Aku Yang Selalu Salah Di Matamu

Aku Yang Selalu Salah Di Matamu
part 16 Amnesia


__ADS_3

"Assalamualaikum... Abi." ucap bocah itu.


"Waalaikum salam... anak Abi yang ganteng."


"Jadi gak Abi kita jalan-jalan hari ini?" tanya bocah itu lagi.


"Mas Galang nya udah siap atau belum?"


"Ucap salam dulu gih sama Bunda." kata laki-laki itu sambil menunjuk kearah ku.


aku terkejut.


Aku Bunda bocah kecil itu? Kapan aku melahirkan? Kapan aku punya suami?


berbagai pertanyaaan berkecamuk dalam pikiranku.


"Assalamualaikum... Bunda." salam Bocah itu sambil mencium tanganku.


Aku hanya terpaku, dan hanya bisa menjawab salam nya.


"Waalaikum salam...ganteng."


"Bunda ikutkan sama kita jalan-jalan hari ini?" tanya bocah itu.


Aku hanya bisa tersenyum. Karna aku tak tahu apa yang harus aku jawab.


Tak berapa lama, datang lah seorang anak yang berusia sekitar enam tahun.


"Assalamualaikum... Abi. Assalamualaikum... Bunda." anak itu memberi salam dan mencium tanganku dan tangan laki-laki itu.


Kebingungan ku semakin bertambah. Siapa lagi anak ini. Kenapa mereka berdua memanggilku Bunda, dan memanggil laki-laki itu dengan sebutan Abi. Apakah aku istri dari laki-laki itu? kapan aku menikah dengannya.


Semakin ku mencoba mengingat semua, semakin kepalaku berdenyut sangat kuat, aku tak bisa menahan sakit ini. Perlahan pandanganku buram dan gelap.


***


"Dina, bangun."


Suara itu lagi yang ada di telinga dan pikiranku. Aku merasa sangat kenal dekat dengan suara itu, tapi aku tak tahu di mana.


Perlahan ku buka mataku. Aku kembali berada di ruangan itu. Ku lihat, laki-laki itu selalu berada di samping ku.


"Bu Dina, jangan terlalu banyak berpikir ya! kondisi Ibu masih sangat lemah." kata seorang Dokter yang berada di ruangan tersebut.


"Dok, saya ingin bertanya. Siapa saya sebenarnya, Dok?"


"Kami akan mengembalikan ingatan Ibu, tapi harus bersabar."


"Yang terpenting, kesehatan dan tubuh Ibu harus segera pulih, baru kami akan membantu mengingatkan kembali memory anda."


Aku hanya bisa mengangguk, menuruti nasehat Dokter. Karna aku juga ingin tahu identitas ku yang sebenarnya.


"Maaf, boleh saya bertanya, Dok!"


"Iya, Bu, silahkan." kata Dokter itu.


"Saya sekarang berada di mana? dan siapa Mereka, Dok?" tanya ku lagi.


"Ini adalah Tuan Merwais." Dokter itu memperkenalkan laki-laki tersebut.


Aku merasa nama itu rasa tak asing di telingaku. Tapi, aku tak mampu untuk mengingatnya. Setiap ku mencoba mengingat sesuatu, kepalaku sangat sakit dan telinga ini berdengung hebat.


"Dan anda berada di rumah Tuan Merwais."


Akupun terkejut. Apakah benar, aku ini Istrinya?


"Tuan lah yang selalu merawat anda selama ini?"


"Jadi, Dia suami saya, Dok?"


Dokter itu hanya diam. dan kemudian segera pamit.


"Dok, jawab dulu pertanyaan saya!"


"Maaf, Bu, kalau masalah ingatan Ibu, kita harus perlahan-lahan dulu menjelaskan nya."


Aku pun hanya pasrah. Mungkin memang benar mereka adalah suami dan anak-anak ku.


***

__ADS_1


Hari-hari ku lalui dengan kasih dan sayang dari keluarga Pak Merwais. Mereka sangat memperhatikanku, menjaga ku dan selalu menghiburku.


