Anak Genius : Presdir Tampan Itu Ayah Anak Ku

Anak Genius : Presdir Tampan Itu Ayah Anak Ku
Bandara (Revisi)


__ADS_3

Hari berganti minggu berganti bulan, setelah menenangkan diri selama beberapa bulan Qila memutuskan pulang kerumahnya.


Terlalu banyak dosa yang telah dilakukan nya, karena ego nya, Qila lupa hukum agama tentang dosa seorang istri yang keluar tanpa izin suaminya.


Pertemuan terakhir dengan kak Anita di New Zealand lah, yang menjadi kekuatan ku kembali ke Indonesia, kebenaran yang langsung di ucapkan nya waktu itu telah memperjelas semuanya, bahwa tidak ada kaitan apapun antara dia dan Abang Fahri.


Namun keputusan ku ingin kembali ke rumah kami, tempat suami dan anak ku berada, ku abaikan kembali setelah melihat penampakan yang sama sekali tak pernah ku bayang kan.


Ya... di depan bandara aku melihat sosok seseorang yang sangat aku benci sekaligus aku rindukan, suamiku... Fahri.


Tapi perasaan yang sudah ku obati beberapa bulan ini untuk menerima kenyataan bahwa bang Ary adalah suami dan ayah biologis anak nya itu seakan lenyap dengan rasa cemburu yang amat mendalam.


Jelas ku dengar dan kulihat sendiri ketika bang Ary memeluk seorang wanita yang tengah hamil sambil mengelus perut wanita itu.


"Sayang... Maaf mas jemput nya kelamaan, macet di jalan." ucap nya lembut yang masih terdengar dengan jelas di telinga ku


"Tidak apa mas, yang penting mas jemput adek." ucap wanita hamil yang tak pernah aku temui sebelumnya

__ADS_1


"Hmm... anak nya mas, baik baik ya di dalam, jangan buat bunda nya kecapean ya sayang." ucap bang Ary sembari mengelus perut wanita itu dari belakang


"Mas ih, udah jangan di elus elus, malu tau." ucap wanita itu


"Malu kenapa sayang?" ucap bang Ary


"Mas ih, ngak berubah." ucap wanita itu melepaskan pelukan bang Ary


"Kenapa harus berubah?" tanya nya


"Lupakan..." ucap wanita itu


"Pas mas nungguin kamu di halte sampai malam." ucap nya


"Benar, dan mas salah memeluk wanita." ucap nya menahan tawa


"Jangan di ingat kan lagi itu memalukan."

__ADS_1


"Mas, ingat hal yang memalukan akan menjadi hal yang sangat kita rindukan, saat semua telah menjadi kenangan dan abadi oleh sang waktu."


"Tapi bukan kenangan konyol yang memalukan itu, sudah lah kita pulang ke rumah, baby di dalam perut pasti capek dan ingin istirahat."


"Bilang aja mas yang ingin istirahat, rindu ya sama masakan Ra wkwk."


"Tentu siapa yang tak rindu dengan masakan mu sayang." ucap nya reflek mencium wanita itu


Qila yang melihat kejadian itu reflek membalikkan badannya.


Perasaan ini sungguh tak bisa aku hindari, aku cemburu...sedih, kecewa. ya aku cemburu, sedih kecewa, semuanya bercampur aduk melihat lelaki yang masih sah menjadi suamiku itu mencium wanita lain di tempat umum, dan aku lihat dengan mata kepala ku sendiri.


"Lelaki munafik, bilangnya cinta sayang dan rindunya hanya untuk Nadira aku istrinya, kenyataan nya, dia mencintai dan merindukan wanita lain di belakang ku." ucap ku tanpa sadar di dengar oleh seseorang yang berada di belakang ku


"Persetan semua dengan ucapan mu waktu itu, semua hanya gombalan semata." ucap ku kembali kali ini sedikit keras.


Sungguh yang aku lihat sekarang, sangat sangat menyayat hati, niat pulang ingin meminta maaf dan berusaha menerima kenyataan, ingin memperbaiki hubungan yang renggang ini, kini bagaikan kapas diterpa angin, tak tau terbang kearah mana.

__ADS_1


***


__ADS_2