Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 2 flashBack


__ADS_3

Hai, namaku Dina Larasati. Panggil saja Dina. Usia ku 36 tahun. Aku seorang Ibu rumah tangga dengan dua orang anak. Sebenarnya anakku ada tiga, satu dengan perkawinanku terdahulu.


Aku menikah dengan Bagas sembilan tahun yang lalu. Yang mana saat awal perkenalan, dia adalah seorang laki-laki yang baik. Yang siap menerima diriku apa adanya. Perkenalan kami hanya singkat, cuma tiga bulan. Jadi aku tidak tau seperti apa kepribadian dia sebenarnya. Toh aku pikir itu tidak masalah. Karna dengan perkawinan sebelumnya aku menjalin hubungan hampir empat tahun, tapi akhirnya kandas juga.


Sebenarnya keluarga Bagas tidak merestui, karna aku seorang janda dengan satu anak.


Pernikahan kami sangat sederhana. Di awal pernikahan kami tinggal di rumah orang tua bagas.


Tau sendirikan bagaimana sikap mereka semua terhadapku, karna aku seorang yang tidak mereka restui. Mereka sangat acuh padaku. Tapi aku tidak perduli, karna aku juga bekerja di siang hari. Jadi waktuku cuma sedikit dengan mereka.


Sebulan pernikahan akhirnya sifat asli suamiku terlihat. Ternyata dia seorang pemabuk berat dan juga sangat posesif. Awalnya aku tak perduli, selama dia masih menafkahi ku dan tidak mengambil dari hasil kerjaku.


Tinggal di rumah mertua memang tak seindah tinggal di rumah sendiri. Setiap hari ada saja yang di ributkan. Mulai dari makanan, cucian, dan apa pun itu. Bahkan saat aku dan suamiku ingin sarapan sebelum berangkat kerja, tak ada apa-apa di dapur. Karna setelah memasak, mereka akan menyimpannya agar aku tak bisa memintanya. Akhirnya kami pun hanya makan nasi yang d taburi garam dan minyak.


Aku cuek saja dengan semua keadaan di rumah mertua. Sebab aku pun bisa makan enak di butik tempatku bekerja. Karna pemilik butik tempatku bekerja sangatlah baik.

__ADS_1


Tiga bulan berlalu akhirnya aku hamil. Suamiku sangat senang. Tapi sayang sifat pemabuk suamiku tidak hilang. Hampir tiap hari dia selalu pulang dengan keadaan mabuk.


Sampai suatu hari pertengkaran hebat terjadi. Yang mengharuskan ku pergi tanpa pamit dengan mereka. Dan juga menurutku karna hal yang sepele, hanya karna makanan.


Indah, anak sulung Tata kakak iparku mengambil makanan ku di dalam kamar tanpa izin. Memang benar aku menyimpan makanan yang di berikan oleh kak vera pemilik butik tempatku bekerja di dalam kamar. Aku gak masalah dengan makanan itu. Yang aku masalahkan adalah mulut pedasnya Tata. Dia mengataiku pelit dan tak tau diri.


"Dasar, punya adik ipar kok pelit dan tak tau diri ya"


"Makanan segitu aja d simpan dalam kamar. Harusnya dia tau diri karna numpang di rumah ini."


"Kenapa sih Tata yang sewot. Kan semua orang dalam rumah ini menyimpan makanan masing-masing dalam kamarnya. Kok aku sih yang salah."


"Jelas kamu salah karna kamu pelit" kata suamiku.


"Lho, siapa yang mulai duluan menyimpan-nyimpan makanan? Emangnya aku harus ngasih mereka makan semua? Mereka kan masing-masing sudah ada yang menafkahin" akhirnya aku pun emosi.

__ADS_1


"Harusnya kamu dong bang yang bisa membagi uangmu untuk mereka, bukan dengan uangku. Kamu tuh bisanya cuma mabuk aja"


"Aku sudah bersabar dalam tiga bulan ini untuk menerima perlakuan keluarga abang. Dan abang gak pernah perduli, bisanya cuma mabuk." akhirnya tangis ku pun pecah.


Mendengar kakak dan ibunya ngomel menyalahkannya, akhirnya Bagas kalap dan melampiaskannya kepadaku.


Langsung Bagas mengambil cel*rit dan mengayunkannya kepadaku. Akupun kaget dan berusaha menghindar. Dan cel*rit itu menempel di lemari di belakang tubuhku. Aku tak menyangka dia bisa sejahat itu padaku yang tengah hamil muda.


Sedangkan keluarganya tak pernah peduli dengan apa yang ku alami.


Jam menunjukan 23.30 wib.


Aku mengemasi semua pakaian ku ke dalam tas. Tanpa pamit akupun pergi ke rumah mamah ku.


___________________________________

__ADS_1


__ADS_2