
Aku yang Selalu Salah di Matamu
#AYSSDM
Sayup-sayup kudengar adzan subuh berkumandang. Aku segera bangun dan bersiap ingin membersih diri. Tidak lupa, terlebih dulu kubangunkan suami tercinta.
"Bi, bangun. Sudah waktunya sholat." bisikku manja di telinganya.
Wais tetap bergeming.
"Abi, ayo bangun." dengan sedikit ku goyangkan tubuhnya dan terus berbisik manja di telinganya.
Melihatnya tetap bergeming, timbul keisengan di otakku. Akan kumasukan rambut panjangku ke dalam telinganya.
Sebelum ke usilanku terlaksana, aku terus menatap wajah tampan suamiku. Hidung yang mancung, bibir yang seksi, kulit yang bersih, pokoknya kesempurnaan yang terlihat dimataku hanya ada pada dirinya.
Kucium keningnya, matanya dan juga pipinya. Tak ada reaksi dari Wais. Aku pun memulai keisenganku, ku ambil sedikit rambutku, kemudian perlahan kumasukan ujung rambut ke telinganya.
Berhasil, tapi hanya sebentar. Waispun tertidur kembali. Ku tempelkan bibir ke telinganya, dan
"Abbiiiiiii...." teriakan suara melengkingku di telinga, membuatnya segera terbangun.
Aku pun segera menjauh, menghindari cubitan darinya. Tapi, gerakan tangannya kalah cepat dariku. Tangannya segera merengkuh pinggangku, dan aku pun terjatuh dalm pelukannya.
Mata kami pun saling menatap. Wais mengeratkan pelukannya di pinggangku, sehingga jarak wajah kami hanya sejari tangan.
Jantungku semakin berdetak cepat, wajahku mungkin bersemu merah. Saat bibirnya ingin..
"Cepetan! Ntar waktu subuhnya habis lo." segera kutahan bibirnya dengan tanganku.
Aku pun segera melepaskan pelukannya dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Ku lirik sekilas, ada sedikit kecewa tergambar di wajahnya.
Setelah selesai wudhu, aku langsung menghampiri Suamiku yang sedang merajuk. Kubisikan sebuah kata padanya, berharap dia segera beranjak agar waktu sholat tidak terlewat.
"Abi, sayang, cepetan segera bersihkan diri dan berwudhu. Biar waktu sholatnya gak terlewat. Setelah itu, kita akan melanjutkan semua yang tertunda."
Ternyata berhasil. Ada senyum mengembang di bibirnya, dan segera melaksanakan permintaakamar.
***
Aku terbangun, saat terdengar suara ketukan dari luar kamar. Rupanya kami tertidur kembali setelah selesai melaksanakan sholat subuh.
Aku meraih hijab besarku dan segera membuka pintu kamar. Rupanya sust Ina yang mengetuk. Dia ingin segera memandikan si kecil Aisya. Aku benar-benar terlupa kalau Aisya tidur bersama kami.
"Maaf, Bu, apakah Aisya sudah mandi?" tanyanya padaku.
"Ya ampun, sust. Aku lupa kalau Aisya tidur bersamaku." aku pun menepok jidat karena terlupa.
"Ish, pengantin baru. Jadi lupa deh sama si kecil." canda sust Ina. Aku pun mencubit tangannya dan tersenyum.
"Maklumlah, sust, kan masih baru." kami pun tetawa.
__ADS_1
"Bentar sust, ku ambil Aisya dulu ya di box nya."
Aku langsung mendekati Aisya. Ku lihat dia sudah terbangun di box nya. Saat ingin mengangkat Aisya, Wais memelukku dari belakang dan mencium tengkukku.
"Iih,, si mungil Abi sudah bangun." dia mengajak bicara Aisya.
Dan langsung mencium Aisya yang sudah ada di gendonganku. Kami pun segera menyerahkan Aisya kepada sust Ina.
"Sust, segera mandikan Aisya, setelah itu langsung kasih mimik ya!" perintah Wais kepada sust Ina.
"O,ya... tolong katakan pada semua, hari ini jangan ganggu kami. Kami ingin menikmati kebersamaan yang sering tertunda selama ini."
Sambil tertawa, Wais mengatakan kepada sust Ina. Aku hanya mencubit pinggangnya. Wais pun menarikku ke dalam dan segera menutup pintu kamar.
Belum sempat pintu tertutup, Kabiir dan istrinya Alicia, menghampiri kami.
"Wais bhai, hari ini ada rekan bisnis yang akan datang kemari. Segeralah merapikan diri, karna kamu harus menandatangani kontrak yang sudah di sepakati." ucap Kabiir.
"Baiklah," dengan sangat malas Wais pun segera merapikan dirinya.
"Kakak Ipar, mari kita sarapan dulu." ajaknya padaku.
"Baiklah, Kabiir. Tapi aku harus membersihkan diri dulu." ucapku padanya.
