Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 25 Asa dan Harapan


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Saat sadar, aku sudah berada di RS. Kulihat Merwais duduk bersandar di sebuah kursi dengan memejamkan kedua matanya, sembari memegang tanganku. Ada bekas air mata mengering di ke dua pipinya.


Tapi, yang ku ingat hanyalah Aisya. Apa yang terjadi dengannya.


"Bi, Aisya di mana? Bagaimana keadaannya?" kugoyang tangan dan membangunkannya.


Wais terkejut. Dia membelai pucuk kepalaku.


"Alhamdulillah... Bunda sudah sadar." hanya itu jawabannya.


"Di mana Aisya, Bi?" tanyaku lagi.


Kutatap tajam matanya, ingin mencari jawaban dalam mata itu.


"Katakan, Bi!" aku pun mulai menangis.


"Bunda, yang sabar ya."


Ada rasa sesak dan curiga dengan kalimat yang baru saja di utarakan Merwais. Namun, ku berusaha untuk tetap tegar.


"Aisya..." Wais menggantungkan kalimatnya.


"Kenapa dengan Aisya, Bi?" kejarku tak sabar.


"Aisya, kehilangan banyak darah. Sekarang, dia lagi kritis di ruang ICU."


Aku hanya diam, kubiarkan Wais melanjutkan penjelasannya. Walau hati berdegup kencang dan air mata terus mengalir deras.


"Dokter sedang berusaha mencari darah yang sesuai dengan golongan darah Aisya."


"Ambil saja darahku, Bi. Atau kita bisa meminta donor pada Galang dan Gilang. Mereka kan saudara Aisya." aku mulai terlihat panik.


Wais semakin erat menggenggam tangan dan menatap lembut diriku. Dia terus memberikan kekuatan, agar tegar menghadapi semua ini.


"Bunda sayang, darah kita semua tak ada yang cocok dengan golongan darah Aisya."


"Golongan darah Galang 'O', sedangkan Gilang 'A'. Bunda sendiri kan 'O' juga. Dan Abi 'B'. Golongan darah yang di perlukan itu 'AB', Bunda. Mungkin Aisya mengikuti golongan darah Ibunya."


Panjang lebar Wais menjelaskannya padaku. Tangis histeris pun meledak, aku tak dapat menguasai sesak di dada mendengar kondisi Aisya saat ini. Dia terlalu kecil untuk menerima semuanya.


"Abi, ini salah bunda. Andai saja bunda tidak membawa serta Aisya, dia tak akan seperti ini." dengan penuh emosi, kupukul diri sendiri. Karena ini memang salahku.


Melihat aku histeris dan tak terkontrol, Wais memeluk dan berusaha menenangkanku. Ada yang hangat jatuh di punggungku, Wais pun ikut menangis melihat keadaanku yang shock.


Di dalam pelukkannya, aku merasa damai. Sangatlah beruntung mendapatkan suami yang penyabar dan penyayang.

__ADS_1


Setelah agak tenang, aku meminta padanya untuk mengantarku melihat kondisi Aisya.


"Bi, tolong bawa aku melihat keadaan Aisya!"


"Abi akan mengantarkan Bunda. dengan syarat, bunda harus tetap kuat dan tegar."


Aku pun hanya menganggukan kepala.


Dengan di dampinginya, kami berjalan menyusuri koridor RS menuju ruang ICU, tempat Aisya di rawat.


Sesampai di sana, aku hanya bisa melihat kondisi Aisya melalui kaca luar ruang ICU. Karena tidak di perbolehkan orang lain masuk, kecuali Perawat dan Dokter.


Tubuh Aisya yang mungil, kini di penuhi selang infus dan oksigen. Aku tak kuat menyaksikan semua itu. Andai saja bisa di ganti, biarlah diriku yang menggantikan posisinya di sana


Saat ku lihat Dokter keluar dari ruang ICU tempat Aisya di rawat, buru-buru ku menghampirinya, di susul oleh Wais.


Aku meminta Wais untuk segera menanyakan kondisi Aisya saat ini. Dokter pun meminta kami untuk menuju ke ruang kerjanya.


Di sana, Dokter menjelaskan kondisi yang di alami Aisya saat ini. Karena tak mengerti bahasa mereka, aku pun hanya diam. Sesekali ku perhatikan gerakan tangan Dokter itu menjelaskannya pada Wais. Terlihat kecemasan yang mendalam di wajah gantengnya.


Kembali dada ini bergemuruh, sesak terasa. saat ku lihat ekspresi wajahnya yang sangat menegangkan. Pikiranku kalut. Apa yang sebenarnya terjadi pada Aisya?


Setelah Dokter selesai menjelaskan semua, perlahan Wais membimbingku keluar dari ruangan tersebut. Kami duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan ruangan ini.


Perlahan Wais menjelaskan kepadaku apa yang di katakan Dokter. Sambil terus menggenggam tangan dan memberikan kekuatan.


"Bunda... Aisyah kondisinya sangat kritis saat ini."


"Seandainya...!" Wais berhenti berkata.


"Seandainya, apa, Bi?" aku pun menanyakannya.


"Seandainya, Aisya selamat dari masa kritis, dia tetap tak bisa hidup normal seperti anak-anak pada umumnya."


Deg...


Terasa ada batu besar menghantam dadaku. Apa maksud Wais berkata demikian? Apa maksudnya tidak normal? Kepala pun terasa pusing, mata ikut semakin panas, air terus mengalir di kedua pipi ini.


"Maksudnya, Bi?"


