
"Assalamualaikum... " April membuka pintu rumah yang tidak di kunci.
Suasananya begitu sepi, tapi sepertinya baru saja ada tamu. Karna di atas meja depan ada bekas gelas minuman yang belum di bereskan.
"Siapa yang dateng.. " Batinnya.
"Nek.. nenek... !" Masuk ke dalam menuju kamar nenek. Saat di buka, rupanya wanita paruh usia itu sedang sholat.
April pun memilih membersihkan dirinya. Baru dia masuk ke kamar, pandangannya tertuju pada paperbag 3 buah yang berada di ranjang tidurnya.
Walau bingung, dia mendekat dan meraihnya. Isinya pakaian khas kalimantan, kue kering dan 1 paper bag berisi pernak pernik oleh-oleh khas sana.
"Jadi dia beneran udah pulang.. " ucapnya bermonolog sendiri.
Dia pun memutuskan untuk mandi dan tidur.
.
Pagi datang kembali di kota yang di kelilingi oleh pesawahan ini.
Seorang wanita paruh baya sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Pagi Ma, Pa.. " Seorang pemuda dengan wajah tampan pahatan khas jawa kelahiran sumatra menghampiri suami istri itu.
Satu ciuman hangat dia berikan pada mamanya.
"Pagi Ghani sayang.. " Yuna mengusap lembut puncak kepala anaknya.
"Udah gede, udah tunangan. Masih juga suka nyiumi mamanya.. " Gerutu Putra.
"Mas.. apaan sih kamu. Sama anak sendiri kok jealous .. " Yuna mencium pipi suaminya. Ini salah satu cara ampuh membujuk Putra.
"Emang boleh Pa.. ? nanti aku cium deh cewe ku.. " ucap Arga
"No.. Ghani.. !" Yuna memberi amaran dengan gelengan kepalanya.
Pemuda bernama Ghani itu hanya nyengir dan mendaratkan tubuh atletisnya di kursi dan meraih piring.
"Mama ni jangan gitu, sekarang udah 2021 ma.. " Sergah Putra yang di balas lirikan tajam Yuna. Seketika nyalinya pun menciut.
Ghani hanya tersenyum dan mengunyah sarapannya.
"Pagi semua.. " Gadis cantik memakai kaca mata dengan jilbab pasminanya langsung duduk di kursi yang kosong.
"Pagi.. Nada.. " Serempak mereka menjawab.
"De, kaca mata kamu tu bikin wajah kamu kelihatan tua loh.. " goda Arga.
Gadis cantik bernama Nada Savaira Adi Kusuma itu hanya melirik malas pada kakak lelakinya itu.
"Jangan menggoda adikmu Ghani.. !" Putra menengahi sebelum mendengar suara istrinya berteriak .
"Iya pa... " Jawab Arga.
__ADS_1
Yuna pun tersenyum sendiri mendengar suara Putra. Dalam hatinya mengucap Syukur Alhandulillah atas semua yang sudah Tuhan berikan padanya.
Suami yang begitu menyayanginya, anak-anak yang sudah beranjak dewasa tapi tetap terlihat menggemaskan baginya.
Yuna membawa teh dan kopi di meja makan. 2 kopi untuk Putra dan Arghani, sedang 2 teh untuknya dan Nada.
Senyum terukir tak lepas dari bibirnya. Arghani putra pertamanya sudah menjadi polisi muda sekarang. Sedang Nada masih kuliah di jurusan hukum seperti keinginanya.
"Mama ga sarapan.. ?" Tanya Arga.
"Mama liat kalian makan dengan lahap gitu aja udah kenyang Ghani.. "
"Papa juga belum sarapan.. " Suara Nada mengalihkan pandangan mereka tertuju pada Putra yang hanya tersenyum hangat menatap satu persatu wajah orang terkasihnya.
"Papa ga akan makan, kalau mama belum makan.. " Arga sudah paham kebiasaan papanya. Yang terlihat dalam hal apapun lebih mendahulukan mamanya.
"Makanya mama buruan makan, nanti papa ga cepet makan loh.. "
"Iya sayang.. " Yuna menyendok nasi goreng ke piring suaminya lalu untuk dirinya. Dan memang Putra menunggu istrinya menyuap dulu, barulah dia mulai makan.
"Ohh iya Ghani,semalem jadi ke rumah April kan.. ?" tanya Yuna di aela makannya.
"Jadi.. " jawabnya cuek .
"Udah ketemuan donk... ?"
