Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 30 kenyataan yang menyakitkan


__ADS_3

Aku yang Selalu Salah di Matamu


#AYSSDM


Saat sadar, aku sudah berada dalam kamar. Terlihat anak-anak menunggu dengan sangat cemas. Ada Kabiir di samping anak-anak dan juga Dokter keluarga.


Saat itu Kabiir sedang berbicara dengan Dokter, terlihat dia hanya manggut-manggut. Selanjutnya Dokter pun pamit dan berlalu.


Sangat terlihat jelas di wajah Aisya kesedihan dan kecemasan. Ada air mengambang diujung netranya yang siap meluncur.


"Bunda baik-baik saja?" Aisya berbicara padaku dengan memakai bahasa isyarat.


Aku hanya menganggukan kepala.


"Bunda jangan sedih terus, nanti Bunda sakit." Aisya terus berinteraksi padaku.


Mengapa Aisya mengerti apa yang kurasakan. Padahal dia bukan darah dagingku. Aku hanya diam, dan memintanya untuk segera memelukku.


Aisya menghampiri dan memelukku dengan air mata berderai. Begitu pun Galang dan Gilang, mereka semua memelukku dengan segenap jiwa. Sangat beruntung aku memiliki anak-anak yang juga tangguh seperti mereka.


"Bundanya akan baik-baik saja, kok." Kabiir mencairkan suasana.


"Bunda harus banyak-banyak istirahat, agar cepat sehat." lanjut Kabiir.


"Sust Ina, tolong antar anak-anak ke kamar mereka masing-masing." perintah Kabiir.


Sebelum anak-anak kembali ke kamarnya, mereka mencium pipi dan punggung tanganku. Begitu bangganya memiliki anak-anak seperti mereka.


Tidak terkecuali Aleda, Aleda ikut memanggilku Bunda. Karena dia tak mendapatkan banyak kasih sayang dari Alicia.


Si sulung Galang, usia 15 tahun, tumbuh dengan sangat gagahnya. Dia menjadi seorang tahfidz dan Qori terbaik. Selain itu, dia menjadi kapten dalam tim Basketnya.


Begitu pun Gilang, 10 tahun, tak kalah ganteng sama seperti Abangnya. Selain tahfidz dan Qori terbaik, dia juga menjadi kipper dalam tim sepak bolanya.


Sedangkan Aisya, 8 tahun, kalem dan cantik menawan dengan hijab syar'i yang selalu dia pakai. Walaupun Aisya bisu dan tuli, namun Aisya mempunyai bakat yang luar biasa. Lukisannya selalu mendapat predikat terbaik dalam setiap mengikuti event disekolah mau pun di luar sekolah.


Aleda, 12 tahun, gadis yang cantik dan smart. Selain tahfidz dan Qori'ah terbaik, dia juga seorang pianist.


"Dina, tolong ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tiba-tiba Kabiir membuyarkan lamunanku.


"Maaf, Kabiir, aku ingin beristirahat. Keluarlah kau dari kamar ini." aku mengusirnya dengan halus.


"But.."


"Please..." aku menangkupkan kedua tanganku di dada.


"Baiklah." dia pun beranjak keluar.


Sepeninggalan mereka, aku hanya tergugu menangis. Mengingat apa yang kulihat saat itu. Perlahan aku turun dari ranjang, dan mengunci pintu kamar, agar tak ada seorang pun yang menggangguku.


Semakin kuingat, semakin sesak dada ini. Aku terus berteriak dan memecahkan semua apa yang ada dikamar.

__ADS_1


Setelah puas, aku bersimpuh di samping ranjang tempat aku memadu kasih bersama Wais. Tempat aku, bercanda, bercerita dan juga menangis.


"Abi, kenapa kau tega sekali mengkhianatiku?" lirih ku bergumam.


Karena lelah, aku pun tertidur di lantai samping ranjang.


***


Menjelang sore, pintu kamar diketuk. Namun tak kuhiraukan. Ketukan itu semakin lama semakin keras dan terbuka dengan paksa.


Kabiir masuk bersama dua pelayan rumah. Mereka terkejut melihat kamarku berantakan. Kabiir segera menghampiri dan ingin memelukku.


"Menjauh Kabiir, dan jangan pernah mendekatiku lagi."


"Apa maksudmu, Dina? Tolong jelaskan padaku." Kabiir terkejut dan ingin meminta penjelasanku, apa maksud dari semua ini.


"Baik, aku akan menjelaskan semuanya." ucapku.


"Tolong, kau suruh para pelayan itu keluar."


