
"Assalamualaikum... "
"Waalaikum salam.. " jawab 2 orang tua yang sudah tampak sepuh itu.
"loh.. cucu nenek yang ganteng to.. " Nenek menyambut cucunya yang baru masuk dari pintu depan.
"Apa kabar nek ?" Arga menyalami neneknya lalu beralih pada kakek yang duduk di sofa.
"Kakek sehat? " tanyanya sembari duduk di sofa kosong.
"Alhamdulillah... " jawab Keduanya.
"Tumben kamu kesini,ada apa.. ?" Kakek menatap penuh wajah cucu sulungnya.
"Ada yang mau Ghani bicarakan.. "
Mereka saling menatap satu sama lain, Arga pun mulai menceritakan maksut tujuannya.
.
April melirik jam di tangannya, sudah pukul 7.30 malam.Dia menunggu Arga di sebuah cafe.
"Sorry telat.. " Arga langsung duduk di kursi di depan April.
"Ya.. " April sedikit kesal. Karna sudah menunggu 30 menit di situ.
"Tadi ada orang kecelakaan,jadi sempet macet.. " Terang Arga yang hanya di angguki April.
"Mau minum apa mas.. ?" tanya April kemudian.
"Samain aja.."
April melambai ke pelayan untuk memesan minuman.
"Jadi ada apa.. ?" April menatap manik mata lelaki di depannya yang slalu membuat jantungnya berdegup.
"Aku udah bicara sama kakek.."
Mendengar itu, seketika pasokan oksigen seakan berkurang bagi April. Dia paham bagaimana kelanjutannya.
"Ohh... " Dia berusaha tersenyum, bahkan mengucapkan terima kasih secara ramah pada pelayan yang datang menghantar minuman.
"Iya, kakek setuju. Jadi kita ga harus nikah 2 bulan lagi.. " Arga tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Ahh.. rasanya sesak. dan dia justru bahagia.."
"Kamu setuju kan..?" Arga bertanya karna sedari tadi April hanya diam.
"Memangnya aku bisa apa..? " Lirih April.
"Maksut kamu..? "
"Ehh enggak mas.. aku ngikut ajalah, yang penting kamu seneng. "
"Makasih ya.." Arga tersenyum mengusap tangan April lembut.
"Demi apapun, ini kali pertama Dia bersikap selembut dan sehangat ini. Tapi kenapa pada moment menyakitkan .. " Batin April lagi.
April segera menarik tangannya. Lalu meraih paperbag dan mendorongnya ke arah Arga.
"Apa ini.." Tanya Arga sambil melihat isinya.
"Jaket mu mas, udah aku cuci. Makasih ya. . "
"Kenapa di kembalikan, kamu bisa pake kan. "
"Itukan jaket cowok.."
"Loh, aku kan cowo kamu kan..? "
Demi apapun, wajah April tiba-tiba memanas . Salah tingkah di depan Arga yang justru tersenyum menggelengkan kepalanya melihat ke arah April.
Antara bahagia dan sedih, Bahagia karna sudah mulai di akui oleh Arga, Sedih karna sekali lagi pernikahannya gagal di lakukan dalam waktu dekat.
.
Keesokannya.
"Prill lo ngapa nglamun terus.. ?" tanya Nadia.
"Ga papa.. " April berdiri merapikan stand roti.
"Ga papa gimana, muka lo nekuk ja dari tadi.. "
April menghela nafas pelan " Nad, kayaknya aku perlu pindah kerja deh.. "
"Apa??! " Nadia langsung berjalan mendekat ke arah April. "Kenapa? ada apa? "
__ADS_1
April menatap wajah karibnya yang terlihat risau itu. Dia sendiri begitu sesak ingin menceritakannya.
"Kayaknya mas Arga bukan jodoh gue Nad.. " Lirihnya.
"Kenapa lo bisa mikir gitu.. ? kalian kan udah tunangan "
"Gue ngrasa makin jauh aja, ga da perkembangan dalam hubungan kita. Dia juga ga minat kayaknya nikah ma Gue.. "
Nadia menggaruk kepalanya ikut bingung sendiri.
"Pril, lo coba pergi ja dari dia ." usulnya
"maksutnya.. ?"
"Lo pergi, coba lihat nanti reaksi dia gimana. Kalo dia nyari lo, mungkin ada kemungkinan dia dan lo bisa sama-sama. Tapi kalo dia ga nyari, mungkin itu cara Tuhan nunjukin yang lo dan dia emang bukan jodoh . Jadi ga bikin hati lo bingung"
April terdiam, mencerna semua usulan sahabatnya.
"Selama ini kan biasanya lo yang slalu nungguin dia,ngarepin dia. Kalo dengan pergi ternyata semua harus berakhir, itu lebih baik kan " Nadia mengusap bahu April lembut.
"Sebagai sahabat, gue juga pengen lo seneng bahagia, ceria kayak biasanya. Lo sekarang cemberutan muluk hari-hari.. "
Sepanjang jalan pulang April mulai merenungkan ucapan Nadia.
"Ada apa.. ?" tanya Nenek saat melihat April lesu mendekat memeluknya.
"Nek, nikahannya di undur. Mas Arga dan keluarganya sepakat. Nunggu mas Arga naik pangkat baru kita nikah "
Walau terkejut, nenek juga paham. Karna hubungan mereka hanya keterikatan karna keluarga . Sebagai nenek, beliau juga tahu, Cucunya seperti tidak di hargai di sini. Semula dia berharap dengan Arga, kehidupan April pasti akan lebih baik dan terjamin. Tapi, itu semua tidak penting, karna hati cucunya juga sudah sakit karna tarik ulur.
"Ya sudah lah, ga papa.. " nenek mengusap kepala cucunya lembut.
"Jadi kamu masih lama bisa di sini nemenin nenek.. "
April menarik bibirnya tipis, semakin memeluk neneknya erat " tadinya April pikir nenek akan marah sana April.. "
"Buat apa nenek marah, itu kan sudah keputusan pihak sana .. "
"Oh iya nek, aku pengen ke Balam. Nenek ga papa aku tinggal..? "
"Kamu mau ke tempat orang tua kamu ? " tanya nenek yang langsung di angguki April.
"Nenek ga papa di tinggal, nanti nenek suruh Wira datang nemenin nenek.. "
__ADS_1
April tersenyum lebar, lebih mengeratkan pelukannya di tubuh neneknya
"Makasih ya nek.. "