
Tertangkap
Pov.Merwais
Aku segera meluncur ke RS yang dimaksud Kabiir. Sepanjang perjalanan, aku selalu memikirkan keadaan Dina.
Penyesalan ini begitu sangat mendalam. Ada ke khawatiran, akankah Dina mau memaafkan kesalahn yang begitu besar ini?
Sesampainya di RS.LATIFA Dubai, aku segera menuju ruang tempat Dina dirawat. Disana telah hadir kabiir dan anak-anak.
Melihat Dina terbaring lemah dan wajah yang begitu pucat, membuat penyesalanku semakin bertambah.
Aku bersimpuh di samping pembaringannya, dan mengucapkan maaf yang tiada henti.
"Dina, I'm sorry. Aku benar-benar menyesal."
Dengan memegang tangannya dan mengucapkan maaf tiada henti, berharap dia sadar kembali.
"Dina sudah hampir tiga hari disini, penjaga pantai yang menemukannya terdampar di pantai, disaat badai menerjang malam itu."
"Aku bis menemukannya disini berkat temanku, seorang anggota kepolisian. Aku memintanya untuk melacak keberadaan mobil Dina, yang akhirnya ditemukan disini." terang Kabiir panjang lebar.
Aku terkejut mendengar penjelasan Kabiir. Sungguh, dia pun terlihat sangat mencintai Dina.
Hatiku begitu terluka mendengarnya, begitu perih luka yang telah kutorehkan padanya.
Tak terasa, air mata mengalir dipipi dan jatuh dipunggung tangan Dina.
Tak berapa lama, Dina pun akhirnya sadar. Tak henti-hentinya kuucapkan puji syukur dan segera memohon maaf atas semua kekhilafan atas semua yang telah kulakukan.
Saat ingin kukecup keningnya, Dina memalingkan wajahnya dariku. Terpancar jelas luka dan kecewa dari wajahnya.
Dokter datang menghampiri dan menjelaskan kondisi Dina saat ini.
"Her husband?" tanya dokter pada kami.
"Yes, I'm." jawabku.
"Congratulate ... Your wife is pregnant." kata Dokter sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku sangat terkejut dan sangat bahagia. Aku yakin, yang dikandung Dina adalah anakku. Karena Kabiir telah menjelaskan semua tentang kesalah fahaman ini.
Lagi pula, Kabiir pernah menjelaskan bahwa dirinya tak akan pernah bisa memiliki anak. Karena ada kerusakan pada sistem reproduksinya.
Selain itu, aku juga masih berhubungan badan dengannya beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, kehamilan Dina mulai memasuki bulan ke tiga.
Namun, Dokter mengatakan hal lainnya. Kehamilan Dina tidak baik, dan akan berakibat fatal dengan keselamatannya karena janin Dina tidak tumbuh didalam rahim. Dokter pun menyarankan untuk menggugurkan kandungan itu.
Dina menolak dengan keputusan yang disarankan oleh Dokter. Dia tetap mempertahankan bayi dari hasil cinta kami. Apakah Dina masih mencintaiku? Sehingga dia masih mempertahankan bayi itu.
Hatiku sangat senang dan juga was-was. Senang karena Dina masih mempertahankan bayinya yang berarti dia masih mencintaiku.
Namun perasaan was-was pun ada, takut terjadi sesuatu padanya. Aku tak ingin kehilangannya untuk kesekian kali. Aku bisa gila kalau sampai terpisah darinya, dan terus berusaha untuk membahagiakannya.
Karena Dina kekeh dengan keputusannya, kami hanya pasrah dengan keputusan itu.
***
Hari ini, saatnya Dina pulang ke rumah. Namun, dia enggan untuk memasuki kamar tempat kami biasanya. Aku hanya maklum, mungkin dia sudah benci dengan kamar itu. Dan segera meminta pelayan untuk menyediakan kamar lainnya.
