
POV.Merwais
Namaku Merwais Ahmed Khan. Usiaku empat puluh dua tahun. Aku masih perjaka. Yeah,, kata orang sih perjaka tua, hahaha...tapi aku tak perduli. Aku seorang warga keturunan. Abiku dari Pakistan, sedangkan Ummiku berasal dari Indonsia.
Walaupun yang mengalir di darahku dominan darah Pakistan, tapi aku mencintai Indonesia. Pun dengan warganya, termasuk Dina.
Aku kenal dengan Dina, melalui perantara Vera. Usia aku dan Vera tidak jauh beda. Hanya satu tahun usianya di atas usiaku. Aku ikut memanggilnya Kakak, karna ikut terbawa suasana karyawan di Butik Vera.
Aku bisa berbahasa Indonesia karna Ummi selalu mengajarkannya kepada kami, Aku dan Adikku, Kabiir.
Aku lahir dan besar di pakistan, kota Queeta.
Hampir tiap tahun kami ke Indonesia, karena Ummi ingin mengenalkan Kebudayaan Indonesia dan warga Indonesia yang sangat ramah.
Jangan dikira aku tidak pernah mengenal wanita. Saat usiaku dua puluh tahun, aku di jodohkan dengan seorang gadis pakistan yang bernama Raziia. Seorang gadis yang berusia tujuh belas tahun yang sangat cantik. Aku menerimanya sebagai calon istriku.
Tapi, ternyata jodoh tak mempersatukan kami. Sehari sebelum hari pernikahan, Raziia mengalami kecelakaan. Tidak sendiri, tapi bersamaku.
Saat itu, aku menemaninya pergi ke sekolah dengan motor kesayanganku, untuk melihat hasil kelulusan. Raziia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Dia senang, dan mengajakku untuk jalan-jalan ke Taman Bunga.
Saat di jalan itulah, sebuah truk yang hilang kendali karena rem nya blong, menabrak kami.
Aku terpental, sedangkan Raziia ikut terseret truk itu beberapa meter.
Aku histeris dan segera menghampirinya. Tak ku hiraukan sakit yang ada di tubuhku. Ku genggam erat tangannya. Satu kata terakhir yang di ucapkan Raziia "I Love You". Raziia pun meninggal di pangkuanku.
*****
Selepas kepergian Raziia, Abi mengajakku ke Dubai. Abi tidak ingin melihatku terus terpuruk dalam kesedihan.
Abi membuka cabang bisnisnya di Dubai. Ia memintaku untuk mengelola bisnis itu. Di bawah kepemimpinanku, bisnis itu pun berkembang dan maju pesat. Akupun akhirnya mengikuti nasehat Abi, agar membuka cabang di berbagai daerah dan Luar Negeri. Salah satunya di India, Turki dan Itali.
Di Dubai, aku kembali terpesona dengan seoran gadis cantik dan cerdas. Namanya Ayesha. Dia memiliki badan yang tinggi, kulit putih bersih, hidung mancung, mata yang bening dan bibi yang tipis.
Saat itu aku berusia dua puluh tujuh tahun. Aku menjalin hubungan dengan Ayesha selama dua tahun. Kemudian aku melamarnya.
Selama menjalin hubungan dengan Ayesha, aku tidak tahu sesuatu yang di sembunyikan nya. Aku tak menyangka, di balik keceriannya selama ini, Ayesha menyimpan sendiri penderitaannya.
Tiga hari sebelum pernikahanku dengannya, Ayesha di kabarkan masuk Rumah Sakit oleh keluarganya.
Seketika itu juga aku menemuinya. Sesampainya di bilik itu, aku sangat terkejut apa yang telah ku lihat. Ayesha dengan wajah pucat telah terbaring lemah dengn di penuhi peralatan medis di tubuhnya. Itulah, kenapa selama ini aku tak pernah melihat Ayesha melepas hijabnya. Ternyata rambut indah itu telah terlepas dari kulit kepalanya.
Dokter mengatakan bahwa umur Ayesha tidak lama lagi. Karena penyakit itu telah menggrogoti seluruh tubuhnya. Leukimia stadium akhir.
