
"Arghani..!" Suara Papa Putra menggelegar dari bawah tangga.
''Ya pa.. " Arga turun tergesa-gesa dengan mengancingkan ujung kemeja batiknya.
Setelah berpamitan, keduanya langsung masuk ke mobil dengan Arga yang jadi pengemudi.
Hari ini mereka berdua akan menghadiri hajatan pekerja papa Putra. Setelah perjalanan kurang lebih 25 menit. Mereka tiba di dekat rumah sohibul hajat yang sudah terlihat sangat ramai.
Putra yang notabene cukup di kenal di daerah itu di sambut hangat oleh beberapa orang. Bahkan di hantar untuk duduk di meja khusus dekat dengan pelamin dan panggung.
Gadis-gadis yang menjadi penjaga prasmanan tampak terpukau melihat kedatangan Arga.
*udah ganteng, kaya, polisi lagi..
Beruntungnya yang jadi istrinya nanti*..
Begitu kira-kira bisik-bisik mereka. Arga hanya diam tak begitu menanggapi. Dia malah sedang memperhatikan seorang MC yang tadi memanggil seseorang untuk naik ke atas panggung.
"Mbak April, monggo.. sudah di tunggu ini.. " ucap si MC sambil berkelakar .
Dari arah pelamin seorang wanita berjalan anggun menuju panggung dengan kebaya warna peach, kain batik motif melati,tatanan rambut sederhana. Tapi bukan itu saja, riasan wajahnya tampak membuatnya begitu cantik sore ini.
Arga terkejut, berulang kali mengusap matanya untuk meyakinkan.
"Gadis itu ada di sini juga.. ?" gumamnya
"Terima kasih mas Bayu.. " Senyum manis dia lemparkan yang di sambut suit-suit dari para bujangan yang mendapat tugas jadi sapu jagat.
Arga masih terpaku menikmati suara Apri menyanyikan sebuah lagu dangdut. Dia tidak menyangka ternyata April cukup pandai menyanyi.
Di lagu ke 2 saat April sedang mendendangkan lagunya seorang penyanyi asal padang, seorang lelaki naik memberinya 2 lembar uang 50 an. Tak lama berselang dari arah pintu masuk seorang lelaki yang berbeda naik memberinya 3 lembar uang 100 ribuan juga sekuntum mawar merah.
Semua orang bersorak riang.
Di lingkungan itu, memberi uang pada penyanyi adalah hal lumrah. Sebagai wujut menghargai suara si penyanyi.
Saat selesai, lelaki itu menghampiri April. Membisikkan sesuatu. Dan itu membuat Arga tidak nyaman. Apa lagi melihat tawa lepas April.
Kenapa dia terlihat cantik sekali saat tertawa lepas begitu..
"Kenapa seseorang yang sudah bukan milik kita justru terlihat lebih cantik sekali.. "
Arga terkesiap mendengar ucapan papanya.
"Papa.. " Menoleh ke papanya yang tersenyum mengejek.
"Tandanya dia bahagia, lebih bahagia ketimbang saat bersama kita. " Kata-kata papa Putra seolah jadi sindiran untuk Arga .
"Kamu tau, dulu papa cuma mau main-main sama mamamu. Taunya apa, setelah ada badai baru papa sadar yang papa tidak berati apa-apa tanpa mama.. " Putra menepuk bahu sulungnya lembut.
__ADS_1
"Ayo kita pulang.. " Arga mengangguk mendengar ajakan papanya.
Baru Arga akan bangun, musik sudah mulai menggema dan pandangannya seolah tidak nyaman saat April berduet mesra bersama Yoga.
Sebelum berada pada ujung jalan, Arga sempat menoleh. Mata elangnya bertemu dengan mata April. Tapi kemudian April membuang pandangannya.
.
Hari ini hujan seharian mengguyur kota padi itu. Arga sedang sift pagi hari ini. Tidak ada usaha apapun untuk menyelamatkan pertunangannya.
Bahkan semalam kakeknya marah, karna menilai Arga tidak bertanggung jawab dan mengabaikan April.
"Gaa.. " Sapa seorang rekan wanita teman sejawatnya .