__ADS_1
Seminggu sudah Dina dirumah, keadaannya sudah semakin membaik. Kehamilannya berjalan seperti biasa, tidak seperti ibu-ibu hamil pada umumnya.
Hari itu, aku dan Kabiir berangkat kerja seperti biasa. Tak ada firasat apa pun. Sampai pada siang itu, Kabiir masuk dengan tergesa-gesa.
"Bhaiya, She was abducted." dengan wajah cemas, Kabiir memberitahuku.
"Whos?" tanyaku.
"Dina." Kabiir terlihat makin panik.
"Kamu tahu dari mana, Kabiir?" tanyaku lagi.
"Aisya ... Aisya tadi menelponku."
"Ayo, kita pulang, kita tanyakan kembali pada Aisya." Kabiir mengajakku pulang.
Dengan terburu-buru dan perasaan cemas, kami pun pulang.
***
Sesampai dirumah, Aisya langsung memelukku.
"Abi, Bunda diculik." Aisya langsung memberitahuku.
Aku sangat terkejut sekaligus bahagia, terkejut karena Dina di culik. Dan juga bahagia karena Aisya kini sudah bisa berbicara.
Beberapa anggota polisi memnjnta keterangan Aisya tentang penculikan itu. Aku mendampingi Aisya agar ia tenang, karena dia terlihat sangat shock dengan kejadian ini.
Setelh mendapatkan beberapa keterangan dr Aisya, anggota kepolisian itu pun segeramenjalankan tugasnya untuk melakukan pencarian terhadap Dina.
Hampir tiap hari, aku dan Kabiir mencari keberadaan Dina.
***
Sore itu gawaiku berdering. Terlihat dilayar ponsel Mayjen.Rehman memanggil.
"Hallo, Sir, we was detect her!" kata Mayor Jendral Reham Al-Marri diujung telpon.
"Ok, Sir, thank you." kututup sambungan telpon. Tidak lupa Mayjen.Rehman memberikan alamat tempat Dina disekap.
Dalam tiga hari setelah Dina diculik, anghota kepolisian akhirnya menemukan tempat dimana Dina disekap.
Bagiku, menemukan Dina dalam tiga hari itu sangatlah lambat. Satu hari yang dijalani Dina dalam sekapan, mungkin akan berdampak buruk baginya.
Segera ku hubungi Kabiir agar segera menjemputku dan berangkat ke tempat tersebut.
Melihatku tergesa-gesa, Aisya memandangku dengan derai air mata.
"Abi, apakah Bunda sudah di temukan?" dengan isak tangis Aisya bertanya.
Aku menghampirinya dan menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Sayang, Alhamdulillah... Bunda sudah di temukan. Berdoalah semoga Bunda baik-baik saja.
" Galang, Gilang dan Aleda di rumah saja, jaga Aisya."
"Iya, Bi." jawab mereka serempak.
Harapanku, setelah kejadian ini, keluarga kami tidak akan lagi di terpa badai. Dan berjanji akan membahagiakan Dina sampai akhir hayat hidupku.
__ADS_1
Kabiir sudah tiba dan menunggu di halaman depan. Segera ku menghampirinya dan kami meluncur ke alamat yang sudah diberikan oleh Mayjen.Rehman.
Kami melaju menuju arah pinggir kota, ke sebuah pelabuhan tua yang sudah tidak terpakai lagi. Jarak tempuh yang lumayan jauh, memakan waktu hampir empat puluh lima menit. Di sanalah Dina di sekap.
Ada perasaan waswas selama dalam perjalanan. Aku takut sesuatu akan terjadi pada Dina, yang akan membuatku semakin menyesal.
Empat puluh lima menit kemudian, kami pun sampai di tempat tujuan. Disana Mayjen.Rehman sudah menanti kedatangan kami.
Dia mengatakan, bahwa beberapa anggotanya sudah siap di tempat masing-masing, untuk melakukan penyergapan dengan menunggu aba-aba darinya.