Dan aku merasa yakin, bahwa aku adalah Istri dan juga Bunda dari anak-anak itu. kalau memang aku bukan Istrinya, lalu kenapa Pak Merwais sangat menjagaku.


Dari hari ke hari, kondisi tubuhku semakin membaik. Hanya saja, dari pinggul ke bawah masih belum bisa di gerakan. Kata Dokter, perlu perawatan khusus dan waktu yang lumayan lama untuk ku kembali ke keadaan normal.


Sampai suatu hari, aku pun menanyakan sesuatu kepada Pak Merwais.


"Maaf, Tuan. sebenarnya tuan ini siapa? kenapa begitu peduli dengan keadaan saya? Apakah tuan suami saya?"


Dia hanya diam dan terus memandangku dengan lembut. Ada cinta yang sangat dalam di matanya.


Dia terus menggenggam tanganku dan menghembuskan nafas nya dengan lembut.


"Dina, suatu saat kau akan mengetahui semuanya."


"Aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu banyak berpikir."


Dia pun mengangkatku dari kursi roda, dan meletakanku di atas pembaringan.


"Istirahatlah, besok kita jalan-jalan ketaman bersama anak-anak." Dia pun mengecup keningku.


Setelah itu dia, Merwais, melangkah pergi meninggalkan kamarku. Sebelum dia beranjak pergi, segera ku raih tangannya, dan bertanya


"Abi, kenapa abi tidak tidur bersamaku. bukan kah aku istrimu?"


"Din, Istirahatlah. Suatu saat, aku akan memberitahu mu segalanya."


Dia pun segera menutup kamarku dan berlalu. aku hanya menghela nafas panjang. Ada rahasia apa di balik semua ini.


****


"Dasar, istri durhaka. berani-berani nya kamu selingkuh di belakangku."


buukk, buukk, bukk... Pria itu terus memukul tubuhku. Aku menjerit kesakitan. Tapi, pria itu tak peduli. Dia terus memukul tubuhku yang tak berdaya. Aku pun berteriak dan terus berteriak dengan tangis yang tersedu.


”Din, bagun! kenapa kamu berteriak? kamu mimpi buruk?"


Seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku pun tersentak dan membuka mataku.


"Mana laki-laki itu?" tanyaku.


Dengan nafas yang ngos-ngosan dan peluh yang terus mambanjiri tubuhku.


"Laki-laki itu terus memukulku dan mengatakan aku istri yang durhaka."


Merwais mengusap kasar wajahnya.


"Ya Allah... dalam mimpi pun dia tetap mengejarmu."


"Siapa? Siapa laki-laki itu Abi?" tanyaku dengan cemas.


Merwais mengambilkan air di atas nakas dan memberikan nya kepadaku.


"Minum dulu, Din, agar kamu tenang."


Di sodorkan nya segelas air kepada ku. dan aku pun segera meminumnya. Ada rasa lega setelah meminum air itu.


Segera ku peluk erat tubuh Merwais, mengharapkan ketenangan darinya. Dia pun membelai lembut rambutku.


"Abi, ceritakan lah, siapa sebenarnya diriku? siapa Abi dan siapa pula laki-laki itu?"


Akupun menyandarkan kepalaku di dadanya. ada ketenangan di sana. dan aku tak ingin lepas dari pelukan orang yang tulus mencintaiku.


*****


Pagi yang sangat cerah. Aku segera terbangun, karena sinar mentari menerobos masuk dan mengganggu tidurku.


Ku lihat Merwais tertidur di sofa kamarku. ternyata dia terus menjagaku sepanjang malam ini. Akupun mengambil selimut, dan ingin menutup tubuhnya dengan selimut di tangan ku. Tapi...


Bruukkk...


Aku terjatuh ke lantai. Aku lupa, kaki ku masih lumpuh dan tak bisa di gerakan. Merwais terbangun karena mendengar suara jatuhku.


"Astagfirullah... kenapa bisa jatuh, Dina? Kenapa tidak membangunkan ku dulu, biar kamu gak jatuh." tanyanya penuh khawatir.


"Aku hanya ingin menutup tubuh Abi dengan selimut ini." kataku sambil menunjukan selimut yang ku pegang.


