
April sedang sibuk dengan pekerjaanya menata barang yang baru sampai di toko. Hingga tidak menyadari seseorang datang mendekatinya.
"April.. "
Dia langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Tante Yuna.. " pekiknya, segera dia bangun dan menyalimi Yuna yang menyambutnya dengan senyuman.
"Tante mau belanja. . ?"
"Enggak, sengaja kesini mau nemuin kamu.. " Di usapnya kepala April penuh sayang.
"Kamu udah waktunya pulang belum nak..? "
"Belum tante. Sejam lagi.. " matanya melirik ke arah jam tangan murahan miliknya.
"Ya udah, tante tunggu kamu di depan ya.. "
"Tapi tante, aku masih lama. Sejam lagi.. "
" Ya ga papa. . "
"Tapi tan, aku.. " April sungguh merasa serba salah.
"Hmm. . ya udah kalau kamu ga enak kalau tante kelamaan nunggu, gini aja. Tante tu mau ngundang kamu sama nenek datang di pengajian di rumah tante .. Kamu dateng ya.. "
"Kapan Tan.. ?"
"Besok minggu.. "
"InsyaAllah ya Tan.. aku usahain.. "
"Yaudah.. Tante tunggu loh.. " Mengusap bahu April lembut.
"Iya tan.. " April berusaha senyum. Meskipun hatinya juga bingung. Apa harus dia datang, tapi juga merasa tidak enak jika tidak datang.
"Tante pulang dulu ya.. hati-hati kerjanya.. "
"Iya Tan.. makasih.. " April menyalami Yuna yang di balas Yuna dengan usapan lembut di kepalanya.
Setelah beberapa saat berlalu.
"Itu tadi siapa Pril.. ?" tanya Nadia.
"Oh, tante Yuna .. "
"Iya, maksutnya siapa.. ?"
"Bekas calon mertua.. "
Nadia ber 'oh sambil melanjutkan kerjanya.
"Emang kenapa sih kalian bisa putus, kan sayang. Udah tunangan ini.. "
"Ga ada kecocokan. jugaan ga nyambung.. " tegas April.
"Padahal udah mapan kan katamu Dia polisi, kayak apa sih. Kamu punya fotonya enggak.. ?" Desak Nadia.
Selama ini April memang menjaga privasi tentang hubungannya dengan Arga. Hingga hanya keluarganya yang tau.
Hari minggu tiba, April sudah bersiap dengan jeans panjang, juga kemeja panjang. Krudung warna hitam menghiasi kepalanya. Walau tidak tergolong tomboi. Tapi April jarang menggunakan rok dan lebih sering tampil kasual.
"Astagfirullah.. kamu mau ngaji apa mejeng .. ! ganti bajunya..! " Nenek berkacak pinggang saat melihat April keluar kamar.
"Kenapa sih Nek, ini juga usah sopan. Kan pake baju panjang juga.. " kesalnya.
"Ganti April.. !! kamu mau bikin nenek malu sama keluarga pak Haji. "
Ancaman nenek akhirnya berhasil, karna April langsung masuk ke dalam berganti pada pakaian muslim. Setelan gamis warna toska senada dengan jilbabnya. Baju ini ibunya yang membelikan saat lebaran kemarin. Dan dia hanya memakainya 1 kali saat lebaran.
"Nah. . gitu kan anggun. Ayo.. " Nenek tersenyum puas menggiring April menuju depan.
April hanya menghela nafas pelan. Memakai helm dan menstard motor membonceng nenek menuju rumah mantan tunangannya.
"Nek, aku lupa.. jalur ke berapa rumahnya ya. " Ucap April sesampainya di desa tempat tujuan.
"Kamu masak ga ingat nduk.. ?"
"Ya ga lah, aku kan cuma kesini tiap lebaran. Itu juga bareng bapak sama ibu.. "
"Kita ikuti aja, orang yang pake krudung itu.. " tunjuk nenek pada sekelompok ibu-ibu yang menaiki motor seperti akan ke pengajian.
"Ohh. iya.. " April dengan cekatan mengikuti motor-motor itu.
"Nah itu rumahnya.. !!" tunjuk nenek sumringah.
April hanya mencebik lalu memarkirkan motornya di samping motor orang-orang yang datang.
