April & Arga

April & Arga
Minus


__ADS_3

April mengusap peluh di keningnya. Hari ini jakarta begitu terik. Dia yang baru keluar dari toko tempat kerja barunya nelangkah pelan menuju halte.


Tin tin


Sebuah motor berhenti di depannya.


"Butuh tumpangan neng? "


April tersenyum mendekat ke arah lelaki yang tersenyum mengulurkan helm untuknya.


Setelah dia naik, lelaki itu langsung melajukan motornya membelah jalanan metropolitan yang begitu padat.


.


Tok Tok Tok.


Ceklek.


"Assalamualaikum.. " Sapa Arga pada seorang pemuda kurus di depannya.


"Waalaikum salam, cari siapa mas.. ?"


"Aprilnya ada? "


Pemuda itu mengerutkan keningnya. Menelisik penampilan Arga. " ga ada "


"Oh, apa dia belum pulang kerja , nomernya ga aktif di hubungi.. "


"Siapa Wira.. ?" Nenek keluar dari kamar masih menggunakan mukena.


"Malem nek.. " Sapa Arga.


"Oalah, nak Arga. Masuk nak ..


Kamu ni Wira ada tamu kok ga di persilahkan masuk loh. "


Arga masuk dan mendudukan tubuhnya di sofa. Nenek menyuruh Wira membuatkan minum.


"Nak Arga ada apa kesini.. ?" tanya nenek.


"Apa April belum pulang nek ? Nomernya ga aktif. "


"Dia belum pulang.. " Wajah nenek yang semula cerah menjadi sendu. Arga menangkap hal lain yang tidak dia ketahui.


"Maksut nenek, dia masih di balam? "


Nenek menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia ke jakarta "


"Jakarta? " Arga terkesiap, bukannya gadis itu pamit akan ke balam. Lalu kenapa malah ke jakarta.


"Apa dia tidak mengataknnya pada nak Arga.. ?" Tanya nenek.

__ADS_1


Arga menahan senyumnya agar nenek tidak curiga. Selama ini dia tidak pernah menanyakan kabar atau apapun pada April. Tidak pernah memperhatikannya.


"Kalau gitu, Arga pamit dulu nek. Ada janji sama mama. Nanti saya coba hubungi April lagi.. " Pamit Arga. Dia sudah tidak enak hati dengan kelakuannya sendiri.


"Iya nak, salam untuk mama mu "


"Iya nek,saya pamit dulu. Assalamualaikum.. "Arga menyalami nenek.


"Waalaikum salam.. " Nenek hanya memandangi punggung Arga yang semakin menjauh tampa berniat mengantarnya ke depan.


"loh, mana tamunya. ?" Wira keluar dari dapur membawa minuman menghampiri neneknya


"Arga.. " Nenek berbalik badan menuju kamarnya kembali.


"Ohh jadi itu tunangan April, ganteng juga ." Komentar Wira . Dia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan Arga. Hanya sekedar tahu jika tunangan April bernama Arga.


"Dari pada mubazir, mendung gue minum sendiri .. " Wira menyeruput teh buatannya.


.


Arga terus berusaha menghubungi April. Tapi tetap jawaban operator yang dia dapat.


"Akhh.. " kesalnya sendiri. Melempar ponselnya ke arah ranjang .


Dia meremas rambutnya kasar.


Tok tok tok.


Suara Nada di luar kamarnya membuatnya semakin frustasi. Pasti kakeknya sudah datang. Dengan terpaksa dia keluar untuk turun menemui kakeknya.


"Nah itu anaknya sudah turun.. " Papa Putra menepuk sofa di sebelahnya. Yang artinya meminta anaknya itu duduk di sebelahnya.


Arga paham, segera salim dengan kakeknya juga neneknya.


"Jadi bagaimana.. ?" tanya kakek lembut pada Arga. Semua orang memandang ke arah Arga menunggu jawabannya.


"Arga. . Arga .. " Dia menunduk gelisah sendiri.


Yuna memandang putranya ikut gelisah. Dia tahu putranya tidak menyukai April. Itu yang membuatnya terus mengulur waktu.


"Ghani, jika kamu memang tidak berniat menikah dengan April. Itu tidak jadi hal, selama kamu bisa menunjukan keseriusanmu pada wanita lain.. " Papa Putra menepuk lembut lengan anaknya.


Kakek terlihat menautkan keningnya " Maksutnya? "


"Pa, biarkan dia menentukan sendiri masa depannya.. " terang Putra.


