Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 7 Kepergian Mamah.


__ADS_3

Aku pun segera menghampiri Merwais.


"Wais, boleh minta tolong gak? Aku mau ngambil uang gaji ku dua ratus lima puluh ribu buat memperbaiki motor kami yang rusak"


"Boleh, bentar ya" Merwais pun memberikan uang itu.


Segera ku ambil uang itu dan langsung memberikannya kepada Bagas.


"Nih, ambil uang nya dan segera pergi dari butik ini. Jangan bikin bunda tambah malu lagi"


"Makasih ya bunda sayang" Bagas pun cengengesan dan segera berlalu dari butik.


Akupun segera menyelesaikan pekerjaan ku yang sempat tertunda karna kehadiran Bagas.


Sorenya saat butik akan tutup, Merwais memberikan kami masing-masing amplop. Itulah gajih yang kami tunggu-tunggu setiap bulannya.


Teman-teman ku yang lain nya merencanakan makan bareng. Sekedar menikmati hasil kerja selama ini.


"Kak Din, kita nongkrong di cafe dulu yuk."


"Gak ah, kalian aja. Kasian Galang nungguin kakak di rumah Nenek. Lagian kakak mau belikan mainan dulu buat Galang"


"Bentar aja kok kak. Dari pada suntuk, cape kerja langsung ketemu abang uang garang." mereka pun semua tertawa.


"Lain kali aja deh adik-adik kakak yang manis. Kakak masih banyak keperluan yang lain" aku terus berusaha menolak.


"Ya udah deh kak, kami duluan ya. Assalamualaikum"


"Yoi,,, hati-hati di jalan ya. Waalaikum salam" aku pun tersenyum melihat keceriaan mereka.


Tanpa sadar Merwais sudah berada di belakang ku. Aku pun terkejut saat dia menepuk bahuku.


"Astagfirullah,, bikin kaget aja sih kamu"


"Makanya jangan melamun dong"


"O,iya Wais,, tolong berikan uang ini kepada kak Vera sebagai cicilan utang ku waktu itu." aku menyodorkan amplop yg berisi uang gajih ku.


"Gak usah, anggap saja utang kamu lunas. Biar aku yang melunasinya." dia menolak amplopnya.


Tiiitt,,,tiittt,, ternyata Bagas sudah ada di depan butik. Entah sudah berapa lama dia di situ. Dia menatap tajam ke arah kami.


"Cepatan pulang Bund"


Segera ku menghampirinya dan langsung duduk di jok belakang. Sekilas ku lihat senyum yang penuh misteri di bibir Bagas.


"Hhhmmm,, rupanya baik juga ya sepupunya kak Vera itu. Ganteng lagi" Bagas memecahkan kesunyian di antara kami.


"Gak naksir bund? Kan tiap hari ketemuan di butik." Bagas mulai mencari masalah.


Aku tetap diam tak menanggapi. Percuma menanggapi kalau akhirnya nanti salah juga.


"Kok diam bund? Kayaknya bunda naksir juga nih sama tuh cowok." nada bicara Bagas mulai meninggi.


Untung segera sampai di rumah mertua. Akupun turun dan langsung masuk ke rumah. Saat itu Galang bermain sama Kakeknya.


"Assalamulaikum"


"Waalaikum salam. Tuh,, bunda nya udah datang" kata bapak mertua ku.


"Nya nya nyaaah,, mammmmaah."


"Ya Allah,,, Galang udah bisa ngomong ya sayang" akupun menggendong dan mengecup pipi Galang dengan gemes.


Kebahagian ku tak terkira saat Galang memanggil ku untuk pertama kalinya.


Keluarga Bagas sedang berkumpul di ruang keluarga. Santai sambil menikmati acara televisi.

__ADS_1


Tak berapa lama Bagas pun masuk dalam keadaan mabuk. Rupanya saat aku masuk ke dalam rumah, dia sempat-sempatnya membeli obat yang memabukan itu. Walau mabuk dia masih bisa menjawab apa yang kami tanya.


"Yah, habis berapa tadi membaiki motor nya" tanya ku.


"Gak jadi membaiki, uang nya tadi hilang."


"Pakai aja uang gajih bunda yang sekarang untuk memperbaikinya"


"Astagfirullah,, ayaaaah. Terlalu banget" aku berteriak kesel.


"Ada apa sih Din?" ibu mertua keluar dan bertanya.


"Ini lo bu, Bagas ngabisin uang ku. Katanya mau perbaiki motor. Paling juga di belikan nya ke obat itu buat mabuk."


"Astagfirullah,,, kebangetan kamu Bagas" kata ibu mertua.


Byuurr,,, bapak mertua datang dengan seember air dan mengguyurkan nya ke tubuh Bagas.


"Mabok terus kamu Bagas. Sudah punya anak istri masih aja gak insaf" langsung bapak mertua menggetok kepala Bagas dengan ember.


Kami pun semua tertawa terbahak-bahak.


Kemudian bapak mertua bertanya, berapa Bagas memberiku tiap bulannya.


"Din,, bapak mau nanya, berapa uang yang Bagas beri tiap bulannya?"


Mumpung Ibu, Bapak, Kakak dan juga Adik serta para ipar Bagas ngumpul semua, tentu aku jelaskan semuanya.


"Bagas cuma ngasih saya dua ratus ribu tiap bulan nya pak. Tanpa saya tau gajih sebenarnya berapa."


"Duit segitu gak cukup buat bayar kontrakan pak. Belum makan dan susu nya Galang" sambung ku lagi.