"Enggak ma, dia ga balik-balik dari kerjanya. Akunya juga keburu ada acara kumpul sama temen-temen kerja yang baru.Jadi ga sempet ketemu"
"Yahhh... sayang sekali.. " sesal Yuna.
Putra pun terus memperhatikan raut wajah anak sulungnya. Yang terlihat tak bersemangat membahas tunangannya itu.
Dia tahu, semua salahnya. Karna dia anak sulungnya jadi ikut-ikutan terkena imbas masa lalunya.
Papa Bagas yang mengambil keputusan untuk menjodohkan keduanya. Arga dan April. Untuk lebih mengeratkan jalinan silaturahmi antara mereka.
April adalah cucu dari pak Nurdin. Orang yang meninggal karna dia tabrak dulu.
Arghani memang tidak menolak perjodohan itu. Dia tidak akan menolak keinginan orang tuanya. Sedang untuk April, mungkin karna rasa balas budi. Gadis itu juga tidak menolaknya.
"Na.. kayaknya Arghani tetep ga tertarik sama April deh.. " Ucap Putra saat kedua anaknya sudah pergi dari meja makan.
"Mereka kan memang belum saling kenal mas, aku yakin nanti seiring berjalannya waktu mereka bisa saling sayang dan cinta. "
"Kamu yakin Na.. ?"
" Ya.. ga tau juga sih.. " Yuna kembali duduk di kursi menghadap suaminya.
"Kalau nanti sampe 5 bulan ke depan tetep mereka ga bisa saling menerima, kita udah sepakat kan mas, dulu.. "
"Iya sayang. Kita liat dulu kedepannya gimana.. " Putra bangun mencium kening istrinya mesra.
"Mas ke bengkel dulu ya.. "
__ADS_1
Yuna mengangguk dan mencium tangan suaminya.
"Hati-hati jangan nakal.. "
"Kayak mas pernah nakal aja..." Putra terkekeh dan mengucap salam untuk pergi ke bengkel di iringi gelengan kepala istrinya.
.
Di sebuah rumah sederhana seorang nenek sedang mengomeli cucunya.
"Kamu tau ga, Arga nungguin dari sore. Sampe magriban di sini . Kamunya malah ngluyur entah di mana.Di telpon juga susah.. !"
"Harusnya kan kamu cepet pulang, nyambut dia dateng. Nenek ga penak sama keluarganya pak Haji. "
Sudah berulang-ulang kali nenek mengulangi kata-kata itu.
"Orang dia juga ga bilang nek, kalau dia mau pulang. Ya bukan salah aku lah. . "
"Ya, nglawan terus kamu ya.. ! Orang tua ngomong ga di dengerin. Udah putus belum kamu sama Bima cungkring itu. Kamu itu udah tunangan April, 6 bulan lagi kalian nikah.. !"
April menutup kedua telinganya, memilih berdiri masuk ke kamarnya.
"April.. nenek belum selesai bicara.. !"
Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu kamarnya. April mengusap air matanya yang tiba-tiba menganak sungai.
Sedari bangun tidur tadi nenek terus memarahinya dan mengomelinya karna membuat Arga menunggu. Neneknya hanya memikirkan perasaan tidak enaknya pada keluarga haji Bagas. Tanpa memikirkan perasaan April.
"Cowo brengsek, sukanya bikin aku nangis sama badmood." Di lemparnya paperbag pemberian Arga semalam sampai isinya berserakan.
"Lihatlah, semalem bahkan dia cuma liatin aku doang. Nyapa juga enggak. Ngabarim juga enggak.. "
April menggerutu sendiri dan memilih bersiap kerja. Dia mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya. Hari ini dia masuk sif sore.
Tanpa berpamitan pada Nenek, dia langsung mengendarai motornya menuju mini market.
Dor.
April menghentikan laju motornya dan turun untuk mengecek.
"Sial banget sih gue.. pake acara mbeldos segala.. " Kesalnya saat melihat ban belakang motornya.
Terpaksa dia mendorong motor sendirian menuju sebuah bengkel. Keringatnya udah sebesar biji jagung.
Dan untungnya tak jauh dari sana ada bengkel yang cukup ramai.
"Mas, tolong gantiin ban belakang ya.. " Ucapnya, lalu mencopot helmnya.
"Mbeldos mbak.. ?" Seorang pemuda kurusan segera mendekat.
"Iya.. " Jawab April sekenanya.
"April.. !?"
__ADS_1
Merasa di panggil, April menoleh ke arah samping dimana sekelompok pemuda sedang nongkrong , mungkin menemami temannya mbengkel.
"Kamu..? " April terkejut bertemu seseorang yang tersenyum mendekat padanya.