__ADS_1
"Nduk, itu di bawa.. " Nenek mengingatkan pada kantung kresek belanjaan beserta buah yang di siapkan dari rumah tadi.
"Iya nek.. " Jawabnya tidak bersemangat. Baginya sungguh malas datang di acara ini. Apalagi jika nanti bertemu Arghani.
"Assalamualaikum.. " Sapa nenek dan April bersamaan setelah mengantri untuk salaman.
"Waalaikum salam.. nenek, April.. " Yuna tersenyum hangat menyambut keduanya dan salim.
"Maaf, kami agak terlambat ya bu.. " ucap nenek sambil menyerahkan kantong plastik.
"Ya Allah, nenek ! kenapa repot-repot begini.. " pekik Yuna.
"Tidak apa bu, ini juga cuma seadanya.. "
"Saya terima ya nek, terima kasih. Saya harap kedepannya nenek tidak perlu repot-repot begini.. " tegas Yuna dengan senyum anggun.
"Iya bu.. " Nenek ikut mengembangkan senyumnya.
"Ayo masuk, April.. " Keduanya di giring menuju ruang tengah.
Brukk.
April terpental ke samping saat tubuhnya limbung di tabrak seseorang dari samping.
"Kamu ga papa sayang..? " Yuna yang tahu langsung memegang April.
"Aku ga papa tante .. " Yuna menoleh ke arah orang yang menabraknya.
"Devan.. kamu hati-hati donk.. " Ucap Yuna menegur anak Rio dan Kinaya.
"Maaf tante, aku ga liat dia.. " ucap pemuda bernama Devan itu sambil nyengir memperlihatkan giginya ke arah April.
"Ini siapa tan.. ?"
"Kamu ini, kenalan aja sendiri. Ayo nek.. " Ajak Yuna pada nenek.
Melihat nenek berjalan masuk, April cepat-cepat membuntuti.
"Hei tunggu.. " Devan ingin meraih tangan April tapi malu karna di ruang tengah sudah berkumpul ibu-ibu pengajian.
Ruang tengah rumah Yuna dan Putra memang cukup luas, karna sudah full di rombak sejak kelahiran anak-anak mereka. Sehingga cukup luas untuk menampung jamaah pengajian.
April duduk di sisi neneknya, dan ternyata nenek nya Arga juga duduk di sisi sebelah kanannya. Ada perasaan canggung, apa lagi. neneknya Arga benar-benar tanpa ekspresi, hingga April segan ingin menegur beliau.
Setelah cukup, acara pun di mulai.
Bagian laki-laki terpisah bagian samping pintu menuju taman.
"Kamu udah di sini aja.. " tegurnya pada Devan sambil menepuk bahunya lembut.
"Ah, iya kak.. " Devan yang terkejut mengalihkan pandangannya yang sedang menatap intens ke arah April.
"Sama siapa.. ?" tanya Arga lagi.
"Sama mama lah, papa sibuk bisnis.. "
Umur keduanya hanya selisih 3 tahunan. Tapi tampak seperti seumuran. Rio menikah setahun setelah insiden dia menghadang Putra dan Yuna (Baca TKW NEGERI BETON jika ingin tahu siapa Rio).
Di tengah-tengah acara, Arga menoleh memandang Devan yang menyunggingkan senyum melihat ke arah kumpulan ibu-ibu yang sedang mengaji.
Arga mengikuti arah pandang Devan.
Di sana, matanya bertemu dengan mata April saat gadis itu juga sedang mengangkat wajahnya yang semula menunduk.
Arga mengerutkan keningnya.
"Ngapain dia disini? apa mama mengundangnya .. "
Dia tidak begitu memperhatikan hingga tidak sadar April ada di situ. Lalu matanya beralih ke arah Melati yang juga duduk di bagian wanita bagian ujung.
Ya, tadi dia datang bersama Melati.
.
"Hei... " Devan menyenggol April yang sedang mengobrol bersama Nada.
Seusai acara, April membantu mengemas semua bersama Nada.
Dan kini mereka sedang istirahat sambil ngobrol.
April menoleh ke arah lelaki yang sedari tadi membuntutinnya.
"Apa sih.. "
"Kita kan belum kenalan.. " mengulurkan tangannya "Aku Devan.. "
April mengangkat alisnya heran, menoleh ke arah Nada yang tetap cuek-cuek saja.
