
Sekembalinya Bagas ke kontrakan dan resign nya aku dari pekerjaan, aku menjalani hari yang sangat melelahkan. Bagas seakan mengambil kesempatan dari janjinya kepada mamah di depan saudara-saudara ku. Dia bersikap baik terhadap semua, namun kepadaku dia sangat menekan.
"Yah, hari ini bayar kontrakan ya. Soalnya kemarin ibu kontrakan nagih."
"Lho, bunda kan masih punya uang hasil penjualan emas mamah. Pakai dulu gih uang nya."
"Atau pakai dulu uang pesangon yang di berikan Kak Vera."
"Kan Ayah kemarin gajihan. Bunda kan sudah berhenti kerja, jadi ayah semua yang harus tanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga."
"Uang itu punya ku. Jadi terserah aku dong mau ngasih atau gak. Ngasih banyak atau sedikit juga terserah aku" Bagas mulai emosi.
"Lagi pula uang kamu masih ada. Walau pun itu uang dari hasil kamu kerja, atau pun uang hasil penjualan emas mamah aku juga ada hak karna kau istriku. Dan jangan pernah membantah" dengus nya.
"Sejak dulu selalu membantah dan berani mengusir suami. Mau jadi istri durhaka?"
"Tapi uang penjualan emas punya mamah gak boleh di pakai. Uang Itu kan buat acara tahlilan mamah." sela ku.
"Lagi pula uang itu siang ini akan di ambil Bang Wira, bunda cuma bantu menjualkan aja."
"Halah,, sudah lah. Kalau gak ada uang nanti saja bayarnya" Bagas pun langsung pergi meninggal kan kontrakan.
Siangnya Bang Wira datang untuk mengambil uang itu.
"Assalamualaikum,, Din" salam bang Wira dari luar.
"Waalaikum salam" masuk Bang.
"Abang cuma mau ngambil uang penjualan emas mamah. Biar cepat kakakmu membeli bahan-bahan buat acara tahlilan mamah malam ini"
"Iya bang. Sebentar Dina ambilkan dulu uang nya." aku pun berlalu masuk ke kamar untuk mengambil uangnya.
"Ini bang. Hitung lagi uangnya" aku menyodorkan amplop coklat kepada bang Wira dan langsung ke dapur membuatkan teh untuk bang Wira.
Bang Wira pun langsung menghitung. Setelah di hitung, bang Wira bertanya
"Din, uang nya kok kurang? Gak sesuai dengan catatan nya"
"Hah,, yang benar bang?" aku tergopoh menghampirinya dengan membawa teh hangat.
"Coba kamu hitung juga" kata bang Wira.
Aku pun segera menghitungnya. Dan benar, uangnya kurang satu juta dari jumlah empat juta tiga ratus tiga puluh ribu. Dan aku yakin pasti Bagas yang mengambilnya.
"Kamu pakai ya Din? Harus nya kamu izin dulu sama kami kalau perlu uang. Jangan langsung pakai aja."
"Tapi bang..." belum sempat aku menjawab bang Wira, Bagas datang.
"Ada apa Bang? Saya dengar dari luar tadi seperti membahas uang yang kurang"
__ADS_1
"Ini uang penjualan emas mamah kurang satu juta. Dina gak bilang kalau mau pake"
"Ooo,, kemarin jual emas nya sama saya bang. Setelah itu langsung ke butik buat beli syar'i yang dia ingin kan."
"Kata Dina gak apa-apa di pakai satu juta. Padahal aku sudah mengingatkannya."
Aku pun melongo. Teganya Bagas memfitnah ku di depan bang Wira.
"Yah,, kok ayah..." belum sempat aku melanjutkan omongan ku, Bagas langsung memotongnya.
"Sudah lah bund. Ayah kan sudah bilang nanti ayah belikan juga. Tapi bunda tetap ngotot"
Kemudian Bagas ke kamar, dan kembali dengan membawa bungkusan yang berisi baju syar'i.
"Ini bang buktinya" Bagas menyodorkan kepada bang Wira.
"Ya Allah,, Dina. Demi baju ini kamu tega memakai uang almarhum mamah" bang Wira marah.
Pedih, hati ini serasa di iris-iris. Begitu tega Bagas terhadap ku. Tanpa di minta,, air mata ku meleleh membasahi pipi.
"Sudah lah bund, gak usah menangis. Ini memang salah bunda."
Bagas melingkarkan tangannya ke arah bahuku dan menarik tubuhku agar aku berada dalam pelukannya. Seolah dia ingin menenangkan diriku. Tetapi dengan tekanan yang kuat pada bahu dan lengan ku, seolah-olah aku harus mengakuinya semua.
"Oya bang, ini uang untuk mengganti yang telah di pakai Dina. Walau pun gak seberapa" Bagas memberikan uang merah tiga lembar pada bang Wira.
"Terlalu kamu Din." bang Wira pun langsung keluar dan pulang tanpa pamit dengan ku.
**
Sepulangnya bang Wira, aku pun langsung menuntut kejelasan Bagas.
"Ayah,,, kenapa ayah tega memfitnah bunda"
"Sudah, jangan ribut. Siapkan makan aku sangat laper" Bagas tak menggubris pertanyaan ku.
"Jawab dulu yah. Ayah yang mengambil uang nya tapi ayah menuduh bunda" tangisku pun makin menjadi.
