Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 31 kebahagiaan diatas penderitaan


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Badai itu tak pernah berlalu dari hidupku. Entah dosa apa yang pernah ku lakukan dimasa lampau, seakan penderitaan adalah hidupku.


Tak tahu lagi, langkah apa selanjutnya yang harus kuambil. Apakah harus kuteruskan ataukah harus kandas kembali? Ya Allah... berilah hamba petunjuk.


Apa harus kumaafkan Wais, yang jelas-jelas berselingkuh dan berzina? Nyata didepan mataku mereka masuk ke Hotel itu.


Sepanjang malam aku memikirkan semua ini. Saat kulirik jam didinding, aku segera mengambil air wudhu. Ingin mengadukan semua masalah hanya kepada-Nya. Bersujud memohon ampunan dari-Nya.


Ya Allah... Tolong tunjukan jalan terbaik bagi hamba untuk menyelesaikan konflik yang ada diantara kami semua. Hamba siap menerima keputusan dari-Mu. Apabila keputusan yang Engkau berikan adalah harus berpisah dengan dirinya, hamba siap menerima. Dan apabila memang harus tetap bersama, maka berikanlah hamba kekuatan untuk menerima semua ujian yang Engkau berikan. Hamba hanya ingin keridho-Mu, ya Allah, hamba hanya ingin mencapai jannah-Mu. Dan satu lagi yang ingin hamba minta dari-Mu, izinkan hamba memberikan Merwais seorang keturunan yang berasal dari hamba. Hamba bersedia bertukar nyawa untuk kebahagiaannya. Tunjukanlah kekuasaan-Mu, ya Allah. Aamiin....


Selesai berdoa, hati ini merasa tenang dan damai. Telah kuserahkan semua permasalahanku kepada-Nya. Aku pun akhirnya terlelap dalam damai.


***


Adzan subuh berkumandang, segera kuambil air wudhu untuk menunaikan sholat wajib dua raka'at. Tidak lupa, aku membangunkan anak-anakku untuk segera melaksanakan sholat berjamaah.


Kali ini si sulung Galang yang mengimami kami sholat, sebagai ganti Abinya.


"Bund, kok Abi gak pulang juga?" tanya si tengah Gilang.


"Sholat dulu deh, nanti ngobrolnya." Galang yang sudah mulai dewasa mengerti keadaanku. Dia tidak ingin melihatku menangis lagi.


Seandainya Wais ada disini, betapa senangnya mereka karena memiliki keluarga yang sempurna.


"Ayo, kita sholat dulu." ucapku.


"Gilang, Ayo adzan." lanjutku pula.


"Siap, Bunda" sahut Gilang.


Gilang pun adzan dan kami segera menunaikan sholat subuh.


Selesai sholat, kami berdoa bersama. Setelah itu kembali ke kamar masing-masing. Namun sebelumnya, Aisya memberikan Amplop coklat padaku.


"Apa ini?" tanyaku dengan bahasa isyarat.


"Undangan untuk bermain biola." jawab Aisya.


Senang dan bangga menjadi satu, kupeluk putri tersayangku. Begitu pun Galang dan Gilang. Mereka bertiga sangat akur, tak pernah ada sedikitpun pertengkaran diantara mereka. Pun dengan Aleda, mereka semua sangat dekat dan saling menyayangi.


Inilah nikmat Allah yang kurasakan. Dalam keadaan konflik batin, aku masih disuguhkan kasih sayang diantara anak-anakku.


Bangga dengan Aisya, dengan kekurangannya, dia mampu bermain biola. Sungguh benar-benar tak tahu kalau Aisya bisa bermain biola.


"Kapan?" kutanya lagi kepda Aisya dengan isyarat.


"Malam ini." jawabnya.


"Bunda akan datang menghadiri acaranya." jawabku.


"Abi?" Aisya bertanya tentang Abinya.


"Nanti bunda berusaha menelpon Abi." hiburku pada Aisya. Walau aku yakin itu tak mungkin.


Tak berapa lama, Sust Ina memanggil kami untuk sarapan. Karena sebentar lagi anak-anak akan berangkat ke sekolah.


Kami pun segera menuju meja makan. Sudah terlihat Alicia duduk disana bersama Aleda dan Kabiir. Dia hanya menatap sinis padaku.


"Masih betah ya di sini?" Alicia bertanya dengan kata menyindir.


"Apa ada masalah denganmu, Alice?" tanyaku kalem.


"Hei,, suamimu sudah tak de di rumah ni." dia mulai terpancing emosi melihatku tak menanggapi.


"Maaf, ini meja makan. Sebaiknya makan saja dulu. Gak baik berdebat didepan anak-anak dan di depan rejeki." sahutku.


