
Fahri, Qila dan Kabir telah sampai di rumah, Kabir yang baru sembuh dari sakit nya beberapa hari yang lalu, memutuskan masuk kekamar, sembari menunggu masakan bunda nya, dan meninggalkan ayah Fahri dan bunda nya berdua di dapur yang ada di dekat tangga menuju lantai 2.
"Bunda, Ayah, Kabir istirahat sebentar ya di atas" ucap Kabir
"Iya sayang, istirahat lah nak, nanti saat makanan nya masak bunda panggil kan ya sayang." ucap Qila
"Baik bunda" ucap Kabir
***
Setelah Kabir memutuskan ke Kamar duluan, Fahri mengikuti Qila menuju dapur.
"Qila" ucap nya
"Hei, tuan Fahri, ada apa??" ucap Qila
"Tuan?? saya sudah bilang, panggil nama saja.
Hmm apa ada yang bisa saya bantu?" ucap nya
"Seperti nya saya bisa ngerjain nya sendiri, saya hanya mau memanaskan lauk yang saya masak pagi tadi, kamu tunggu saja di meja makan, sebentar lagi saya siap." ucap Qila
"Saya bantu kamu siap kan piring dan gelas untuk makan ya" ucap nya
"Silahkan jika tidak keberatan"ucap Qila
"Sama sekali tidak." ucap nya kembali
Setelah selesai, semua sudah tertata rapi di meja makan, Qila memutuskan ingin memanggil putra nya turun makan malam.
"Qila, kamu mau kemana??" tanya Fahri
"Saya mau memanggil Kabir" ucap Qila
"Biar saya saja, saya akan memanggil Kabir" ucap nya
"Terimakasih" ucap Qila
"Sama - sama" ucap nya
***
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Fahri memutuskan menanyakan perihal kehidupan Qila, yang sudah di pendam nya selama beberapa hari ini, setelah sebelumnya Kabir izin naik keatas istirahat duluan
"Qila, tunggu"
"Iya, ada apa Fahri??"
"Saya mau nanya hal sensitif, maaf jika menyinggung perasaan kamu"
"Silahkan" ucap Qila, mengajak Fahri berbicara di ruang tamu.
"Qila kalau boleh saya tau, status kamu, apakah singgel atau berpunya??"
"Kenapa dengan status saya??"
"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung kamu, saya cuma ingin mengetahui status anda secara langsung saja, Qila."
"Kebetulan saya singgel, kamu sendiri?"
"Maksud nya, kamu sudah pisah dengan ayah Kabir?"
Qila hanya diam, dan tak membalas pertanyaan Fahri.
"Maksud kamu??"
"Saya tidak tahu keberadaan nya, sudah beberapa tahun ini saya mencari keberadaan nya, namun saya tidak menemukan nya."
"Yang sabar Fahri semoga saja kamu bisa bertemu dengan istri kamu itu."
"Itu sudah berlalu, sekarang saya tidak lagi terlalu berharap kepada dia, mungkin saja dia sudah menikah sama lelaki lain, mungkin saja dia telah...." ucap nya menggantung dengan mata yang berkaca
"Percaya lah rencana Tuhan adalah rencana sebaik baik nya rencana."
"Terimakasih nasehat nya Qila" ucap nya
"Sama-sama Fahri, semua orang memiliki tingkat ujian yang berbeda beda, namun walaupun berbeda, semua ujian itu adalah ujian yang menurut Allah ujian yang bisa di lalui umatnya."
"Benar sekali Qila, tapi kamu beruntung di karuniai anak setampan dan segenius Kabir" ucap nya
"Alhamdulillah, Allah menitipkan Qila anak yang seperti itu, Kabir itu adalah hadiah terindah dibalik ujian hidup ku terdahulu"
"Kamu wanita strong Qila, apakah Qila ku sekuat kamu juga" ucap nya pelan
__ADS_1
"Kamu bilang apa Fahri?"
"Tidak ada, saya cuma bilang, kamu ibu yang baik." ucap nya
"Terimakasih atas sanjungan nya Fahri."
"Itu bukan sanjungan Qila, itu faktanya, ini." ucap Fahri menunjuk piala penghargaan ibu terbaik sesekolah.
"Btw Fahri apa kamu sama sekali tidak keberatan di panggil ayah sama Kabir? orang yang baru kamu kenal?"
"Saya sama sekali tidak keberatan Qila, malahan saya sangat senang di panggil ayah, karena saya sendiri sangat merindukan anak saya, yang rupa nya sama sekali tidak saya ketahui." ucap nya
"Maaf kalau kata - kata saya tadi, membuat kamu sedih Fahri?
"No problem, itu masa lalu saya." ucap nya
"Qila..." ucap nya kembali
"iya"
"Jika kamu tidak keberatan, saya ingin menikah sama kamu." ucap nya
Deg... jantung Qila berdetak begitu kuat nya, mungkin suara detakan itu bisa di dengar oleh Fahri jika saja Fahri duduk berdekatan dengan Qila.
"Saya tau, kita berdua baru kenal dan baru beberapa kali bertemu, tapi saya ingin menjadi ayah sambung untuk Kabir. Kamu tidak usah jawab sekarang Qila, saya akan menunggu jawaban mu, sampai kamu siap menjawab." ucap nya
Qila hanya diam duduk seperti patung di sofa yang ada di ruang tamu.
Ucapan Fahri bagai kan Sambaran petir di siang bolong.
Qila... hei, kamu kenapa??
"Qila" ucap nya kembali
"Iya"
"Saya pamit ke kamar Kabir dulu ya, good night"
ucap Fahri berlalu dari ruang tamu, menuju kamar.
***
__ADS_1