Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 20 Dilema


__ADS_3

#Aku_yang_Selalu_Salah_di_Matamu


Part 20


Dari hari ke minggu, minggu ke bulan, tak terasa hampir dua bulan aku selalu menemani Merwais melakukan kemotherapy. Aku tak ingin terlewat sedetikpun untuk bersamanya. Beruntung Merwais memiliki para anggota rumah yang sangat setia. Mereka pun sudah di anggap seperti keluarga sendiri. Selalu ada cinta dan kehangatan dalam rumah ini.


Saat itu aku dan Merwais sedang duduk di taman mini belakang rumah. Sambil kami memberi ikan-ikan kesayangannya yang ada di kolam.


"Wais, kamu tak ingin memberitahu Abi dan Ummi mu?" tanyaku.


"Din, mereka sudah tahu keadaanku. Mereka juga tahu kalau aku di sini di rawat oleh cintaku." jawabnya sambil meraih tanganku dan mengecup punggung tanganku.


"Tapi, kenapa kau memberitahu ku keadaan mu yang sebenarnya?" rajukku lagi.


Wais mencolek hidungku dan tertawa.


"Dina, jangan khawatir. Aku baik-baik saja sekarang. Lihatlah!" Wais berdiri dan membentangkan tangan nya.


Aku pun ikut berdiri dan memeluknya. Kemudian menyandarkan kepalaku di dadanya yang bidang.


"Biarlah emak-emak KBM pada protes dan mengatakan ku gak tahu diri, karena aku masih berstatus istri orang." gumamku dalam hati.


"Dengar, Dina, kekuatan cinta kitalah yang akan membuatku baik-baik saja." ucapnya lagi.


"Tuan, Abi dan Ummi sudah tiba di sini" tiba-tiba bi Jum datang. Aku segera melepaskan pelukkan ku.


Abi dan Ummi Merwais datang bersama Ayahnya kak Vera. Ternyata mereka semua sudah berada di taman saat aku masih dalam pelukan Wais.


Merwais segera memeluk Abi dan Ummi nya. Wajahku bersemu merah, karena mereka semua tersenyum ke arah ku.


"Wais selalu bercerita tentang dirimu pada Ummi. Dia sangat mencintaimu, Dina." Ummi menghampiriku. Dan aku segera mencium tangannya.


"Sebenarnya Ummi sempat marah, karena Wais mencintai istri orang. Tapi, setelah mendengar semua ceritanya, Ummi pun merestui. Ummi tidak ingin Wais kembali terpuruk."


"Kau lah yang membuat semangat dalam hidup Wais. Keberhasilan nya dalam memimpin perusahaan, karena ada dorongan dari rasa cintanya padamu."


"Ummi, ayo kita ke masuk dulu." Merwais mengajak keluarganya untuk beristirahat.


Akupun hanya mengikuti dari belakang.


Di ruang keluarga, mereka semua berkumpul.


Mereka memintaku untuk duduk bersama.


"Dina, Abi akan mengurus surat cerai kau dengan Bagas. Abi hanya ingin kau dan Merwais segera bersatu. Agar kau segera di boyong ke Dubai." Abi membuka percakapan.


"Iya, Ummi juga gak sabar ingin segera menggendong cucu dari Wais." Ummi menimpali.


Aku pun hanya tertunduk sedih. Melihatku sedih, Wais segera menggenggam tangan ku untuk memberikan kekuatan.


"Ummi, sebelumnya Dina minta maaf. Dina tidak bisa mengabulkan permintaan Ummi."


"Kenapa?" Ummi mengernyitkan kening nya.


"Wais, apa Ummi belum tahu keadaanku?" tanyaku kepada Merwais.


"Ummi... Sebenarnya Dina gak bisa memiliki anak lagi. Rahimnya sudah di angkat."


Kemudian Merwais pun menceritakan semuanya kepada keluarganya. Mereka pun hanya manggut-manggut.


"Biar bagaimana pun, Wais tetap selalu mencintai Dina, Abi, Ummi." tambah Wais lagi memohon.


"Wais, Abi dan Ummi hanya ingin kau bahagia. Apapun keputusan mu, kami selalu merestui." akhirnya Abi dan Ummi memberikan restu dan menerima segala kekurangan ku.

__ADS_1


Aku dan Merwais pun tersenyum bahagia.


"By the way, kapan kami bisa menemui keluargamu, Dina?" tanya Om Tomi, ayahnya kak Vera.


"Belum bisa Om, saya belum memiliki surat cerai, maaf!" lirihku.


"Gak apa, nanti Om yang akan mengurus semuanya. Om akan membayar pengacara, biar cepat selesai."


Setelah selesai apa yang ingin mereka sampaikan, Abi, Ummi dan Om Tomi pun pamit pulang.


”kenapa gak tidur di sini saja, Ummi? Kan kamarnya masih ada!" tanyaku.


"Biar Abi dan Ummi mu menginap di tempat Om saja." Om Tomi berucap.


Akhirnya mereka pun pamit pulang.


*******


Pagi yang sangat cerah. Saat aku dan Merwais sedang sarapan pagi, gawaiku berdering. Ku lirik layar gawaiku, telpon dari Isha. Aku minta izin untuk mengangkat telpon darinya.


"Halo,, Assalamualaikum. Ada apa Isha?"