Saat Alicia ingin bicara lagi, kutempelkan jari telunjuk ke bibir, supaya dia tak lagi bicara. Kabiir tersenyum geli, dan Alice makin jengkel padaku.

__ADS_1


Anak-anak pun selesai makan dan segera berangkat ke sekolah, karena bus sekolah sebentar lagi akan tiba.


Oya, Sust Ina dan David sudah menikah beberpa bulan yang lalu. Namun mereka masih tetap bersamaku, karena aku masih membutuhkan mereka. Mereka sangatlah setia dan sangat mengerti keadaanku.


Setelah anak-anak berangkat sekolah dan Kabiir juga ke kantor, Alicia menemuiku.


"Dengar Dina, tak berapa lama lagi Wais akan menceraikanmu." tatapnya tajam ke arahku.


"Lalu?" sahutku.


"Dan kau akan pergi dari rumah ini dan kembali ke Indonesia."


"Aku tidak takut. Tapi aku akan perjuangkan cintaku."


Alicia mendekati dan menjambak hijab yang kukenakan. Kepalaku mendongak.


"Dengar, segeralah berkemas, bawa serta anak-anakmu. Kalian tak berhak tinggal disini." ucap Alice ketus.


"Kau pun tak berhak untuk mengusirku dan anak-anakku. Aku masih Istri sahnya Wais. Kalau dia ingin menceraikanku, dia harus ke lndonesia."


"Dan ya, tak akan ada yang bisa merebut Wais dariku. Aku akan terus mempertahankannya." nadaku tegas kepada Alicia.


"Kau..." Alicia berusaha untuk memukulku. Namun, tangan itu tak mendarat dipipi, karena tangannya segera kutepis.


"Ingat, Alice, kau harus menghormatiku sebagai Kakakmu. Karena aku menantu tertua dirumah ini." kutinggalkan Alice sendiri yang sedang terpukau dengan perlawananku.


Mungkin dia pikir, aku tidak ada keberanian untuk melawannya.


Aku terus melangkah menuju kamar dan menguncinya. Hampir seharian aku hanya didalam kamar, pikiran terus melayang memikirkan langkah selanjutnya yang harus di lakukan. Apakah aku harus memaafkan Wais?


Menjelang magrib, pintu kamar diketuk dari luar.


"Bund, yuk kita sholat magrib!"


Ternyata Sisulung Galang yang mengetuk.


"Iya sayang, sebentar. Bunda mau ngambil wudhu dulu." aku pun segera mengambil wudhu dan menyusul mereka ke ruang sholat.


Setelah sholat kami segera bersiap-siap untuk menghadiri acara event yang digelar disebuah Hotel berbintang. Yang mana salah satu pesertanya adalah Aisya.


Setelah semuanya siap, kami pun segera berangkat. Namun, Aisya menanyakan Abinya. Ada rasa sedih terpancar di wajah Aisya. Aku pun menghiburnya, dan mengatakan segera menelpon Wais.


"Sayang, bentar ya, Bunda akan menelpon Abi dulu."


Kuambil gawai yang ada di dalam tas tanganku. Setelah itu kucari nomor Wais dan segera menghubunginya. Aku menjauh sedikit dari mereka, takut keinginan tak sesuai harapan. Telpon tersambung...


"Hallo, who is this?" suara seorang perempuan di sebrang sana. Dia memegang gawai Suamiku.


Bergetar tubuh ini, teriris perih dihati. Namun ku berusaha untuk tegar.


"Where Wais?" tanyaku menahan sesak didada.


"Whos you?" tanyanya kemudian.


"Im his wife." terus berusaha menahan perih.


Tak berapa lama, terdengar suara suamiku.


"Ya, ada apa, Din?" suara Wais di sebrang.


Ya Allah... kini panggilan Bunda pun tak ada lagi diucapnya. Apakah begitu besarnya dia membenciku.


"Abi, Aisya malam ini mengikuti pertandingan. Dia ingin Abi hadir dimalam pertandingannya." jawabku menahan air mata.


"Maaf, aku sibuk." telpon pun terputus.


Air mata yang mengambang pun tak bisa kutahan lagi. Dia mengalir tanpa kupinta.


Kabiir yang ternyata berada di belakangku, memberiku semangat agar aku tak terlihat sedih didepan anak-anak.


"Hapus air matamu, Din. Jangan sampai anak-anak tahu dengan kesedihanmu. Kasihan Aisya." ucapnya.

__ADS_1


Aku pun segera menghapus air mataku dan menemui anak-anak tersayang.


"Sayang, maaf ya, Abi lagi sibuk jadi gak bisa hadir." ucapku kepada Aisya. Dengan berusaha menyembunyikan apa sebenarnya yang terjadi.


Ada kekecewaan diwajah Aisya. Namun kembali tersenyum dan memelukku.


