
Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam, akhirnya Fahri memberanikan diri memanggil sang istri dan mengajak nya masuk ke kamar.
Qila...
iya mas
apakah kamu masih nyaman duduk di sini?
maksud mas?
hmm... anu, saya sudah mengantuk, apakah kita boleh sekarang langsung ke kamar saja?
mas sudah mengantuk ya?
ya udah sekarang kita ke kamar. ucap qila sembari menuju ke arah tangga
Qila tunggu
iya mas...
Hmm... Ayo." ucap ku sambil menggenggam tangan Qila.
Mas ... ucap nya, sambil menyenderkan kepala nya di bahu ku saat menaiki tangga.
Kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini, kenapa perasaan nya sama dengan perasaan di saat di dekat Dira ya? batin ku.
Sayang...
Iya mas
Mas tau, sayang belum bisa menerima mas, tapi mas akan buktikan kepada sayang, menikahi sayang adalah keputusan terbaik untuk kita, mas akan buktikan suatu saat nanti sayang akan menerima mas apa ada nya.
Iya mas, insyaallah.
"Sayang, jika kamu jatuh hati, jatuhkan lah hatimu pada hati yang membuktikan, bukan pada hati yang sibuk meyakinkan."
Kata kata itu... batin Qila
__ADS_1
Kata kata itu sama dengan kata kata Khabir.
Qila...
iya mas, kita ke kamar sekarang ya
baik mas.
***
Sesampainya di dalam kamar, Fahri memutuskan mengganti pakaian nya yang memang belum di ganti setelah waliwah, Qila sendiri sambil menunggu suami yang ada di kamar mandi, memutuskan duduk di atas ranjang sambil membaca novel kesayangan nya.
Fahri yang berniat bersih - bersih di kamar mandi, lupa membawa handuk, dan akhirnya dengan terpaksa harus memanggil istrinya dari sebalik pintu kamar mandi.
Qila sayang ...
Qila yang terlalu konsentrasi membaca tidak mendengar suara suami nya yang memanggil.
Sementara Fahri pribadi karena tidak ada mendengar jawaban dari luar memutuskan keluar dari kamar, tanpa menggunakan apa pun.
Fahri berlalu menuju lemari tempat baju - baju nya di simpan Qila setelah acara akad tadi. Lalu memasang pakaian, baru saja Fahri selesai memakai celana, Fahri di kaget kan dengan teriakkan seseorang.
Qila?? kamu kenapa sayang.
Qila yang merasa malu, tidak bisa berkata - kata.
Qila bodoh, dia itu suami kamu, kenapa kamu harus kaget, melihat tubuh atletis suami kamu sendiri sih. bodoh- bodoh batin nya.
Qila mas nanya, ?kamu kenapa teriak?
melihat Qila yang menunduk tanpa mau melihat bicara, Fahri pun reflek melihat pantulan diri nya di cermin.
Astagfirullah... maaf Qila, mas lupa. ucap nya sembari memakai baju nya.
Qila, lihat mas sekarang. ucap nya
Maaf mas, seharusnya Qila ngak perlu teriak lihat mas ngak pakai baju. Qila minta maaf ya mas.
__ADS_1
Mas maklum kok sayang, kita baru saja kenal, wajar saja kamu kaget, karena kamu belum terbiasa, lama kelamaan mas yakin kok, kamu akan terbiasa, kita sama sama mencoba mengenal satu sama lain ya sayang.
Baik mas, sekali lagi Qila minta maaf ya mas.
***
Fahri yang telah duduk di sofa, menatap istrinya yang diam mematung.
Sayang...
Iya mas...
Tidur lah, kamu tidak usah khawatir, saya tidak akan macam - macam, kamu tidur lah di sana, biar mas tidur di sofa.
Mas...
Qila, tidur lah, kamu tidak usah segan sama mas, mas ngak apa apa kok tidur di sini.
Tapi mas ...
Saya tau, apa yang kamu pikirkan Qila, tapi maaf sayang, malam ini mas tidur di sini saja ya, mas yakin kamu pasti masih belum terbiasa dekat dengan mas.
Maaf mas...
Tidak perlu minta maaf sayang, kamu tidur saja.
Baik lah mas. ucap Qila
***
Fahri yang memang letih, dengan mudah nya tertidur di atas sofa, dan meninggalkan Qila menunju alam mimpi.
Di dalam mimpinya, Fahri bertemu dengan seseorang yang mirip istrinya.
Nadira...
Nadira ... tunggu Abang sayang, jangan pergi.
__ADS_1
Nadira ... ucap Fahri dalam mimpinya.
Fahri yang tidak sadar telah mengigau nama sang istri, dan berlarut dialam mimpi tidak mendengar teriakkan Qila yang memanggil nama nya.