
Sesuai rencana. Pagi ini April pergi ke Balam untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Ada rasa rindu di hatinya. Karna hampir satu tahun tidak bertemu.
Sepanjang jalan di dalam bis, dia begitu menikmati pemandangan kota untuk menghibur dirinya. Tengah hari dia sudah sampai balam dan langsung menuju rumah orang tuanya menggunakan ojek online.
"Assalamualaikum.. " Sapanya.
"Waalaikum salam.. " seorang bocah berumur 14 tahun membuka pintu.
"Mbak Aprillll.... !!"
"Dani.. " April menyambut memeluk adiknya.
"Ayo masuk mbak.. " Ajak Dani setelah cukup memeluk kakaknya.
April pun melangkah masuk mengikuti adiknya.
"Bapak sama ibu udah berangkat? "
"Iya mbak, nanti jam 10 malem baru pulang. " Terang Dani. "Mbak mau minum teh? "
"Boleh.. " April mendudukan dirinya di sofa. Menatap sekeliling yang tampak sederhana. Rumah ini hanya berisi 2 kamar, 1 ruang makan langsung menyambung ke dapur dan ruang tamu. Kawasan Balam yang padat penduduk,membuat rumah sekecil ini pun sudah tampak istimewa.
"Kok mbak ga bilang mau kesini.. ?" Dani kembali membawakan teh dan di letakkan di meja.
"Sengaja mau bikin kejutan, kamu ga sekolah? "
"Sekolah mbak, ini mau siap-siap. " jawab Dani.
"Ya udah sana. "
"Mbak ga papa sendirian ?" Dani ragu akan meninggalkan kakaknya di rumah.
"Ga papa, nanti kalo bosen mbak jalan-jalan.." Ucapnya sambil menyeruput teh nya.
"ya udah. " Anak itu langsung berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap kesekolah.
Tidak berapa lama, Dani sudah siap dengan seragam SMP miliknya. April mengusap kepala adiknya lembut.
"Kamu ganteng juga ya, udah ga kulu lagi.. " godanya.
"Ya elah. Kulu kalo di desa. Aku kan di kota.. " Ucapnya jumawa.
"Eleh, sombong.. " April merogoh kocek celananya. " Nah buat jajan.."
Dani mengembangkan senyumnya lebar " Makasih mbak.. " Dia segera salim untuk berangkat sekolah. Di otaknya sudah mulai membuat list apa saja jajanan yang akan dia beli nanti.
Sepeninggal Dani, April memilih tiduran di kamar adiknya. Membuka ponselnya berharap ada pesan dari Arga. Nyatanya nihil. Yang ada cuma sederet pesan dari Nadia. Dia meletakkan ponselnya, mengusap cincin yang melingkar di jarinya.
"Aku dan kamu ternyata masih bukan kita "
Menghela nafas pelan, April memilih memejamkan matanya.
April bangun saat mendengar adzan Ashar, Dia segera mandi dan sholat. Sesudahnya dia pergi ke dapur untuk memasak karna sedari siang belum makan.
Saat mie instan mengepul di dalam mangkuk dia hidangkan. Suara motor berhenti di depan membuatnya mengerutkan kening.
__ADS_1
ceklek.
"Aprill... " Bapak masuk di ikuti ibu dengan senyum mengembang.
"Bapak.. " April bangkit dari duduk segera menyalimi orang tuanya.
"Kamu kok ga bilang mau kesini.. ?" Tanya Bapak.
"Ehh, iya. Buat kejutan. Bapak sehat ? ibu juga sehatkan? " April beralih dari menatap bapaknya menuju ibunya.
"Alhamdulillah sehat.. " Jawab ibu dan bapak hampir bersamaan.
"Nenek apa kabar? " Tanya ibu sambil duduk di kursi dan meletakkan tasnya.
"Alhamdulillah, nenek sehat. Ada Wira, jadi April tenang pergi kesini.. " Terang April sambil mengaduk mienya kembali.
"Kamu makan mie? emang ga da lauk? " Tanya bapak.
"Hehe.. Ada, April males masak. "
Ibu dan bapak menggeleng pelan. Bapak pamit untuk mandi. Sedang ibu tetap duduk untuk menemani April.
"Kok ibu dan bapak udah pulang, kan ini masih sore? " tanya April di sela makannya.
"Iya, tadi Dani sms. Katanya kamu datang. Jadi bapak langsung ngajak tutup warung.. "
April mengangguk mendengar penjelasan ibunya.
"Kamu ini udah mau nikah, mbok ya'o belajar masak. Nanti suamimu apa mau kamu kasih mie terus.. " Ibu ngedumel melihat kelakuan anak nya yang tidak berubah .
"Males bu, nanti kan bisa order delivery.. "
"Orang kalo masak baca bismillah, Ya Allah semoga makanan yang aku masak menjadi keberkahan untuk ku dan suamiku juga anakku. " imbuh ibu.
"Kalo kamu biasa beli, nanti suamimu lebih sayang sama yang punya warung. Mau? Apa lagi kamu mau jadi mantunya pak Haji. Lihat, rambut masih di umbar. Mbokyao pake kerudung April. Apa Arga ga negur kamu? "
April menggeleng, dia tidak tau karna selama ini Arga juga tidak pernah membicarakan tentang penampilannya .