"Tidak ! Ini sudah keputusan mutlak Putra. Ghani juga sudah menyetujuinya sedari awal." Tolak kakek serta merta.


"Pa.. " Putra masih berusaha membujuk.


"Putra ga mau dia menyesal nantinya, pernikahan bukan untuk main-main pa. Putra ga mau nantinya hubungan mereka yang di landasi keterpaksaan justru terputus di tengah jalan. Putra mohon, biarkan dia menentukan masa depannya sendiri. Dengan siapa dia akan berumah tangga.. "


Selesai Papa Putra bicara, kakek langsung berdiri "Ayo kita pulang.. " Ajaknya pada nenek. Nenek sempat menatap anak, mantu juga cucunya sebelum pamit menyusul suaminya yang keluar lebih dulu.

__ADS_1


Sepeninggal kakek dan nenek, suasana ruang keluarga terlihat hening. Tidak ada yang berbicara . Sampai semua langsung menatap ke arah Mama Yuna yang terlihat mengusap air matanya.


"Sayang.. " Papa Putra langsung bangkit mendekati istrinya. Membawa wanita itu di pelukannya, mengusap bahunya lembut untuk menenangkannya.


Arga merasa bersalah sudah membuat hubungan keluarganya kembali memanas,memetik api pertengkaran. Itu karna dia lagi.


"Maafin Arga pa,ma .. " lirihnya.


Yuna menegakkan duduknya, mengusap air matanya. Dia menatap Putra nya lekat.


"Sekarang kamu maunya gimana Ghani ? "


Arghani diam kembali menunduk, perasaan campur aduk. Bingung dan gelisah.


"Aku juga bingung ma.. "


"Kamu menyukai orang lain ? " tanya Putra yang tidak sabaran. Dia sedikit kesal karna sulungnya itu, istrinya jadi menangis.


"Kalo iya, bawa dia kemari.Segera halalkan. Jangan buat pengorbanan papa di depan kakekmu sia-sia. Papa hanya ingin kebahagiaanmu. Jika kebahagiaanmu tidak dengan April, lalu dengan siapapun itu kami akan menerimanya. Tentukan sikapmu.. "


"Ayo kita ke kamar sayang .. " Papa Putra mengajak istrinya berdiri untuk istirahat ke kamar.


"Ghani, itu tidak termasuk oleh wanita yang sudah jadi suami orang. Itu pengecualian.." Ucap papa Putra sebelum pergi. Meninggalkan Arga yang tampak kacau bingung menentukan sikapnya.


"Bang.. " panggil Nada.


Arga hanya menoleh ke arah adiknya.


"Emang ga da yang bisa abang sukai dari April.?" tanya Nada .


Arga diam tidak menjawab, dia tengah berfikir. Tidak ada yang istimewa dari April. Biasa, tidak ada hal yang menonjol yang bisa membuatnya tertarik pada gadis itu .


"Kalo Melati gimana? " Pancing Nada lagi.


"Maksutmu? " Arga kembali menoleh ke arah adiknya lagi .


"Dia kayaknya suka sama abang. Kelihatan dari cara dia mandang abang pas abang ajak kesini.. " terang Nada sambil mengunyah kacang rebus di tangannya.


Selama ini Melati memang sangat perhatian padanya, selalu ada untuknya. Tapi dia hanya menganggap Melati sebagai teman, tidak lebih.


"Menurut kamu gimana? " Tanya Arga. Dia ingun mendengar pendapat adiknya.


"Kalo April, dia emang biasa aja. Ga da yang istimewa. Kalo Melati.. Emm, cantik. Kayaknya juga perhatian orangnya. " Terang Nada masih dengan mengunyah kacang rebus.


"Jadi menurut kamu mending Melati? "


Nada menggeleng pelan, membuat Arga mengerutkan keningnya.


"Abang lebih membutuhkan sosok kayak April. Yang bisa nerima abang apa adanya selama ini. Meskipun abang ga pernah perhatian sama dia. Lihat lah, dia ga mempermasalahkan.Tetap bisa bertahan dengan abang. ."


"Dia bertahan karna keluarganya.. " Elak Arga, hatinya menolak kebaikan apapun yang di lakukan April . Baginya dia hanyalah gadis labil, nakal dan lainnya yang lebih pada nilai minus.


"Ihh. .dia tu cinta loh sama abang . Masa abang ga bisa lihat sih.. " Nada benar-benar gemas dengan abangnya ini.

__ADS_1


__ADS_2