
POV ARGA
Aku memutuskan tidak jadi ke jakarta. Melainkan mengunjungi rumah orang tua gadis nakal itu. Selain itu juga, aku tidak tahu alamatnya di jakarta, juga nomer yang bisa di hubungi. Aku sempat menghubungi Devan, tapi dia tidak mau menjawab telpon ku.
Sesampainya di sana aku di sambut dengan antusias oleh orang tua April.
Saat aku menayakan di mana April , mereka saling pandang. Ku katakan juga bahwa putri mereka tidak pernah menghubungiku atau memberi kabar bahkan nomernya sudah tidak aktif.
Terlebih dulu, aku meminta maaf. Karna sempat mengundur pernikahan kami. Tapi aku meyakinkan mereka bahwa pernikahan akan tetap di laksanakan seperti rencana semula.
Dan benar saja,aku langsung bisa berhubungan dengannya. Ternyata dia berganti nomer dan tidak mau menghubungiku.
Tepat pukul 2 aku langsung pulang kembali je kampung halaman. Karna sore ini aku langsung masuk kerja sift malam.
Di sela-sela jam kerja, aku langsung menghubungi April. Tentu saja aku sudah punya nomer barunya.
"Hallo.. " jawabnya setelah aku menghubunginya lebih dari 3 kali.
"Kamu dari mana. ?"
"Siapa ini.. ?" suaranya seperti baru bangun tidur.
"Kapan kamu pulang, nikahan kita 3 minggu lagi.. "
"Arga..? " Hening sesaat.
"Aku ga mau pulang, aku juga g mau nikah sama kamu.. "
What?
Berani-beraninya dia. Bahkan dia memutus langsung sambungan telponnya. Aku benar-benar tidak menyangka akan penolakan April.
**POV AND
🌺🌺🌺🌺🌺**
April menjalani hari-hari seperti biasanya . Sejak terakhir dia memutuskan telpon dari Arga, beberapa kali juga Arga menghubunginya, dan dia mengabaikan.
"Bener saran kamu, aku jadi tenang sekarang. " Ucap April saat mereka sedang makan sepulang kerja.
"Gitu donk.. sekali-dua buat si kupret Gano itu klimpungan dengan penolakan lo. Jangan nurut aja ngapa, kayak ga da harganya jadi cewe.. "
Puk. April memukul bahu Devan.
__ADS_1
"Enak ja ngatain gue ga da harganya..! "
"Emang bener, lemah karna cinta.. " Devan mendramatisi seperti biasa.
"Ya, namanya juga cinta.. "
"Cih... " Devan melempar tisu bekas ke atas piring.
April hanya tersenyum lebar menanggapinya " Terus selanjutnya gimana.. ?"
"Ya kayak yang kita rencanain dulu. Kamu tunggu ja, dia pasti nyari kamu . Karna apa, pernikahan kalian bentar lagi. Orang tua kalian bahkan lagi sibuk nyiapin pernikahan kalian. Kemarin mama nelpon nyuruh aku pulang 2 minggu lagi karna kata mama Gano mau nikah.. "
Tiba-tiba April memikirkan keluarganya, bagaimana jika benar orang tuanya sedang sibuk mengatur pernikahannya. Apa ga kasian kalo pernikahannya gagal.
Bagaimana dengan bapak juga ibunya, walau sering selisih paham tapi April tidak mungkin mengecewakan mereka kan. Bagaimana juga dengan nenek.
"Kok aku tiba-tiba sedih ya Dev.. "
"Kenapa.. ?" Devan menyesap teh miliknya sembari memperhatikan mimik wajah April yang kusut.
"Inget nenek, ibu, bapak.. apa ga kasian mereka kalo aku sampe ngecewain mereka.. "
Devan pun ikut memikirkannya. Berusaha berfikir mencari solusi.
"Mungkin ga sih dia nyari aku.. " Ucapnya setengah putus asa. " kok aku ga yakin ya. Gimana kalo dia justru nikah sama orang lain.."
"Ya ga papa sih, berarti dia bukan jodoh kamu. Mungkin jodoh kamu aku.. " Devan tersenyum secerah mentari, yang hanya di tanggapi gelengan kepala oleh April.
"Pulang yuk, udah malem.. " April memakau jaket nya kembali
"Ayuk.."
Keduanya pun langsung pulang. Devan mengantar April hingga kost-kostan seperti biasa. Dan alangkah terkejutnya keduanya saat melihat Arga berdiri di luar pagar di depan tempat kost April.
"Kok dia bisa di sini .. " lirih April, dia turun menyerahkan helm pada Devan.
"Aku juga ga tau.. "
Devan pun ikut turun karna merasa situasi tidak kondusif, dia mengkhawatirkan April.
Karna panik dan setengah takut, tak sadar April menggenggam tangan Devan.
Dengan bersandar di sebelah badan mobilnya, dengan kedua tangan bersidekap , Arga melayangkan tatapan maut pada April dan Devan yang justru datang bergandengan tangan.
__ADS_1
Keduanya berhenti saat jarak mereka 1 meter. Saling pandang satu sama lain. Suasana jadi mencekam bagi April. Sedang Devan berusaha untuk santai.
"Ga.. sejak kapan di sini ?"
"Ga usah basa basi, pulanglah. Aku ingin bicara dengan tunanganku saja.. " Tegas Arga.
Melihat Devan tak bergeming membuat Arga semakin murka . " Kenapa ? apa kalian tinggal bersama. .?"
"Enggak, kamu jangan salah paham. "
"Kalo begitu pulanglah Dev, ngapain kamu di sini.. " usir Arga.
Devan menoleh ke arah April yang juga tengah menatapnya. "Aku pulang dulu.. " di tepuknya lembut bahu April.
Gadis itu hanya mengangguk. Perlahan Devan berbalik dan berjalan menuju motornya . Saat akan menyalakan mesin motornya, dia kembali menatap April dan Arga.
Hening.
Itu yang terjadi setelah kepergian Devan. Arga mendesah pelan. Membuka pintu mobilnya.
"Masuk.. !"
April perlahan mengangkat wajahnya yang semula hanya menunduk. Mendengar perintah ke 3 dari Arga, dia ragu-ragu berjalan mendekat untuk naik.
Arga menutup pintu mobil dan dia pun segera masuk.
"Mau kemana..? " Tanya April akhirnya, dia memberanikan diri untuk bertanya. Jujur saja dia begitu takut.
"Pulang.. " Jawab Arga tanpa menatap April, lalu mulai menstard mobilnya.
"Enggak..! " April mencekal lengan Arga, membuat lelaki itu menoleh ke arahnya .
"Aku ga mau pulang.. "
"Kenapa? "
April mengumpulkan semua keberaniannya, sydah cukup selama ini dia diam "Aku ga mau nikah sama kamu..! "
"Kenapa? " Arga mematikan mesin mobilnya. Dia ingin melayani sikap berani April. Sejauh mana gadis itu akan menolaknya.
"Ayo katakan, apa alas mu? "
"Aku mencintai lelaki lain.."
__ADS_1