Anak Dari Pohon Kehancuran

Anak Dari Pohon Kehancuran
Episode 6 - Dibalik Kegelapan Malam Yang Mencekam


__ADS_3

Bagaimana cara dia memasak di hutan tanpa peralatan. kuharap dia tidak melakukan-nya dengan asal-asalan


“Aira!”


“Yups?”


“Kita sedang di hutan loh! Bagaimana caramu memasak tanpa peralatan?”


“Kamu meremah'kan ku ya, Noir! Meski aku ini Demi Human yang tidak ahli dalam sihir. Aku punya jepit rambut dengan kemampuan ruang”


Item berkemampuan ruang?, Begitu ya! dia menyimpan berbagai peralatan untuk bertahan hidup dimanapun dia berada.


Aku terlalu meremehkan-nya! Kukira dia hanyalah gadis bodoh dengan rasa percaya diri-nya yang terlalu tinggi.


“Masuk akal kamu bisa pergi ke hutan yang berbahaya ini sendirian.”


*****


Matahari mulai tenggelam, Cahaya yang perlahan meredup mulai ditelan oleh kegelapan malam yang mencekam.


Ketika cahaya terakhir menghilang dunia kembali ditelan oleh kegelapan malam. Pada saat itulah! Sang pemangsa hutan yang sebenarnya terbangun, Para pemangsa berburu dan menyebarkan terror keseluruh hutan.


Disaat seperti inilah, Aku bisa melepaskan rasa haus darahku, dengan cara memburu para predator yang mencoba memangsaku.


“Aira, aku akan pergi sebentar!”


“Aku tahu kamu itu kuat! Tapi berhati hatilah bocah, Para Bandit suka berkeliaran didalam kegelapan”


“Jangan Cemas! dibandingkan bandit, aku lebib khawatir dengan hasil masakanmu. tidak bisa memasak akan membuat poin Istri idaman milik-mu menurun drastis”

__ADS_1


“Jangan menggodaku, Dasar buaya”


Buaya? Setelah diriku yang luar biasa ini memberinya nasehat! Dia memanggilku buaya!? Dasar gadis yang tidak tahu terima kasih.


Aku mulai berjalan kearah yang sedikit berlawanan dengan tujuan kami. Hal ini kulakukan untuk menemukan yang bisa memenuhi Hasrat ku.


Hasrat membunuh dan membinasakan yang terus terusan ditahan hanya akan tumbuh semakin membesar setiap saat.


Keberuntungan berpihak padaku! Baru berjalan beberapa saat saja, aku sudah diikuti oleh beberapa orang.


Aku akan terus berjalan dan berpura pura tidak tahu.


“Hei bocah! Apa yang kamu lakukan disini!”


Cih sial! Mereka sekelompok bandit. Bandit yang telah terbiasa mencuri Pastilah sering diambang kematian yang membuat mereka memiliki pengalaman lebih dalam bertarung.


Tidak mungkin bagiku melawan mereka sekaligus! Mereka sedikit lebih lemah dari Aira, Tetapi dengan jumlah-nya yang mendominasi itu akan membuat-ku tersudut.


“Hoo... kakak cantik? bisakah kamu menunjukan dimana kamu terakhir kali bertemu dengan kakak itu?”


Yeah, mereka terpancing! Bandit biasanya sering melakukan tidak kejahatan seksual kepada korbanya.


Mereka akan sangat mudah dipancing dengan wanita.


“Aku terpisah darinya di arah sana! jadi maukah paman membantu-ku menemu'kan kakak itu?”


“Tentu saja paman ini akan membantu-mu!.”


“Hey sam! kamu temani adek kecil ini disini, kami akan mencari kakak-nya dulu”

__ADS_1


“Tentu”


Mereka menganggap-ku sebagai anak kecil yang polos. dengan ini mereka akan menurunkan penjagaan-nya terhadap-ku.


Para bandit itupun pergi! Mereka hanya meninggal'kan satu rekan mereka untuk mengawasi ku.


Dilihat dari wajah-nya, dia pasti sangat kesal karna bosnya menugas'kan dia untuk mengawasi bocah sedang'kan rekan-nya yang lain sedang mencoba bersenang sedang dengan seorang gadis.


“Hey bocah! apa-apaan senyum mu itu, karna mengawasi mu, aku jadi tidak bisa bersenang senang. Sialan!”


Hehe... Seekor anjing sedang menggonggong untuk menggertak-ku.


“Tutup mulut-mu, Baji*gan."


“Apa yang barusan kamu bilang?! Bocah sialan!”


“Mendengar gonggongan yang keluar dari mulut kotor-mu itu membuat-ku jijik. Makhluk rendahan seperti-mu seharus-nya mengguna'kan tangan dan kaki-mu untuk merayap ditanah”



Amarah yang luar biasa memancar keluar dari bandit yang bernama Sam itu. Dia mencabut pedangnya dari sarung kemudian menyerang-ku.


“Akan kubuat kamu menyesal, bocah!!!” ucap sam dengan amarah yang telah menguasai dirinya.


“Roh pemangsa! Jadikanlah musuh dihadapanku sebagai tumbal untuk memuaskan hasrat ku.”


INI MENYENANGKAN!!!


__ADS_1


__ADS_2