Mendengar penjelasan Dokter, seakan duniaku telah runtuh. Hancur berkeping-keping. Di masa-masa akhir hidupnya, aku tidak sempat merawat dengan baik orang yang sangat ku cintai. Tepat di hari pernikahan kami, Ayesha pun meninggalkan ku untuk selama-lamanya.
*****
Dua kali kebahagiaan ku hancur. Dunia ku gelap. Dan aku pun bertekad untuk tidak mengenal cinta lagi. Sampai tiba saatnya waktu itu, cinta hadir tanpa ku undang. Walau usiaku kini sudah berkepala empat.
__ADS_1
Dina, dia lah yang telah mencuri hatiku.
Sebenarnya, aku tak kenal dia, bagaimana rupanya, dan apapun tentang dia.
Tapi, semenjak Vera menceritakan siap Dina, ada degupan lembut di jantungku.
Awalnya, Vera hanya sekedar iseng menceritakan semua tentang karyawannya. Sampai pada seorang yang bernama Dina. Vera selalu menceritakan tentang Dina. Bagaimana sabar dan kuatnya Dina dalam menghadapi tingkah suami nya yang menurutku tidak pantas di panggil suami.
Sampai akhirnya, ku putuskan untuk ke Indonesia. Ingin mengetahui seperti apa seorang yang bernama Dina. Kebetulan saat itu, ku dengar kabar dari Vera bahwa Dina telah melahirkan.
Di Indonesia, aku tinggal bersama Paman dan Bibi, ayah dan ibu nya Vera. Dan aku pun ikut membantu Vera di butik nya. Sengaja, karna aku penasaran seperti apa seorang yang bernama Dina itu.
Tapi, Vera mengatakan Dina sdh tidak bekerja lagi di Butiknya. Dan akupun tidak kehilangan akal. Ku cari semua tentang Dina. Sampai ku temukan sebuah akun di efbi, Dina Larasati. Aku tidak memasukannya dalam list pertemananku. Tapi aku terus memantaunya.
Aku kembali ke Dubai, karena pekerjaanku sangat banyak. Sebelum berangkat, aku berpesan pada Vera, kalau Dina kembali bekerja, harus segera menghubungiku. Vera pun menyetujuinya.
Setelah delapan bulan, Vera menghubungiku. Katanya Dina akan kembali bekerja. Segera aku meluncur ke Indonesia, dan seluruh pekerjaan ku serahkan kepada Adikku, Kabiir.
********
Dina seorang yang ramah, supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Tapi, di balik keceriaannya, ku lihat tersimpan duka yang dalam.
Aku tahu, aku salah. Telah mencintai seseorang yang telah memiliki suami. Tapi rasa ini, ingin selalu melindungi nya. Hampir tiap hari, selalu ada air mata di sudut matanya. Tapi aku berpura-pura untuk tidak mengetahui apa yang terjadi.
Kadang, di saat ada waktu luang, tanpa sengaja Dina curhat padaku. Tak terasa kami sangat begitu dekat. Dan suatu hari Dina berkata
"Aku ingin kamu mau jadi sahabat sekaligus abang angkat untuk diriku, Merwais."
****
Empat tahun sudah aku bolak balik Dubai- Indonesia. Pertemuan dan rasa ini telah memberi semangat lagi dalam hidupku. Sehingga ada rasa takut untuk kehilangannya.
Semangat ini terus memberiku warna. Sehingga pencapaian kerjaku semakin sukses.
Abi yang melihat semangatku yang telah kembali, begitu bahagia.
Dina... Dia lah wanita yang telah memberi semangat dalam hidupku. Dan akupun ingin memberikan kebahagiaan untuk dirinya. Walaupun dia tak mengetahui, aku sangat mencintainya. Aku cukup puas dengan status ku sebagai seorang sahabat sekaligus Kakak untuknya.
*******
Saat itu, aku dapat kabar bahwa Mamahnya Dina meninggal dunia. Dan tak berapa lama, Dina pun resign dari Butik nya Vera.
Ada rasa hilang dalam hati ini. Setelah sebulan, aku pun kembali ke Dubai. Dan Butik Vera pun di tutup, Karena Vera sudah pindah keluar kota.
Tak ada kontak antara Aku dan Dina. Dan akupun memantaunya hanya melalui akun sosmednya. Aku takut akan menghancurkan rumah tangganya.