"Tidak apa-apa bunda, Aisya sudah senang dengan kehadiran Bunda." Aisya dengan bahasa isyaratnya. Aku pun mencium pipinya.


Kami pun berangkat dengan diantar David, tidak lupa Sust lna kuajak bersama.


Sesampai ditempat tersebut, kuserahkan undangan yang telah diberikan. Kami mencari tempat yang pas untuk bisa menyaksikan penampilan Aisya dengan jelas.


Acara pun dimulai. Satu persatu peserta telah tampil. Semua permainana biola mereka sungguh tampak memukau. Kini giliran Aisya yang tampil.


Aisya mengucapkan salam pembuka dengan bahasa isyarat. Para penonton yang menyaksikan merasa heran, karena salah satu peserta adalah tunga rungu.


Aku begitu haru melihat Aisya berani tampil didepan banyak orang.


Aisya pun memulai permainan biolanya. Begitu indah dan menyentuh hati. Tak terasa bulir mata jatuh membasahi pipi. Di tengah permainan biola Aisya, Kabiir datang bersama Aleda.


"Sangat bangga melihat Aisya kan, Dina!" bisik Kabiir.


Aku hanya menganggukan kepala, tak bisa lagi berkata-kata. Tapi, aku sedikit bingung, Aisya tidak pernah mengatakan kalau dia bisa bermain biola. Yang aku tahu, dia hanya pandai melukis.


"Jangan heran, Dina. Aisya meminta Aleda untuk dicarikan tempat les biola yang sangat terkenal di Dubai, karena dia menyukai musik."


"Dan beruntung sekali Aisya seorang yang smart, dia cepat menguasai permainan biola walau dengan kekurangannya."


"Para pelatih melihat, Aisya sangat berbakat dalam hal ini. Dan Aisya pun diikutkan dalam event nasional ini." panjang lebar Kabiir menjelaskan.


Ya Allah... Aleda pun sangat menyayangi Aisya. Dia tidak merasa tersaingi, bahkan sangat mendukung.


"Aleda sayang, terima kasih telah menjadikan Aisya seorang Violinist." aku pun memeluk dan mencium Aleda.


"Inikan berkat ajaran Bunda yang harus saling menyayangi, terutama terhadap saudara." ucap Aleda yang begitu bijak.


"Din, dosto?" Kabiir mengulurkan tangannya.


"Ya, l will. Kita berteman." aku pun menyambut uluran tangannya.


Semua para peserta sudah memainkan biolanya. Sekarang tinggal pengumuman pemenang yang akan di pertandingkan kembali ditingkat internasional.


Dengan hati berdebar menantikan pengumuman ini.


Di saat nama Aisya disebut, aku begitu haru dan bangga dengan putri kecilku yang dulu sangat kuperjuangkan hidup dan matinya. Dan kini dia memiliki kelebihan yang sangat tak terduga dan membuatku sangat bangga.


Namun, ada sedikit kesedihan, karena orang yang selama ini memberiku semangat, tidak berada disini, menyaksikan hasil dari perjuangan yang selama ini kami lakukan.


Aisya naik keatas panggung untuk menerima trophy dan medali. Namun, dia tak mau menerimanya, dia ingin aku yang menerima semua hadiah itu.


Aku pun diminta untuk segera naik ke atas panggung untuk menerima trophy dan medali. Benar-benar bangga dengan kerendahan sikap Aisya. Tak hentinya kuucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadaku. Air mata ini terus mengalir membasahi pipi dibalik niqob.


****


Setelah acara selesai, kami pulang. Karena hari sudah begitu larut.


Sesampai dirumah, kami pun segera menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.


Saat menuju ke kamar, aku heran pintu kamar agak terbuka sedikit. Perlahan kurain knop pintu dan membukanya.


Darahku berdesir, seluruh tubuhku gemetar, kakiku tiba-tiba saja lemas tak berdaya. Air mata jatuh tanpa kuminta, mulutku bungkam tanpa suara.


Tak kusangka, dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan orang yang sangat aku cintai memadu kasih di tempat yang semestinya hanya aku dan dia berada.


Wais telah melakukan hubungan diranjang tempat kami sering memadu kasih, dengan wanita lain.


Wais, lagi dan lagi telah menghancurkan harapanku, meluluh lantakan kehidupanku, membuat hatiku berkeping-keping.


Benar, nasib baik tak pernah berpihak padaku. Aku selalu dikhianati, aku terus disakiti.


Ya Allah... Hamba sudah tak sanggup lagi dengan ujian yang KAU berikan ini. Ambillah nyawa hamba segera, ya Allah.

__ADS_1


Aku pun melangkah, menjauhi kamar yang sudah ternodai itu. Langkah yang tak tentu arah. Kuraih kunci mobil dan membawanya melaju membelah malam yang penuh kehinaan.


__ADS_2