
"Bang .. " Suara Nada membuyarkan fokus Arga pada ponselnya. Pria itu menoleh sebentar.
"Apa sih. de ?" jawabnya malas.
"Nih liat " Gadis itu mengulurkan ponselnya, Arga tampak mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
"Liat dulu donk foto ini.. !"
Dengan terpaksa Arga mengambilnya, lalu mulai memperhatikan sebuah gambar di sebuah sosial media. Story milik Devan.
Reflek Arga langsung bangkit dari duduknya.
"Jadi April sama Devan?! "
Nada mengangguk pelan, sepulang dari kuliah tadi. Dia iseng melihat akun sosial media milik Devan. Hingga terpampang foto di story Devan bahwa dia sedang bersama April di sebuah wahana permainan.
Arga meremas tangannya sendiri, mengembalikan ponsel itu pada adiknya.
"Bang " Nada memegang tangannya yang baru akan melangkah.
"Apa? " Wajah Arga sudah terlihat masam menahan kesal.
"Jangan ngomong kasar sama April, ngomong baik-baik "
"Memangnya kapan abang ngomong kasar sama dia ?"
"Seringlah.."
Jawaban Nada membuat Arga melotot tajam.
"Abang ga sadar ya, sikap abang sama dia kayak gimana. Aku aja kalo jadi cewe males ama abang " Nada melangkah pergi setelah mengucapkan itu.
"Apa.. ? Nada ! apa maksut kamu..! "
Sedang Nada tidak mengindahkan teriakan abangnya dan kembali ke kamar.
"Ghani, ada apa? " Mama Yuna muncul dari belakang saat mendengar teriakan anaknya.
"Enggak papa ma.." Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuat mamanya mengerutkan keningnya heran.
"Terus kenapa tadi teriak-teriak sama adikmu? "
"Eh, biasa ma. Nada usil.." Arga melangkah mendekat ke mamanya " Ma, malam ini Arga pamit mau ke jakarta ya "
"Jakarta? " Yuna masih tidak paham.
__ADS_1
"iya, Arga mau njemput April.."
"Kamu yakin mau njemput April? " Tanya Yuna memastikan.
Arga diam, kembali larut dalam fikirannya sendiri yang sedang bimbang. Tapi keinginan untuk segera menjemput April begitu kuat.
"Ghani.. " Usapan lembut mama Yuna membuat dia tersadar dan menoleh ke arah mamanya.
"Bukankah pernikahan itu tidak harus di lanjutkan. Papamu sudah bilang kan hari itu sama kakek "
"Ma, " Arga meraih tangan mamanya, menggenggamnya erat seolah menyerot energi kasih sayang dari bidadari hatinya itu.
"Kamu tidak perlu menjemput April, biarkan dia mencari kebahagiaanya. Pernikahan karna paksaan itu tidak baik Ghani, keduanya hanya akan saling bertentangan karna kalian tidak ada komitmen untuk bersama membina rumah tangga "
"Lupakan perjodohan kalian, mama dan papa akan menerima siapapun wanita pilihanmu. Yang terpenting bukan Rina.. "
Arga tersentak mendengar itu " Apa mama tau.. ?"
Yuna mengangguk pelan, tersenyum tipis mengusap puncak kepala anaknya yang tingginya menjulang melebihi suaminya.
"Hati seorang ibu lebih peka Ghani, mama sudah tau lama. Tapi mama hanya diam, berharap seiring berjalannya waktu kamu bisa melupakan Rina. Fikirkanlah juga bagaimana perasaan suaminya. Apa kamu mau, jika nanti kamu punya istri dan ada orang yang begitu terobsesi sama istri kamu sampai menghalalkan segala cara.. ?"
Arga menggeleng pelan .
"Mama harap kamu bisa lebih dewasa menentukan sikap. Menentukan arah hidupmu sendiri." Mama Yuna melangkah ke arah kamar meninggalkan Arga yang diam mematung memikirkan semua ucapan mamanya.
"Aku memang sudah bebas kan, tidak di paksa lagi dengan perjodohan konyol ini.." Ucapnya bermonolok sendiri sesampainya di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.
"Membiarkan April mencari kebahagiaanya.. " Desahnya pelan
" Bersama Devan.. ?" Dia mulai membayangkan, April bersanding dengan Devan, dan dia datang hanya sebagai tamu undangan.
"Akrh, tidak akan ku biarkan.. !" Dia segera bangkit. Menuju lemarinya mengambil ransel, mengisi 2 pasang pakaian. Memeriksa dompet ponsel juga surat mobilnya. Tak lupa merganti baju memakai jaket dan terakhir sepatu.
"Kamu harus tetap menikah dengan ku gadis nakal.." Azamnya sendiri, lalu keluar kamar menuju lantai bawah..
Sesampainya di bawah, Papa Putra baru saja kembali dari menghadiri tasyakuran anak tetangganya.
"Ghani, mau kemana ? " tanyanya saat melihat anaknya menenteng rangsel.
"Jakarta pa.. "
"Jakarta? " Putra menautkan kedua alisnya. " Ada tugas kerha di jakarta? "
Arga menggeleng pelan,
__ADS_1
"Mau nyusul April.. " lalu dia ke dapur mengambil botol air dan mengisinya hingga penuh dan kembali ke depan, menyalami papanya.
"Tolong sampein sama mama Pa, Arga berangkat dulu.. Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.." Putra melepas kepergian anaknya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa harus menunggu seseorang itu pergi, baru bisa menyadari perasaan mu sendiri Nak.."
Baru Putra berbalik akan menuju kamar, terlihat anak bungsunya keluar dari kamar.
"Papa udah pulang.. ?"
"Udah, itu beseknya di meja makan.. " Putra paham, bungsunya itu selalu menunggunya pulang jika dia pergi kenduri. Tentu saja untuk menunggu nasi besek pemberian tuan rumah. Yang menurut Nada rasanya lezat, karna bau do'a.
"Asik.. " Gadis itu kegirangan setengah berlari menuju ruang makan.
"Emang tadi belum makan.. ?" Putra mengurungkan niatanya masuk ke kamar, dia kembali ke ruang makan untuk menemani bungsunya itu.
"Udah.. " Nada mengeluarkan aneka lauk juga urap dari besek. Karna tasyakuran bayi ada urap kulup, jadi dia begitu bersemangat.
"Gibran Raka Bumi " Bacanya pada secarik kertas yang ada di dalam besek.
"Udah kayak anak presiden pa nama anaknya.. "
"Ya kan emang anak presiden.. " jawab papa Putra sekenanya sambil membuka ponselnya.
"Haha.. presiden apa, Pa? "
Putra menoleh ke arah bungsunya.
"Presiden getah karet.. " bisik Papa Putra.
Keduanya langsung tertawa bersama.
"Papa bisa aja.. " Nada kembali fokus pada makanannya.
"Adek, kok makan lagi. Ga takut gemuk apa? " Mama Yuna yang mendengar keributan di luar segera keluar kamar.
"Bene to, wong dia suka.. " Bela papa Putra.
Nada yang di bela papanya tentu saja sumringah " Lagian juga ga tiap malem Ma .. "
"Yo wis, sekarepmu. Ini cuma bertiga, Ghani mana.. ?" Yuna mengedarkan pandangannya mencari sosok sulungnya.
"Di kamar kali Ma.. " Jawab Nada di tengah kunyahannya.
__ADS_1
"Ghani lagi ngejar Cinta. . " Ucap Papa Putra sambil tetap fokus ke ponselnya mengecek laporan pabrik.
"Ngejar cinta... ???!!!" teriak kedua wanita itu bersamaan.