Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 18 Perlawanan Dina


__ADS_3

#Aku_yang_Selalu_Salah_di_Matamu


Part 18


Keributan yang ada di luar, membuat ku penasaran. Aku pun mengajak sust Ina untuk membawa ku ke luar.


"Wais, kamu di sini saja. Jangan ke mana-mana. Kamu masih sakit. Ingat pesan ku. Awas! Kalau gak nurut." aku mengerlingkan mata pada Merwais.


"Sust Ina, tolong bawa aku keluar." kataku kepada sust Ina.


Sebelum aku berlalu, Merwais sempat meraih tanganku.


"Kamu yakin?" tanyanya.


"Jangan khawatir, aku sudah ingat semuanya." akupun tersenyum.


"Tapi, ingat, jangan kemana-mana. Kamu belum sembuh total. Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu. Karena, kamu lah kelak yang akan menjaga kami."


Aku pun keluar bersama sust Ina. Tak lupa aku berpesan kepada dua jagoan ku.


"Jaga Abi ya sayang, jangan sampai Abi keluar. Abi lagi sakit."


"Iya, Bund." jawab mereka serempak.


"Yuk, sust, kita keluar."


***


Di luar, aku melihat seorang perempuan yang berhijab, di dorong kasar oleh seorang laki-laki. Ternyat pwrempuan itu adalah Isha, Adikku. Dan laki-laki itu adalah Bagas.


Aku bingung, apa maksud semua ini. Bagas berusaha untuk masuk, dengan mendorong Isha sebagai tameng nya. Mereka sudah di hadang oleh bi Jum, pak Slamet(tukang kebun) dan David(sopir pribadi Merwais).


"Hentikan! Apa-apa an kalian ini?" teriak ku dari dalam rumah.


Mereka pun langsung terdiam. Tapi, tidak dengan Bagas, dia seolah ingin menerkam ku, seolah aku adalah mangsanya.


"Ooh,, di sini kau rupanya. Dasar ja**ng, pel**ur kau." Bagas langsung memcaci maki ku.


Saat Bagas ingin berusaha masuk, namun David menghadang di depan nya.


"Maaf, jaga mulut anda. Jangan sampai saya bertindak." ucap David.


"Hey,, kau tahu siapa perempuan ja**ng itu? Dia adalah istri sah ku. Kau tak berhak menghalangiku." ucap Bagas penuh emosi.


"Kak Dina, maaf kan Isha." Isha berkata di sela tangis nya.


"David, biarkan adik ku Isha untuk masuk." aku meminta David untuk membiarkan Isha menemuiku.


Aku ingin tahu rahasia apa lagi yang akan terbongkar.

__ADS_1


Isha pun masuk dan segera memeluk ku.


"Kemana kamu Sha? Selama ini kamu gak pernah menjenguk aku." aku protes dengan Isha.


"Apa kau juga gak tahu kalau aku sudah melahirkan?" tanyaku pada Isha.


"Maaf, Kak, Isha tahu semuanya berkat Merwais. Isha juga yang meminta Merwais untuk menjaga dan merawat Kakak dan anak-anak."


"Awal nya Merwais takut, tapi Sha kekeh minta bantuan nya dan menjamin semuanya tetap aman. Soalnya, hanya Merwais yang bisa membantu Isha."


"Saat kak Dina melahirkan dan Dokter telah memvonis kakak koma dalam waktu yang tak di tentukan, Sha memohon kepada Wais dan meminta bantuan nya."


"Sha tidak ingin kak Dina terus di sakiti oleh Bagas yang bre***ek itu."


"Awal kak Dina di rawat di rumah ini, Sha selalu datang. Tapi sejak 5 bulan yang lalu, Sha sudah gak ke sini lagi. Soalnya seseorang yang selalu mengikuti Sha."


"Sha tidak ingin tempat ini ada yang mengetahuinya selain kami, kak."


"Awal nya Sha kira, semua akan aman-aman saja. Tapi ternyata, Bagas tak mau berhenti mencari untuk menyakiti kakak."


Panjang lebar Isha menjelaskan kepada ku. Aku pun langsung memeluknya, dan kami pun saling menangis. Isha pun mengusap air mataku dengan tangan nya.


Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Hanya Isha yang selalu mendukungku bersama Merwais.


"Ooh, jadi kau sudah tahu Sha. Benar-benar kurang ajar." Bagas marah dan berusaha untuk menyerang aku dan Isha.


"Pergi kau dari sini Bagas." usirku kepada nya.


"Oh, ya, jadi kau berani mengusir suami mu, Dina?"


"Kau bukan lagi suami ku Bagas. Mana ada seorang suami tidak mengetahui keberadaan istrinya selama 15 bulan." ucap ku sinis.


"Halah... Kau aja yang sengaja bersembunyi dan kumpul serumah dengan selingkuhan mu. Akan ku tuntut kau, Dina."


"Jangan lupa kita belum resmi bercerai. Dan sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikan mu."


"Buktikan lah, Bagas, aku menantangmu."


"Sombong kau sekarang, Dina." Bagas mulai emosi.


"Akan aku laporkan kepada pihak berwajib, bahwa Merwais mwmbawa kabur istriku. Dan kau tidak akan pernah bersatu dengan nya." Bagas berkata dengan sinisnya.


"Baik lah. Silahkan lapor. Dan aku berjanji, kau yang akan masuk penjara, Bagas."


"Mulai sekarang, jangan anggap aku seperti Dina yang dulu. Yang terus mengalah dengan semua ancaman mu."


Bagas terlihat sangat terkejut dengan tantangan ku.


"Sekarang, pergi kau dari rumah ini. Jangan pernah sekali-kali lagi kau menginjakan kaki di rumah ini." usir ku lagi padanya.

__ADS_1


Bagas marah. Kemudian dengan sangat emosi dia langsung menyerangku.


Beruntunglah, David tanggap. Belum sempat tangan Bagas menyentuhku, dia kembali tersentak ke belakang. Karena David langsung menarik kerah baju Bagas, kemudian melempar nya keluar pagar.


Tak berapa lama, dua orang security perumahan pun datang. Ternyata, bi Jum yang telah memanggil mereka. Di bawa lah Bagas oleh kedua security itu.


"Awas... kau Dina. Aku tidak akan membiarkan mu tenang." seru Bagas.


"Aku pun akan menunggu tantangan mu, Bagas" ucapku kemudian.


Ku lihat, wajah nya merah menahan amarah.


"Dan aku akan menggugat kau kembali." sambungku lagi, sebelum dia benar-benar pergi.


***


Ada rasa lega di hatiku, karena aku telah berani menentang Bagas. Walau pun sebenarnya, aku masih agak gemetaran menjawab semua tantangan nya.


Ternyata, Isha selama ini mengetahui segalanya. Dan Dia mengingin kan agar aku dan Merwais bersatu.


"Apakah bang Wira mengetahuinya, Sha?" aku bertanya pada Isha.


"Ya, kak. Isha telah memberitahu segalanya. Isha hanya menginfo kan kepada bang Wira perkembangan kakak. Tapi Isha tidak memberitahukan tempat ini kepada mereka."


"Sebenarnya, bang Wira terus bertanya keadaan kak Dina. Bang Wira sangat menyesal."


"Kak Din, boleh kah bang Wira ke sini untuk bertemu kakak" tanya Isha kemudian.


"Sementara jangan dulu Sha. Aku masih lumpuh. Dan juga aku khawatir kalau bang Wira akan marah kepada Merwais." ucapku.


"Tapi, bang Wira sudah tahu kalau Merwais yang merawat kak Dina selama ini.


"Tunggu waktu yang tepat aja ya, Sha."


Akhirnya, Isha pun mengalah.


"Apa rencana selanjutnya, kak?" tanya Isha.


"Aku akan kembali membuka sidang perceraian."


"Baik lah, kak, Isha selalu mendukung kak Dina." Isha pun memelukku.


Tiba-tiba, bi Jum tergopoh-gopoh menghampiri ku.


"Non, den Wais, non." dengan wajah tegang, bi Jum menghampiri kami sambil tangan nya menunjuk ke dalam rumah.


Bersambung dulu.......


Apakah yang terjadi dengan Merwais. Ikutin terus ya kelanjutan nya😉😉😘😘

__ADS_1


__ADS_2