Anak Genius : Presdir Tampan Itu Ayah Anak Ku

Anak Genius : Presdir Tampan Itu Ayah Anak Ku
Spesial Ray dan Anisa


__ADS_3

Menikah dengan orang yang mencintai kita adalah keberuntungan yang selalu kita impikan. Sedangkan mendapatkan mertua yang menganggap kita sebagai anak sendiri adalah sesuatu yang di Amin kan.


Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya penantian itu berakhir, kini waktu telah merubah segalanya, status dari sahabat menjadi TTM kini telah menjadi istri.


Bercinta dengan sahabat sendiri adalah anugerah yang besar yang pernah ku dapat kan, tidak perlu banyak waktu untuk beradaptasi dengan keluarga Ray, karena jauh sebelum menikah aku sudah begitu dekat dengan orang tua nya yang kini telah jadi suamiku.


Mendapatkan mertua yang menganggap ku sebagai anak adalah sesuatu yang ku amin kan sejak remaja, dan kini semua telah menjadi kenyataan...


Muhammad Rayhan Al Rayyan lelaki itu kini telah resmi menjadi suamiku. Pernikahan kami baru seumur jagung, tapi dia harus sering pergi meninggalkan ku, sedih tentu aku sangat sedih, seperti hal nya pengantin baru yang lain yang ingin selalu bersama, aku harus rela ditinggalkan nya.


Kesetiaan dan demi persahabatan nya dengan tuan Fahri yang tak lain adalah suami sahabat ku Qila telah menjadi batu penghalang untuk kami menikmati masa pengantin baru.


***


Sesuatu yang menyebalkan ketika kita saling memikirkan dan saling merindukan, tetapi memilih bungkam tanpa ada niat untuk saling mengungkapkan.


Aku sangat merindukan istri ku yang cantik Anisa, tapi tuntutan pekerjaan dan kesetiaan ku kepada sahabat ku terlalu besar, hingga aku harus mengorbankan sedikit waktu ku untuk istriku dan kembali bekerja.


Rindu... tentu aku sangat merindukan nya, memikirkan nya setiap saat. Namun diri ini terlalu kaku untuk mengungkapkan rasa...


Setelah menyelesaikan seluruh urusan kantor yang ditinggal kan Fahri, aku memutuskan menjemput istri cantik ku di rumah mama.


Ya...


Selama aku mengurus pekerjaan keluar kota, Nisa tinggal bersama mama.


***


Ku tatap wajah nya dari pantulan cahaya, terlihat matanya yang merah, dan kantong mata nya yang membesar.


"Apa yang terjadi dengan istriku?." batin ku


"Sayang..."


Bi... kamu sudah balik? kapan datang?


Barusan...


Kamu kenapa? sakit?


Ngak kok bi...


Mata kamu merah, kantong mata kamu membesar, apa kamu siap menangis sayang?

__ADS_1


Hmm...


"Bi minta maaf ya sayang, bi tidak memperhatikan kamu, bi terlalu sibuk dengan urusan kantor dan Fahri." ucap ku, sambil memeluk nya


"Bi, sayang rasa kita butuh waktu." ucap nya melepaskan pelukan ku.


Kamu marah sama Bi ya?


Bukan begitu? sayang rasa kita butuh waktu sendiri dulu... Bi paham kan maksud sayang?


Baik lah bi paham, bi tau sayang pasti rindu dan selalu memikirkan bi, itu sebab nya mata sayang seperti itu, pasti sayang kurang tidur kan?


Bi...


Sayang mau pulang...


Baik lah kita pulang sekarang, kita pamit ke mama dulu ya...


Bi...


Nisa mau pulang ke rumah Nisa, bukan kerumah bi...


Baik lah kita kerumah kamu...


Baik lah, hanya satu hari...


Bi rindu sama kamu sayang, bi janji kedepan bi tidak akan memprioritaskan pekerjaan, Bi akan prioritas kan kamu.


Nisa harap kali ini bi tepatin janji, kita sudah menikah bi, bukan seperti dulu lagi, bi sudah ada tanggungan.


Bi paham sayang...


Bi antar kamu kerumah ya?


Baik lah...


***


Rasa rindu yang terlalu besar, membuat ku tak sanggup untuk berpisah dengan istri ku.


Bi... kok masih disini? pulang lah...


Bi lapar, bi mau makan, sayang tolong masakin bi ya...

__ADS_1


Hmm... baik lah, setelah itu pulang ya?


Hmm... masak lah cepat.


Setelah kepergian Nisa ku putuskan mengunci semua pintu rumah, dan hanya tersisa kamar kami yang tak terkunci.


"Bi... kamu ada di kamar mandi?" ucap nya masuk ke kamar.


Setelah Nisa masuk, aku yang berada di sebalik pintu langsung menutup pintu dan mengunci pintu...


Bi... kok di kunci?


Kita tidur sekarang, bi udah capek mau tidur.


Bi... tadi udah janji kan, cuma ngantar sayang aja? Kenapa tidur disini?


Salah tidur dengan suami sendiri? ucap ku merebahkan tubuh di ranjang.


***


Kesal, kecewa rasa itu masih ada, keegoisan ku telah mengalahkan rasa rindu ku kepada nya.


Niat hati ingin menenangkan diri semalam dirumah, kini hanya menjadi niat...


Salah tidur dengan suami sendiri? ucap nya membuat ku diam seribu bahasa.


Skakmat...


Sayang, kenapa diam seperti patung, ayo tidur samping bi...


Ngak... Nisa tidur di sofa aja, bi tidur aja di ranjang.


Sayang, ngak nurut suami dosa loh...


Tidur di samping bi, ini perintah...


Baik lah...


Dasar cowok ngak peka, cewek merajuk malah dipaksa... dumel ku yang ternyata di dengar oleh nya.


Sayang... sudah tidur, jangan ngedumel, bi dengar kali...


Huuu... ucap ku kesal...

__ADS_1


__ADS_2