Anak Dari Pohon Kehancuran

Anak Dari Pohon Kehancuran
Episode 55 - Genangan luka yang ditetesi harapan


__ADS_3

Gadis malang, dengan hati lemah itu dia melihat begitu banyak penderita. Keluarga, sahabat, teman, tetangga, bangsa dan desa! Merahnya darah yang menghiasi luka, rasa sakit yang menyerang otak. Luka Fisik dan mental, menghujani tubuh kecil yang rapuh!


Dia kehilangan kendali, emosi negatif yang tidak pernah dia hasilkan. Berbagai pikiran tercampur aduk dan mengamuk menghasilkan amarah yang tak terkendali, keputusasaan itu semakin menggerogoti.


Mata yang hampir tertelan oleh amarah, melihat bongkahan kegelapan yang melahirkan secuil harapan dan mengakhiri amukan ini.


Sang naga yang menghancurkan hidupnya, tergeletak di tanah. Kegelapan yang pekat itu menggenggam daging yang bergerak, jantung sang naga telah meninggalkan tubuhnya.


Sang naga yang menjadi pusat amarah telah hilang, amarah yang kehilangan tujuan membabi buta menghancur kan pikiran nya. Matanya tertuju pada sang anak yang membunuh naga.


Amukan emosi yang tidak jelas mulai tenang, alam bawah sadar melakukan tindakan langsung untuk mencegah hancurnya otak. Memberikan arahan pada emosi yang tidak stabil, bahwa seseorang yang dia lihat itu adalah alasan terakhir dia hidup.


.



.


Goncangan energi negatif meledak sesaat setelah sang apostel kehancuran menyerap sang naga. Meski sebentar, energi itu terpencar ke seluruh penjuru Tierra.


Seseorang yang kuat dengan kepekaan yang tinggi, dapat merasakan energi itu dan mengetahui sumbernya.


Disuatu tempat, Mereoleona yang sedang tidur terbangun dari tidurnya dengan bulu ekor yang mengembang merasakan sebuah ancaman.

__ADS_1



“Apa yang terjadi barusan, tubuhku merespon sesuatu dan memberiku peringatan. Sesuatu yang mengerikan baru saja menampakkan dirinya”


Sementara itu, Noir menyadari bahwa lokasinya baru saja tersebar ke seluruh Tierra.


“Kekuatan kita belum cukup stabil untuk menghadapi musuh, kita harus segera pergi sebelum mereka tiba.”


Tidak mungkin bergerak cepat di jalur darat yang banyak halangan, Bergerak di udara jauh lebih efisien.


Tetapi itu terlalu sulit, bagi Noir mungkin mencipta sayap dengan Roh Pemangsa bukanlah hal sulit, tetapi bagaimana dengan aura.


“Aura, kamu adalah seorang elf! Setelah kamu terbangkit kekuatan sihirmu meningkatkan pada tingkatan yang gila. Seharusnya terbang bukanlah masalah bagimu kan?”


“Ya, aku bisa melakukannya!”.


Menciptakan sayap dengan tubuh roh pemangsa tidaklah efisien, itu hanya akan menjadi sayap dan sulit untuk terbang, mengingat karakteristik roh pemangsa adalah menelan segala hal termasuk udara.


“Roh kekekalan, bisakah kamu menyambungkan sayap naga hitam ke tubuhku?”.


Tidak ada jawaban, tetapi sebuah retakan muncul di punggung Noir. Tidak berdarah dan tidak memproduksi rasa sakit, sayap naga hitam keluar dari punggung dengan massa yang diperkecil sehingga sesuai dengan tubuh.


Mereka berdua melesat di udara, berakselerasi dengan partikel udara seiring waktu saling mengimbangi satu sama lain.

__ADS_1


Aura mengimbangi kecepatan Noir dan berkata “Aku harus memanggil mu dengan?”


“Panggil saja dengan Noir”


.


Karen mempersiapkan barang barangnya segera setelah Leona tiba-tiba meminta untuk pindah dengan sesegera mungkin.


“Kenapa kita harus bergegas, ayah akan kesepian jika kita meninggalkan nya sendirian.”


”Aku sudah berbicara kepada seorang bangsawan manusia dan dia mengizinkan kita untuk tinggal di kotanya. Kita harus kesana sebelum keadaan semakin kacau dan daerah ini terseret perang”


Karen pun mengikuti keinginan putri nya dan bergegas untuk segera pindah ke benua Hyuma.


“Leona, apa kamu sudah selesai bersiap?”



“Sudah Bu!”


Pergi ke benua Hyuma memakan waktu yang sangat lama, dan harus menggunakan transportasi dengan biaya yang sangat mahal. Tidak mungkin bagi mereka untuk berjalan dengan jarak sangat jauh dan harus melintasi laut.


“Tapi Leona, bagaimana kita akan kesana? kita tidak punya uang”.

__ADS_1


Leona diam beberapa saat dan mengangkat tangan kemudian mengeluarkan kuku-kuku nya lalu mengayunkan tangan kebawah. Kukunya yang bersinar meninggalkan bekas di udara, membelah dimensi ruang dan membentuk celah yang mampu memotong hukum jarak pada satuan ruang.


“Ayo, kita pergi!”


__ADS_2