"Mungkin dia segan, mulai sekarang pake baju yang sopan. Pake kerudung..!" titah ibu yang hanya di balas cengiran April.
"Apa sih bu, ket mau nyerocos wae.. " Bapak sudah kembali dengan rapi dan wangi.
"Ini nih, anak sama bapak podo wae. Nek di kandani angel.. " Ibu bangun menuju kamar untuk mandi. Meninggalkan April dan Bapak yang hanya tersenyum saling pandang.
Malam sudah datang, Dani juga sudah kembali tentunya. Berempat mereka makan malam bersama . Menu pecak ikan mas juga tumis kangkung menemani mereka.
"Bu. Kangkungnya asin.. " Ujar Dani sambil menyingkirkan di tepi piring.
"Mbak mu yang masalk,opo ga tok tambahin gula merah Pril.. ?" Tanya ibu. Tadi memabg Aprol di paksa memasak kangkung oleh ibunya, dengan alasam biar bisa masak.
"Udah kok, tapi cuma sesisir. ".jawabya santai.
Ibu menggelengkan kepalanya, sudah mumet mikirin anak gadisnya itu.
"Masak asin tandanya minta cepat di nikahkan ini.. " kelakar bapak.
__ADS_1
"Ya iyo to, kan bentar lagi. Pas nanti nikahannya April pas juga ibu nembus arisan . Lumayan pak buat biaya nikahan April.." ibu bersemangat membahasnya.
"Iya, walau apa-apa akan di tanggung pihak pak haji. Tapi ga da salahnya kita nyiapin juga bu. " Bapak meneguk air miliknya dan mencuci tangannya.
"Bu, Pak. April ga jadi nikah.." lirih April. Yang langsung membuat gerakan bapak mencuci tangan terhenti. Ibu yang akan menyuap makanan pun mengurungkan niatannya. Keduanya Langsung menatap April.
"Apa maksutnya? " Tanya ibu dengan nada yang sudah naik satu noktah.
"April ga jadi nikah 2 bulan lagi. Karna.. "
"Kamu mutusin tunangan lagi? " Sela Ibu tidak sabar. "Kamu ulah apa lagi Pril.. ?!"
Seruan ibu mbuat Dani menggentikan makannya, memilih mengangkat piringnya ke depan TV.
"Bukan bu, Mas Arga yang ngundur .. "
"Bagaimana bisa ?! orang tuanya hari itu sudah menelpon ibu. Mengatakan tanggal 7 bulan 6 kalian akan menikah..! Pasti kamu bikin masalah lagi, iya? Apa lagi yang kamu lakukan April, sampe Arga mengundurkan pernikahan kalian..!"
"Bu.. " Bapak mencoba menenangkan istrinya.
"Bapak urus ini anak bapak. Anak nakal, ngeyelan . Kamu ni ga bersyukur mau di nikahin cucunya pak Haji. Orang terpandang di lingkungan kita. Orang baik, jelas keluarganya, mapan. Berapa kali ibu bilang, jangan bikin masalah. Tapi kamu, ga mau berubah. Tetap saja jadi anak urakan ga karu-karuan..! " Ibu mengusap dadanya pelan.
"Oh ya Allah, ibu malu pada mereka pak. Mereka pasti mikirnya kita menfaatin kebaikan mereka "
"Sudahlah bu, lagian kan cuma di undur Bukan batal " ucap bapak menengahi.
"Ini udah ke berapa pak ? Anak mu ini dasarnya angel, udah di bilang jangan bikin masalah.. "
"April ga bikin masalah apa-apa. Kenapa ibu mikirin mereka. Apa ibu ga mikirin April? " April menyeka air matanya. Bangkit dan berjalan menuju kamar.
"April.. ! ibu belum selesai bicara! "
April tak mengindahkan teriakan ibunya, Dia membanting pintu dan merebahkan tubuhnya di kasur. Tangisnya pecah. Masih terdengar suara ibu yang menggema juga bapak yang berusaha menenangkan.
"Nek, April mau ke jakarta.. " Ucapnya saat menelpon neneknya.
.
2 minggu kemudian
Arga juga baru kembali dari makan siang. Dia di kejutkan dengan amplop putih di atas mejanya.
Memilih membukanya dan seketika matanya melotot terkejut. Reflek dia juga berdiri.
"Ga.. Selamat ya.. kamu naik pangkat.. !" Melati tiba-tiba membuka pintu ruanganya. Dia masuk di ikuti teman yang lain.
"Ga nyangka malah lo duluan.." ujar Vian.
"Nih.. " Melati mengulurkan kotak kecil berwarna gold "Hadiah buat kamu, mama sama papamu pasti bangga.. " Senyum tak lepas dari bibirnya.
"Makasihh. Kok kalian tau.. " Arga menatap satu persatu wajah temannya.
"Kita juga baru tau pagi tadi, ya ga Mel.. " Vian menyenggol bahu Melati.
"Iya Ga. kamu kok malah kayak ga seneng gitu sih..? " tanya Melati.
__ADS_1
"Eh, seneng kok.. " Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Asik nih, ntar malam dapet traktiran!!" Doni masuk tiba-tiba dengan seringainya.