
QILA POV
Qila yang baru sembuh total dari kemalangan seminggu yang lalu, dimana kesalahpahaman dirinya kepada Fahri terulang kembali, sehingga kata kata yang sangat di benci Allah itu spontan keluar dari mulut Qila.
Ya ... bukan kali pertama Qila meminta cerai dengan Fahri ini sudah kali kedua selama pernikahan mereka, kecemburuan yang terlalu besar terhadap suaminya itu lah, yang membuat Qila tanpa sadar mengatakan permintaan berpisah.
Malam ini Qila telah memutuskan akan menyelesaikan perselisihan antara mereka, dan akan mendengar kejelasan yang sebenarnya dari versi suaminya tentang masa lalu nya sembilan tahun yang lalu sebelum mereka menikah.
Qila masih setia menunggu suami nya di kamar, Qila yang baru selesai mandi, mengeringkan rambut nya dengan hairdryer, dan menyisir rambutnya.
Suara langkah kaki menghentikan aktivitas Qila yang sedang menyisir rambutnya yang pirang panjang sebahu sedikit bergelombang itu.
Mas... ucap ku
Ku tatap pantulan wajahnya dari cermin, mas Fahri diam tanpa bergeming.
Mas... ucap ku kembali sambil membalikkan badan kearah suamiku berada.
Dia masih diam, tanpa bergeming sedikitpun.
Mas ... ucap ku kembali, kini berjalan kearah nya berdiri, ku Sentuh tangan suamiku, kemudian ku genggam.
Reflek dia melepaskan genggaman tangan ku.
__ADS_1
Mas... kamu kenapa?
Tidak apa apa, mas kekamar mandi dulu, mau mandi. ucap nya berlalu meninggalkan.
Aku masih diam, menatap kepergian suamiku, mas Fahri kenapa ya?
Perasaan pulang RS tadi dia baik baik saja kok, sampai niat mau gendong aku kedalam.
Lah tapi sekarang mas Fahri kenapa, masa Qila cuma genggam tangan nya saja, mas Fahri menolak. Batin ku memikirkan perubahan sikap suaminya dalam hitungan menit itu.
Kelanjutan aktivitas menyisir rambut yang sempat terhenti saat mas Fahri masuk tadi, kuambil jepit rambut, lalu ku gulung rambut ku dengan jepit itu.
Sambil menunggu mas Fahri selesai mandi, ku putuskan turun ke dapur membuat minuman untuk suamiku.
Mas ... ucap ku memanggil suami ku yang baru keluar dari kamar mandi yang sudah lengkap menggunakan pakaian nya.
Hanya menatap ku sebentar, mas Fahri berlalu menuju meja hias ku, menghidupkan hairdryer untuk mengeringkan rambut nya.
Mas... ucap ku mengikuti nya, dan berdiri di belakang nya.
Dia masih menatap ku dari pantulan cermin, dengan sedikit mengerutkan kening nya tanpa membalikkan badan nya.
Qila bantu ya mas. ucap ku ingin meraih hairdryer yang berada di tangan nya.
__ADS_1
Tidak usah, saya bisa sendiri QILA. ucap nya menekan nama ku.
Mas ... ucap ku kembali berusaha memaksa nya untuk memberikan hairdryer yang berada di tangan nya.
Ambil lah, jika kamu menginginkan ini. ucap nya memberikan hairdryer yang dipegang nya, dan mengangkat badannya yang sebelumnya duduk itu.
Mas... mau kemana? tanya ku melihat suamiku yang berjalan kearah pintu.
Dia masih diam...
Mas... rambut mas belum kering, Qila boleh ngak bantu mas ngeringin rambut mas? ucap ku memohon sambil menelungkup kan kedua tangan ku di dada.
Silahkan ucap nya kemudian, lalu duduk kembali di kursi di depan meja hias Qila.
"Mas... Qila mau bicara." ucap ku kembali sambil mengeringkan rambut nya
Hmm... ucap nya.
Sudah siap... ucap ku kepada nya.
pertanyaan yang sebelumnya ingin ditanyakan nya seketika hilang melihat tatapan dingin nan menusuk yang di perlihatkan suaminya dari pantulan cermin itu.
QILA END
__ADS_1