
Seminggu berlalu, April sedang makan dengan santai di sebuah warung tenda bersama Yoga. Lelaki itu mengajaknya makan malam .
"emm.. ini enak banget.. " April begitu menikmati pecel lele dengan sambal rempai yang begitu nikmat.
Yoga tertawa melihat reaksi Apri " Ayo abisin, nanti pesen lagi kalo kurang.. "
April menggeleng pelan "Nanti aku tambah gendut.. " Dia menyuap sekali lagi lele berbalut sambal itu. Hingga keningnya basah oleh keringat sensasi panas dan pedas dari pecel lele itu.
"Kamu ga gendut kok, ideal.. " Dalam hati Yoga mengatakan, April bertubuh gemesin. Walau tinggi badan hanya sekitar 155 tapi April memiliki bentuk waw pada bagian tertentu.
"Kamu lagi ngehina ya.. " April pura-pura kesal.
"Haha.. enggak donk say..beneran, kamu ga gendut. "
April hanya mencebik melanjutkan makannya yang tinggal suapan terakhir.
"Alhamdulillah ... " Dia mencuci tangan dan mengelap bibirnya.
"Yakin ga nambah.. ?" Tawar Yoga yang juga sudah selesai dengan makannya.
"Enggak Ga, makasih.Buat besok aja lagi hehe.. "
Yoga tersenyum, menyeruput es teh miliknya hingga tandas.
"Kalo kamu mau, nanti tiap pulang kerja aku ajak makan ke sini.. "
"Eh, ga usah. Nanti aku di marahin nenek karna ga makan masakannya di rumah.. "
"Ya udah, seminggu sekali deh kalo gitu.. "
April hanya nyengir menanggapi ucapan Yoga.
"Oh iya, aku punya sesuatu.. " Yoga membuka rangselnya maungeluarkan kotak kecil berwarna merah untuk April.
"Apa ini.. ?" ragu-ragu April menerimanya.
"Happy Birthday.... !!!" seru Yoga.
April membekap mulutnya tidak percaya, Bagaimana cowok ini tahu ulang tahunnya.
"kok kamu bisa tau..? "
" buka donk.. " Yoga masih tersenyum hangat padanya
April mulai membuka pembungkus merah itu, yang ternyata dalamnya sebuah kotak berwarna hitam. Di dalamnya berisi sebuah jam tangan wanita.
"Cantik banget.. makasih ya Ga.. "
"Sama-sama, sini aku pakein.. " Yoga menarik tangan April dan memakaikan jam itu di tangan kiri April. Sekilas matanya melirik ke arah cincin yang melingkar di jari manis gadis itu.
April seperti paham langsung menarik lengan tanganya menjauh dari Yoga.
"Aku pake sendiri aja.. uhh cantik dan uwuww..."
__ADS_1
"Syukurlah kalo kamu seneng... yuk.. " Yoga berdiri dan tentu saja membantu April berdiri dengan menarik tangannya lembut .
Yoga membayar makanan mereka, lalu menggandeng mesra tangan April menuju jalan depan yang terdapat pasar malam.
"Kita kayak orang kencan ya haha... " April berkelakar mengikuti Yoga. Lelaki itu sempat menoleh dengan senyumnya.
"Emang kita lagi kencan kan.. ?"
"Ehh.. iya kah.. " April berucap bodoh.
Yoga membawa April menuju wahana permainan.
"Rame banget Ga... "
"Makanya jangan lepasin tangan kamu, nanti ilang .. " ledek Yoga.
"ck, ilang.. kayak bocah aja.. " April melengos melepas gandengannya menuju stad lempar kaleng.
"Mau main itu? " tawar Yoga. Gadis itu pun megangguk. " Tunggu di sini, aku nuker koin dulu.. "
Tak lama Yoga kembali, dan keduanya langsung main dengan riangnya.
"Haha ... aku menang..! " Girang April.
"Awass.. aku akan mengalahkanmu..! " balas Yoga tidak mau kalah.
Game pertama di menangkan April, hingga pindah ke permainan lainnya. Sangking asiknya, keduanya bahkan lupa bahwa ini sudah hampir jam 10 malam.
"Iya-iya.. " pasrah April menjawab.