****
Tiga bulan telah berlalu. Akupun memberanikan diri untuk menghubunginya. Berharap dia baik-baik saja.
__ADS_1
Ternyata, kabar yang ku terima sangat mengejutkan. Dina hamil lagi. Ada rasa kecewa, bahagia dan juga kasihan.
Aku kecewa, karena aku ingin memiliki anak bersamanya. Aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan memiliki keponakan baru. Dan aku kasihan, karena akankah suami nya bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.
Akupun akhirnya mengungkap kan rasa cintaku padanya. Tak ada balasan pesan darinya. Sampai akhirnya sebuah balasan masuk ke aplikasi hijauku. Ternyata itu dari suaminya.
Akupun menjelasakan secara detail siapa aku dan hubunganku dengan Dina. Berharap Bagas mengerti dan percaya.
"Bagas, kamu harus tahu bahwa sebenarnya aku tak memiliki hubungan apapun dengan Dina. Dina hanya menganggapku sebagai Kakaknya."
"Dan kamu harus tahu, Dina sangat mencintaimu. Kamu sangat beruntung bisa memilikinya."
"Aku memang sangat mencintainya, tapi Dia tidak sedikitpun mencintaiku. Dia terus bertahan mempertahankan rumah tangganya, walau kau begitu kejam padanya."
"Ku mohon, jangan terus menyakitinya. Atau lepaskan lah Dia untuk hidup berbahagia bersamaku."
"Sekali lagi ku katakan, jangan pernah lagi menyakitinya. Atau kau akan menyesal seumur hidupmu setelah kehilangannya."
Tak ada balasan dari suami Dina.
*****
Beberapa hari kemudian, ada notifikasi dari inbox di efbi. Seseorang ingin terhubung denganku. Dia adalah adiknya Dina, Isha.
Akupun segera memberikan balasan. Tak berapa lama Isha meminta untuk menghubungi nomor yang dia berikan. Akupun segera menghubunginya.
Aku pun akhirnya mendengar suara merdu Dina. Betapa aku sangat merindukannya. Yang lebih membuatku terkejut adalah Dina menerima lamaranku. Dan dia ingin aku mengurus surat percerainya. Akupun menyanggupi.
Tak terasa sudah tiga bulan gugatan cerai belum Dina layangkan. Mungkin Dina terlalu bahagia bersama Galang tanpa kehadiran Bagas. Karena dia tak pernah pulang lagi ke kontrakan mereka.
Akupun meminta bantuan kepada Ayahnya Vera untuk mencarikan ku sebuah rumah.
Rumah yang sangat indah lengkap dengan perabotan nya, berada di kawasan elite yang sangat terjaga dan aman.
Rumah itu akan ku hadiahkan kepada Dina, agar mereka tidak lagi tinggal di rumah kontrakan itu. Aku hanya ingin menjaga keamanan Dina.
Tak berapa lama Dina mengabarkan akan menghadapi sidang cerai perdananya. Akupun mengatakan akan mendampinginya.
Di hari persidangan, ternyata Bagas tak berubah. Dia terus menyakiti Dina, dan ku putuskan akan membayar pengacara untuk membatu Dina.
Tapi, di perjalanan menuju pulang, hal yang tak di ingin kan terjadi. Mobil yang ku kemudi oleng dan menabrak pembatas jalan. Aku takut hal buruk terjadi pada Dina. Ternyata benar, dia pendarahan.
Segera ku laju mobil ke arah Rumah Sakit.
Dina harus di Operasi. Karena bayi yang ada d dalam kandungannya harus segera di keluarkan. Walau sebenarnya belum waktunya Dina melahirkan.
Aku meminta izin, ingin terus mendampingi Dina di ruang operasi. Setelah bayinya lahir, aku segera meng-adzan kan nya. Kemudian bayi itu di perlihatkan kepada Dina. Ada senyum bahagia di wajah Dina saat melihat bayi mungilnya.
Air mata mengalir di pipi ini, saat telihat jelas senyum yang begitu manis di bibir Dina dengan wajah yang masih begitu pucat dan mata yang sudah tertutup rapat.
__ADS_1
_________________________________