"Sayang... kecelakaan itu telah merusak sebagian organ dalam tubuh Aisya. Kata dokter, walau Aisya selamat, dia akan menjadi tidak bisa mendengar dan tidak bisa bicara. Leher Aisya yang patah itulah yang telah merusak sebagian pita suaranya."


Terasa runtuh pertahanan diriku, dan hanya mampu menangis dalam pelukan orang sangat mencintaiku.


"Bi, bisakah Bunda masuk ke dalam ruang perawatan Aisya? Bunda ingin bersama Aisya."


"Tapi, Bunda kan perlu istirahat juga. Masih belum pulih ini keadaannya."


"Gak, Bi, bunda sudah sehat. Lihatkan, bunda tidak apa-apa!" langsung ku hapus air mata dan berusaha untuk terlihat tegar.

__ADS_1


"Bunda, yakin?" tanya kemudian.


"Iya, Bi. Bunda ingin selalu di samping Aisya." aku meyakinkannya.


Wais pun pamit dan berlalu menuju ruang perawatan Aisya. Sedangkan aku tetap menunggu sampai ia datang.


Kecelakaan ini telah merenggut masa depan Aisya, akulah penyebabnya. Aku harus bertanggung jawab penuh atas kebahagiaannya. Dan aku berjanji, tidak akan ada lagi yang akan menyakiti Aisya.


Tak berapa lama, Wais pun datang. Dia mengatakan bahwa Dokter mengijinkan aku untuk merawat Aisya. Betapa senangnya hatiku dan aku pun memeluk tubuh lelaki yang kucintai.


**


Dari hari ke hari, aku terus merawat Aisya. Selalu kubisikan kalimat penyemangat hidup untuknya. Tak sehari pun kulewatkan tanpa merawatnya. Beruntung, aku berada di sekitar orang-orang yang juga menyayangi Aisya.


Merwais yang terus mendukungku tanpa lelah, dia selalu ada di saatku membutuhkannya. Galang dan Gilang yang hampir tiap hari menjenguk Aisya, adik mereka, dengan di temani sust Ina dan David. Juga Aleda yang menganggap Aisya sebagai adiknya, dengan di temani papanya, Kabiir. Sedangkan Alicia, tak pernah sekali pun menjenguk Aisya. Karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.


Tak terasa sudah satu setengah bulan Aisya di rawat di RS, dan akhirnya di perbolehkan pulang ke rumah.


Sejak kecelakaan itu, Aisya tidak seperti dulu lagi. Dia yang selalu ceria dan terus ngoceh, kini sirna. Hanya kesunyian yang kurasa. Namun, aku tak pernah patah semangat. Aisya terus kuajak bermain, mengobrol, dan mendengarkan murotal. Walau ku tahu, itu tak akan membuatnya bereaksi. Gerakannya pun sudah tak seaktif dulu.


Kesedihan hati terus menjalar. Aku hampir tidak kuat melihat kondisi Aisya saat ini. Namun, orang-orang di sekelilingku terus memberikan dukungan dan semangat. Terlebih suamiku, Merwais. Walau kadang ku lihat dia menangis dan selalu menyembunyikan air matanya, namun itu tak menampik bahwa dia pun merasakan hal yang sama denganku.


Wais terus mendukung, agar aku tak kehilangan semangat hidup untuk merawat Aisya.


"Bi, bolehkah Bunda minta sesuatu denganmu?" tanyaku suatu hari.


"Apapun itu, akan Abi berikan." jawabnya sambil memelukku dan Aisya yang ada dalam gendonganku.


"Bunda ingin Aisya di therapy, biar bisa cepat sembuh. Tolong Abi carikan Dokter spesialis therapy anak."


"Iya, Bunda sayang. Abi akan mencari Dokter spesialis therapy yang terbaik di Dubai untuk Aisya. Jangan khawatir, Aisya akan sembuh seperti sedia kala." Wais terus memeluk dan mencium keningku.


Ada perasaan damai di hati. Lelah pun hilang saat aku berada dalam pelukannya.


****


Tak terasa, kini Aisya sudah berusia hampir tiga tahun. Namun perkembangannya tetap tak terlihat. Sampai sekarang, Aisya belum bisa berjalan seperti anak-anak lainnya. Aisya hanya bermain di pangkuanku. Yang membuatku bahagia, kini Aisya sudah bisa tersenyum dan tertawa. Terkadang, sekali-kali ia mencoba untuk berbicara.


Berbanding jauh dengan Galang dan Gilang. Kedua jagoanku ini selalu mendapat predikat yang sangat cemerlang. Hari ini Galang dan Gilang menjadi Qori terbaik di sekolah mereka. Walaupun usia mereka masih terbilang muda, Galang yang berusia delapan tahun dan Gilang berusia hampir lima tahun, namun kemampuan mereka sangat luar biasa bagiku.


Selain menjadi Qori, Galang dan Gilang juga sudah menjadi tahfidz. Ini semua berkat Wais yang selalu mengajar dan membimbing mereka, agar menjadi orang yang berguna. Dia lah Suami kebanggaanku dan juga seorang Abi kebanggaan anak-anaknya.


Begitu pun Aleda, dia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dia selalu mendapat nilai terbaik di kelasnya dan menjadi seorang pianist cilik.


Rasa bangga dan sedih bercampur jadi satu. Di satu sisi, aku bangga dengan hasil yang sangat memuaskan dari kedua jagoanku. Di sisi lain, aku sedih dengan masa depan Aisya. Mungkinkah Aisya bisa berkembang seperi saudara-saudaranya?


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2