"Karna aku menang, aku boleh minta sesuatu sama kamu..? "
April menoleh ke arah Yoga " boleh, minta apa? "
"Apa beneran boleh.. " Yoga menggandeng April menuju pintu keluar. Matanyan juga mengawasi sekeliling yang sudah mulai sepi.
"Ya boleh, tapi jangan aneh-aneh.."
Mereka sudah sampai di tepi parkiran, lampu di sini sedikit remang-remang. April sedikit tidak nyaman, tapi berusaha tenang karna Yoga menggenggam tangannya erat.
"April... "
" Yaa.. "
Yoga menatap lekat ke arah April, lalu menariknya memojok di sebelah mobil truck.
"Ga... " lirih April sedikit panik.
Yoga mendorong tubuh April ke pinggir badan truck, sedikit menghimpitnya.Mengukung tubuh April dengam tangannya .
"Ga.. " Nafas April mulai tersenggal. Jantungnya berdetak Kencang. Menabak-nebak apa yang akan terjadi.
"Tenanglah... " Yoga mengelus pipi April lembut, masih dengan seulas senyum manisnya, tubuhnya semakin menghimpit hingga bisa merasakan tonjolan di dada April.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakuin, lepasin Ga.. !" Kesal April.Dia mulai panik.
"Hust, jangan keras-keras.. "
April semakin merinding, Yoga semakin mendekatkan wajahnya ke April, menekan tubuh April menghimpitnya.
April memberontak, tapi tenaganya kalah kuat oleh Yoga.
"Lepasin Ga..!!" Teriaknya. Sambil memalingkan wajahnya ke kanan dan kiri agar tidak bisa di cium Yoga.
Yoga semakin menarik dia kuat, April mulai kualahan. Dia menangis, " tolong lepasin.. !!" mohonnya.
"Hei tenangnlah say.. nikmati ini akan menyenangkan.. " Tangan Yoga mulai memegang dagu April.
Masih dengan derai air mata, April berusaha memberontak . Dia memejamkan matanya pasrah, apalagi cekalan tangan di pinggang dan dagungnya mulai terasa sakit.
Bugh.
Bugh.
April ternganga. karna tiba-tiba Arga datang menarik Yoga dan memukulnya.
Setelah cukup membuat Yoga tersungkur, Arga memalingkan wajahnya ke arah April yang tampak syok.
"Masss... " April langsung menghambur memeluk dada bidang Arga. Menangis sesenggukan di sana.
"Sudah.." Arga menarik paksa pelukan April, memandang wajah pucat yang basah akan air mata. Lalu melepas jaketnya, memasangkan pada April. Dan menggandeng gadis itu pergi dari tempat itu.
Sepanjang jalan pulang, hanya ada keheningan. April juga diam, masih sekali sekala terdengar senggukan dan Arga hanya meliriknya sekilas.
April menyesali kebodohannya, mempercayai Yoga. Harusnya tadi dia menolak saat di ajak jalan keluar, menolak saat di tarik ke tempat sepi.
"Bodoh.. " umpatnya pada diri sendiri. Dia masih tidak percaya, Yoga berani melecehkannya.
Mobil berhenti di depan rumah nenek April, suasana sudah hening karna hampir jam 11 malam.
Melihat April hanya diam mematung di tempat duduknya, membuat Arga menghela nafas pelan. Dia membantu April membuka seatbeltnya.
Bunyinya langsung membuat April tersadar dari lamunannya.
"Turunlah, sudah malam.. " .
"Mas... " lirih April. Arga tidak menjawab dan hanya menoleh.
"Maaf, maafkan aku.. Mas boleh marah.. " lanjutnya dengan menunduk, Pipinya kembali basah. Dia merasa bersalah karna pergi dengan lelaki lain tanpa izin dari Arga yang jelas sudah menjadi tunangannya.
"Sudah malam.. sebaiknya kamu turun.."
April pun meraih tangan Arga untk salim lalu turun. Setelah April turun, Arga juga langsung melajukan mobilnya menjauh pergi dari rumah April.
Meninggalkan April yang tetap berdiri mematung menatap kepergiannya.
"Apa kamu marah mas? tapi kamu seolah ga perrduli.. "
__ADS_1