kami. Namun, tak ada air mata yang terlihat diwajahnya. Apakah Alicia terlalu marah, sehingga tidak bisa lagi untuk mengeluarkan air matanya?


Ku pukul wajah Kabiir, agar dia tersadar dari apa yang dia pikirkan. Kemudian ku usir dia darai kamar.


Aku benar-benar tak habis pikir dengan kelakuannya, obsesinya padaku.


***


Setelah kejadian itu, Alicia semakin menjauh dariku. Setiap kami bertemu, dia menganggapku pelakor. Astagfirullah...


Hari berlalu, sampai saat itu, kami semua berkumpul untuk sarapan. Saat sedang makan, Alicia mengoceh sesuatu yang membuat kami semua terdiam.


"Hhmmm,,, sudah empat tahun ni kamu tak hamil juga, Din?"


Kami yang mendengar semua langsung terdiam.

__ADS_1


"Ups,, ya, aku lupe. Kamu kan gak bisa punya anak lagi, ya tak?"


"Lagi pule, kamu kan sudah gak punya rahim, gimana mau hamil." Alice tertawa mengejek.


Mau marah, namun apa daya itulah yang terjadi. Aku hanya bisa diam.


"Kamu pun Wais, rugi lah kalau tak punya keturunan. Kamu ganteng, kaya, tapi tak punya anak. Punyalah lstri lagi." Alicia semakin membuat aku tersudut.


Tak disangka, Wais hanya diam. Dia yang selalu membelaku, kini hanya terdiam seribu bahasa.


Berbanding dengan Kabiir, dia sangat marah disaat Alicia memojokanku.


"Diam, Alice, jangan terus memojokan Dina." geram Kabiir.


"Cih..." hanya itu kalimat yang di keluarkan Alicia.


"Kau..."


"Sudah, Kabiir, Alicia benar." Wais memotong pembicaraan Kabiir.


Aku terkejut. Mataku melotot. Tak percaya apa yang di katakan Wais kepada Kabiir. Dia membela Alicia.


Alicia tersenyum mengejek ke arahku. Air mataku perlahan jatuh, baru kali ini Wais tidak memihakku. Anak-anak yang mendengar pun hanya melongo.


Melihat suasana sudah tak bersahabat, aku meminta Sust Ina membawa ketiga anakku ke kamar mereka. Secepatnya, Sust Ina mengajak anak-anak ke kamar.


"Baiklah, lalu apa yang kau inginkan, Bi? Aku berusaha tegar.


Tak ada jawaban dari Wais. Dia hanya diam dan berlalu. Kemudian berangkat ke kantor tanpa pamit denganku. Sikapnya memang sudah berubah dua hari terakhir. Tapi aku tetap untuk bersabar.


Saat ini dukungan dari Wais pun sudah berkurang, namun aku tetap terus berusaha semangat untuk kesembuhan Aisya.


****


Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, sekarang Aisya sudah berusia delapan tahun.


Dia pun sudah pandai berjalan seperti anak pada umumnya. Hanya saja, suara dan pendengarannya masih belum sempurna.


Aisya tumbuh menjadi gadis yang manis. Memiliki hidung mancung, alis yang tebal dan bulu mata yang lentik. Tampak sempurna. Kekurangannya kelak yang akan menjadi kelebihannya.


Galang dan Gilang pun semakin sukses, mereka selalu mendapatkan predikat terbaik di sekolah. Mereka tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan, persis seperti Merwais. Walau Wais adalah Ayah tiri mereka.


Namun, akhir-akhir ini Wais selalu sibuk dikantor. Hampir tak ada lagi waktu untuk kami. Walau begitu, aku terus menghibur mereka.


Suatu hari, aku berusaha bertanya kepada Wais tentang perubahan sikapnya selama dua tahun ini.


"Bi, bolehkan Bunda bertanya?"


"Maaf, Bund, aku sibuk." ketusnya.


Namun aku berusaha tetap sabar dan terus bertanya.


"Bi, sudah hampir dua tahun ini, Abi selalu tak ada waktu untuk kami. Anak-anak merindukan Abi." dengan lembut aku berusaha, agar dia menjelaskan tentang perubahannya.


Wais menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aku berusaha untuk merayunya dan membawanya memadu kasih. Namun, Wais menghempaskan tanganku. Aku benar-benar terkejut, namun tetap aku simpan.


"Bi, jelaskan lah. Apakah kami punya salah."


"Tidak, bukan kau yang salah, tapi aku yang bodoh." aku sangat terkejut dengan perkataannya yang kasar.


"Aku yang bodoh telah mencintaimu begitu dalam."


"Aku yang bodoh karena dibutakan oleh cintamu."


"Aku yang bodoh sehingga aku tak tahu kau bermain di belakangku dengan adikku sendiri."


Daaarrrr....


Terasa petir menyambar tubuhku. Aku tak menyangka, apa yang kutakutkan terjadi juga. Kenapa dari dulu aku tak berterus terang. Yaa,,, aku memang bodoh. Penyesalan ini sangat percuma.


Di pegangnya kedua bahuku dengan erat, sehingga sakit yang terasa. Tak pernah pula kulihat wajah yang merah menahan amarah yang besar.


"Kau tahu, Dina, aku terlalu mencintaimu, sehingga aku tak bisa marah kepadamu." Wais terus mencengkram kedua bahuku.


"Bi, sakit." air mataku semakin deras mengalir.


Tapi, sekarang Wais tak peduli denga sakit yang kurasakan.


Wais mengambil beberapa lembar foto dari dalam tas kerjanya. Kemudian melemparkannya ke arah wajahku. Aku sangat terkejut setelah melihat salah satu foto itu.

__ADS_1


Foto Kabiir memelukku saat berada di RS. Foto saat Kabiir berada di kamarku dan masih banyak lagi foto aku dan kabiir.


Wais sangat marah besar, terlihat air mata menggenang di ujung netranya. Dia pun meninggalkanku entah ke mana. Aku hanya bisa terduduk menangis memandangi foto-foto yang berserakan.


__ADS_2