
#Aku_yang_Selalu_Salah_di_Matamu
Part 19
Melihat wajah bi Jum yang sangat tegang, Isha segera mendorong kursi rodaku masuk ke dalam rumah dan kami langsung menuju kamar Merwais.
Baru memasuki pintu kamarnya, aku sangat terkejut melihat keadaan Merwais. Tanpa sadar, aku berdiri dari kursi rodaku dan berlari kearah Merwais.
"Wais..." aku berteriak histeris.
"Ya Allah... apa yang terjadi denganmu?" tanyaku penuh kecemasan.
Mulut Merwais penuh dengan darah segar. Darah itupun juga keluar dari hidungnya. Selimut dan pakaian yang di kenakan Merwais pun, juga penuh dengan darah.
Aku segera meminta bi Jum untuk mengambil kan handuk dan air hangat.
"Sayang, kenapa Abi bisa mengeluarkan darah seperti ini?" tanyaku pada Galang.
"Gak tahu, Bund. Tadi, Abi bilang kepalanya sakit. Mulanya, darah itu keluar dari hidung Abi. Lalu kemudian, Abi muntah darah, Bund." Galang menjelaskan.
"Astagfirullah..."
"David, cepat telpon Dokter." pintaku pada David, supir pribadi Merwais.
Akupun segera membersihkan darah yang ada di mulut Merwais. Menggantikan baju dan juga seprai serta selimut yang pakainya, dengan di bantu bi Jum dan Isha.
Tubuh Merwais sangat lemah. Dia hanya memandang sayu padaku.
"Din, Alhamdulillah... kamu sudah sembuh." lirih sekali ia berucap.
Ku letakan jariku di bibirnya.
"Sssstttt,,, kamu masih lemah. Jangan terlalu banyak bicara."
Merwais segera meraih tangan ku yang ada di bibirnya, kemudian menggenggam nya dengan lembut. Dia pun tersenyum manis, walaupun wajahnya pucat pasi.
"Din, kamu adalah wanita yang sangat kuat. Kamu harus bisa bertahan dalam situasi apapun."
"Aku akan kuat kalau kau selalu bersamaku Wais." tak terasa, air mataku jatuh. Dia segera mengusap dengan tangan nya.
"Apakah kita akan bersama?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ya, kita akan segera bersatu dan akan terus selalu bersama." aku meyakinkannya. Air mata ini semakin derah mbasahi pipi.
"Lihat, Din, kau sekarang sudah pulih kembali." sangat lirih ucapan nya, membuat pertahananku hancur.
Akupun segera memeluknya. Aku tak peduli, kalau aku masih berstatus istri orang. Aku menangis di pelukan nya.
***
Tak berapa lama, Dokter pribadi pun datang. Dokter itu segera memeriksa keadaan Merwais.
Dokter pun mengambil sampel darah Merwais untuk segera di periksa ke Lab.
"Bu Dina, besok hasil test nya keluar."
Aku pun hanya mengangguk.
Kemudian Dokter memberikan resep untuk segera di tebus.
"Ini resep yang harus segera di tebus." Dokter memberikan resep itu padaku.
"David, tolong tebus resep ini ya." pintaku pada David.
Isha yang semula hanya memandangku dari samping sofa di kamar itu, kini menghampiriku.
"Kak Din,, kakak sadar gak, kini kakak sudah bisa berjalan?" kata Isha.
Aku hanya bengong, karna aku pun baru menyadari nya.
"Karna kekhawatiran kakak pada Wais, dan besarnya cinta di antara kalian, itu memberikan kekuatan besar untuk Kakak bisa sembuh dengan cepat."
Kami pun semua tersenyum bahagia. Terlebih Merwais.
"Terima kasih, Wais. Kau selalu memberikan cinta yang sangat besar padaku." akupun mencium punggung tangan nya.
"Besok, aku akan kembali membuka sidang perceraian ku dengan Bagas." ucapku penuh semangat.
"Aku akan selalu mendukungmu, Din."
"Tapi, maaf, mungkin aku tak bisa mendampingimu." lirihnya lagi.
Aku mengernyitkan keningku.
__ADS_1
"Kenapa gak bisa? Sebelumnya kan kamu yang selalu mendampingi ku!"
"Aku hanya tidak ingin berjanji, Din."
Ada debar yang sangat kencang di dadaku. Aku tak mengerti apa arti dari perkataan Merwais. Apa maksudnya?
*****
Pagi yang berawan. Di saat aku ingin berangkat untuk membuka kembali sidang cerai, tiba-tiba Dokter datang membawa hasil test milik Merwais.
Kamipun semua berkumpul di kamar Merwais. Ada degup tak beraturan di dada ku. Aku sangat takut mendengar hasil nya.
Dokterpun membuka amplop putih yang ada di tangan nya. Dan mulai membacakannya.
Ternyata, hasil test menyatakan kalau penyakit yang di derita Merwais adalah kanker darah atau 'LEUKIMIA" stadium lanjutan.
Aku terkejut dan terduduk lemas di sofa kamarnya. Dunia ku terasa runtuh. Aku merasa tak berpijak di bumi lagi. Ada air bening mengalir deras di pipiku.
Aku segera berlari memeluknya yang sedang berbaring di ranjang. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku meraung.
Ternyata, Wais yang sedang berbaring pun hanya bisa pasrah dan menangis.
"Wais, aku tahu, kamu pasti mengetahui penyakit yang kau derita. Kenapa kau tak memberitahuku? Kenapa? Kau jahat!" aku menangis dan memukul dada nya yang bidang dan berbulu itu.
"Aku hanya tidak ingin kau bersedih, Dina. Bagaimana pun aku tetap mencintamu, dan akan selalu mencintaimu selamanya."
Dokter menyarankan untuk kemoteraphy. Supaya menghambat pertumbuhan kanker itu.
Dari hari ke hari, aku hanya ingin di samping Merwais. Aku tak ingin melewatkan sedetik pun untuk bersamanya. Aku terus memantau perkembangan nya setiap saat.
Dengan kesibukan ku merawat dan menjaga Merwais, membuat aku lupa untuk mengurus sidang perceraian ku dengan Bagas. Biar lah, akupun sudah menganggapnya bukan suami ku lagi.
.
.
Akan kah Dina dan Merwais bersatu?
Author pun tak tahu.
Jangan protes ya emak-emak, episode kali ini agak pendekππππ
__ADS_1