Bagas pun menghampiri ku dan berusaha memelukku. Aku menghindar, tapi tangannya telah mencengkram kuat lengan ku.
"Masih sayang Galang atau tidak??" Bagas pun mengeluarkan kata Andalan nya. Aku pun hanya pasrah dan diam tergugu.
*****
Sebulan setelah aku resign dari butik kak Vera, butik itu pun tutup. Karna kak Vera sudah gak tinggal lagi di kota ini. Kak Vera pindah keluar kota demi karier nya. Sedangkan Merwais sudah kembali ke Dubai.
Saat aku sedang asyik bermain bersama Galang, tiba-tiba gawaiku berbunyi. Ibu mertuaku menelpon.
"Din,, besok ada acara pernikahan keluarga. Datang ya" kata ibu mertua.
__ADS_1
"Iya bu, tapi saya berangkatnya sama siapa? Sepeda motornya kan di bawa kerja ayahnya dede" sahutku.
( selanjutnya ada d part 1)
Setelah telpon di tutup, akupun bermain lagi bersama Galang. Galang anak yang lucu, pintar, dan tanggap. Dia mudah sekali berbaur dengan siapa saja. Begitu senangnya aku memiliki Galang yang cerdas.
******
Setelah kecelakaan itu, Bagas terus menyalakan ku. Apa saja yang aku kerjakan selalu salah di matanya. Dari mencuci, memasak, dan apapun itu selalu jadi alasan nya untuk menghinaku.
"Masakan apa ini, gak ada rasanya sama sekali"
Sup ayam yang ku hidangkan langsung di lemparnya ke arahku. Beruntung aku segera menghindar, walau air sup yang panas sempat mengenai sebagian lengan dan kaki ku. Padahal sup ayam itu rasanya sudah pas. Tapi ya itu tadi, Bagas sengaja mencari masalah.
Begitu pun saat ku mencuci pakaian atau pun sedang beberes rumah.
"Bund,, ini baju masih gak bersih dan gak wangi, apa lagi rapi. Dasar istri jorok".
Tanpa dia sadari, untuk beli sabun cuci pun aku harus ngutang dulu di warung.
" bund,, ini kok rumah kayak kandang kambing aja. Gak pernah ya di sapu dan di pel? Dan juga ada lendir apa ini di lantai."
Dia gak tau kalau memiliki Galang yang masih balita. Dan Galang punya teman yang seusianya sering main ke rumah. Lagian lendir yang Bagas injak itukan karna ulah nya sendiri.
Bagas selalu sembaranga kalau membuang ingus atau ludah nya.
Itu lah Bagas selalu saja aku salah di depan matanya.
Pernah suatu hari, dia meminta Galang untuk belajar. Padahal Galang belum bersekolah. Tapi lagi-lagi Bagas memaksa Galang untuk belajar. Katanya biar pintar pas masuk sekolah. Tapi Galang enggan menuruti kata ayahnya. Bagas terus memaksa. Sampai akhirnya Bagas memukul Galang dengan sebuah ranting yang lumayan besar.
Aku berusaha untuk melindungi Galang. Tapi apa daya aku pun ikut terpukul oleh nya. Aku menangis saat melihat tubuh mungil Galang yang memar. Tubuh mungil seorang anak yg berusia empat setengah tahun. Tubuh seorang anak yang tak berdaya, Kedua telinganya bengkak dan mengeluarkan darah.
Seandainya tubuh Galang tak mengeluarkan darah, mungkin Bagas akan terus memukulnya.
Aku pun segera memeluk Galang dengan air mata berderai. Lukanya langsung ku bersihkan. Saat aku ingin mengambil gawai ku dan ingin menyimpan bukti ini, gawai itu sudah berada d tangan Bagas.
Apakah tetangga mendengar jeritan dan tangisan Galang? Atau mereka memang gak mau ambil pusing dengan ikut campur dalam rumah tangga orang? Entah lah,, akupun tak tau.
Setelah kejadian itu, Bagas meminta beberapa hari ijin untuk tidak bekerja. Aku dan Galangpun tidak boleh ke mana-mana. Kami di kurung di dalam rumah sampai luka dan bekas yang ada di tubuh Galang hilang.
*******
Sebulan sudah berlalu dari kejadian itu. Alhamdulillah,,, Galang masih seceria dulu. Tak ku temui tanda-tanda trauma pada diri Galang. Dan luka itu pun sudah hilang walau meninggalkan sedikit bekas. Selama sebulan itu jua aku tidak memegang gawai.
Hari itu aku merasa tidak enak badan. Kepala yang sangat pusing, dan perut yang selalu mual. Itu lah tanda-tanda penyakit maag kronisku yang sering kambuh. Aku baru sadar ternyata sudah dua hari ini aku makan tidak teratur. Segera aku meminum obat dan beristirahat.
Sorenya aku meminta Bagas untuk mengantar ku berobat ke dokter praktek. Lumayan banyak pasien yang menunggu antrian. Hingga sampailah tibanya giliranku untuk masuk. Dokter itu sangat ramah. Dia mempersilahkan kami masuk.
Dokter pun bertanya apa saja keluhan ku. Akupun menjelaskan secara rinci. Dari aku makan yang tidak teratur sampai gejala itu datang. Dokter pun akhirnya memeriksa ku. Kemudian dia tersenyum manis.
__ADS_1
Ternyata......
BERSAMBUNG.