__ADS_1
"Aku April.. " Balasnya kemudian.
"Wahh.. namamu kayak bulan ya hehe.. "
April hanya tersenyum terpaksa menanggapi Devan.
"Boleh minta nomer hp mu cantik.. "
"Boleh.. " April langsung mengambil ponsel Devan dan membagi nomernya.
"Thank You Baby.. " Devan tersenyum penuh arti yang di angguki April.
"Sama-sama.. " balas April.
Tanpa April tau, Arga sempat melihat interaksi keduanya dari dalam rumah.
"Udah selesai kan, sana pergi.. !!" usir Nada.
"Yaelah Ra.. baru juga kenalan, belum selesai lah.. " Devan biasa memanggil Nada dengan nama belakangnya. Dan itu sudah terjadi sejak mereka kecil.
"Kamu tu ganggu, kita lagi mbahas masalah cewek. Udah sana pergi.. !" ketusnya.
"Ra, kamu kalau galak-galak nanti ga da yang mau loh sama kamu.. " Devan menoleh ke arah April.
"Ya ga Prill.. ??"
April hanya tersenyum melihat keduanya. Sedang Nada sudah seperti keluar tanduk.
"Bodo amat.. !!" Nada mendelik sebal ke arah Devan yang menertawakannya bersama April.
"Ok baby, tenang aja.. kalau ga da yang mau. Nanti kamu sama aku aja.." ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ogah gue sama lo.. !!" tegas Nada.
"April cantik, aku ke sana dulu ya. Ibu singa udah marah.. " Bisiknya di dekat April yang justru bisa di dengar jelas oleh Nada.
"Devano... !!!" Teriak Nada.
Lelaki itu langsung lari ke depan sambil tergelak. April pun hanya menggelengkan kepala pelan melihat keduanya.
"Aku ambil minum dulu ya Pril. Aus juga habis marah sama lintah darat.. "
"Lintah darat.. ? haha.. ya udah sana.. "
Nada pun berjalan masuk menuju dapur mengambil minum.
Dari arah samping Arga datang langsung menarik tangan April.
"Eh... mas. apa-apaan sih.. " April yang kaget berusaha melepas tangannya dari Arga.
Arga menghempas tangan April saat mereka berada di samping rumah. Di bawah pohon mangga.
"Kamu ngapain di sini.. ?" Tanya Arga to the point tanpa mengindahkan April yang meringis mengurut lengan tangannya yang memerah.
"Ngapain apanya, aku kesini kan memang di undang mama kamu... !"
"Cih.. Kita tu udah putus, jadi untuk apa kamu masih dekat dengan mama.. ?"
"Kita yang putus kan, bukan mama kamu.. !" Tegas April tak mau kalah.
"Sama aja.. ! oh aku tau.. " Arga tersenyum remeh menatap April
"Kamu berencana deketin Devan sekarang setelah putus sama aku. Memang matre, tau aja kamu kalau Devan anak orang kaya.. ".
Plak.
"Kamu ga usah ngomong kalau bisa nya cuma nyakitin hati.. !"
Wajah April sudah memerah menahan amarahnya sedari tadi.
Arga mengusap pipinya yang terasa panas .
"Berani kamu.. " Arga bergantian mengayun tangannya.
"Apa.. ? mau balik nampar. Tampar aja.. !!" Tantang April.
"Kamu.. !!" Arga menahan kesalnya sampai giginya bergelatuk.
"Kenapa, kamu kira aku takut.. !" April melotot tajam ke arah Arga.
"Ternyata selain Arogant kamu juga sangat picik dalam pemikiran Arghano.. " Lirihnya sambil mengerling tajam. Lalu berjalan kembali ke arah rumah.
Arga menatap tak percaya ke arah April yang melenggang pergi. Gadis kecil yang semula hanya seorang yang pendiam setiap di hadapannya. Ternyata punya sisi bar-bar.
Di usapnya pipi yang masih terasa memanas itu.
"Apa.. ?! Dia manggil apa tadi. Arghano? Cewek Gila.. " Desisnya dan kembali masuk ke arah rumah.
__ADS_1
Maafkan keterlambatan Update ya. Lagi bokek inspirasi..
hehe...