"Kak, Bagas kecelakaan. Keadaan nya kritis. Bagas ingin segera bertemu dengan kakak."


Aku terkejut. Tapi, aku yakin, ini hanya akal-akalan Bagas. Diakan orang nya licik.


"Bagaimana, kak?" tanya Isha.


"Ya, nanti. Di Rumah Sakit mana?" tanyaku tanpa minat.


Isha pun memberitahu Rumah Sakit tempat Bagas di rawat, dan Isha pun langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Siapa yang sakit?" tanya Merwais padaku.


"Yuk, kita ke sana." Merwais segera menyudahi makan nya.


"Malas ah, Bagas kan selalu jahat. Paling juga akal-akalan nya." jawabku asal.


"Tabayyun aja dulu, gak boleh lo seperti itu." Wais berusaha memberiku penjelasan.


"Wais, hati kamu tuh terbuat dari apa sih? Kok, kamu masih bisa baik setelah di jahatin." kataku.


"Aku belajar dari kesabaran dan keteguhanmu yang dulu, Dina."


"Mana Dina ku yang dulu? Kok sekarang berubah?"


Aku merasa tertampar keras dengan nasehat Wais. Kenapa aku bisa jadi seperti ini? Menjadi egois dan tak mau peduli. Aku pun menyadari, aku sekarang berubah.


Akhirnya aku menuruti kemauan Merwais. Kami pun segera menuju ke Rumah Sakit tempat Bagas di rawat.


Sebelumnya, kami harus mengantar Galang ke sekolah. Sedangkan Gilang yang masih tidur harus kami tinggal bersama sust Ina dan bi Jum.


"Bi,, Sust,, kami berangkat dulu ya. Jangan lupa kasih makan Gilang. Mungkin kami agak lama perginya." kata Merwais kepada asisten rumah tangga nya.


"Iya, Tuan. Siap!" sahut mereka berbarengan.


****


Sesampai nya di Rumah Sakit, kami segera bertanya di ruang apa Bagas di rawat.


"Maaf, sust, mau nanya, di mana ruangan Bagas Effendi korban kecelakaan." Merwais bertanya pada petugas resepsionis.


"Kenanga 2 B1." jawab perawat itu.

__ADS_1


Kami pun segera menuju ke ruangan itu.


Setibanya di sana, aku bertemu dengan mertuaku dan juga Om serta Tantenya Bagas.


"Assalamualaikum..." salamku


Mereka semua memandang ke arah kami.


Ibu mertua pun langsung memelukku.


"Maafkan, Bagas, Din. Maafkan kesalahan Bagas selama ini. Dia terlalu banyak salah padamu." Ibu mertuaku memohon maaf untuk Bagas.


Aku hanya diam memandang keadaan Bagas. Walau bagaimana pun, dia adalah suamiku, pernah mengisi hari-hariku. Dan juga Ayah dari anak-anakku.


Perlahan ku dekati Bagas. Tubuhnya penuh dengan selang infus. Kaki dan tangan nya di gips, kepalanya pun di perban.


"Kapan dia kecelakaan, Ibu?" tanyaku pada Ibu Mertua.


"Dua hari yang lalu." sahut Ibu di sela isak tangisnya.


Aku memegang tangan nya. Tak terasa, air mataku jatuh. Aku segera mengusap air mata dengan tangan ku.


Saat ku pegang tangan nya, Bagas terbangun.


Dari balik selang oksigen dia berkata "Maaf".


Aku pun hanya mengangguk.


" Din, kami semua juga ingin meminta maaf padamu. Bukan nya kami tidak pernah menasehati Bagas, tapi Bagas selalu menentang apa yang kami katakan." Bapak Mertua berkata.


"Selama lebih 15 bulan ini, Bagas juga memiliki istri baru yang di nikahinya secara siri." lanjut Bapak Mertua.


"Saat kecelakaan ini pun, Bagas bersama istri siri nya yang sedang hamil tua."


"Istri siri bagas segera di Operasi karena harus menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungannya."


Bapak Mertua menarik nafas berat, kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Bayinya dapat di selamatkan, tapi ibu nya meninggal. Bayinya perempuan."


"Sudikah kau menerima bayi nya Bagas, Dina?" tanya bapak mertua.


Aku hanya bisa diam, tak bis berkata apa-apa. Air mata ini semakin deras mengalir.


"Bapak tahu, Din, ini sangat menyakitkan bagimu. Tapi, mau bagaimana lagi, hanya kau satu-satunya harapan yang bisa membantu permasalahan ini."


"Siti, istri siri Bagas, hanya seorang yatim piatu. Dia tidak memiliki keluarga di kota ini. Sedangkan ingin di bawa ke rumah, kau tahu sendiri, di rumah sudah penuh orangnya. Lagian kami sudah tua dan sudah agak sakit-sakitan." Bapak Mertua menjelas kan panjang lebar.


"Tolong lah, Din. Bawa bayi Bagas bersamamu." pinta Ibu mertua.


Merwais mendekatiku, kemudian menggenggam tanganku. Memberikan kekuatan penuh padaku.


.


.


Bersambung....


Akan kah Dina menerima bayi Bagas yang di titipkan kepadanya?


Bagaimana kah tanggapan Merwais atas semua kejadian ini?


Mungkin kah Dina dan Merwais bisa bersatu?

__ADS_1


Ikutin terus ya kelanjutan nyaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2