Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 29 kepergok selingkuh


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Part 29


Sudah hampir seminggu Wais tak pulang ke rumah. Saat ditelpon, kadang gak akif, kadang pula dia rijek panggilanku. Selama itu pula aku mengalami stres dan penyesalan yang dalam.


Dia pergi meninggalkan rumah, disaat aku belum sempat menjelaskan semuanya. Semua ini kurahasiakan dari anak-anak. Setiap anak-anak bertanya tentang Abinya, selalu kujawab bahwa Abi mereka sedang ke luar kota.


Namun aku tak bisa menyembunyikan ini dari Alicia dan Kabiir.


Ting..


Gawaiku berbunyi. Pesan masuk dari Kabiir.


[Din, kemana Wais pergi?] tanyanya.


Tak kujawab pesan dari Kabiir.


[Din, apa kau bertengkar dengan Wais?] pesan kedua yang dikirim Kabiir.


Tapi tetap tak kujawab.


[Din, sudah satu minggu ini Wais tak ada di kantor.] pesan ketiganya mewajibkanku untuk membalas.


Karena aku sangat khawatir dengan kesehatan Wais. Dia harus tetap rutin untuk kemotherapy.


[Kamu jangan bohong, Kabiir] jawabku.


[Aku tidak bohong, Dina. Sudah satu minggu ini dia tak masuk kerja. Wais selalu merijek setiap kali kutelpon. Apa yang sebenarnya terjadi?]


Aku pun tak membalas lagi pesan dari Kabiir. Aku tak ingin menceritakan padanya apa yang sudah terjadi antara aku dan Wais. Aku takut akan berdampak yang lebih besar lagi kelak.


Beruntunglah, anak-anak sudah mulai besar. Jadi aku bisa kemana pun tanpa mereka.


Segera kuraih kunci mobil dan berlalu dari rumah. Saat ingin masuk ke mobil, aku berpapasan dengan Alicia.

__ADS_1


"Mau kemana, Din? Cari Wais? Percume la, dia sudah bahagia." Alicia tersenyum mengejek padaku.


Aku tak menghiraukan apa yang diucap Alicia. Namun, hati kecilku terasa dicubit. Sakit memang, namun tak kupedulikan.


Aku terus melajukan mobil menembus kota dimalam hari. Ku cari Wais disetiap tempat yang selalu Aku dan Wais kunjungi, namun nihil hasilnya.


Aku putus asa, hampir empat jam mencari keberadaannya, namun tak jua kunjung ketemu.


Kabiir menelpon berkali-kali, tak kuhiraukan. Berpuluh pesan dia kirim, tetap tak kubalas. Namun dia terus menelponku dan akhirnya ku angkat sambungan telpon tersebut.


"Hallo, Dina. Kenapa telponku tak kau angkat? Aku sangat khawatir padamu!"


"Aku tidak apa-apa, Kabiir. Aku sedang mencari suamiku." jawabku ketus.


"Setidaknya aku bisa menemanimu, ini sudah larut malam." sahutnya disebrang sana.


"Gak perlu, aku bisa sendiri." aku pun memutuskan sambungan telpon dan melanjutkan pencarianku.


Saat lelah terasa, aku berhenti disebuah cafe yang masih buka dijam malam begini. Aku hanya merenung dan menyesali setiap tindakanku yang salah.


Saat mata menatap hotel disebrang cafe ini, aku melihat sesosok yang sangat aku kenal dengan seorang wanita yang sudah sangat familiar. Mereka sangat mesra memasuki Hotel tersebut. Merasa kurang yakin, aku pun mengikuti mereka.


Aku terus mengukuti mereka masuk ke Hotel itu. Saat mereka sudah memasuki lift, aku segera bertanya kepada resepsionis dilantai berapa mereka menginap. Resepsionis mengatakan lantai 15.


Walaupun aku takut memasuki lift, namun tekadku kuat untuk terus mengikuti Wais dan perempuan itu sehingga keberanian itu muncul.


Aku memasuki lift dan menekan tombol 15. Dengan terus berdoa dan berpegang pada dinding lift, akhirnya aku sampai dilantai 15.


Setelah aku sampai, bayangan mereka masih terlihat sebelum memasuki kamar itu bersama.


Hati teriris sangat perih. Hidup terasa hancur dan tak ada arti lagi. Air mata yang sejak tadi terus kutahan, akhirnya tak terbendung jatuh membasahi pipi.


Beginikah rasanya dikhianati? Namun aku tak pernah sekali pun mengkhianatinya. Hanya terjadi kesalah pahaman yang tak terjawab sampai sekarang. Namun dirinya, telah mengkhianatiku dan berzina dengan perempuan lain.


Dimanakah keimanan dirinya selama ini? Apa karena hati hancur yang membuatnya seperti ini? Apakah ini salahku juga?


Aku kembali memasuki lift. Benda kotak itulah yang menjadi saksi atas hancurnya harapanku. Di lantai lift itu pula, kutumpahkan semua tangis yang sempat kutahan. Aku histeris dan terus berteriak.

__ADS_1


Setelah lift terbuka, aku segera menghapus semua air mataku dan meninggalkan Hotel tersebut.


Kulajukan mobil menuju pantai tempat kenangan aku dan Wais. Ditempat itu, kulepaskan semua beban yang menyesakan dada.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."


"Mengapa kau mengkhianati aku MERWAIS..."


"Mengapaaaaaaaaa....."


Aku terus berteriak dan berteriak. Kubiarkan air pantai menyentuh kaki yang tak beralaskan apapun.


Aku terduduk dan terus menangisi semua keadaan ini.


Ombak kecil menghantam tubuhku yang sudah rapuh. Kubiarkan air itu terus membasahi seluruh tubuh.


*****


Adzan subuh berkumandang, namun aku masih berada dipantai dengan tubuh menggigil. Tak ada niat untuk kembali ke rumah. Sempat terlintas dibenak, ingin rasanya kembali ke tanah air, Indonesia.


Setelah puas dipantai, akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang. Khawatir kalau anak-anak akan mencari.


Aku pun melajukan mobil menuju ke Istana Tuan muda Merwais Ahmed Khan. Yang mana istana itu sangat menakutkan, seperti tempat penyiksaan bagi wanita serapuh diriku.


Saat aku memasuki gerbang, terlihat Alicia sudah bersiap berangkat kerja. Heran, gak biasanya dia berangkat pagi-pagi sekali. Namun tak kuhirauka itu, karena aku sudah cukup gemetaran dengan tubuh yang masih basah kuyup.


Di halaman itulah kami berpapasan, ada senyum rahasia yang Alicia lemparkan padaku.


Turun dari mobil, aku hampir tak sanggup lagi untuk berjalan. Tubuh ini semakin gemetaran. Kulihat Kabiir baru keluar dari rumah dan segera menghampiriku.


"Din, ke mana saja kau baru pulang sekarang. Bajumu basah dan tubuhmu gemetaran." sambutnya dengan wajah yang sangat khawatir.


"Gak perlu, Kabiir. Aku bisa sendiri." dengan sangat ketus aku berucap padanya.


Baru menaiki anak tangga yang ketiga, tubuhku langsung ambruk dan terkulai lemah. Aku benar-benar sudah tak berdaya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2