Aku meminta dua pelayan itu untuk keluar dari kamarku, karna aku ingin berbicara.


Saat itu aku melihat Aisya berdiri didepan pintu dan memandang ke dalam kamar. Terlihat jelas air mata itu mengalir ke pipinya dan dia pun akhirnya berlalu.


Hanya ada aku dan Kabiir dalam ruangan itu.


"Kenapa kau hancurkan aku, Kabiir?" aku mulai menangis.


"What do you mean, Dina?" tanya Kabiir kebingungan.


"But, its true. I love you." Kabiir memegang kedua bahuku.


"But, lm not love you, Kabiir." dengusku kesal.


"You know, see.." aku melempar semua foto yang diberikan Merwais padaku.


Kabiir terkejut melihat semua foto itu dan mengambil salah satu gambar aku dengannya.


"Please, let me be happy with Wais." aku bersimpuh dihadapan Kabiir dan memohon padanya.


"Dina, l know, you are really love him. Im sorry." Kabiir pun terduduk di sampingku.


"You know, Dina, why l love you?" lanjut Kabiir.


"Coz.." Kabiir menggantungkan kalimatnya.


"Karena apa, Kabiir?" tanyaku.


"Karena aku sudah tak pernah lagi mencintai Alicia."


"Its wrong, you are wrong, Kabiir."

__ADS_1


"Apa alasanmu tidak mencintainya lagi?"


"Disappointed. Aku sangat kecewa padanya karena Alicia berbohong padaku."


Aku hanya mengerutkan keningku.


"Lalu?" tanyaku.


"Awalnya, aku sangat mencintai Alicia. Tapi setelah aku tahu, semua cinta itu musnah."


Kabiir pun menceritakan awal keretakan dalam rumah tangganya.


"Apa yang kau ketahui tentangnya?" kejarku.


"Sebenarnya..."


"Sebenarnya apa?" kejarku terus.


"Sebenarnya, yang dicintai Alicia adalah Merwais, bukan diriku." Kabir tertunduk.


Terkejut,, aku benar-benar terkejut. Itukah sebabnya Alicia selalu cuek dan sentimen padaku. Tangisku pun terhenti mendengar penjelasan Kabiir.


"Apakah kau mengetahui ini setelah memiliki Aleda?" tanyaku lagi.


"Tidak. Aleda bukan anakku, tapi anak Wais."


Tak ada angin, tak ada hujan, petir itu terasa menghanguskan hidupku. Badai yang hampir reda, kini semakin kencang menerpa. Kurasakan tubuh bergetar dan air mata tak terbendung lagi. Pecah, remuk sudah hatiku.


"Kenapa kau yakin itu anak Wais?" kucoba menepis prasangka buruk tentang Wais.


"Malam itu, aku sedang memergoki mereka sedang bercumbu dikamarku. Saat itu Wais dalam keadaan mabuk berat. Aku tahu, bukan Wais yang salah, tapi Alicia yang selalu mengejar Wais. Wais tak pernah menyukai Alicia."


"Sejak saat itu, aku tak pernah berhubungan badan dengannya."Padahal saat itu kami baru tiga bulan menikah."


"Dua bulan kemudian, Alicia hamil dan mengatakan itu pada Wais, namun Wais menyangkal kalau itu anaknya. Alicia terus merengek agar Wais mau menikahinya. Wais tetap tidak terima dan mengancam Alicia akan mengusirnya dari rumah ini."


"Akhirnya, Alicia mengalah. Dan mengatakan bahwa anak yang di kandungnya adalah anakku."


"Saat Aleda lahir, aku mengambil sampel darah Wais untuk diuji dengan darah Aleda. Ternyata benar Aleda anak Wais. Sejak saat itu, aku tak peduli lagi dangan Alicia."


Aku diam dalam pikiran yang tak menentu. Aku tak tahu keputusan apa yang harus kuambil. Kenyataan ini telah menghancurkan semua.


"Jadi, kau mencintaiku hanya karena balas dendam pada Wais." tanyaku kemudian.


"No, Dina. Its true. Im really love you. This love is fact."


"But, sorry, Kabiir. Love me just for Wais. I love him til the last breath."


"Ya, l know, Dina."


"Baiklah, aku akan menjelaskan semua kepada Wais. Agar perselisihan ini terselesaikan."

__ADS_1


"Maaf, Dina, aku telah berani mencintaimu. Dan maaf juga aku telah mengganggumu."


Kabiir pun pergi meninggalkanku sendiri. Merenungi nasib dan memikirkan langkah apa selanjutnya yang harus kuambil.


__ADS_2