"Di tambah harus membayar cicilan utang waktu melahirkan Galang"


"Itu pun masih meminta uang saya pak" tak terasa ada air yang mengalir dipipiku.


"Gini saja. Bapak dan ibu akan membantu, tapi tidak banyak ya."


"Bapak dan ibu cuma bisa ngasih beras lima kilo, gula, minyak goreng dan telur. Kalau nanti gas kamu habis, telpon bapak. Nanti bapak tukar yang baru"


"Alamdulillah..." akupun mengucap syukur.


"Kamu pulang aja duluan. Biarkan Bagas tidur di sini sementara sampai dia bangun” ucap ibu mertua menimpali.


" Tata, antarkan Dina pulang"


Tata pun mengangguk dan segera mengantarku pulang.


*********


"Bund,, tadi malam hujan nya lebat banget ya. Tapi kok bunda gak ada di rumah ibu" Bagas berkata tanpa dia tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Banget lebat nya. Mabok aja terus biar air yang di guyur di kira hujan." aku pun tertawa terbahak-bahak.


"Tuh air di guyur seember di bilang hujan lebat. Tadi malam bapak tuh yang mengguyur ayah."


" Karna gak sadar juga, ya udah bunda tinggalin pulang aja."


"Hmm,, pasti pulangnya di anterin sama cowo india itu ya. Ngaku aja deh bund"


"Astagfirullah,, ayah. Bunda di anterin Tata pulang. Kalau gak percaya, tanya aja langsung sama bapak"


"Tapi setelah itu cowok india itu datang kemarikan. Karna ayah gak ada di rumah, jadi bunda bebas."


"Lalu cowok india itu pulang sebelum Ayah datang. Iya kan?!"


"Kalau ngomong itu harus ada buktinya ayah. Kalau gaj ada bukti, itu sama aja fitnah."

__ADS_1


"Kurang bukti apa lagi. Ini buktinya bunda mandi basah"


Ya ampun emang susah ngomong sama orang yang gak mau tau. Jadi tepok jidat.


"Terserah ayah, jadi males. Pagi-pagi udah berdebat. Mana mau Malaikat rahmat masuk ke rumah ini."


" ya udah, gak usah kerja hari ini. Makin keenakan aja nantinya si india itu menikmati tubuh bunda"


Astahfirullah,, gak habis-habisnya aku berzikir menghadapi seorang Bagas yang sangat posesif.


******


Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa tahun berganti tahun, usia Galang sekarang sudah hampir empat tahun. Selama itu pula sifat dan kebiasaan Bagas tak pernah berubah. Sampai suatu hari, saat itu dia pulang dengan keadaan mabuk bersama teman nya. Aku marah, tapi mereka gak peduli.


"Pulang mabuk jangan di rumah ini" emosi ku.


"Halah,, rumah kontrakan juga di sombongin" teman Bagas menyahut.


Tersulut emosiku


"Walau kontrakan, tapi aku yang bayar, bukan kamu ****"


"Cih, cantik juga gak, sombongnya selangit"


"Bagas tuh sudah gak suka lagi sama kamu,tauuuu. Gak berapa lama dia akan menceraikan mu"


"Mending sama lastri yang bohay dan seksi. Setiap hari juga ketemu. Ya kan Gas"


Aku pun segera mengusir mereka. Awalnya mereka gak mau keluar. Emosi ku tersulut dan langsung mengambil sapu. Ku pukulkan ke tubuh mereka dengan ganggang sapu.


Beruntung saat itu mereka dalam keadaan mabuk dan lemah. Sehingga aku bisa memukul dan menendang mereka berdua. Ku keluarkan semua baju Bagas. Dan dia membawa baju itu ke tempat ibunya.


***


Besok paginya Tata dan ibu mertua datang ke kontrakan ku menanyakan perihal kenapa aku mengusir Bagas dari rumah.


Semuanya ku ceritakan kepada ibu mertua. Tapi mereka hanya diam mendengarkan cerita ku.


"Din,, walau bagaimana pun Bagas tetap suamimu. Kamu harus tetap menghormatinya walau dia seperti itu. Doakan saja semoga Bagas cepat dapat hidayah"


Ddrrrttttt,,, gawai ku bergetar.


Tiba-tiba Isha menelpon ku. Ada apa gerangan? Perasaan ku jadi tak enak.


"Halo, assalamualaikum" ku angkat telpon Isha.


"Kak Din, cepat ke rumah. Mamah kritis"


Aku pun segera bersiap ke rumah Isha.


Memang keadaan mamah beberapa minggu ini sudah drop. Mungkin karna usia lanjutnya. Mamah tidak mau di rawat di Rumah Sakit. Mamah hanya mau di rawat di rumah.


Sesampai di rumah Isha, aku segera memeluk mamah dan menangis. Mamah mencium Galang sepuas nya, seakan perpisahan bakal terjadi. Mamah pun menanyakan Bagas.


"Bagas mana Din, mamah ingin bertemu"


Tak berapa lama Bagas pun tiba bersama mertua dan ipar ku. Dia langsung menghampiri mamah.


”Bagas,, mamah minta jaga selalu Dina. Jangan pernah menyakitinya lagi. Dan janji, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan Dina."


"Iya mah, Bagas janji"


Setelah itu mamah pun meninggalkan ku untuk selamanya. Tak ada lagi tempat curhat dan bermanja.


Setelah meninggalnya mamah, akupun resign dari pekerjaan dan Bagas pun kembali ke rumah.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2