Merasa sudah pas waktunya, penyergapan pun dilakukan. Kami menendap-endap saat mendekati tempat itu, agar suara langkah tidak terdengar oleh target, dan langsung menerobos masuk.
Mereka yang berada di dalam sangat terkejut, terlihat lima orang laki-laki yang berperawakan besar. Tiga di antaranya sedang mengelilingi meja, mungkin saat itu mereka sedang makan. Dan dua di antaranya duduk di depan sebuah kamar. Kemungkinan Dina di sekap di dalam kamar tersebut.
Terjadi perlawanan mereka kepada anggota kepolisian. Namun, mereka berhasil di bekuk.
Sementara aku dan Kabiir langsung menuju ke arah kamar tempat Dina disekap, yang dijaga oleh dua orang lelaki besar itu.
Terjadi perkelahian di antar kami. Mereka cukup tangguh, aku dan Kabiir cukup kewalahan menghadapi mereka berdua. Beruntung Mayjen.Rehman dan satu anggotanya membantu kami untuk melawan kedua penjahat itu, sehingga mereka bisa di ringkus.
Tak sabar, segera kubuka pintu kamar tempat Dina di sekap.
Sungguh mengejutkan, ternyata merekalah yang telah menculik Dina. Kemarahanku tidak terbendung, mereka telah melakukan konspirasi untuk melawanku.
Begitupun Kabiir, dia sangat terkejut melihat wanita yang pernah mengisi hatinya ikut dalam konspirasi tersebut.
Dengan cepat, ku pukulkan bogem mentah ke arah Tuan Rasyied, klien baruku.
Buukkk...
Pukulan itu langsung mengenai rahangnya. Tuan Rasyied meringis dan tersenyum licik.
"Sebentar lagi kau akan hancur, Merwais Ahmed Khan." ucap Tuan Rasyied.
Apa maksud dari ucapannya itu?
Kabiir pun tak mau ketinggalan, dia pun melayangkan pukulannya tepat mengenai perut Tuan Rasyied.
Tuan Rasyied terduduk di lantai dan tak berdaya. Beberapa anggota pun masuk dan memborgolnya serta membawanya pergi. Begitu juga dengan Nahwa, dia tidak melakukan perlawanan saat polisi menggiringnya keluar.
Bebeda dengan Alicia, dia segera mengancam akan membunuh Dina.
Dengan gerakan cepat, Kabiir mampu mengambil pisau yang ada di tangan Alice, namun sempat melukai leher Dina bagian kanan. Alicia pun diserahkan kepada anggota polisi dan di giring keluar.
"Kabiir, maafkan aku. Berilah aku sekali lagi kesempatan." Alicia memohon kepadanya. Namun Kabiir tak memperdulikan permohonan Alice.
Darah yang mengucur dari leher Dina, membuatnya lemas dan ambruk. Beruntung, aku sempat menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
Ada perih menggores hati saat melihat kondisinya. Begitu berat derita yang di alami Dina.
Baju gamis yang dia pakai saat diculik, sudah koyak dimana-mana, sehingga terlihat sebagian auratnya. Hijab syar'i dan niqob pun sudah tak melekat lagi di kepala dan wajahnya.
Aku segera melepas blazer dan memakaikannya ketubuh dina. Serta meminta Kabiir untuk melepaskan jas kerjanya.
"Kabiir, lepaskan jas kerjamu untuk menutupi tubuh Dina." pintaku padanya.
Kabiir pun melepaskan jas kerjanya dan memberikan padaku. Dengan sigap kututupkan ke tubuh Dina yang lain. Kemudian, ku lepaskan kemeja untuk menutupi ujung kepalanya.
"Abi, Bunda lelah." hanya itu yang Dina ucapkan. Setelah itu dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
Aku dan Kabiir segera membawanya pulang. Dan hanya ingin merawat Dina dirumah dengan segenap jiwaku.
Sebelumnya, tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Mayjen Rehman dan segenap anggotanya.