Kulirik sekilas pada Alicia, ada rasa tak sukanya kepadaku. Tatapan matanya selalu sinis setiap memandangku.
Astagfirullah... Segera ku beristigfar. Apakah aku sudah suudzon terhadap sangata?
Segera ku buang jauh-jauh pikiran negatif itu. Aku tak ingin dalam satu atap ada permusuhan. Aku akan berusaha yang terbaik buat semuanya.
****
kulihat juga, sepertinya Alicia sudah sangat mengenal baik dengan mereka. Terlihat dari cara Alicia berbicara hangat dan memeluk wanita itu.
Mungkin Alicia selalu mendampingi Kabiir saat menemui rekan-rekan kerja mereka. Sehingga mereka terlihat akrab satu dengan yang lainnya.
Saat Wais sedang sibuk bersama rekan bisnis, Galang dan Gilang mengajak David bermain di taman samping rumah. Taman yang sangat indah dan luas. Aku dan sust Ina pun ikut bermain di sana.
Tanpa kusadari, dua pasang mata sedang memperhatikan kami. Pandangan yang sangat tajam dan tak bersahabat.
****
Acara resepsi pernikahan yang sudah di rencanakan telah tiba. Acara yang digelar di sebuah hotel berbintang, mengundang banyak orang-orang terkenal dan juga para rekan bisnis Merwais.
Acara yang begitu meriah, yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Membuat aku dan keluargaku sangat minder. Karena kami dari golongan menengah, sedangkan yang hadir terdiri dari golongan Elite.
Walau pun tidak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan, tapi aku berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Dari sekian banyak tamu, aku sempat mendengar seseorang membicarakanku. Sakit memang, tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukan kata-katanya.
Memang, aku tidak bisa berbahasa inggris, tapi setidaknya aku mengerti apa yang mereka katakan.
__ADS_1
Salah satu tamu mengatakan bahwa betapa ruginya Merwais menikahiku. Karena aku sudah memiliki tiga orang anak. Lagi pula aku juga terlahir dari golongan menengah kebawah.
Merwais begitu sibuk dengan para rekan-rekannya. sehingga tanpa dia sadari, aku sudah terpisah jauh dari sisinya.
Aku hanya bisa memandang jauh dirinya, memandang dari pojong ruangan ini. Bersama keluargaku, yang merasa terabaikan.
"Din, besok kami ingin pulang ke Indonesia." kata bang Wira.
"Kenapa, Bang?" tanyaku.
"Terasa lama abang meninggalkan pekerjaan. Takut nanti di pecat." lanjut bang Wira.
"Aku juga, Kak!" kata Isha.
Mereka pun sepakat untuk pulang besok hari ke lndonesia.
"Pesan abang hanya satu, kamu harus kuat dan tegar dalam menjalankan hidup. Perjuangakan apa yang menjadi hakmu. Dan jangan lupa, selalu mendekatkan diri kepada Allah."
Itu lah pesan terakhir bang Wira sebelum mereka kembali ke lndonesia.
****
Keluargaku pulang ke lndonesia, tanpa diantar oleh Merwais. Hanya aku dan si kecil Aisya yang mengantar mereka. Aku mengerti, karena sekarang Wais sibuk dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk selama ini.
Sedangkan Galang dan Gilang, harus segera mendaftar diri di sekolah yang sangat bonafit di Dubai.
Hanya David yang menemaniku mengantar mereka ke Bandara, karena David sekarang di tugaskan Wais menjadi sopir pribadiku.
Pulang dari Bandara, aku berencana ingin membeli makan siang. David pun mengantarkanku ke sebuah cafe yang sederhana.
"Biar saya belikan makanannya, Bu. Ibu mau pesan apa?" tanya David padaku.
"Gak usah, Dav, biar aku saja yang membelinya." sahutku kemudian.
Untuk sampai ke cafe itu, aku harus menyebrang jalan. Ku buka pintu mobil, dan langsung menuju cafe tersebut.
Setelah selesai makanan yang ku pesan, aku kembali menuju ke arah David yang ada di sebrang jalan. Agak repot kubawa makanan ini, karena Aisya juga berada dalam gendonganku.
Saat aku hendak menyebrang jalan, tiba-tiba dari arah kanan, sebuah mobil melaju dengan cepat.
Brraaakkkk...
Tubuhku terbentur depan mobil, dan Aisya yang berada dalam gendonganku, terlempar jatuh menghantam jalan.
Melihat si kecilku jatuh dan tak bergerak, dengan tubuh yang berlumur darah, aku pun ingin menghampirinya. Namun, apa daya tubuhku lunglai.
Aku tak tahu bagaimana nasib Aisya? Hanya, sempat ku lihat orang-orang segera memberikan pertolongannya kepada kami. Setelah itu, terasa gelap duniaku.
.
.
__ADS_1
.
.