Merwais pun menggenggam erat tanganku, dan menatap ku lembut penuh dengan cinta.

__ADS_1


Ada degupan lembut di dadaku saat matanya terus menatapku.


"Aku yakin dia adalah suamiku, karna rasa ini terus membuatku bahagia." gumamku dalam hati.


****


"Assalamualikum... Abi, Bunda." tiba-tiba dua bocah ganteng masuk ke dalam kamarku.


"Waalaikum salam..." kami menyahutnya berbarengan.


"Ayo lah, Bunda, siap-siap dong. kita jalan-jalan ke taman. ya kan, Bi!" kata bocah yang agak besar.


"tempo hari kan, kita batal jalan-jalan nya."


Galang, bocah yang agak besar. dan Gilang, bocah kecil nan lucu. mereka selalu terlihat ceria. Mereka selalu di temani suster Ina. Suster Ina bekerja saat Gilang masih bayi.


Gilang, sangat manja kepada Abinya. sedangkan Galang, sudah sangat mandiri walaupun usia nya masih enam tahun.


Aku sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat penyayang. walau dalam hatiku, aku masih belum tahu keadaan yang sebenarnya.


Jam sedang menunjukan pukul sembilan pagi. kami pun segera berangkat ke taman.


Merwais mendorong kursi rodaku menuju sebuah mobil. Sedangkan Gilang, di gendong sama sust Ina.


Baru sekarang aku bisa keluar dari rumah dan melihat suasana sekitar rumah. Dan baru ku sadari juga, aku tinggal di rumah yang indah di kawasan elite.


Di dalam perjalanan menuju taman, kami bercanda, bernyanyi dan bergembira. sesekali di selingi tebak-tebakan. Aku merasa sempurna memiliki dua jagoan cerdas dan suami yang penyayang. Tapi, benar kah aku istrinya Merwais? pertanyaan itu terus bergelayut di otakku.


Setiba nya di taman, aku terpukau. Aku merasa pernah ke taman itu sebelumnya, tapi kapan aku pun tak tahu.


Aku dan Merwais duduk di bawah pohon yang rindang dan sejuk, beralaskan kain warna merah jambu motif bunga dan love. Di depan kami sudah tersedia soft drink dan cemilan. Sedangkan Galang dan Gilang terus bermain kejar-kejaran bersama sust Ina.


Di bawah pohon ini, perlahan ingin ku tanyakan tentang diriku yang sebenarnya.


"Abi, tolong, beritahu aku siapa sebenarnya diriku?"


"Aku hanya bingung dengan mimpi itu, Abi.


siapa sebenarnya laki-laki itu?" tanyaku.


Merwais hanya menghembuskan nafasnya.


"Dina, yang aku khawatirkan kamu akan terluka apabila mendengar tentang masa lalumu."


" Apa yang sebenarnya terjadi, Abi? tolong, katakan lah."


"Baiklah, akan ku katakan."


"Tapi, berjanjilah kamu tida akan marah padaku."


"Ya, aku janji."


Merwais menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan nya perlahan.


"Din, sebenarnya aku..."


Belum habis Merwais berucap, tiba-tiba seorang pria datang kemudian memukul wajahnya. Aku shock. aku tak bisa berbuat apa-apa. aku hanya bisa bengong.


buukk,, bbuukk,, buukk..


"kurang ajar, ternyata kau membawa kabur istriku." pria itu terus memukul Merwais.


Pria itu kemudian beralih ke arah ku.


plaakk,, plaakk..


"Dasar istri durhaka, berani-berani nya kamu kabur dari ku dan berselingkuh dengan pria India itu. Tidak akan ku ampuni kau."


Tangan pria itu mendarat ke pipiku. aku tak sempat mengelak. Hanya perih yang ku rasakan.


Melihat pria itu memukulku, amarah Merwais membuncah. Dia segera menerjang tubuh pria itu dan langsung memukulnya. perkelahian pun tak bisa di elak kan.


Tak berapa lama, datang beberapa anggota security, untuk melerai.


Aku tak tahu lagi apa selanjutnya yang terjadi. Yang ku rasakan hanya tubuhku ringan dan kemudian gelap.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


______________________


__ADS_2