"Ya Mel.. "
"Hari ini kita dapet tugas mengintai rumah terduga begal yang sering beraksi di sekitar sini.. "
"Iya, aku sudah dengar dari komandan. "
"Ayo kita bersiap.. !" ujar Melani yang langsung di angguki Arga.
Rupanya begal itu juga yang membegal April minggu lalu. Karna saat di tangkap dia menunjukan rumah kosong tempatnya menyimpan barang begalan mereka.
"Segera hubungi Aprilia Yasmin..! " Arga baru pulang dari misi nya yang membuahkan hasil.
"Baik pak.. " seorang polisi di bawah dia segera menghubungi April.Memintanya untuk datang besok pagi.
"Ah, dia anak sahabat papa.."
Wanita bernama Melani itu sedikit mengerutkan keningnya heran. Dan juga penasaran, seperti apa gadis bernama April yang tadi sempat membuat Arga tersenyum bahagia saat menemukan motornya.
Keesokannya, dengan menaiki ojek.April datang tepat pukul 9 pagi.
"Silahkan masuk di ruang 1 mbak .. " Ucap polisi yang bertugas di depan.
"Iya pak terima kasih.. " April masuk menuju ruang 1 yang terlihat tertutup.
Tok tok tok
Setelah mendengar jawaban dari dalam. April memutar handel untuk membukanya.
Dia terkejut, rupanya polisi yang akan di temuinya adalah Arga.
"Permisi pak.."
Arga mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas yang sedang dia baca. Untuk sesaat mata keduanya saling mengunci. Hingga April lebih dulu memutus pandangannya dengan menunduk.
"Silahkan duduk.. " Arga membuka laci meja di belakangnya.
__ADS_1
April segera duduk di kursi dengan perasaan campur aduk.
"Ini kuncinya, silahkan tanda tangan di sini.. " tunjuknya pada selembar kertas.
April menghela nafas pelan dan segera tanda tangan.
Arga mengerutkan keningnya lalu menatap April.
"Anda salah tempat tanda tangan mbak Aprilia Yasmin.. "
April tergagap, mengangkat wajahnya yang memerah.
"Maaf maaf.. "
"Tidak apa-apa.. " Arga menarik kertas itu. membubuhkan tanda tangan dan apa yang di perlukan dan menyerahkan pada April.
"Terima kasih mas.. " April berdiri cepat-cepat tanpa sempat memperhatikan Arga yang menautkan alisnya heran.
Saat April membuka pintu untuk keluar, bersamaan itu seorang wanita juga akan masuk ke ruangan Arga. Hingga keduanya saling terantuk .
"Maaf-maaf.. " ucap April sambil mengusap dahinya yang memanas.
"Ga papa.. kamu siapa.. ?" Tanya wanita itu sambil menelisik tampilan April.
"Ahh, saya Apr.. "
Kata-kata April terputus saat Arga muncul di belakangnya. Sampai dia bisa mencium harum nafas lelaki itu.
"Ada apa Mel..?"
"Ahh, tadi tambrakan sama dia.. " Ucap Melani mengusap dahinya.
"Tapi kamu ga papa kan.. ?" Arga terdengar khawatir dan maju ke arah Melani,menyenggol April yang mematung di depan pintu .
Tidak tahan melihat kelanjutan interaksi keduanya. April langsung berjalan cepat ke luar.
Mengambil motornya dan melesat ke jalan.
Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya.
Besar harapannya Arga mau menyapanya sekedar 'say hallo' saat dia masuk ke ruangannya tadi.Nyatanya sama saja , bahkan Arga begitu khawatir pada teman wanitanya tadi. Tanpa perduli padanya sedikit pun.
April terus melajukan menuju sebuah bendungan. Panas terik yang mulai menyengat tidak dia hiraukan.
Sesampainya di sana, dia memarkirkan motornya dan berjalan cepat ke arah tepi bendungan.
"Arrrrkkkkk.... Arghano brengsekk... !!!
Bisanya cuma nyakitin hatiiiii.... !!"
__ADS_1
"Kenapa kamu dari dulu ga pernah mau ngliat ke arah aku... huhu... "
"Ternyata aku ga berati apa-apa untukmu. . huhu.. pantes aja kamu tenang-tenang aja setelah aku minta bubar.. !! " Isaknya sendiri.